Apakah Kita Sudah Benar Benar Merdeka … ?

Merdeka adalah ketika setiap anak Bangsa ini mendapatkan pendidikan layak yang mereka butuhkan ….

Kemarin saya dikirim foto anak anak di Pulau Pangabatang NTT yang ikut merayakan ulang tahun kemerdekaan RI. Oh ya di Pulau yang cukup terpencil ini, saya dan teman teman Kebukit Indonesia sedang membangun sekolah tingkat dasar, informasi tentang sekolah nya ada DISINI

Perayaan sederhana di Pulau yang jauh dari keramaian, jauh dari hingar bingar parade, pawai, umbul umbul dan panggung hiburan khas perayaan Agustusan. Dengan apa yang mereka punya, mereka tetap ingin ikut meyakan kemerdekaan Tanah Air nya.

S

aya jadi bertanya tanya, – karena Indonesia adalah negara dengan ribuan kepulauan di dalamnya- apakah setiap Pulau terpencil yang ada di Negara ini ikut pula merayakan upacara kemerdekaan Indonesia, atau jangan jangan diluar sana masih banyak warga Negara Indonesia yang tidak ikut merayakan, atau bahkan tidak tahu tentang ulang tahun kemerdekaan Negara nya.

Lebih jauh dari itu, pertanyaan ini yang ada di benak saya adalah :

Apakah setiap jiwa di negri ini sudah benar benar merasakan kenikmatan kemerdekaan … ?

Tujuh puluh empat tahun kemerdekaan Indonesia. Rasanya waktu yang sangat cukup untuk setiap anak Bangsa di Negri ini mendapatkan dan menikmati pendidikan yang layak. Namun kenyataannya pendidikan yang layak masih jauh dari kata layak dan merata.

Masih banyak anak Negri ini yang tidak punya kesempatan untuk bersekolah, entah karena biaya, akses pendidikan, atau bahkan mereka masih asing dengan apa itu pendidikan. Sekolah, buku, belajar adalah hal yang asing bagi mereka. Pendidikan adalah hal yang mewah sehingga menjadi hal yang “untouchable”.

Dari pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, berkeliling ke Pulau terpencil dan Pedalaman di Indonesia, masalah pendidikan di Indonesia yang terutama adalah masalah akses. Akeses lembaga pendidikan, akses ilmu pengetahuan dan akses terhadap kesempatan bersekolah itu sendiri

Belum lagi bicara tentang pemerataan dan kualitas. Misalnya saja di salah satu daerah di NTT, saya menemukan buku pengayaan pendidikan terbitan tahun 1974 di sebuah perpustakaan sekolah, itu pun hanya beberapa eksemplar saja, sudah koyak disana sini, isi ny pun sudah sangat tidak relevan dengan keadaan saat ini, lagipula sepertinya buku buku itu hanya formalitas pembagian semata, entah dibaca atau tidak.

Ini hanya sebuah contoh saja. Buku yang seharusnya manjadi jantung pendidikan, tidak disediakan dengan kuantitas dan kualitas seharusnya. Belum lagi kualitas guru yang masih jauh dari kata ideal, atau bahkan standar guru yang seharusnya.

Ah entahlah, bicara tentang pendidikan Negri ini adalah sesuatu hal yang sangat kompleks. Akhirnya -dalam kondisi ini- kita lah sebagai anak Bangsa yang ikut berkewajiban ikut membangun Bangsa ini, dengan apa yang kita mampu, dengan apa yang kita bisa.

Walau cakupan nya masih bersifat mikro, tidak masalah, apapun yang sesuai dengan kapasitas kita. Karena bila hanya mengandalkan, menuntut dan menyalahkan pemerintah, rasanya hal yang akan cukup menguras energi , dan sesuatu yang tidak akan ada habisnya

Apa yang kita bisa lakukan saat ini, maka lakukan saja. Langkah langkah kecil untuk membantu anak anak Bangsa ini lebih terdidik, lebih terpelajar dan lebih berdaya maka kita lakukan saja.

Karena sebenarnya bila diamati lebih lanjut, Bangsa ini besar dan bertumbuh adalah karena kepedulian saudara sebangsanya. Kepedulian kita bersama.

So, setelah tujuh puluh empat tahun ini, apakah Bangsa ini sudah benar benar merdeka dan merasakan kenimatan kemerdekaan ?

Yuks bantu anak anak NTT mempunyai sekolah layak :

https://sharinghappiness.org/sekolahrafi

Bandung, 22 Agustus 2019

Advertisements

Ketika Mimi Peri Curhat …

Memanusiakan Manusia

Ini yang tersimpul dalam benak saya ketika selesai melihat video ini. Video tentang the fenomenal “Mimi Peri” yang mungkin cukup banyak dikenal oleh para netizen masa kini.

