The Power Of Language [ Resensi Buku ]

Salah satu buku yang saya beli beberapa bulan lalu adalah buku “The Power Of Language” buku terjemahan dari Korea yang ditulis oleh Shin Do Hyun & Yoon Na Ru

Seperti biasa, kalau lagi hunting buku, saya banyaknya mengandalkan feeling, untuk beli buku yang saya butuhkan dan bakal jadi vitamin bagi jiwa

Seperti buku yang satu ini ; “The Power Of Language” saya tertarik pertama kali oleh cover dan warnanya yang cukup sederhana. Lalu saya lihat daftar isi, dan beberapa halaman secara acak. Bila ada tiga atau paragraf yang saya rasa “kena” saya biasanya tidak lagu langsung meminangnya ….#tsahh

Nah sekarang kita ke review nya yaa, let’s go !

” More then i expected “ tampaknya ini kalimat yang tepat untuk buku ini, tampak ringan namun buku ini cukup dalam di setiap bab bahkan di setiap pembahasannya

Buku ini bukan tentang tips berbahasa, tata cara, tekhnik, atau teori teori berbahasa. Namun lebih dalam membahas tentang nilai nalai dasar berbahasa, yang diambil dari pemikiran para filusuf klasik baik dari timur atau barat, yang kemudian penulis ramu dalam kajian keseharian

Malahan, buku ini bukan tentang nilai nilai dasar berbahasa, namun tentang nilai nilai dalam berkomunikasi, bagaimana menyimak dengan bijak, bagaimana memahami dan menghargai orang lain.

Selain itu buku ini mengajak untuk faham bagaimana menggali rasa, menggali makna, mengajak berfikir tentunya dengan menggunakan kekuatan dan kebijakan dalam berbahasa.

Sekali lagi buku ini bukan buku teknik berbahasa, namun buku tentang bagaimana berbahasa yang bijak, berdasar pada nilai yang luhur, niat yang baik, penerapan yang tepat, akan bisa merubah diri kita, orang lain, bahkan dunia

Tentang Penulisnya ….

Sebelumnya saya tidak tahu tentang mereka berdua. Rupanya Shin Do Hyun rupanya seorang aktris Korea yang masih muda. Dan juga ternyata buku ini sangat direkomendasikan dan ikut di promokan oleh BTS. (Duhhh saya juga tau bahwa begitu BTS terkenal …hhhaa)

Tapi memang salute sih, seorang aktris Korea yang masih muda ini, bisa menulis buku yan berkualitas dan dalam seperti ini. Pun tidak salah saat BTS ikut merekomendasikan buku ini, karena sangat bergizi

Gara Gara Tulus

Lagu memang bisa mengungkap berbagai rasa

Lagu juga bebas kita interpertasikan kepada sesiapa saja

Seperti lagu ini, yang akhir akhir ini deeply touch me

Entah karena Tulus yang membawakan lagu ini, sehingga terasa lebih bernyawa

Entah karena suasana hati saya yang sedang dalam suasana yang berbeda

“Ku bahagia, kau telah terlahir didunia, dan kau ada diantara miliaran manusia, dan ku bisa dengan radarku menemukanmu ….”

It’s feel like missing someone that you never meet

It’s feel like remember your memories that not happened yet

It’s feel like you loving your unborn child

Suatu hari, kelak ingin ku lagukan ini kepada anakku, biar ia tahu betapa aku sudah sangat merindukannya, walau belum kutahu seperti apa rupanya, dan siapakah namanya

Ah jadi melow ….

Membaca Kisah Tariq Bin Ziyad

Membaca buku ini, membuka pengetahuan saya yang lebih mendalam tentang salah satu jendral Islam, yaitu Tariq Bin Ziyad . Beliau adalah generasi setelah Rasul, hidup di masa pemerintahan Khafilah Bani Umayyah.

Jendral yang membebaskan kota kota di wilayah Andalusia, yang juga dikenal dengan salah satu keputusan beraninya membakar kapal perang yang membawa ia dan pasukannya ketika memasuki wilayah Andalusia.

