Mengapa Manusia Mudah Ngejudge ?

Barangkali kita pernah mengalami dua posisi ; “ngejudge & dijudge”

Satu waktu barangkali kita pernah ada diposisi dijudge, dihakimi, dinilai, dipojokan atau semacamnya oleh orang lain. Rasanya ga enak pasti! Ada sedih, sakit hati, dsb. Rasanya ingin menjelaskan, meluruskan, bahwa yang terjadi tidak sesederhana yang terlihat.

Lain waktu bisa jadi kita yang ngejudge orang lain dengan mudahnya. Dengan penilaian sesaat, kita mudah menyimpulkan kemudian menghakimi orang lain. Entah karena ketidaksukaan kita sejak awal kepada ybs, entah cara memandang kita yang sempit, atau bisa jadi kita saja yang belum bisa berfikir & bersikap bijaksana.

Manusia, sepertinya pernah ada dua posisi itu ; menghakimi & dihakimi

Nah, terlintas dalam fikiran saya, apa yang membuat aku, kamu, kita, menjadi mudah menghakimi sesuatu atau seseorang ? Apakah ini ada hubungannya dengan kemampuan kita dalam berfikir ?

Jadi teringat konsep Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom adalah struktur hierarki yang mengidentifikasikan kemampuan kognitif mulai dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Secara singkat tingkatan berfikir dikelompokan menjadi dua : low order thinking & higher order thingking. Tingkatannya sebagai berikut :

  1. Remembering (Mengingat). Kemampuan dalam menyimpan dan mengingat kembali sebuah informasi.
  2. Understanding (Memahami). Kemampuan menangkap makna/maksud dari sebuah informasi, konsep atau gagasan.
  3. Applying (Menerapkan). Kemamampuan menerapkan pengetahuan kedalam sebuah konteks.
  4. Analyzing (menganalisis). Kemampuan untuk mengeskpolorasi keterhubungan, sebab akibat, dan koneksi atas satu hal dengan yang lainnya
  5. Evaluating (mengevaluasi). Kemampuan menilai sesuatu berdasarkan analisa
  6. Creating (Mengkreasi). Kemampuan membuat sebuah karya baru dari informasi, konsep, gagasan yang sudah ada

Lalu apa hubungnnya Taksonomi bloom dengan mudahnya orang saling hakim menghakimi, atau mudah menyimpulkan sesuatu?

Bisa jadi saat melihat sebuah fenomena, situasi, kondisi seseorang, kemudian kita langsung membuat simpulan & penghakiman terhadap kepada seseorang tersebut, mungkin pada saat itu hanya berfikir di level satu. hanya melihat pada informasi dia ketahui (remembering), tidak mempertimbangkan variable lain, yang bisa saja terjadi pada kondisi seseorang.

Kita berhenti di tahapan meningat dan menghafal, belum berada di level berfikir yang lebih atas : memahami. Di level memahami, memang butuh kemampuan berfikir yang lebih luas, lebih bijak, dan juga perlahan (tidak terburu buru), untuk melihat banyak variabel yang mempengaruhi kondisi seseorang.

Jadi ingat istilah munculnya “sumbu pendek”, karena kemampuan berfikir yang rendah. Hingga dengan mudahnya kita tersulut & meledak, karena informasi sekilas, yang belum tentu kebenarannya. Karena kemalasan dan tidak terbiasanya kita untuk berfikir di level yang lebih tinggi dan kompleks.

Sekian dulu, berbagi insight kali ini.. See Yaaa !

Leave a comment