Ruang Sunyi

Kita semua butuh ruang sunyi, ruang yang hanya ada diri kita

Berbicara hati ke hati, dengan penuh ketulusan

Berbincang dengan diri, menyimpan sementara segala tuntutan

Ruang sunyi yang hanya ada kejujuran

Antara aku dan aku

—-

Rasanya setiap manusia butuh “Ruang Sunyi” nya sendiri. Berlepas dari segala yang ada di sekelilingnya, dari kesehariannya, dari rutinitasnya, yang tiada henti. Apalagi di zaman tekhnoogi yang seperti ini, rasa rasanya kita tidak pernah berhenti dari berkomunikasi dengan orang lain, bertukar pesan, saling menimpal, saling berkomentar. Dari pagi, hingga menjelang malam, kita selalu “berbicara” dengan seseorang di luar kita.

Apakah hanya saya saja yang merasa, bahwa manusia butuh Ruang Sunyi untuk sejenak lepas dari berbagai hal ari luar, baik itu berita dan informasi yang tidak berhenti dikonsumsi, yang sampai kadang tak memberi batas mana yang perlu dan tidak perlu, mana yang bermanfaat mana yang tidak, mana yang menjadi sumber kebaikan, hingga mana yang hanya memubazirkan waktu dan fikiran.

Bagi saya, Ruang Sunyi adalah sebuah kebutuhan, yang hanya ada aku dan diriku, yang duduk berdampingan, kemudian saling bertanya tentang apa yang dirasakan, apa yang sedang difikirkan, apa yang benar benar diinginkan. Bercerita dengan kejujuran, dan hanya kejujuran

Banyak hal yang biasa saya lakukan untuk menciptakan Ruang Sunyi ini. Terkadang dengan berjalan kaki setelah subuh, sambil menghirup udara pagi dan menanti sapaan matahari. Atau kadang, menyetir sendiri di malam hari, mengelilingi kota yang sudah sunyi, atau sesederhana mematikan notifikasi, apapun itu.

Sebenarnya Allah sudah menyediakan kita Ruang Sunyi ini menurutku, yaitu sehabis shalat, saat kita selesai berzikir atau berdoa, rasanya walau sebentar ada waktu yang bisa kita manfaatkan untuk menikmati Ruang Sunyi ini. Apalagi apabila kita bangun di sepertiga malam, ada Ruang Sunyi yang begitu indah dan istimewa

Ruang Sunyi ini begitu spesial, karena kita, dimana tidak hanya berbincang dengan diri sendiri, kita pun bisa “berbincang” dengan Sang Pencipta dengan syahdu, privately. Dimana kita bisa mendengar suara hati kita, dengan lebih jelas, lebih terang, lebih jujur. Karena siang hari tak hanya raga, namun jiwa kita pun disibukkan dengan berbagai urusan, ambisi dan kepentingan. Hingga apa yang kita rasakan, inginkan dan butuhkan sebenarnya seringkali terbiaskan.

اِنَّ لَـكَ فِى النَّهَارِ سَبۡحًا طَوِيۡلًا

” Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang ” QS Al-Muzammil Ayat 7″

Allah ingin kita memasuki Ruang Sunyi yang lepas dari urusan urusan duniawi, urusan2 yang seringkali melelahkan pikiran dan perasaan, Allah ingin kita masuk ke Ruang Sunyi untuk mendapatkan ketentraman & kedamaian. Allah ingin kembali memurnikan kita di ruang sunyi itu.

Ruang Sunyi yang tidak hanya kita bisa berbincang dengan diri sendiri, namun kita bisa berlama lama berbincang dengan-Nya.

Ruang Sunyi dimana kita bisa mengutarakan apa yang kita rasa, baik mengutarakan syukur tentang bahagia ataupun gundah gulana. Meluapkan segala perasaan dengan penuh kejujuran, yang seringkali kita sembunyikan dikeramaian. Mengucapkan setulus tulus keinginan dan harapan. Hanya di Ruang Sunyi itulah kita bisa apa adanya, mengakui kesalahan, kelelahan, bahkan menerima kekalahan

Ajaibnya, Ruang Sunyi itu adalah sekaligus tempat dimana kita mendapatkan ketenangan, kekuatan juga harapan. Dimana seringkali kitapun mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan pertanyaan atau kebingungan yang tidak berhenti melingkar. Bahkan kesadaran, kebajikan, dan perubahan diri, seringkali di dapatkan dari ruang ini.