Tujuan nya membakar kapal perang yang mereka gunakan adalah agar pasukannya tidak memikirkan untuk menyerah dan kembali sebelum menang. Dan terbukti dengan keputusan nya yang “out of the box” ini, pasukan Islam yang ia pimpin berhasil membebaskan Andalusia.

Wahai Saudaraku, laut ada di belakang kalian dan musuh ada di depan kalian, kemanakah kalian akan lari? Demi Allah yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Kita harus memilih kemenangan atau syahid. Kita tidak akan pulang sebelum memenangkan tujuan itu

Adala sebuah pidato heroik yang membangkitkan semangat para tentara Muslimin

Tariq bin Zayid adalah seorang Jendral Islam yang visioner, ahli strategi, dan cerdas. Dalam peperangan ia dikenal sangat tegas, berani mengambil keputusan bahkan keputusan yang diluar nalar seperti membakar kapal perang ia dan pasukannya.

Namun sisi lain dari sosok tegas dan “nekat” dari Tariq Bin Ziyad, beliau adalah panglima perang yang sangat menjunjung dan menerapkan etika ketika berperang, ia sangat mengikuti contoh Rosul dan Sahabat ketika berperang.

Contohnya tidak menyerang siapa pun yang ada di rumah ibadah, yang ada di rumah rumah warga, orang yang tidak memegang senjata, para wanita, anak dan orang tua, tidak memisahkan tawanan perang dengan keluarganya, tidak merusak tanaman dan tidak menjarah.

Di luar peperangan beliau adalah orang yang pembelajar, tenang, bijak dan pemaaf. Ketika ada seseorang yang mengkhianatinya, ia tak lantas menghukum, namun malah di berikan kesempatan dan pilihan. Inilah yang membuat banyak orang yang kemudian suka rela dan setia mengikutinya.

Beliau adalah seorang pemipin yang berpandangan jauh. Ketika telah berhasil menaklukan Andalusia, ia tak berhenti, ia bercita cita untuk melanjutkan langkahnya membebaskan tanah Eropa dan menyebarkan cahaya Islam ke seluruh dunia.

Dalam sebuah percakapan, salah seorang prajuritnya berkata : “Wahai Tariq, Pada siang hari, kami meliatmu seperti singa ketika berhadapan dengan musuh, tapi di malam hari engkau seperti seorang ahli ibadah”.

Tariq menjawab “Dulu saya hanya seorang budak. Kemudian, Allah mengangkat saya menjadi panglima perang. Ini adalah tanda kesyukuran saya kepada Allah”

Membaca buku ini mengenalkan saya kepada sosok pahlawan yang sesungguhnya, idola yang sebenarnya, yang bisa kita ikuti kecerdasannya, kelembutannya, ketegasannya, pandangan jauhnya, cita citanya untuk kegemilangan Islam.

Sebuah kalimat dari Tariq Bin Ziyad, yang akan selalu menjadi pesan kepada seluruh Ummat Muslim ;

Masa Depan Kita, Kita Sendiri Yang Menentukan.

Masa Depan Islam Bergantung Pada Usaha Kita Untuk Menyebarkannya

(Tariq Bin Ziyad)

Bagaimana Ini ….

Bagaimana ini,

Aku Dipuncak Rindu

Rindu Pada Laut Dan Padamu

Kuucapkan Saja

Atau

Kuabaikan Saja

Dapatkah tertawar rindu ini, dengan sepanjat ucap doa

Agar di sebuah musim yang tak sengaja

Kita kembali bertemu bersama

Pelari Tipe Apakah Kita ?

Dalam menjalankan sesuatu kita perlu mengetahui sifat, karakter dan kepribadian diri, agar kita bisa mengetahui bagaimana langkah yang akan diambil agar tujuan yang dicita citakan bisa menjadi kenyataan

Dalam mewujudkan impian & cita cita itu seperti sedang manjalankan lomba lari. Kita harus mengetahui terlebih dahulu siapakah diri kita, apakah kita tipe pelari sprint, pelari jangka pendek, pelari jangka panjang atau pelari estafet, karena rupanya setiap jenis nya mempunyai karakter yang berbeda

Bahkan setelah kita mengetahui diri kita, kita pun perlu mengetahui jenis bisnis/organisasi yang akan kita bangun, apakah bisnis yang akan dilakukan dalam jangka pendek saja, dalam suatu priodik tertentu, project berjangka, atau kita sedang membangun bisnis/organisasi yang berjangka panjang, karena tentunya akan berbeda dalam membangun dan mengelolanya.

