Every Body Need Idol

Setiap orang butuh idola.  Beberapa fenomana yang saya amati, interaksi dengan berbagai komunitas, percapakapan mendalam dengan beberapa kawan, Akhirnya saya ada di titik keseimpulan itu.

Seorang manusia di usia berapapun dia butuh orang yang bisa dia lihat, dia jadikan figure, yang akan menjadi tolak ukur, panutan dalam melakukan sesuatu. Bahkan figure ini akan menjadi “kiblat”  untuk dia dalam pola pandang dan pola berfikir nya.

Dalam sebuah percakapan dengan kawan kawan dari komunitas punk hijrah , mereka bercerita, tentang bagaimana pengaruh grup band favorit mereka yang tidak hanya mempengaruhi gaya bermusik mereka, namun juga mempengaruhi pola pandang mereka.

Saat sang idola mengatakan sesuatu hal, atau menyatakan suatu pandangan tentang kehidupan misalnya, maka hal itu akan menjadi semacam “petuah” bagi mereka. Apa yang diyakini oleh idolanya, seringkali akan menjadi keyakinan pengikutnya juga. Terlepas benar atau tidak apa yang diucapkan sang idola. Karena yang dilihat bukan tentang isi, tapi karena siapa yang menyampaikannya. Idola nya

Balik lagi, tentang butuhnya manusia akan idola atau figure. Waktu kecil orang tua atau lingkaran keluarga terdalam akan jadi idola kita. Beranjak ke usia sekolah, kita mulai mencari idola diluar dari lingkaran keluarga, misalnya guru kita

Beranjak dewasa ketika kita mulai melihat banyak hal, idola kita mulai berubah, seiring dengan kecendrungan dan passion kita, bidang profesi kita, atau hobi kita. Walau kadang kita tidak sadar bahwa kita mengalami masa pencarian idola tersebut.

Yang suka musik, maka naluri nya akan mencari musisi siapa yang “pantas” jadi ia jadikan idola, yang suka dengan dunia pendidikan maka ia akan mencari tokoh yang pemikiran atau tindakannya membuatnya kagum, yang dunia bisnis ia akan mencari siapa tokoh yang ia anggap sukses dalam bisnisnya.  Yang suka dengan dunia perpolitikan, ia akan mencari tokoh yang pemikirannya membuat ia terpesona. Tanpa disadari setiap kita pasti mencari sebuah figur, tokoh, panutan, idola.

Kenapa sih manusia butuh idola ? Akhirnya saya berfikir seperti itu. Mulai deh baca baca, salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah karena manusia membutuhan penguatan identitas dirinya, siapa sih dia, mau jadi apa dia, apa nilai nilai yang akan diyakininya, maka salah satu cara untuk menguatkan identitas nya, ia akan mencari manusia yang telah ada terlebih dahulu sebagai contoh, panutan atau pegangan.

Naluri nya akan mencari ….

Pertanyaannya adalah, akankah kita sudah “bertemu” dengan idola yang tepat. Atau malah seseorang yang kita “idolakan” selama ini adalah seseorang yang bisa menghantarkan kita ke arah kebaikan atau sebaliknya.

Apalagi, kalau dikaitkan dengan generasi muda sekarang, dengan begitu banyak figure yang bermunculan, apakah mereka sudah benar dalam memililih idola ? apa efek yang akan ditimbulkan ketika mereka salah memilih idola ? lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka “memilih” idola yang tepat ?

Nah … pertanyaan itu sedang bermunculan dalam kebun pikiran saya

Mungkin akan saya bahas di tulisa berikutnya, setelah saya mulai bisa menguraikan jawaban nya …. ^^

 

Kebun Pikiran

Bandung, 7 Februari 2019

 

Advertisements

Bijak Itu Tidak Tiba Tiba

Seperti pendewasaan, sikap bijak pun tidak datang tiba tiba. Kalau kita lihat dan mungkin kagum dengan orang yang kita nilai bijak, mungkin di balik itu semua ia telah mengalami banyak hal. Entah itu mungkin ujian, musibah atau bahkan penderitaan. Dibalik bijak nya sikap seseorang mungkin, telah bertubi tubi hal datang pada dirinya. Tak hanya sekali, dua kali , bahkan mungkin berkali kali.