Video ini ada di channel salah satu Psikolog kesukaan saya yaitu Dedy Susanto yang mempunyai channel dengan tema Kuliah Psikologi dan beliau pun seorang penulis buku kece dengan judul “Pemulihan Jiwa”

Di Video ini Paduka (Panggilan Khas Mr Dedy)  mengajak Jalan jalan Mimi Peri dan memberikan Terapi Psikologi spesial kepadanya dengan cara yang sangat nyaman. Apa isi Video nya bisa disimak disini ;

 

 

Bagi saya Video ini mengungap banyak hal. Karena seringkali kita dengan mudah menilai seorang manusia dari permukaan saja, dari apa yang kita lihat, dari apa yang kita dengar, itu pun sekilas sekilas saja. Lantas dengan mudah kita memberikan penghakiman kepadanya, tanpa coba menelisik lebih dalam apa yang terjadi dengan sesiapa yang kita nilai itu …

Setelah menyimak video ini, saya bisa melihat sudut pandang yang lain ketika menilai Mimi Peri, dibalik segala ke “Abnormalan” yang ia sajikan dilayar kaca, yang ternyata semua itu adalah akibat dari segala sesuatu di masa lalu nya.

Masa dimana dia melalui banyak hal yang buruk, masa dimana dia benar benar tidak berdaya, dan masih berusaha tegak berdiri menjalankan hidupnya.Menyimak ceritanya – saya kira ini bukan hal yang mudah … –

Kita saja yang merasa hidupnya lurus, normal, merasa benar, seringkali lebih sibuk untuk mencaci, memaki, menyalahkan, menyudutkan mereka yang mungkin sebenarnya juga sedang “berjuang” dengan diri mereka,  berjuang menemukan jati diri mereka, yang sebenarnya ada perang batin yang ada

Diluar sana, mungkin ada banyak mereka yang seperti Mimi Peri ini, yang memang tidak tahu, tidak mengerti, harus apa, harus bagaimana.  Barangkali kurang ilmu, kurang teman, kurang kesempatan untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dengan kondisi yang mereka sedang rasakan

Karena kita yang mengerti, yang faham, tidak coba untuk menolong, merangkul, menunjukan arah kemana jalan yang benar, sekaligus menunjukan dengan cara yang baik. Asik dengan diri sendiri yang sudah merasa baik dan benar, dan merasa berhak menyudutkan orang lain yang kita anggap berbeda norma dengan kita

Ini bukan tentang membenarkan yang salah, dan menyalahkan yang benar. Tapi ini tentang ada saatnya kita memanusiakan manusia, dan bagaimana kita mempunyai kemauan, hasrat, untuk membantu sesiapapun yang sedang butuh jalan cahaya.

Kita hanya perlu menunjukan atau membantu mereka menuju cahaya tersebut …

 

Fatherless

 

Saya jadi teringat sebuah istilah “Fatherless” yaitu anak anak yang kehilangan figure orang tua nya. Kehilangan disini bukan perkara kehilangan secara raga atau nyawa. Namun fatherless disini adalah anak anak yang ayah nya masih ada, namun kehilangan sosok, fungsi, dan peran yang dibutuhkan anak dari seorang ayah. Kekurangan kasih sayang seorang ayah …

Apalagi “Fatherless” ini ditambah luka batin yang pernah dirasakan oleh anak dari ayahnya, yang ternyata berakibat panjang, hingga anak dewasa …

Saya ingat, ada mantan Transgander yang pernah cukup terkenal di media sosial. Dia menceritakan, tentang apa yang terjadi padanya  itu salah satunya karena ia merasa sangat kekurangan kasih sayang seorang ayah semasa kecil

Akibatnya  dia  mencari kebutuhan figure  itu diluar rumah yang bisa mengisi kekosongan batinnya akan sosok itu. Di lain pihak dia pun ketakutan dirinya tumbuh menjadi laki2 yang mirip ayahnya. Sehingga ia memilih menjadi seorang wanita, dia memilih menjadi seorang transgander saat itu …

” Aku ingin dipeluk ayah ….” katanya….  Alhamdulillah ia sekarang telah kembali kejalan lurus, kembali menemukan fitrahnya sebagai seorang lelaki sejati.

Sungguh betapa penting ternyata peran seorang Ayah, dalam tumbuhnya seorang manusia

Above All …

Semoga, Allah pun mempermudah orang orang seperti Mimi Peri untuk menjadi manusia yang kuat, bertemu dengan orang orang dan lingkungan yang tepat.Kemudian kembali menemukan dan menjalankan fitrah sejatinya sebagai seorang lelaki sejati (Karena sebenarnya Mimi Peri pun tidak pernah menyatakan diri sebagi seorang perempuan)

Semoga kita pun masih bisa menjadi manusia yang memanusiakan manusia,menjadi pembawa cahaya untuk sesipapun di sekitar kita yang sedang membutuhkan cahaya,dan arah jalan kebenaran …..

 

Bandung, 06 Juli 2019

 

 

Akhirnya Anak NTT Punya Sekolah

Alhamdulillah, Masya Allah, Allahu Akbar ..