Saya senang menganalogikan bisnis dengan lomba lari. Misalnya pelari sprint dan jarak pendek, mereka akan lari sekencang kencangnya untuk mencapai garis finish, mengeluarkan segala tenaga nya dalam waktu yang relatif singkat, karena jarak yang ditempuh nya pun pendek, berkisar 100 meter saja. Maka dalam jangka waktu itu, ia akan mengerahkan tenaga dan staminanya sekaligus hingga mencapai garis finish

Pelari model sprint ini, sama halnya dengan bisnis yang memang diniatkan untuk jangka pendek saja, misalnya bisnis yang tujuannya keuntungan cash secara cepat, bulanan misalnya. Maka, bisanya kita benar benar “ngegas” dari awal sampai akhir, agar tujuan jangka pendek tersebut segera tercapai.

Beda halnya dengan lari jangka menengah apalagi jangka panjang, maka kita perlu untuk memikirkan bagaimana strategi yang akan dilakukan. Kita perlu mengatur stamina, mengatur nafas, mengatur waktu kapan saaatnya berlari kencang, saatnya berlari wajar.

Saat kita sedang melakukan lari jangka panjang dengan jarak yang tentunya lebih jauh, tapi kita malahan berlari sprint, maka bukan tidak mungkin tenaga kita sudah habis di pertengahan jalan, sebelum sampai garis finish, karena kita tidak bisa mengatur ritme dalam berlari

Pun saat kita ingin membangun bisnis yang jangka panjang, maka aturlah strategi, bagaimana mengatur diri di titik start, bagaimana mengelola energinya, bagaimana langkah kakinya, apakah kita memilih langkah langkah lebar, atau langkah kecil namun lebih cepat. Mengatur irama kapan waktunya berlari kecil, dan kapan waktunya berlari kencang

Jangan sampai kita tidak bijak, menghabiskan jiwa, raga, tenaga dan emosi yang berlebihan di titik tertentu dalam bisnis kita, kemudian terkuras habis semua energi di tengah perjalanan, dan kelelahan untuk melakukan perjalanan selanjutnya yang sebenarnya masih jauh.

Padahal kita butuh nafas yang panjang, emosi yang stabil, langkah yang bijak untuk menjalankan tujuan jangka panjang tersebut.

Lain ha nya saat kita mempunyai bisnis, organisasi, impian atau cita cita besar yang tentunya di bangun dalam jangka panjang. Cita cita dan tujuan yang tidak kita kerjakan sendiri, tapi dengan sinergi tim, melibatkan banyak orang. Bisnis atau organisasi yang tetap meninggalkan jejak walaupun kita sudah tidak ada. Maka bisa jadi yang kita butuhkan adalah lari secara estafet.

Saat melakukan karya secara estafet, maka kita tidak hanya memikirkan tentang sebarapa cepat kita mampu berlari, namun kita pun perlu memikirkan bagaimana tim kita, bagaimana kekuatan mereka, bagaimana bersepakat untuk mengatur langkah dan startegi, bagaimana mengatur jarak tempuh masing masing, bagaimana kita cerdas dalam berbagi peran dan tanggung jawab.