Maka, saya pribadi sangat membutuhkan ruang ini, untuk mencari ketentraman dan ketenangan diri yang sesungguhnya. Ketentraman dan ketenangan yang sumbernya dari Dzat yang Maha Cahaya, Maha Pelindung, Maha Sayang kepaa kita Hamba-Nya….

Maafkan Hamba [ Sebuah – Monolog ]

Ketika aku yakin bahwa Allah adalah Penciptaku, Penguasaku, sekaligus Maha Penuh Kasih dan Penuh Sayang..

Lalu kenapa aku masih takut akan masa depan dan takdirku ?

.

Apakah aku masih meniscayakan Pengaturan Nya untuk-ku

Apakah aku masih tidak memercayakan hidupku atas Pengaturan-Nya yang Maha Bijak

Apakah aku masih meragukan perlindungan-Nya, selama aku mematuhi dan menuruti apa yg menjadi perintahnya

Apakah aku masih meragukan ke Maha – Adilannya

Apakah masih tersirat halus dalam sudut jiwaku, bahwa aku meragukan pengabulan-Nya ketika aku meminta

.

Padahal aku selalu berkata Dia Maha Pengasih, Penyayang Dan Pengabul Doa

Apakah aku benar2 dengan segenap jiwa dan ragaku, telah memercayakan hidup dan matimu kepada -Nya

Atau Barangkali keyakinanku hanya sebatas lisan, tanpa ku yakinkan dengan segenap hati dan jiwaku

.

Ampuni Ya Raab, bila iman masih sebatas lisan

Ampuni Ya Rabb, bila ikhlas ini masih tidak utuh

.

Izinkan izinkan hamba untuk memperbaiki iman ini

Izinkan agar iman ini terus mengada, menetap, melekat

Hingga pertemuan dengan-Mu Kelak

.

~ Sebuah Monolog Di Hari Saat Sunyi

Tentang Meninggalkan Dan Ditinggalkan

Pekan kemarin meninggalkan banyak pesan pada jiwa saja. Beberapa berita duka dari yang ditinggalkan oleh orang orang tercinta, rupanya membuat saya merenungkan tentang ini ; Tentang meninggalkan dan ditinggalkan

Menerima atau tidak, entah dalam apa bentuknya, kapan waktunya pada akhirnya salah satu yang harus di hadapi oleh manusia adalah sebuah perpisahan. Tentang meninggalkan atau ditinggalkan

Perpisahan yang dalam bentuknya tidak hanya sebatas perpisahan tentang kehidupan dan kematian. Namun kadang berupa “perpisahan-perpisahan” kecil di dunia. Perpisahan seorang anak dengan orangtuanya setelah pernikahan, perpisahan dengan sahabat, perpisahan rekan berkarya, atau perpisahan dua orang yang saling mencinta, dan lain sebagainya.

Tentang meninggalkan atau ditinggalkan. Sebuah kenyataan dan fitrah kehidupan yang akan dialami oleh setiap orang, tanpa kita akan tahu siapa yang akan meninggalkan atau siapa yang akan ditinggalkan

Lalu haruskah kita resah gelisah akan hal ini ? Takut meninggalkan atau ditinggalkan ?

Lalu bisakah kita meminta agar kita tidak pernah dipisahkan dengan sesuatu atau sesorang yang kita cintai ?

Lalu bolehkah kita meminta agar selalu bersama, selama lama lama lama ….. nya ? (Seperti dialog patrick dengan spongbob …hhe)

Kekhawatiran atas perpisahan, perasaan kehilangan, kesedihan atas selesainya kebersamaan, adalah sebuah hal yang tidak apa apa, kita adalah manusia, yang dianugrahi perasaan dari Sang Pencipta.

Namun jangan sampai segala rasa itu menjadikan kita tidak menerima apa yang apa apa yang telah menjadi ketetapan-Nya.