Akhirnya segala doa dan usaha untuk membangun sekolah di salah satu pulau terpencil di NTT ini terwujud. Memang baru satu ruang kelas yang terbangun, dari tiga kelas yang dibutuhkan oleh anak anak di Pulau ini

Namun, satu kelas yang berhasil terbangun di Pulau yang sangat minim akses pendidikan ini menjadi harapan dan energi bagi semua orang. Bagi para siswa, para guru, para orang tua di Pulau ini. Anak anak bisa sekolah dengan lebih nyaman dan aman, tidak lagi kehujanan dan kepanasan, atau harus menyebrang Pulau di kala gelombang besar dan cuaca tidak bersahabat untuk bersekolah

Bagi kami yang menginisasi program #BangunSekolahNTT pun begitu. Berdirinya satu kelas di Pulau ini menjadi energi dan keyakinan yang mendalam bagi kami, bahwa dimana ada keinginan untuk berbuat kebaikan, maka akan selalu ada jalan.

Walau kadang memang tidak mudah, naik-turun, jatuh-bangun, kadang terselip pertanyaan “Bisa ga yaa ….”Mampu ga yaa…”…”Uangnya dari manaa yaa…” adalah sesuatu hal yang wajar, kita hanya manusia yang tidak akan pernah bisa 100% menjamin bahwa segala sesuatu akan terwujud sesuai dengan keinginan kita.

Namun ketika kita punya “STRONG WHY” akan sebuah hal yang sedang kita perjuangkan, maka walau terkadang hal itu tidak semulus landasan bandara, somehow maka apa yang kita perjuangkan tersebut akan berhasil terwujud.

That the essence of faith and deed

Sebenarnya bila difikir lebih mendalam lagi, kami lah yang selayaknya patut bersyukur … bersyukur karena telah diberikan berbuat kebaikan, kesempatan untuk beramal soleh, kesempatan untuk bisa bekarya, kesempatan untuk bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Karena kesempatan berbuat kebaikan, kemampuan berfikir, kemampuan untuk bergerak dan melangkah, kepercayaan orang lain, itu adalah sesuatu yang mahal, berharga, dan tidak akan terwujud bila tidak IA izinkan, tidak mungkin terwujud tanpa Ridha-Nya.

Maka, tidak patutlah kita berbangga berlebih dengan pencapaian pencapaian kita, karena sejatinya, apa yang mampu kita lakukan, adalah atas persetujuan-Nya, atas Ridha-Nya.

before1

kitabisa 2

Sekolah NTT ini adalah hasil kerja berjamaah banyak orang, adapun saya dan teman teman di Kebukit Indonesia yang membuat program ini, hanyalah perantara yang di tunjuk Allah untuk menjadi jalan kebaikan banyak orang.

Terimakasih ya Allah …

Mohon doanya, saat ini akan dibangun kelas kedua di Sekolah Dasar Pulau Pangabatang.

Teman teman yang ingin ikutan support anak anak NTT mempunyai pendidikan yang layak, bisa menghubungi kami. Apapun bentuk bantuannya, akan sangat berharga buat anak anak di sana …

Silahkan, feel free to contact me yaaa … 🙂

https://wa.me/6281320671151

Selamat Istirahat …

Bandung, 21 Juli 2019

Maharshi – Ketika Seorang CEO memilih menjadi Petani [ Film India ]

Iyaaa bangettt ….

Lagi keranjingan nonton film India nihh, Selected film India tentunya, film yang memang punya kualitas dan meninggalkan pesan yang kereennn

maharsi 2

Kali ini saya nonton film keluaran tahun 2019 judulnya “Maharshi” yang ternyata dalam bahasa Indonesia, bisa diartikan dengan : Orang Bijak. Sengaja saya gak banyak baca review nya dulu, biar ge banyak ekspektasi dan ngira ngira kemana arah ceritanya.

Ternyata bener banget, film ini rada diluar ekspektasi saya ending akhirnya. Diawal cerita, film ini banyak menyajikan tentang seorang anak muda yang super cerdas, baik hati, tampan, loveble, jago tarung dan struggling buat impian impian besar nya. Lahir dari keluarga yang biasa biasa saja, dan akhirnya membuktikan bahwa dia bisa mewujudkan apa yang selama ini menjadi Visi besar nya. (Sedikit Spoiler …hhee)

Saya kira akan menjadi seperti film sejenis ini lainnya : perjalanan seseorang meraih mimpi dan kesuksesan … ternyata film ini lebih jauh dari ini. Film ini kemudian bercerita tentang :

Pencarian jati diri seorang anak manusia, panggilan hidup, yang berakhir pada pilihan jalan kehidupan …

Walau film ini agak terlalu berlebihan dalam membangun persona tokoh utama (Pokoknya perfect banget daaaahhh, cerdas, tampan, kaya, humoris …hhaa) , namun film ini berhasil menyajikan tentang apa :

Makna Kesukesan Sebenarnya

Bukan tentang kekayaan, bukan tentang posisi dan jabatan, bukan tentang dimana kita tinggal, bukan tentang ketenaran …