Karena, bila kita mempunyai impian, visi, cita cita dan tujuan yang besar, dan tentunya menepuh jarak waktu yang jauh, maka mustahil kita berlari sprint sendirian, kita butuh rekan, kita butuh teman, kita butuh kawan seperjuangan yang akan memastikan kita menyentuh garis finish dengan upaya bersama. Kita butuh strategi, langkah langkah yang terukur, pembagian tugas yang tepat, juga kemufakatan

Fahami diri, kenali organisasi, adalah langkah awal untuk mencapai tujuan

Maka, sebelum melangkah dan berlari lebih jauh, pastikan “pelari” tipe apakah kita, apakah tipe pelari sprint dan jangka pendek, yang mempunyai speed tinggi, apakah pelari jangka panjang yang bisa membuat strategi terukur untuk diri sendiri, ataukah kita tipe pelari estafet yang akan mau untuk beragi peran, untuk mencapai tujuan yang jauh dan jangka panjang

Pun dengan organisasi atau bisnis yang sedang kita jalankan, apakah ini akan menjadi bisnis lone ranger, yang akan kita jalankan sendirian saja, karena memang tujuan nya jangka pendek saja. Atau kita akan menjadikan bisnis atau organisasi jangka panjang yang jauh perjalanannya, besar impiannya, yang membutuhkan banyak orang untuk menjalankannya

Maka, luangkan ruang dan waktu untuk mengenali siapa diri kira, bisnis dan organisasi apa yang sedang kita bangun, tim seperti apa yang akan kita butuhkan, agar cita cita dan tujuan kita dapat tercapai

Bandung Juni Ke Sepuluh

Semoga Bermanfaat

Fn : Writing is learning. Menulis adalah proses belajar dan memahami diri, juga media berbagi

Saling Menguji

Kita sebenarnya saling menguji

Kadang kita diuji orang lain entah dengan rasa marah, kecewa, sedih bahkan sakit hati atau mungkin tanpa sadar kita pun menjadi ujian untuk orang lain. Kita menyebalkan, mengecewakan, membuat orang marah dan sakit hati bahkan barangkali tanpa terasa mendzalami orang lain

Mungkin kita pernah dikecewakan oleh seseorang misalnya, kekecewaan yang mendalam, sehingga kita menjadi larut pada rasa kesal pada orang tersebut yang tidak ada habisnya. Hati kita menjadi sempit, sedih , bahkan menjadi dendam yang mendalam akibat perbuatannya. Bila kita terus terlarut dalam rasa ini, rasanya hidup terasa tidak mengasikan…

Well. after all we are human : we are, he is, them all.

Selain manusia tidak sempurna, bisa jadi ini adalah tentag orang lain yang menjadi jalan ujian dari Allah, untuk menguji diri kita, dengan perbuatan yang mereka lakukan. Satu hal yang perlu kita mulai belajar adalah, ini semua ada barangkali untuk menguji kita, baik untuk menguji kesabaran, ketangguhan, kesadaran bahkan keimanan kita

Saya sendiri sedang belajar akan hal ini, mengembalikan semua baik rasa kesal. marah, kecewa, sakit hati, kepada Allah.-tidak mudah memang- , karena wajar saja sebagai manusia kita merasaka berbagai emosi tersebut

Namun kemudian menyadari bahwa pada hakikatnya ini bukan hanya tentang urusan manusia kepada manusia, namun Allah menghendaki dia, kita, mereka untuk jadi jalan ujian satu dengan yang lainnya

Maka saat bisa mulai belajar menjalalnkan hal ini, biasanya segala rasa marah, kecewa atau patah hati perlahan memudar, menjadi sebuah kesadaran, bahwa tugas kita bukan untuk kesal, marah, dendam berlarut larut kepada objek manusianya, namun bagaimana kita bisa menjalani ujian tersebut dengan baik, benar & bijak.

Dan yang terpaling adalah menerima dengan penuh kesadaran bahwa semua terjadi atas kehendak Allah, dan ada maksud tujuan dan hikmah dari semuanya. Tugas kita lah untuk menjalaninya dan menemukan jawaban atas maksud Allah atas segala ujian ini

Karena bisa jadi kita akan diuji melalui orang lain, dan kita pun bisa menjadi ujian untuk orang lain

Wallaua’lam bissawab…

Imperfect Life

_Instagram Post (1)

Tentang hidup yang tidak sempurna ….

Iya hidup ini tidak sempurna, banyak hal  yang tidak sesuai dengan keinginan, harapan  dan keinginan kita.