Telah banyak barangkali kita saksikan cerita atau disekitar kita, bahwa orang yang bijak adalah mereka yang hadir dari penderitaan, matang karena ujian, lahir dari sebuah tempaan. Ia tumbuh dari jalan hidup yang tidak mudah.

Barangkali ada, orang yang jalan hidupnya lurus lurus saja, tapi ia mampu bersikap bijak. Ia juga istimewa, karena ia senang belajar, senang mengambil hikmah, rendah hatinya, hatinya terbuka dan gemar ia mendengar.

Yang jelas, bijak itu tidak tiba tiba. Ia akibat dari sebuah proses. Sebuah proses panjang yang awalnya mungkin ia pun tidak bisa bijak menyikapi atas apa yang hadir dalam jalan hidupnya -cobaan, ujian, penderitaan-. Awalnya pun ia tidak rela, ia memilih tidak menerima. Kemudian yang ia tidak suka itu, justru malah terus menerus hadir dalam hidupnya, seakan tiada yang tahu kapan akan berlalu.

Namun dimasa masa itu, ia pun akhirnya dipaksa untuk belajar. Belajar menghadapi segala sesuatu yang ada diluar kuasanya dan belajar untuk memahami dirinya. Ia memproses dirinya, ia belajar faham, ia belajar memperbaiki, dan mau mengakui apa yang lemah dalam diri. Ia belajar untuk bisa berdiri, sesakit apapun jalan hidup yang ia alami.

Sehingga jalan panjang hidupnya, melahirkan saripati kebajikan dan kebijaksanaan. Bahwa hidup memang adalah soal soal yang mesti kita temukan jawabannya. Bahwa hidup adalah berupa kepingan gambar yang mesti kita susun hingga jelas terlihat gambaran besarnya. Bahwa hidup tidak tentang bagaimana kencang berjalan, tapi tentang bagaimana jernih melihat arah tujuan.

Maka, bila kau lihat ada orang yang kau anggap bijak. Maka ia adalah hasil dari tempaan usia atau temaan peristiwa. Tidak mungkin ia tiba tiba ada.

Tentang Rasa Syukur Dengan Produktifitas

bersyukur

Adakah korelasi nya antara rasa syukur kita dengan produktifitas ?

Ternyata ada rasa syukur kita bisa berkelindan dengan produktifitas kita, apapun yang sedang kita kerjaan. Baik produktifitas kerja, produktitas menajemen diri, produktifitas kita berkarya, dsb. Saya pun baru ngeuh dengan hal ini.

Walau belum benar benar rutin setiap hari melakukannya, saya mempunyai kebiasaan untuk menuliskan rasa syukur, dalam sebuah buku khusus, yang dinamakan “Jurnal Syukur”. Jadi ini adalah buku khusus, berupa catatan harian, yang berisi tentang hal hal yang kita syukuri setiap hari. Ini tulisan saya di blog sebelumnya tentang jurnal syukur.

Dan hari ini saya menemukan manfaat lain dari menulis jurnal syukur ini, yaitu PRODUKTIFITAS.

Hari ini sebenarnya adalah pagi yang kurang ceria bagi saya, sedikit gloomy. Ada rasa malas untuk memulai beberapa dead line pekerjaan. Lalu saya memutuskan untuk mengambil jurnal syukur saya. Saya ingat ingat lagi beberapa hal di hari kemarin, dan mulai menulis.

Saya menulis tentang rasa terimakasih saya kepada Allah Swt atas beberapa kemudahan dan kelancaran aktifitas hari kemarin, saya tulis tentang rasa terimakasih saya diberikan kesehatan, diberikan keselamatan selama perjalanan. Saya tulisakan juga rasa terimakasih saya tentang beberapa konsep, ide, gagasan yang kemarin DIA berikan kepada benak saya, saya lanjutkan juga tentang rasa terimakasih atas beberapa masalah yang kemudian bisa saya hadapi.

Tak lupa, saya tuliskan juga tentang terimakasih untuk rasa nyaman, rasa tenang, perasaan optimis yang masih ia izinkan bersemat dalam hati saya. Saya juga tuliskan tentang rasa terimakasih atas masih diizinkan untuk masih bernafas dengan leluasa sehingga masih bisa berkarya.