Bukan berarti hal hal diatas salah dan kita tidak perlu mencapainya, namun hal hal diatas seperti kecerdasan, kekayaan, posisi dn jabatan, ketenaran adalah sebuah ALAT agar kita bisa benar benar mencapai kesuksesan dan kebahagian yang sebenarnya …

Kesuksesan Bukan Titik, Tapi Koma

Kesukesan Bukan Tujuan, Tapi Perjalanan

Salah satu kutipan yang saya suka dari Richi – Sang Tokoh Utama –

Akhirnya diatas “Ambisi Kesuksesan” yang kadang kita rencanakan, kita kejar, kita dambakan, ada yang lebih kuat dari hal itu semua …. yaitu “Panggilan Hidup” . Dimana hati dan pikiran kita erat mengikat padanya. Walau tanpa hinggar bingar yang kadang orang banyak didefiniskan oleh orang orang. “Panggilan Hidup” adalah tentang dimana hidup kita terasa sangat bermakna dan ada ketenangan dalam menjalaninya

Film ini ditutup dengan sebuah makna yang sangat dalam tentang kesuksesan :

” The person who is eager about success is human, whereas the one gives success and wins for others is Maharshi”

Kurang lebih artinya seperti ini :

” Orang yang bersemangat mengejar kesuksesan untuk dirinya sendiri adalah manusia, sedangkan orang yang mendorong orang lain untuk meraih kesuksesannya adalah orang bijak (Maharshi) “

Maharshi sendiri artinya orang yang bijak …

Dalam cerita ini Richi memilih untuk berkesempatan membuat orang banyak merasakan kesuksesan, ketimbang dia mengejar kesuksesan dan ambisi dirinya sendiri. Sama ketika dia melepaskan jabatan CEO nya, untuk membersamai para petani di desanya …

maharshi

Walaupun ini cerita fiksi, namun betul betul bagus maknanya, tentang bagaimana menjadi manusia yang mampu menemukan jati dirinya, mengikuti panggilan hidupnya, dan menjadi jalan kesuksesan untuk banyak orang …

Film ini mengingatkan saya pada salah satu tokoh hebat di dunia nyata, seorang “Marashi” di dunia nyata, yaitu JOHN WOOD pendiri dari NGO besar ROOM TO READ. Beliau meninggalkan jabatan tinggi nya di perusahaan MICROSOFT untuk memberikan kesempatan anak anak di dunia ketiga untuk mempunyai kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebuah langkah yang belum tentu semua orang mau dan mampu melakukannya … Ahh kalau bukan karena “Panggilan Hidup” tidak mungkin beliau sejauh dan seberani itu …

———

Ketika fenomena sekarang manusia berlomba lomba untuk menunjukan eksistensi dirinya, menunjukan kesuksesan dan pencapaian pencapaian pribadi nya, film ini semacam memberi pencerahan kepada kita tentang makna kesuksesan yang sebenarnya

Happy Watching – Get A Meaning ….

Bandung, 14 Juli 2019

Natsamrat – Film Terbaik Dari India Dengan Tema Keluarga

Hasil googling nyari referensi film Alhamdulillah tidak sia sia …

Akhirnya bertemu dengan film dari India ini, judulnya NATSAMRAT, Film tahun 2016 yang dibintangi oleh Nana Patekar (Wajahnya cukup familiar, namanya baru hafal…hhee)

Film ini film yang apik banget, membahas permasalahan keluarga yang barangkali banyak terjadi dalam kehidupan nyata. Tentang bagaimana cinta orang tua terhadap anaknya, bagaimana psikologis orang tua ketika memasuki masa tua.

Mengupas juga bagaimana seringkali seorang anak ketika sudah dewasa, sudah berkeluarga, bersikap “merasa lebih pandai” dari orang tuanya, sehingga merasa wajar ketika “menghakimi” sang orang tua.

Ahh beneran film ini wajib di tonton oleh setiap kita, oleh kita yang merasa seorang anak, dari orang tua kita …

Saya ga akan ngasih “spoiler” nya, meningan di tonton aja langsung, rasakan emosi yang mengaduk ngaduk, meraskan apa yang dirasakan oleh sang orang tua ketika dunianya “terguncang” ketika disakiti oleh anak yang dibesarkannya…

Diwaktu yang bersamaan merasakan juga apa yang dirasakan oleh sang anak saat penyesalan terbesar ada padanya, ketika dia sudah meluluhlantakan hati orang tua tercintanya …

Pelajaran terbesar dari film ini  bagi saya adalah :

Jangan pernah menyakiti hati orang tua kita, jangan melukai hati orang tua kita, jangan merobek robek perasaannya, jangan membuat perih jiwanya …

Karena itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidup kita, dan entah apakah kita akan mampu menebus dan menemukan obat penawarnya….