Jangan sampai kita mengharapkan apa yang fana menjadi abadi, karena tidak akan pernah terjadi.

Jangan sampai kita menjadi terlupa bahwa apa apa yang ada di dunia ini rapuh, fana, sementara dan tiada yang abadi.

Karena, benar adanya bila kita hanya menyandarkan hidup kita kepada seseorang atau sesuatu, siapa pun dan apapun itu ; pasangan, orangtua, anak, diri sendiri, kemampuan, keinginan, harapan, apa pun itu yang ada di dunia ini , maka semua itu rapuh. Suatu saat kita akan meninggalkan atau ditinggalkan

Kadang saat terlalu mencintai seseorang ; baik pasangan , anak, atau orangtua barangkal, ada terbersit rasa bahwa akan tidak berdaya tanpa mereka, tidak bisa hidup tanpa mereka, dan perasaan semacamnya

Karena saat “menggenggam” sesuatu atau seseorang terlalu kuat, mendekap terlalu erat, mencintai terlalu pekat, membuat terlupa, bahwa sesungguhnya itu semua bukan mutlak milik kita, bahkan diri ini pun bukan milik kita. Ada saatnya kita meninggalkan atau ditinggalkan

Kita lupa bahwa semua yang ada, semua yang terasa adalah fana, bisa hilang atau terhenti, atau memang sudah saatnya berganti. Seringkali terbersit hati, ingin menikmati apa yang dimiliki ini selamanya. Padahal yang selamanya ini bukan disini, bukan di kehidupan ini. Di kehidupan ini akan ada yang ditinggalkan atau meninggalkan

Nanti. Ada saatnya kita menikmati yang selamanya, kelak disana. Kita berharap dan sangat berharap karena Ridha Allah Swt, kita menikmati saat selamanya dengan sesiapa yang kita sayangi di dunia ini, dan tempatnya adalah di Jannah-Nya.

Aamiin Yaa Rabbal Alamiin …

Maka, semoga iman dan taqwa selalu tertanam dalam jiwa kita dan orang orang yang kita sayangi, agar kelak kita bersama mereka di tempat yang indah disana, tempat kebersamaan yang tidak berkesudahaan, tempat segala kebahagiaan diberikan, tempat yang akan bisa kita sematkan kata “selamanya”, tempat yang tidak ada lagi kisah meninggalkan dan ditinggalkan

Semoga kapanpun kita dipisahkan, kelak kita akan kembali dikumpulkan dalam tempat nan abadi, Jannah-Nya.

Aamiin yaa rabbalalamiin

Fn : Sebuah nasihat terutama untuk diri saya sendiri, semoga bermanfaat pula untuk kamu yang sedang membaca ini 🙂

Satu Satu

Sudah lama rasanya saya tidak menulis disini. Padahal banyak rasa, kata, cerita yang terkumpul di kepala.

Sebelumnya saya sering menargetkan diri untuk bisa melakukan ini itu -termasuk menulis disini-, namun memang satu atau lain hal, akhirnya beberapa target itu tidak atau belum tercapai

Saat suatu target tidak tercapai, semacam ada rasa kecewa pada diri sendiri ; “Ko kamu ga bisa sih? harusnya kan …” kurang lebih begitulah monolog dalam diri, yang terjadi bukan sekali dua kali.

Lalu saya mulai mengevaluasi diri, kenapa sih saya tidak bisa memenuhi target target tersebut …

Awalnya saya mengira ini bukan manajemen waktu, tentang kemalasan atau kebiasaan menunda, yang mungkin ada dalam diri saya. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa ini bukan tentang hal hal tersebut, namun tentang prioritas tujuan yang harus dijalani satu satu

Belum lama ini, saya termasuk orang yang cukup kuat dalam berkeinginan untuk bisa melakukan beberapa urusan, target dan urusan -terutama yang melibatkan pekerjaan fikiran- dalam satu waktu. Ada kondisi saya “menuntut” diri untuk harus bisa pagi kerjakan A, kerjakan B, sore-malam urus C. Dalam satu hari semuanya harus sempurana terkerjakan. In that time ; i feel that i push my self to much

Seiring usia, pengalaman dan pendewasaan hidup #tsaahhhhh … akhirnya saya mulai di fase, bahwa ada saatnya kita tidak bisa menjalankan banyak hal. Atau tepatnya, ada saatnya kita memilih untuk tidak menjalankan beberapa hal sekaligus

Satu satu ….