Masya Allah, sebenarnya bila kita hitung satu satu, tak cukup rasanya satu halaman buku, untuk menuliskan betapa banyak kebaikan yang Allah berikan untuk kita …

Dan setelah menuliskan beberapa rasa syukur dan rasa terimakasih yang saya rasakan di hari sebelumnya, tangki semangat saya seperti diisi ulang lagi, seperti tanaman yang sedang layu, kemudian diberikan siraman air di pagi hari, segar …..

Saya tak mau menyia nyiakan begitu banyak nya kebaikan, anugrah, nikmat yang Allah berikan kepada saya. Saya tidak mau Allah kecewa, sehingga mencabut kebaikan kebaikan itu, saya tidak mau menyiakan kepercayaan-Nya kepada saya.

Produktifitas saya kembali lagi. Saya langsung bergerak, melanjutkan lagi apa yang telah saya mulai. Menjalankan lagi peran peran yang Allah percayakan kepada saya. Mensyukuri atas kepercayaan yang ia beri untuk saya, untuk tetap menjadi manusia bermanfaat.

Hari ini saya merasakan, bahwa rasa syukur, rasa terimakasih kita kepada-Nya adalah sebuah kekuatan yang akan kembali lagi untuk kita.

Hari ini saya meraskan bahwa salah satu kebaikan dari rasa syukur adalah meningkatkan produktifitas.

Terimakasih Ya Allah ….

Bandung,

21 Januari 2019

Sebuah Jawaban Atas Pertanyaan

Manusia memang bukan manusia yang bisa stabil sepenuhnya. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita akan terus on the track selamanya. Kadang kita sudah tau ilmunya, tapi saat harus menjalankannya, ternyata tidak mudah begitu saja. Kadang juga kita lupa, lupa atas nasihat nasihat itu semua.

Kadang kita gamang dalam menghadapi gejolak pikiran dan perasaan. Kita sibuk mencari pegangan, pandangan atau bahkan pembenaran. Seperti akhir akhir ini, ketika saya merasa butuh sebuah jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang terus bersahutan dalam pikiran. Saat saya harus menghadapi turun naiknya gelisah perasaan yang seperti tidak berkesudahan.

Manusia adalah makhluk persepsi. Ia kadang terkadang tenggelam dalam persepsi nya sendiri, atau bahkan termakan persepsi yang datang dari kanan-kiri-depan-belakang. Dan sungguh persepsi itu kadang seperti lingkaran yang ingin kita urai, namun kita sendiri kebingungan dari mana mengurai nya.

Lalu hari ini, Allah membimbing saya pada Ayat-Ayat Nya ..

Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (An-Nahl 77)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (An-Nahl 78)

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahl 79)

Masya Allah, tiga ayat yang berturut turut ini, seperti mengingatkan kepada saya bahwa banyak hal hal yang memang tidak atau belum saya mengerti tentang hakikatnya, tentang tujuannya. Hal yang bagi saya begitu misteri, begitu tersembunyi, hal yang saya tidak mengerti mengapa terjadi atau mengapa belum terjadi.

Kemudian ayat kedua, seakan akan Allah berkata kepada saya, For Not To Worry. Dulu pun waktu pertama dilahirkan, kita benar benar tidak tahu apa apa tentang dunia, tapi Allah bekali kita dengan indera, dengan kemampuan untuk bisa melihat, membaca, mendengar dan memahami, hingga sudah sejauh ini saya bisa memapahi kehidupan.

Bisa saja Allah tidak membekali itu semua, bisa saja, karena ia Maha Berkehendak. Allah seakan akan membimbing saya untuk mensyukuri apa yang telah dijalani, dinikmati, dan dipunyai hingga saat ini.

Ayat selanjutnya mungkin Allah sedang mengingatkan lagi, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Seperti Allah menjadikan burung burung bisa terbang bebas, tanpa campur tangan manusia. Sedangkan manusia, membutuhkan tekhnologi yang sangat rumit untuk bisa berada diudara. Bagi-Nya mudah saja.