Iya, hidup ini tidak sempurna. Kadang kita dibuat kecewa, marah, sedih, bahkan patah hati oleh orang lain

Iya hidup ini tidak sempurna, seberapa detik lalu kita hidup baik baik saja, namun tak berapa lama tiba tiba ada masalah mendera kita

Iya, hidup ini tidak sempurna, terkadang tidak semua hasil sesuai dengan yang kita sudah usahakan

—-

Sekarang saya sering menasihati diri sendiri saat menghadapi masalah.

“Hei … dont take it personal”.

Karena setiap orang pun sama, merekasetiap manusia menghadapi masalah nya masing masing. Kita, dia, mereka …

Saat kita sadar bahwa setiap orang diikuti masalah nya masing masing, tak lagi  kita merasa orang yang paling malang, paling tidak beruntung, atau paling menderita

Ketika kita mau belajar dan mensikapi masalah sebagai konsukensi hidup, maka hidup akan lebih tenang. Mungkin tidak serta merta menjadikan masalah itu hilang, namun kita akan lebih bisa menerimanya dengan lapang dada dan kemudian berani menghadapinya

Hidup di dunia ini memang tidak sempurna, imperfect, karena begitulah ketentuannya

Kita tidak selalu mendapatkan yang kita mau, namun seringkali kita mendapatan kenikmatan yang tidak terduga

Kita tidak selamanya kecewa, dan tidak selamanya  dibuat gembira

Kita tidak selamanya bahagia, dan tidak  akan selamanya menderita

Kita tidak akan selamanya bersedih, dan tidak akan selamanya bersuka

Kita tidak akan selamanya  gagal, dan tidak akan  selamanya berjaya

Kita tidak akan selalu melalui hidup yang mulus mulus saja, dan tidak juga akan selalu menghadapi badai bencana

Karena hidup ini memang dipergulirkan oleh Nya

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS. Ali Imran: 140

Lalu adakah hidup yang sempurna ?

Ada. Namun kelak di kehidupan kita berikutnya, di kehidupan setelah kematian dan kebangkitan. Disana hidup akan sempurna, sesempurna sempurnanya

Dan ada dua pilihan, sempurna dalam kenikmatan atau sempurna dalam penderitaan. Semuanya bergantung pada amalan, keimanan dan ketakwaan kita di kehidupan saat ini

Dan dimana kita  berada kelak, ditentukan di hidup sekarang, saat ini. Di kehidupan yang tidak sempurna ini …

Bandung, 05 Mei 2020

Sebuah Nasihat Pada Diri Sendiri

Tentang Do’a …

_Instagram Post

Ada masa masa di waktu yang lalu, saya menjadi orang yang “Lelah Berdoa” (Astagfirullah, maafkan hamba ya Allah…)

Rasa rasanya segala amalan jenis do’a sudah di panjatkan, segala jenis dzikir dan amalan sunnah yang orang sarankan. Namun kenapa do’a tersebut tidak kunjung dikabulkan

Hingga terbersit :
Kemanakah do’a do’a itu pergi
Adalah DIA benar2 mendengar
Apa dosa yang kulakukan, hingga do’a ini tak kunjung dikabulkan…

Hingga di suatu waktu, saya berulang ulang selalu mendengar tentang makna sesungguhnya dari do’a

Bahwa do’a bukan perkara dikabul atau tidaknya permintaan kita
Bahwa do’a bukan perkara kapan kah waktunya, apakah nanti atau segera

Namun do’a adalah seberapa erat kita bergantung kepada-Nya

Namun do’a adalah seberapa kita mempercayai-Nya sebagai tempat kita meminta, sebagai tempat bercerita, mengadu, berkeluh kesah

Namun do’a adalah seberapa besar ketergantungan kita kepadanya

Namun do’a adalah seberapa sering kita menyeru, menatap, dan bersandar kepada-Nya

Terlepas bagaimana, kapan, dimana dan bagaimana caranya Ia menjawab dan mengabulkan do’a do’a kita itu bukan jadi hal yang utama dan satu satunya

Mengkokohkan bahwa IA adalah Tuhan, dan kita adalah hamba

Yang kepada-Nya lah kita menyandarkan segala kebutuhan, harapan, keinginan, itulah yang paling utama