Saya termasuk orang yang mudah berpindah pindah dalam fikiran. Ide, gagasan, loncatan fikiran sering membuncah buncah dalam otak saya, dan itu terjadi secara alami saja. Dan saat itu, seringkali saya cukup reaktif dalam meresponnya, tiba tiba ide yang muncul tersebut ingin segera dilakukan, gemes pengennya segera di eksekusi, dan diri ini merasa mampu untuk sekaligus mengekesusinya.

Sebenarnya hal itu adalah anugrah, dilimpahi kemudahan ide, gagasan, dan banyaknya cita cita. Tugas saya selanjutnya adalah bagaimana saya menata prioritas, fokus dan langkah untuk mengelolanya.

Dulu “ambisi diri” mengatakan bahwa saya mampu ko melakukan banyak keinginan tersebut sekaligus. Namun, pengalaman dan pendewasaan diri akhirnya mengajak saya untuk bijak untuk melakukannya satu-satu, sabar, dan terencana

Dulu ambisi diri tersebut, seringkali membuat fikiran saya mudah lelah, karena fikiran di paksa berpindah dari urusan satu ke urusan lain. Belum lagi, perasaan bersalah dan menyalahkan diri ketika target target tersebut tidak tercapai

Sekarang saya belajar untuk lebih “kalem” aja menjalani hidup, selama kita tahu tujuan akhir kita kemana, kita yakin apa yang sedang dijalankan sekarang adalah jalan kebaikan, kita tidak sedang bermalas malasan, dan kita menjalaninya dengan terencana dan penuh kesungguhan

Satu satu ….

Semua ada saatnya, tak perlu semua dilakukan saat ini, tabung rapih cita, semua ada waktunya

Bagaimana Belajar Dari Kesalahan

” Belajarlah dari kesalahan masa lalu …”

kalimat bijak yang sering kita dengar tentang nasihat agar kita tidak kembali melakukan kesalahan yang sama atau pada perkara yang sama.

Selintas terdengar mudah, walau pada kenyataanya tidak semudah itu bukan ?

Karena memang tidak selalu “se-otomatis” itu kita belajar dari kesilapan masa lalu, tidak ada penjaminan saat kita salah di masa lalu maka kita akan benar di masa depan, tidak selalu kita bisa bercermin dari hari yang lalu

Dan pada akhirnya -entah sadar atau tidak- kita melakukan kesalahan yang sama, pada perkara yang sama ….

—-

Barangkali seperti ini sebaiknya ; alih alih dari langsung menyatakan tentang bagaimana “Belajar dari kesalahan masa lalu …” yang pertama kali baiknya dilakukan adalah :Menyadari bahwa masa lalu adalah sebuah kesalahan…”

Karena kesadaran adalah awal mula perubahan. Menyadari tentang rangkaian pikiran, rasa, atau tindak yang tidak tepat yang telah kita lakukan semasa itu …

Menyadari tentang apa saja yang telah kita lewatkan, menyadari perkara penting apa yang telah kita abaikan, menyadari apa yang saat itu sempat kita lupakan

Menyadari pada apa kita terbuai, pada apa kita terlena, pada sesiapa kita terjebak…

Mengakui adalah langkah selanjutnya. Karena kadang kita enggan untuk mengakui kesalahan dengan berbagai alasan. Entah alasan yang berupa pembelaan serta pemakluman diri, atau pun rasa gengsi untuk berani menerimanya sebagai kesalahan yang memang kita lakukan

“This is because of him ….”

“This is out of her …”

“This happen by reason of circumstances ….”

Apalagi alih alih kita menempatkan kesalahan tersebut kepada orang lain atau keadaan. Menempatkan diri kita seolah olah hanya sebagai korban tiada daya, korban keadaan, korban orang lain. Maka, bila kita terkungkung di sudut ini, maka tiada kita kemana mana ….