Tiga ayat bertutut turut ini, seperti jawaban atas pertanyaan pertanyaan saya yang terus berputar dalam fikiran dan perasaan. Sampai dibeberapa ayat selanjutnya, yang berbunyi :

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl 96)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(An-Nahl 97)

Allah ngingetin saya lagi, untuk lebih faham bahwa apa yang kita punya, baik itu yang tangible atau yang intangble akan lenyap. Materi, keluarga, harta, fisik, kemampuan, kepintaran, rasa, waktu, keinginan, peluang, masalah, apapun itu, yang bersifat duniaw,i akan lenyap, hilang saat Allah menghendakinya.

Terakhir Allah ingatkan saya (lagi) untuk bersabar. Sabar dalam arti yang benar. sabar yang berupa kombinasi ikhtiar dan ketawakalan. Sabar dalam mentaati kehendaknya. Karena IA pun berjanji setiap apa yang kita kerjakan dalam kebenaran, Allah sudah siapkan balasan-Nya. Balasan yang lebih baik dari apa yang telah kita kerjaan, lebih baik dari apa yang kita usahakan, lebih baik dari apa yang kita perjuangkan. Dan Allah tidak akan menyalahi janji.

Yakin lah selalu bahwa Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi kita, bersyukurlah atas apa apa yang telah ia beri kepada kita, tak usah khawatir, karena Allah maha berkehendak, mudah bagi IA yang sedang mengatur semuanya.

Bersabar adalah jawabannya, bersabar untuk selalu melakukan kebaikan, kebenaran dalam pengabdian kepada-Nya. Karena ia telah menjanjikan hal yang jauh lebih baik bagi kita


Ah ..tulisan ini sesungguhnya adalah nasihat untuk diri saya sendiri, karena saat saya menulisakannya kembali seperti ini, saya mendapat lebih banyak lagi penyadaran. Apabila ada teman teman yang turut membaca, semoga ada manfaat yang bisa di dapat. 🙂

Bandung, 19 Januar 2019

Do’a Do’a Rahasia

doa doa rahasia 2

 

Pernahkah kau berbisik pada-Nya tentang berbait do’a do’a rahasia

Do’a yang bukan tentang mu, bukan tentang inginmu, bukan tentang harapmu, atau tentang deretan sedu sedanmu

Pernahkah kau berpanjat pada-Nya sederet do’a do’a rahasia

Do’a istimewa untuk dia, untuk mereka

Do’a untuk dia sedang berikhtiar bertemu dengan sahabat sejiwa

Do’a untuk dia sedang berusaha sekuat tenaga, mencari rizki untuk membayar hutang dan memenuhi kebutuhan keluarga

Do’a untuk dia yang sedang berjuang jiwa raganya, melawan sakit , yang berjuang agar bisa sehat seperti sediaka kala

Do’a untuk dia yang sedang berupaya menyembuhkan luka di batinnya, yang sedang ingin kembali menyala jiwanya

Do’a untuk dia yang sedang memperjuangkan adanya buah hati penyejuk jiwa

Do’a untuk dia yang sedang gundah gulana hatinya, sedang dirundung duka yang tak berkesudahan rasanya

Do’a untuk dia yang sedang berjuang menafkahi keluarganya, menjaga kehormatan dirinya

Do’a untuk dia  yang berjuang mempertahankan rumah tangganya, agar tak berguncang Arsy diatas sana, agar tak benci Allah kepadanya

Do’a  untuk dia yang sedang berjuang melawan kehendak buruk dalam dirinya, berjuang agar tak terjerembab, berjuang agar tetap menjadi manusia mulia

Do’a untuk dia yang sedang menempuh jalan kebaikan, yang menempuh jalan kebermanfaatan, yang memilih hidup dalam pengabdian

Do’a untuk dia yang berjuang mempertahankan keyakinannya, memeluk keyakinannya, kepada yang Maha Pencipta

Do’a untuk dia yang sedang mencari kebenaran sejati, mencari kebenaran yang bermuara kepada Tuhan Yang Esa