Seperti Abu Bakar yang pernah berkata :

“Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah do’aku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdo’a.” 😭

Benar, adanya. Yang paling berbahaya adalah ketika kita berhenti berdo’a. Yang berarti kita berhenti bersandar pada-Nya, berhenti percaya bahwa IA adalah Tuhan yang Maha Mendengar, Maha Mengurus hidup kita

Yang terpenting dari do’a adalah tentang bagaimana kita selalu tersambung, terhubung, terikat erat dan bergantung kepada-Nya. Hanya DIA

Mencari Diri Yang Hilang …

Ocean Adventure Instagram Post (1)

Ramadhan yang sunyi
Ya, barangkali seharusnya Ramadhan seperti ini, sunyi
.
Agar kita bisa lebih dalam menyelami diri
Menemukan kembali kepingan kepingan diri kita barangkali tangah tenggelam
Tenggelam karena melangitnya obsesi
.
Agar kita bisa mengasingkan diri
Dari bisingnya suara dunia
Yang tak pernah berhenti
Menawarkan kita dengan berupa impian & angan indahnya
.
Agar kita bisa lebih mencermin diri
Adakah bagian diri kita yang memudar & samar
Tergerus oleh nafsu yang selalu menggerogoti
.
Bisa jadi kita merasa sedang terbang,
Padahal kita sedang tenggelam .
Bisa jadi kira merasa sedang di awan,
Padahal jiwa kita sedang menghilang
.
Jangan, jangan sampai..

Tentang Beban

Ocean Adventure Instagram Post

Pernah kah merasa seperti ini ?

Kadang kala kita mengeluh walau tak terucap, keluhan yang mengendap dalam jiwa, tentang terasa beratnya amanah yang sedang dipikul, hingga terasa sebagai sebuah kewajiban bahkan beban yang berat.

Alih alih mengerjakannya, kita sibuk pada pikiran dan perasaan tentang berapa berat beban tersebut kita tanggung tersebut. Hingga menjadi takut untuk bergerak, cemas dan membayangkan apa yang akan terjadi esok, dsb

Dan kemudian disaat saya sedang bergumul dengan perasaan ini, Allah mengantarkan saya untuk mendengarkan sebuah kajian

Dalam kajian tersebut, Saya mendengar pernyataan seorang pemimpin besar, yang saat ini sedang memegang amanah yang tidak kecil, yang tidak mudah, amanah yang menurut saya sangat besar dengan segala konsekuensinya
.
Saat beliau ditanya tentang bagaimana ia menyikapi amanah yang begitu besar ini…

Beliau menjawab kurang lebih seperti ini : ” Sebenarnya bukan tentang besar kecil kecilnya amanah, yang membuat kita berat menanggungnya. Namun semua terletak pada Ridha Allah “

Bila Allah Ridha kepada kita, maka yang besar pun akan terasa ringan. Namun bila tidak ada Ridha Allah, maka yang kecil pun akan terasa berat …”

” Maka, bukan tentang besar atau kecil nya amanah, namun tentang Ridha Allah kepada kita, jadi apakah Allah Ridha atau tidak pada kita disitulah kuncinya …” Begitu lanjutnya

Masya Allah, apa yang beliau sampaikan saat itu sungguh menyadarkan Saya, tentang bagaimana kita menghadapi sebuah amanah yang seringkali kita anggap sebagai beban. Beban yang rasanya terlampau besar , sehingga kita nilai berat bagi kita rasanya untuk menanggungnya …

Kita menjadi lupa, bahwa kita Punya Allah… Yang akan menolong kita, yang akan menguatkan kita, yang akan menunjukan jalan kepada kita, selama yang kita kerjakan adalah kebenaran & kebaikan

Maka, apabila Kita diberikan amanah, baik besar ataupun kecil. Pertama & utama mintalah Ridhanya, mintalah Ridhanya, mintalah Ridhanya..

Agar ringan terasa
Agar lapang jalan Kita
Agar tentram jiwa Kita menjalaninya

Bismillah …..