Allah pun, selalu memerintahkan kita untuk memuliakan dan menjaga hati orang tua kita, selama mereka dalam ketaatan…

Pun misalnya ada orang tua yang  tidak dalam ketaatan kepada Allah wt, kita masih diperintahkan berbuat baik, ta’dzim, hormat, menghargai orang tua kita …

natsamrat

Semoga kita semua, selalu menjadikan orangtua kita adalah prioritas utama hidup kita, semoga kita selalu diberikan kemauan dan kemampuan untuk memuliakan orang tua kita …

Aamiin yaa rabb..

Apakah Uang Itu Benar Benar Berharga ?

Di suatu sore yang cerah, ketika usai berbelanja dan mengelurkan sejumlah uang tiba tiba terfikir hal ini. Tentang uang ….

Dan sepanjang perjalanan pulang saya terus berfikir tentang hal ini

 

Kalau difikir fikir, uang itu – baik uang fisik atau uang digital – akan selalu datang dan pergi. Pagi bisa dapat transferan, sore atau malam bisa tinggal sisaan. Puluhan lembar ratusan ribu yang susah payah kita usahakan, bisa habis dalam hitungan minggu, hari atau jam …

Berapa pun uang yang kita punya, pada akhirnya akan habis, kepada apapun uang itu diperuntukan. Baik untuk kebutuhan pribadi, keluarga, bayar hutang, membayar cicilan, zakat-infaq-sedakah, memenuhi kebutuhan, di tabung-di investasikan atau hanya sekedar memuaskan keinginan.

Ia bagaikan air di arus sungai, ia akan datang untuk pergi ….

Bila uang hanya dihabiskan pada hal hal jangka pendek, seperti makanan atauu pakaian, atau semacamnya, maka uang yang telah susah payah kita cari itu seakan tidak ada artinya. Setidaknya hal ini yang sedang terlintas pada diri saya akhir akhir ini

Kenapa ? karena semahal apapun pakaian maka ujung ujungnya biasanya berakhir menjadi lap di lantai. Semahal atau se enak enak  nya makanan, semahal mahal  nya tempat tongkrongan dimana kita makan, maka ujungnya – maaf – akan berakhir menjadi kotoran. Bukan, ini bukan tentang ” nyinyir ” kepada siapa pun juga. Ini sedang merenungi diri, tentang bagaimana sikap kita – terutama saya – terhadap uang.

Bila uang yang susah payah kita usahakan dan kumpulkan tersebut, habis pada hal hal kebendaan yang juga akan hilang atau kemudian tidak berarti lagi, maka apa arti dari kesusah payahan kita mengumpulkannya ?

Pergi pagi – pulang malam … kurang tidur, kurang istirahat. Badan remuk redam, badan sakit sakitan, keluarga banyak kita tinggalkan …

Lalu berbagai “penderitaan” itu yang kita dapatkan hanya semata kepuasan akan makanan, pakaian dan kesenangan sesaat . Ahh… tidakkkk …. rasanya diri kita pantas mendapatkan lebih dari itu …

—-

Bila uang – baik sedikit atau banyak – itu pasti habis, maka tugas kita lah yang menentukan apakah uang tersebut akan habis untuk hal hal konsumtif, sesaat, keinginan belaka, penampilan, gengsi dan rasa kenyang semata.

Atau uang itu –sekali lagi, baik sedikit atau banyak– kita gunakan untuk sesuatu yang menambah nilai pada diri kita, membuat kita lebih produktif, membuat kita lebih cerdas, membuat kita bertambah catatan amal baiknya, membuat kita menjadi lebih berkualitas, dan membuat kita lebih bersyukur …

Sesederhana pilihan berikut ini :

Ketika kamu mempunyai uang 100 ribu. Kemanakah uang tersebut kamu habisakan ? 

– Nonton film terbaru dan jajan makan, atau membeli buku terbaru yang penuh dengan ilmu …

– Membeli lipstik keluaran terbaru atau ikut seminar pengembangan diri …

– Membeli segelas kopi dan nongkrong di kedai kopi terkenal atau untuk ongkos kita bersilaturahmi dengan sanak saudara kita …

Kadang dan seringkali kita dihadapkan pada pilihan pilihan saat menggunakan uang. Betulll ….. ?

—-

Maka, kalau begitu bukan uang yang berharga, tapi kepada apa uang tersebut di “belanjakan” lah keberhargaan yang sebenarnya

Kesimpulan itu yang akhirnya saya dapatkan sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Pada diri kita lah bagaimana uang tersebut akan berakhir, apakah akan habis begitu saja, tidak menyisakan hal berharga pada diri kita. Atau uang tersebut adalah “alat” yang akan menambah “nilai” pada diri kita sebagai seorang manusia …

 

Juni Pertama, di 2019

Salam Hangat Dari Kota Bandung ^^

 

 

 

My Silence Time

lonceng

Di zaman tekhnologi 4.0 – yang konon katanya tak lama lagi akan menuju zaman 5.0, waduhh apalagi nihh…  – kita tidak bisa lepas yang dari namanya gadget atau gawai. Rasa rasanya hal yang kini paling dekat dengan kita adalah gawai tersebut. Keseharian kita tak bisa lepas dari gawai, baik itu yang berkaitan dengan urusan pekerjaan, kehidupan sosial ataupun yang bersifat hiburan.