——-

Do’a kan dia yang tiba tiba terlintas di ingatanmu

Do’a kan dia yang berjasa dalam jalan hidupmu

Do’a kan dia yang pernah menggores warna dalam hatimu

Do’a kan dia yang pernah lekat dalam ingatanmu

Do’a kan dia yang pernah membuatmu  bahagia

Do’a kan dia yang pernah membuatmu kecewa, bahkan terluka

Do’a kan dia yang pernah atau masih kau cinta

Do’a kan dia yang pernah bersama mu berkarya

——-

Do’a kan dia yang bahkan kau tak pernah tau namanya

Do’a kan dia yang kau lihat sedang menjajakan dagangannya

Do’a kan dia yang sedang menunggu panggilan penumpang online nya

Do’a kan dia yang sedang menyapu jalanan, yang sedang mengatur di perempatan, dan pintu perlintasann

Do’a kan mereka suami istri yang sedang bergandengan tangan di sebuah taman

Do’a kan mereka para pencari ilmu yang sedang berjuang untuk masa depannya

Do’a kan ia yang berpapasan jalan dengan mu,

Do’a kan ia yang bahkan tak pernah kau tau namanya

——-

Do’akan mereka, agar lancar urusannya, agar sehat raganya, agar  tentram jiwannya,  agar bahagia hatinya, agar tenang pikirannya, agar berkah rizkinya, agar terang jalan hidupnya, agar terkabul segala doa doa mulianya, agar dicinta ia oleh Pencipta-Nya

——-

Do’a kan mereka diam diam

Do’a kan mereka  dalam dalam

Do’a kan mereka ketika hujan atau dalam larutnya sepertiga malam

Do’a kan mereka dalam dalam 

Do’a kan mereka dalam diam

——-

Biarkan ini menjadi Do’a Do’a Rahasia 

Antara kita dan DIA

Sang pengabul Do’a Do’a Rahasia

 

Bandung, 16 Januari 2019

Nuriska Fahmiany

 

 

 

Dosen Ala Ala

Jangan sembarang lontarkan keinginan, bisa jadi ia terwujud tiba tiba tanpa kau sangka

Kata orang “be careful for you wish for, you might get it” . Berhati hatilah apa yang kita lontarkan entah dengan niat atau asal terucap, bisa jadi deretan kalimat itu terekam oleh semesta, dan kemudian tersampaikan ke langit, dan sampai di ” Telinga-Nya”, dan kemudian deretan kalimat itu DIA iya-kan, dan apa yang kau ucapkan jadi kanyataan.

Kata kata adalah Do’a,

Ungkapan ini benar adanya, saya mengalaminya (kembali). Kali ini tentang keinginan untuk menjadi Dosen. dan Guru. Terinspirasi dari banyak film pendidikan yang saya tonton, dari cerita teman teman yang jadi dosen dan guru, juga dari buku buku yang saya baca tentang bagaimana perjuangan para guru diluar sana.

Dulu saya kalau cerita cerita sama temen, suka tiba tiba nyelutuk ” Duh pengen dehh jadi dosen, berbagi inspirasi dengan anak anak muda ” namun waktu itu jadi dosen adalah sesuatu hal yang agak mustahil buat saya. Pertama jenjang pendidikan saya yang sampai S-1 dan bukan background pendidikan juga. Di fikiran saya kalau mau jadi dosen, ya berarti harus lanjut sekolah S-2 dulu, baru bisa jadi dosen. Dan proses itu bakal panjang lagi menurutku, Jadi keinginan untuk mengajar di kampus adalah hal yang semacam angan angan saja.

Walau sebenarnya, mengajar bukanlah hal baru bagi saya. Beberapa kali saya juga mengisi berbagai workshop, seminar, dan semacamnya. Namun di kelas kelas informal, bukan resmi di dunia akademisi.

Dan kemudian, sekitar seminggu yang lalu, saya dikenalkan kawan kepada seorang pengurus di sebuah sekolah tinggi di bidang kesehatan di Bandung. Setelah ngobrol ngobrol, beliau menawarkan saya untuk mengisi mata kuliah di kampus tersebut. Masya Allah, saat itu saya langsung flash back ke moment di mana beberapa kali saya berkata ” Duh, pengen deh jadi dosen “

Kata Kata Adalah Do’a

Walau hanya dosen tamu, saya sangat bahagia, dan bersyukur tiada tara. Allah seperti memberi kejutan kejutan yang manis kepada saya. Atas harapan harapan yang ada, walau itu hanya lintasan lintasan keinginan, saya belum PD membawa nya dalam do’a yang lebih serius.