Maka lapangkanlah dada dan rasa, bahwa itu ada karena ada peran kesalahan dan kesilapan kita juga …

“Its oke beeing wrong, people made mistake, me – you – we are ….”

Apabila kita sudah menyadari dan mengakui kesalahan tersebut, maka akan lebih terang bagi kita untuk mengintropeksi diri. Melamati tentang di bagian mana kesalahan kita, di sudut pandang mana kita tertabir, di peta pikiran mana terjebak dan rasa apa kita telah terjerembab

Kemudian setelah itu, menjernihkan hati tentang bagaimana yang benar dan seharusnya

Menyadari, mengakui, dan mengintropeksi diri adalah bekal kita untuk menghadapi masa kini dan masa depan.

Maka, ketika menghadapi kondisi yang kurang lebih atau serupa dengan kejadian di masa lalu, maka kita bisa kembali melihat “catatan” masa lalu, bercermin darinya, memandanginya, berbincang dengannya

Seraya tersenyum kepadanya dan berucap :

“Hei …terimakasih sudah mengajariku …

The Power Of Language [ Resensi Buku ]

Salah satu buku yang saya beli beberapa bulan lalu adalah buku “The Power Of Language” buku terjemahan dari Korea yang ditulis oleh Shin Do Hyun & Yoon Na Ru

Seperti biasa, kalau lagi hunting buku, saya banyaknya mengandalkan feeling, untuk beli buku yang saya butuhkan dan bakal jadi vitamin bagi jiwa

Seperti buku yang satu ini ; “The Power Of Language” saya tertarik pertama kali oleh cover dan warnanya yang cukup sederhana. Lalu saya lihat daftar isi, dan beberapa halaman secara acak. Bila ada tiga atau paragraf yang saya rasa “kena” saya biasanya tidak lagu langsung meminangnya ….#tsahh

Nah sekarang kita ke review nya yaa, let’s go !

” More then i expected “ tampaknya ini kalimat yang tepat untuk buku ini, tampak ringan namun buku ini cukup dalam di setiap bab bahkan di setiap pembahasannya

Buku ini bukan tentang tips berbahasa, tata cara, tekhnik, atau teori teori berbahasa. Namun lebih dalam membahas tentang nilai nalai dasar berbahasa, yang diambil dari pemikiran para filusuf klasik baik dari timur atau barat, yang kemudian penulis ramu dalam kajian keseharian

Malahan, buku ini bukan tentang nilai nilai dasar berbahasa, namun tentang nilai nilai dalam berkomunikasi, bagaimana menyimak dengan bijak, bagaimana memahami dan menghargai orang lain.

Selain itu buku ini mengajak untuk faham bagaimana menggali rasa, menggali makna, mengajak berfikir tentunya dengan menggunakan kekuatan dan kebijakan dalam berbahasa.

Sekali lagi buku ini bukan buku teknik berbahasa, namun buku tentang bagaimana berbahasa yang bijak, berdasar pada nilai yang luhur, niat yang baik, penerapan yang tepat, akan bisa merubah diri kita, orang lain, bahkan dunia

Tentang Penulisnya ….

Sebelumnya saya tidak tahu tentang mereka berdua. Rupanya Shin Do Hyun rupanya seorang aktris Korea yang masih muda. Dan juga ternyata buku ini sangat direkomendasikan dan ikut di promokan oleh BTS. (Duhhh saya juga tau bahwa begitu BTS terkenal …hhhaa)

Tapi memang salute sih, seorang aktris Korea yang masih muda ini, bisa menulis buku yan berkualitas dan dalam seperti ini. Pun tidak salah saat BTS ikut merekomendasikan buku ini, karena sangat bergizi

Gara Gara Tulus

Lagu memang bisa mengungkap berbagai rasa

Lagu juga bebas kita interpertasikan kepada sesiapa saja

Seperti lagu ini, yang akhir akhir ini deeply touch me

Entah karena Tulus yang membawakan lagu ini, sehingga terasa lebih bernyawa

Entah karena suasana hati saya yang sedang dalam suasana yang berbeda

“Ku bahagia, kau telah terlahir didunia, dan kau ada diantara miliaran manusia, dan ku bisa dengan radarku menemukanmu ….”