Gak diperlu dibahas lagi sebenarnya tentang bagaimana orang orang -termasuk saya- menjadi begitu ketergantungan kepada benda yang satu ini.  Dengan level yang berbeda beda tentunya. Ada yang sudah bisa bijak dalam menggunakannya, ada yang tanpa kendali dalam penggunaanya.

Saya ingin sedikit berbagi saja tentang “Self Regulation” yang saya belajar terapkan agar tidak ketergantungan, tetap produkif, dan tetap bijak dalam menggunakan gawai dan teknologi internet ini

Silence Time 

Jadi saya membuat moment yang saya sebut dengan “Silence Time” dimana saat itu saya meng-nonaktifkan gawai saya, terutama dari koneksi internet. Untuk telfon dan sms masih bisa diakses, untuk mengantisipasi apabila ada hal atau kondisi penting, sehingga orang perlu menghubungi kita atau sebaliknya.

Ada dua waktu dalam sehari biasanya saya atur untuk “Silence Time” saya, yaitu di pagi hari dan sore hari. Pagi hari dari bangun tidur sampai sekitar jam 6 pagi dan sore hari dari magrib hingga menjelang Isya. 

Misalnya kalau kita bangun sekitar jam 3-4 subuh, saya usahakan benar benar tidak menyentuh gawai sedikitpun hingga menjelang jam 6 pagi.

Begitu pun dengan sore menjelang magrib. Bila posisinya sedang ada dirumah, maka saya off kan koneksi internet di gawai saya, hingga menjelang Isya. Setelah Isya baru biasanya saya aktikan lagi koneksi internet nya

Kenapa saya off kan data nya, karena kadang kita masih tergoda untuk membuka gawai ketika kita mendengar ada notifikasi yang masuk. Jadi aman nya di off kan saja.

Ada saat atau kondisi tertentu memang saya tetap harus tetap aktif dengan kondisi internet, terutama di sore/magrib atau sedang di luar. Namun untuk waktu dini/pagi hari, saya betul betul mengusahakan dan menkondisikan diri saya dalam keadaan “Silence Time”

 

Kenapa Sih Mesti Ada “Silence Time”

Tentu setiap orang punya alasan dan kebutuhan yang berbeda beda. Bagi saya, saya sangat membutuhkan “Silence Time” ini. Untuk apa ? untuk saya berkomunikasi dengan diri saya sendiri, lebih saya “mengisi” hati, jiwa dan pikiran saya sendiri, lebih jauh “Silence Time” ini saya gunakan untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Bagi saya yang mudah teralihkan, mudah ter “distrace” , mudah tergoda, masih gampang terlena, yang masih suka asyik asyik scroll kemudian lupa waktu. yang kadang bias antara niat menggunakan gawai untuk urusan yang produktif, tapi jadinya “khilaf” mengakses hal hal receh, info tidak penting, dan jadi tidak produktif, maka saya akhirnya membutuhkan dan menerapkan “Self Regulation” seperti ini.

Karena dengan penggunaan gawai yang tanpa kendali, kita akan menjadi manusia yang “Outside In”menghabiskan waktu dan fikiran kita untuk hal yang datang dari luar, menjadi sangat responsif, seakan akan “wajib” rasanya menjawab segera semua chat yang datang dari luar, wajib rasanya membaca status status terbaru kontak kita, wajib rasanya bersegera mengecek dan menjawab notifikasi yang ada di medsos kita, dsb.

Belum lagi godaan godaan lainnya, dari satu medsos ke medsos lain, dari satu chat ke chat lain, dari satu notifikasi ke notifikasi lain, tanpa henti ….

Pernah ada yang ngerasain hal yang sama ?

Ngapain Aja Silence Time Itu ?

Nyambung sama bahasan diatas, saya sedang belajar untuk tidak menjadi manusia yang terus menerus “Outside In” tapi menjadi manusia yang “Inside Out” meluangkan diri untuk lebih berfikir mendalam,  banyak bercakap cakap dengan diri sendiri, membuat perencanaan perencanaan jangka panjang, mengevaluasi diri, membaca buku, merenungi ayat ayat suci, dan hal hal mendalam lainnya.

Atau memperuntukan  “Silence Time”  itu untuk berbicara mendalam, meluangkan waktu, pikiran dan hati untuk keluarga kita, orang orang yang benar benar di depan mata kita, tanpa gangguan notifikasi, chat grup, atau semacamnya yang tidak akan pernah ada habisnya. Benar benar ada untuk mereka, orang orang terdekat kita.

Bahkan, bisanya saya meluangan beberapa hari (Minimal satu hari penuh) untuk melakukan “Puasa Internet” going outside, jalan jalan keliling kota, berbicara dengan orang orang baru, melihat hal hal lebih dalam yang selama ini luput dari pandangan kita

 

Sudah Disiplin Dengan “Silence Time” nya ?