Jadi benar, hati hati lah dengan kita ucapkan. Jangan sembarangan. Tetaplah jaga pikiran, perasaan, dan lisan kita agar terus dalam kebaikan. Karena kita tidak pernah tau, perkataan dan lintasan apa yang kemudian terekam, terbawa ke langit, dan sampai kepada “Telinga-Nya”, dan kemudian ia mengabulkan apa yang ada dalam ucapan, pikiran dan perasaan kita.

Alhamdulillah, terimakasih ya Allah …

Tahun Baru Yang Berbeda

#CatatanPertamaAwalTahun

#LatePost

2019 tampaknya menjadi tahun yang akan banyak “berbeda” dengan tahun tahun sebelumnya. Seperti awal tahun baru kemarin, suasana berbeda lumayan terasa. Kalau di tahun tahun sebelumnya, fenomena yang biasa terasa diantaranya adalah orang orang ramai mempersipakan diri untuk merayakan pergantian tahun.

Penjual terompet berhadiran di jalanan utama bahkan pemukiman, acara acara pagelaran dan perayaan di gelar di pusat pusat kota dan tempat wisata, acara acara televisi yang berlomba lomba sajikan perhelatan, orang orang berbondong bondong di jalanan, menghampiri keramaian.

Namun tahun 2019 ini saya merasakan banyak hal berbeda -terutama di Bandung, di kota saya- tidak terlalu banyak para penjual terompet, topi, dan simbol simbol tahun baru semacamnya. Orang orang pun tidak terlalu euforia menyambut moment pergantian tahun, biasa biasa saja, paling memilih berkumpul dengan keluarga saja, tanpa persiapan yang istimewa, kerena memang tahun baru selalu bertepatan dengan libur panjang anak anak sekolah.

Di kota saya tidak ramai dengan arak arakan, pawai, atau riuh ramai suara terompet bersahutan seperti biasanya, satu dua saja barangkali masih ada. Acara acara yang gegap gempita seperti sebelumnya berganti dengan muhassabah, yang diadakan di masjid pusat kota. Anak anak muda pun banyak yang memilih untuk hadir di kajian, atau diam di rumah saja. Acara acara televisii lokal pun, bisa biasa biasa saja, tidak banyak acara konser yang super meriah seperti biasanya.

Mungkin hal ini karena banyak hal yang terjadi di negri ini, tahun 2018 adalah tahun ujian untuk Bangsa Indonesia. Berbagai bencana alam terus beruntun datang tahun ini, belum persoalan persoalan lainnya yang belum kunjung selesai. Hal ini membuat kita semua semakin tersadar bahwa banyak hal yang perlu kita renungi, dari pada sekedar perayaan perayaan yang minim faedah, hura hura dan kadang dekat dengan hedonisme.

Saat pagi pun saya melihat berita, para petugas kota melaporkan bahwa tahun ini, jumlah sampah peninggalan tahun baru pun jauh menurun, tidak biasanya. Jalan jalan pusat kota pun lebih lengang, dan suara mercon kembang api saat “counting down” pergantian tahun pun jauh berkurang.

Semangat “Hijrah” yang semakin lama semakin kental terasa pun, sepertinya menjadi faktor lainnya. Pemahaman terhadap agama yang makin baik, membuat kita lebih tau dan mau menjalani mana hal yang perlu mana yang tidak. Mana hal yang bermanfaat dan mana hal yang hanya jadi sia sia saja.

Semoga sepinya perayaan tahun baruan tahun ini, adalah wujud kesadaran dan kepedulian banyak anak Bangsa, bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki, direnungi. Dan semoga awal tahun -yang menurut saya lebih baik ini- menjadi pembuka tahun yang baik untuk Bangsa ini. Semoga kedepan akan beruntun berdatangan kebaikan dan keberkahan untuk Negri ini.

Aamiin …..

 

Mukaddimah – Buku Bacaan Para Tokoh Dunia

Saya lagi nyici baca buku nya IBNU KHALDUN yang judulnya MUQADDIMAH. Buku yang super tebal. Buku yang konon katanya banyak jadi rujukan para filusuf, politisi, sosiolog, pakar ekonomi, ilmuan dan cendikiwan di berbagai negara . Bahkan konon katanya, buku ini adalah salah satu buku “MUST READ BOOK” nya seorang MARK ZUCKERBERG adalah buku MUQADDIMAH ini.