It’s feel like missing someone that you never meet

It’s feel like remember your memories that not happened yet

It’s feel like you loving your unborn child

Suatu hari, kelak ingin ku lagukan ini kepada anakku, biar ia tahu betapa aku sudah sangat merindukannya, walau belum kutahu seperti apa rupanya, dan siapakah namanya

Ah jadi melow ….

Membaca Kisah Tariq Bin Ziyad

Membaca buku ini, membuka pengetahuan saya yang lebih mendalam tentang salah satu jendral Islam, yaitu Tariq Bin Ziyad . Beliau adalah generasi setelah Rasul, hidup di masa pemerintahan Khafilah Bani Umayyah.

Jendral yang membebaskan kota kota di wilayah Andalusia, yang juga dikenal dengan salah satu keputusan beraninya membakar kapal perang yang membawa ia dan pasukannya ketika memasuki wilayah Andalusia.

Tujuan nya membakar kapal perang yang mereka gunakan adalah agar pasukannya tidak memikirkan untuk menyerah dan kembali sebelum menang. Dan terbukti dengan keputusan nya yang “out of the box” ini, pasukan Islam yang ia pimpin berhasil membebaskan Andalusia.

Wahai Saudaraku, laut ada di belakang kalian dan musuh ada di depan kalian, kemanakah kalian akan lari? Demi Allah yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Kita harus memilih kemenangan atau syahid. Kita tidak akan pulang sebelum memenangkan tujuan itu

Adala sebuah pidato heroik yang membangkitkan semangat para tentara Muslimin

Tariq bin Zayid adalah seorang Jendral Islam yang visioner, ahli strategi, dan cerdas. Dalam peperangan ia dikenal sangat tegas, berani mengambil keputusan bahkan keputusan yang diluar nalar seperti membakar kapal perang ia dan pasukannya.

Namun sisi lain dari sosok tegas dan “nekat” dari Tariq Bin Ziyad, beliau adalah panglima perang yang sangat menjunjung dan menerapkan etika ketika berperang, ia sangat mengikuti contoh Rosul dan Sahabat ketika berperang.

Contohnya tidak menyerang siapa pun yang ada di rumah ibadah, yang ada di rumah rumah warga, orang yang tidak memegang senjata, para wanita, anak dan orang tua, tidak memisahkan tawanan perang dengan keluarganya, tidak merusak tanaman dan tidak menjarah.

Di luar peperangan beliau adalah orang yang pembelajar, tenang, bijak dan pemaaf. Ketika ada seseorang yang mengkhianatinya, ia tak lantas menghukum, namun malah di berikan kesempatan dan pilihan. Inilah yang membuat banyak orang yang kemudian suka rela dan setia mengikutinya.

Beliau adalah seorang pemipin yang berpandangan jauh. Ketika telah berhasil menaklukan Andalusia, ia tak berhenti, ia bercita cita untuk melanjutkan langkahnya membebaskan tanah Eropa dan menyebarkan cahaya Islam ke seluruh dunia.

Dalam sebuah percakapan, salah seorang prajuritnya berkata : “Wahai Tariq, Pada siang hari, kami meliatmu seperti singa ketika berhadapan dengan musuh, tapi di malam hari engkau seperti seorang ahli ibadah”.

Tariq menjawab “Dulu saya hanya seorang budak. Kemudian, Allah mengangkat saya menjadi panglima perang. Ini adalah tanda kesyukuran saya kepada Allah”

Membaca buku ini mengenalkan saya kepada sosok pahlawan yang sesungguhnya, idola yang sebenarnya, yang bisa kita ikuti kecerdasannya, kelembutannya, ketegasannya, pandangan jauhnya, cita citanya untuk kegemilangan Islam.

Sebuah kalimat dari Tariq Bin Ziyad, yang akan selalu menjadi pesan kepada seluruh Ummat Muslim ;

Masa Depan Kita, Kita Sendiri Yang Menentukan.

Masa Depan Islam Bergantung Pada Usaha Kita Untuk Menyebarkannya

(Tariq Bin Ziyad)

Bagaimana Ini ….