Nah itu dia sedikit berbagi tentang “Silence Time” yang saya lakukan. Masih suka tergoda ? Tentunya, godaan selalu ada, dan masih kadang melakukan “cheating” hhaa… Tidak mudah mendisiplinkan diri di tengah derasnya arus informasi dan eksistensi diri, apalagi bila tanpa me-regulasi diri.

Namun, sekali lagi. Dalam hal ini, setiap orang sebaiknya punya “Self Regulation” yang sesuai dan dibutuhkan oleh masing masing individu, yang tentunya berbeda satu dan yang lainnya

Yang jelas, bijak bermedos sangat sangat dibutuhkan -dengan cara masing masing- jangan sampai menjadi manusia yang “Outside In” lupa untuk berusaha menjadi manusia yang “Inside Out” dan menjadi manusia yang menjadi korban informasi, tidak mampu berpikir mendalam, menjadi tidak produktif, habis masa sia sia tanpa karya dan amalan berguna.

How About You ? Do You Have Your Silence Time ?

Sharing dong … 🙂

Bandung, 18 Juni 2018

Resah gara Gara Luc**** Lu*a …

Kenapa emang kenapa ama doi ?

Jadi lebaran kemarin sempat tidak sengaja melihat explore di IG, ada seorang perempuan berjilbab sedang mencium tangan seorang laki laki. Karena merasa agak ganjil saya pun meng-klik nya …

Oh ternyata kerucigaan itu terbukti, pelaku di foto itu adalah sang kontroversial LL dengan seorang laki laki, yang di caption nya di sebut sebagai “Calon Imam-ku” . ( Uhhh.. entah mau komentar apa). Karena rasa penasaran, siapakah laki laki yang sepertinya “ganjil” itu, akhirnya di prediksi bahwa “sang laki laki” pun tidak jauh kisahnya dari LL. Kebalikannya.

Ah bukan gosip nya yang ingin saya bahas disini, namun tentang keresahan hati tentang ketika kebenaran bercampur aduk dengan kebatilan. Sudah banyak orang tau tentang kontrofersi kisah LL ini, yang kemudian memang figure inii jadi komoditas, menjadi industri, menjadi bisnis yang cukup menjanjikan.

Yang menjadi miris adalah, Ketika isu “gender yang tertukar” ini, di bumbui dengan simbol simbol keagamaan. Atau moment keagamaan turut “digunakan” dalam meng UP figure kontroversial ini., yang sebenarnya seorang pria, memakai jilbab lengkap, yang sejatinya wanita, memakai pakaian yang laki laki banget. Seolah olah menjadi “pembenaran” atas apa yang mereka lakukan. Seolah olah boleh boleh saja, toh mereka pun bisa “religius”. Kebatilan dibungkus atribut keagamaan …

Belum lagi -yang membuat tambah miris- adalah, ketika figure kontroversial ini, di UP juga oleh youtuber berjilbab, terkenal, dan tampaknya mempunyai dasar kegamaan yang kuat. Tapi mungkin untuk kepentingan konten, atau entah apa itu, sang youtuber jilbaber ini ikut membuat konten bersama tokoh kontrofersi ini. Dengan konten yang agak cukup membuat saya resah …

Kenapa resah ? karena sang youtuber ini mempunyai subsciber hingga belasan juta, belum lagi follower IG nya yang sudah jutaan. Dimana banyak subscriber dan follower nya adalah usia anak anak dan remaja, yang sangat mudah terpengaruh, labil, gampang terbentuk persepsi nya, cendrung gampang meniru, apalagi apabila itu “disajikan” oleh orang yang merupakan idola mereka.

Lalu bila idola mereka yang cukup “ngerti” agama pun, ikut ikutan “menyajikan” LL dengan segala kontroversinya, apa yang mungkin terjadi di benak mereka. “Oh ternyata tidak apa apa ya seperti LL itu, buktinya kakak youtuber itu temenan dan bikin konten bareng juga tuh ama dia” .

Bagi kita mungkin tidak semudah itu terpengaruh, tapi bagi mereka para anak anak atau yang sedang beranjak remaja, sedang mencari jati diri, hal ini akan sangat berbahaya untuk persepsi mereka. Idola mereka adalah panutan mereka. Apa yang dikatakan, dilakukan, dicontohkan bahkan menjadi pola pikir idolanya tersebut akan mudah mereka tiru

Barangkali fenomena LL dan pihak pihak yang ikut serta dalam menjadikan figure ini, atau ikut “menikmati” keuntungan dari figure ini, atau sebagian masyarakat mengganggap wajar wajar saja, atau trend saja. Tapi bagi saya rasanya tidak sesederhana itu, kehadiran LL dan segala gimick nya, akan banyak ber-impact buruk untuk generasi muda kita, anak anak kita …

Sekian dulu curahan keresahan saya, apakah Anda pernah merasa resah juga ?