Sudah lama sih, nyari buku ini. Akhirnya seorang teman memberikan pinjaman secara sukarela buku ini. Dengan rencana, next saya mau beli sendiri buku ini. Sebenernya saya belum khatam dengan buku ini, saya masih membaca bagian bagian yang saya anggap menarik, saya butuhkan, dan ingin mengetahui lebih dalam pemikiran tentang topik tersebut dari seorang IBNU KHALDUN.

Beberapa bagian yang sudah saya baca, diantaranya adalah pemikiran beliau tentang pendidikan, tentang akhlaq, tentang metode penerapan ilmu pengetahuan, dan beberapa kajian beliau tentang sejarah kaum Arab.

Kesan saya di interaksi awal saya dengan buku ini adalah, bahwa IBNU KHALDUN adalah seorang yang sangat cerdas, berani, mendalam. Lahir di abad ke 13 masehi, namun pemikiran nya sangat mendalam sekaligus visioner. Buah fikir nya yang berwujud buku ini, ternyata masih menjadi buku yang banyak di baca oleh banyak orang hingga saat ini, setelah 7 abad berlalu. Pemikiran nya masih sangat adaptable dipakai saat ini. Bahkan mungkin beberapa puluh tahun kedapan, buku ini masih sangat recommended buat dibaca.

Saya jadi banyak membayangkan, di masa itu. Di masa yang mungkin ilmu pengetahuan belum berkembang seperti sekarang, masa di mana literatur masih sangat terbatas, kemudahan akses informasi masih manual, namun mampu terlahir para pemikir yang luar biasa, yang karya karya nya masih bisa mempengaruhi dunia berabad abad kemudian.

Beberapa kali dalam tulisan di beberapa bab nya, ia selalu mengembalikan dan merajuk banyak hal kepada Al Qur’an dan Al Hadist. Berbagai tulisan nya banyak berawal dari perenungan mendalam atas fenomena yang ia lihat saat itu, dan pandangan dia akan dunia masa depan.

Akhirnya, saya tahu. Saya akan sangat jatuh cinta dengan buku ini, dan siap mendengar, berialog dengan pendahulu yang hidup berabad abad lalu ini …

#BacalahDenganNamaTuhanmu

#BacalahAgarDirimuTaqwa

Dibalik Musibah

Semoga setiap musibah, ujian, adalah jalan kita semua, untuk lebih DEKAT kepada yang MAHA BERKEHENDAK menjadikan ini terjadi. Baik yang tertimpa musibah ataupun kita yang menjadi saksi dan peduli.

Berdo’a untuk mereka saudara saudara kita disana semoga diberikan KEKUATAN dan KETABAHAN. Juga untuk kita sendiri, sebagai pengingat bahwa kehidupan ini ada yang MENGGENGGAM, di atas KUASA-NYA semua bisa terjadi

Jangan sampai sebuah bencana hanya kita bahas pada hal sebatas fenomena saja. Sebatas membahas pada gejala gejala alam, atau semacamnya. Namun kita lupa, mengkaitkan ujungnya pada SANG PENCIPTA yang menghendaki segala nya terjadi.

Innalillahi Waa Inna Ilahi Rajiunn, semuanya milik ALLAH dan akan selalu kembali Kepada-Nya. Karena apabila segala peristiwa di depan mata tidak membuat kita lebih Takwa, tidak membuat kita lebih tersadar dengan dosa dosa kita, lalu dengan cara apa lagi Allah menyadarkan kita ….

Ah… Ini nasihat kepada saya sendiri, yang masih sering lalai seraya berdosa. Kita tak pernah tau kapan dan dengan cara apa Allah menggerakan Alam miliknya untuk menyadarkan kita, bahwa IA MAHA KUASA ….

Mah Besar Allah Dengan Segala Kuasa-Nya …

LIKE ADDICTED ! Sebuah pelajaran dari seorang AWKARIN

Kemarin, beberapa percakapan dengan seorang kawan, membawa saya nonton Video nya AWKARIN yang berjudul “I QUIT INSTAGRAM”

Diantara kontroversial kisah hidupnya, ada beberapa hal yang bagus untuk dijadikan pelajaran. Di video tersebut ia mengungkapkan tentang apa yang terjadi dalam hidupnya, salah satunya adalah tentang bagaimana sosial media -yang selama ini menjadi sumber penghasilannya- menjadi salah satu sumber strees dan depresinya.