Terimakasih Ramadhan

So, this is it … Berpisah kita disini rupanya. Banyak yang aku rasakan selama sebulan kebersamaan. Rasanya sangat banyak yang ingin kuungkapkan

Terimakasih untuk suasana syahdu yang kau persembahkan

Terimakasih telah membersamai dalam riuh dan diam

Terimakasih untuk membuatku mau tegak terjaga dalam malam malam, rela terlarut hanyut dalam ayat ayat suci Nya

Terimakasih telah membantuku lebih memaknai sabar dan kesyukuran

Terimaksih telah membantuku, berpikir dan menjiwa dalam dalam

Terimakasih telah membantuku lebih mengerti tentang penerimaan

Terimakasih telah membantuku yakin atas doa doa dan harapan

Terimaksih telah membantuku, meyakini kemana arah jalan kehidupan

Terimakasih telah membantuku, lebih dekat , mengenal, dan menginternalisasi akan Ke Maha Besaran-Nya. Bahwa pada-Nya lah kehidupan ini semua akan bermuara. Ini yang utama

Ya, DIA. Pencipta kau juga aku

Ramadhan,
Walau aku sadar, kau masih banyak ku sia siakan. Masih terperangkap dalam kemalasan dan kelalaian, melakukan banyak pembenaraan

Ramadhan,
Terimakasih yaa, sebulan ini adalah saat yang sangat berharga. Klise barangkali. Tapi kuharap, bisa berjumpa dengan mu di kemudian hari

Dan di hari perjumpaan itu, aku ingin kau melihatku menjadi manusia yang jauh lebih Taqwa di hadapan Pencipta Kita, ALLAH Azza Wa Zalla, dan siap kembali menerima “tempaan” mu di waktu selanjutnya

Ramadhan, sekali lagi terimakasih yaa… See you, when I see you

Kenapa Sih Mesti Jauh Jauh Ke NTT ?

Masih banyak orang yang bertanya atau mungkin berkomentar “Kenapa sih, jauh jauh ke NTT buat bangunin sekolah? disini juga masih banyak yang mesti dibantu !”

Jadi memang selama beberapa tahun terakhir, saya banyak melakukan berbagai kegiatan sosial pendidikan di wilayah NTT, tepatnya dari tahun 2013. Tentunya bukan saya sendirian, saya bersama tergabung dalam tim Kebukit Indonesia memang lebih sering berkegiatan disana. FYI saya dan rata rata teman Kebukit Indonesia tinggal di Bandung, Jawa Barat

Ketika mendapat komentar seperti diatas biasanya saya jawab kurang lebih seperti ini : ” Apakah kita harus menunggu Jawa Barat beres permaslahannya, baru kita perhatikan saudara saudara kita yang ada di Timur sana”

Tentunya kami memutuskan untuk berfokus untuk berkegiatan disana bukan tanpa alasan. Awal 2012 kami kesana, banyak hal yang akhirnya kami “capture” disana, dan kami memutuskan untuk mulai berkegiatan sosial pendidikan disana, hingga sekarang.

Lalu bila ada yg bertanya atau berkomentar seperti ini : “ Kan harus bantu yang terdekat dulu ! “, Saya hanya bisa tersenyum dan menjawab seperti ini : “Kenapa, Anda tidak mulai membantu saudara2 kita yang dekat?” hhe… agak keras memang jawabannya, namun ini tidak se pragmatis yang dikira

Benar adanya kita perlu membantu yang dekat, tapi bukan berarti kita mengabaikan yang jauh. Ketika yang jarak nya jauh dari kita itu, memang lebih prioritas, urgent, untuk segera di bantu. Rasa rasanya tidak bijak juga ketika kita menunggu -misalnya-Pulau Jawa beres dulu permasalahannya, baru kita bantu saudara saudara kita yang jauh di sana.

Jadi, bukan tentang jauh dan dekatnya. Ini tentang visi, tentang misi, tentang keterpanggilan, tentang “STRONG WHY” dimana dan dengan siapa kita mengukir karya Peradaban. Pada akhirnya, memang kita butuh banyak orang yang mau peduli, peduli atas keaddan negri ini, yang tidak hanya berhenti dalam fase prihatin, berkomentar, namun kemudian berlalu begitu saja.

Karena kepedulian dan kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun kita merasa, Insya Alah akan sangat bermanfaat untuk saudara saudara kita yang membutuhkan. Jadi mulai lah kita sama sama berkarya dengan mata, telinga, hati dan nalar yang terus terbuka. Melihat apa yang bisa kita lakukan untuk saudara saudra kita, mengajak orang lain untuk berbuat yang sama, agar Indonesia lebih berdaya.

Ini dokumentasi waktu akan meresmikan sekolah di Pulau Pangabatang, ceritanya nanti saya sambung yaa … 😃

Oh ya, tentang sekolah apa yang sedang kami bangun, ada di sini : Bangun Sekolah NTT