Ko bisa ? Awkari mengungkapkan bahwa dulu ia posting sesuatu ke Instagram, hanya karena ia ingin berbagi saja, berbagi moment saja, berapa jumlah like pun bukan jadi hal yang penting.

Namun seiring waktu ia kemudian menjadi seorang bintang di sosial media, dalam posisi dikenal banyak orang, banyak pengggemar, diberikan banyak respon dalam setiap postingannya,dan ternyata hal tersebut menggiring ia pada sebuah kondisi yang kemudian “merusak” kejiwaannya. LIKE ADDICTED !

Di posisi itu ia menjadi sangat terpengaruh dengan berapa jumlah “like” yang ia dapat, berapa banyak respon yang ia dapat. IS ALL ABOUT ENGAGEMENT. Ia menjadi sangat senang ketika postingan nya direspon banyak orang, dan itu NAGIH, semacam candu

Dan ketika ekspektasi like nya tidak sesuai harapan, ia menjadi tertekan, stress, over thinking dan kemudian bertanya tanya kenapa yaaa ko like nya dikit ? Apa yang salah dengan postingan saya ? Saya harus ngapain ya biar di like dan di respon sama orang ?

Dan kemudian ia berusaha mencari berbagai cara agar bagaimana postingan nya kembali disukai banyak orang. Dan itu membuatnya tertekan, yang hampir mengantarkan dirinya ke titik depresi

Syukurnya, Awkarin segera menyadari hal itu. Bahwa hal tersebut berbahaya untuk jiwanya. Ia kemudian menyadari ada akibat dari sosial media yang kemudian merubah hidupnya, bisa berpengaruh kepada kejiwaannya. Dan akhirnya dia memutuskan beberapa saat untuk berhenti sementara dari Instagram, hidup di dunia nyata dan membuka lembaran baru hidupnya.

Pelajaran yang baik menurut saya dari sepenggal kisah seorang Awkarin. Kita, orang biasa pun sangat bisa mengalami hal itu. Ketagihan like, ketagihan komentar, merasa senang gembira ketika postingan kita di komentari banyak orang, dan merasa cemas ketika tidak banyak tanggapan. Mantengin terus notifikasi, ketagihan posting, dsb (Mungkin hampir setiap orang pernah mengalaminya, dengan level yang berbeda beda, dari yang wajar sampai tingkatan bahaya)

Terlihat seperti hal simple, tapi sebenarnya tidak juga, dari artikel2 yang saya baca, kondisi tersebut di tahapan tertentu bisa membawa kepada masalah kejiwaan yang mengkhawatirkan, sudah banyak yang mengalami.

Teman saya yang pernah mengalami hal ini, kemudian pilihan dia adalah menghapus media sosial dari HP nya. Dia bilang : ” Pengen hidup lebih tenang aja sih …”

——–

Nah intinya bukan tentang media sosial nya yang salah, tapi tentang kitanya. Karena media sosial pun terbukti oleh orang banyak orang dimanfaatkan sebagai cara syiar, cara mengajak kepada kebaikan dan jadi jalan kebermanfaatan yang sangat luas

Media sosial benar benar mempunyai dua sisi mata uang. Waktu demi waktu kita harus bener2 ngecek, apa unsur postingan kita apakah benar2 untuk berbagi kenikmatan, apa untuk menyampaikan kebaikan dan inspirasi, apa hanya ingin mengejar ketertarikan, apa ingin selalu terlihat eksis, dsb

Pertanyaan semacam ini harus terus kita tanyakan pada diri kita, -dan ini sangat personal sekali-. Jangan sampai postingan kita justru jadi bumerang buat AMAL KITA dan juga KEJIWAAN kita …

Dan ketika ada kemungkinan/ fenomena seperti ini, bukan beraarti menghentikan aktifitas kita di media sosial, we have to keep doing good through social media and keep minding our soul … 😉

Sekian, Semoga Bermanfaat 

Bijaklah Bermedia Sosial
Sayangi Jiwa Kita
Sayangi Amal Kita

like