Bagaimana ini,

Aku Dipuncak Rindu

Rindu Pada Laut Dan Padamu

Kuucapkan Saja

Atau

Kuabaikan Saja

Dapatkah tertawar rindu ini, dengan sepanjat ucap doa

Agar di sebuah musim yang tak sengaja

Kita kembali bertemu bersama

Pelari Tipe Apakah Kita ?

Dalam menjalankan sesuatu kita perlu mengetahui sifat, karakter dan kepribadian diri, agar kita bisa mengetahui bagaimana langkah yang akan diambil agar tujuan yang dicita citakan bisa menjadi kenyataan

Dalam mewujudkan impian & cita cita itu seperti sedang manjalankan lomba lari. Kita harus mengetahui terlebih dahulu siapakah diri kita, apakah kita tipe pelari sprint, pelari jangka pendek, pelari jangka panjang atau pelari estafet, karena rupanya setiap jenis nya mempunyai karakter yang berbeda

Bahkan setelah kita mengetahui diri kita, kita pun perlu mengetahui jenis bisnis/organisasi yang akan kita bangun, apakah bisnis yang akan dilakukan dalam jangka pendek saja, dalam suatu priodik tertentu, project berjangka, atau kita sedang membangun bisnis/organisasi yang berjangka panjang, karena tentunya akan berbeda dalam membangun dan mengelolanya.

Saya senang menganalogikan bisnis dengan lomba lari. Misalnya pelari sprint dan jarak pendek, mereka akan lari sekencang kencangnya untuk mencapai garis finish, mengeluarkan segala tenaga nya dalam waktu yang relatif singkat, karena jarak yang ditempuh nya pun pendek, berkisar 100 meter saja. Maka dalam jangka waktu itu, ia akan mengerahkan tenaga dan staminanya sekaligus hingga mencapai garis finish

Pelari model sprint ini, sama halnya dengan bisnis yang memang diniatkan untuk jangka pendek saja, misalnya bisnis yang tujuannya keuntungan cash secara cepat, bulanan misalnya. Maka, bisanya kita benar benar “ngegas” dari awal sampai akhir, agar tujuan jangka pendek tersebut segera tercapai.

Beda halnya dengan lari jangka menengah apalagi jangka panjang, maka kita perlu untuk memikirkan bagaimana strategi yang akan dilakukan. Kita perlu mengatur stamina, mengatur nafas, mengatur waktu kapan saaatnya berlari kencang, saatnya berlari wajar.

Saat kita sedang melakukan lari jangka panjang dengan jarak yang tentunya lebih jauh, tapi kita malahan berlari sprint, maka bukan tidak mungkin tenaga kita sudah habis di pertengahan jalan, sebelum sampai garis finish, karena kita tidak bisa mengatur ritme dalam berlari

Pun saat kita ingin membangun bisnis yang jangka panjang, maka aturlah strategi, bagaimana mengatur diri di titik start, bagaimana mengelola energinya, bagaimana langkah kakinya, apakah kita memilih langkah langkah lebar, atau langkah kecil namun lebih cepat. Mengatur irama kapan waktunya berlari kecil, dan kapan waktunya berlari kencang

Jangan sampai kita tidak bijak, menghabiskan jiwa, raga, tenaga dan emosi yang berlebihan di titik tertentu dalam bisnis kita, kemudian terkuras habis semua energi di tengah perjalanan, dan kelelahan untuk melakukan perjalanan selanjutnya yang sebenarnya masih jauh.

Padahal kita butuh nafas yang panjang, emosi yang stabil, langkah yang bijak untuk menjalankan tujuan jangka panjang tersebut.

Lain ha nya saat kita mempunyai bisnis, organisasi, impian atau cita cita besar yang tentunya di bangun dalam jangka panjang. Cita cita dan tujuan yang tidak kita kerjakan sendiri, tapi dengan sinergi tim, melibatkan banyak orang. Bisnis atau organisasi yang tetap meninggalkan jejak walaupun kita sudah tidak ada. Maka bisa jadi yang kita butuhkan adalah lari secara estafet.

Saat melakukan karya secara estafet, maka kita tidak hanya memikirkan tentang sebarapa cepat kita mampu berlari, namun kita pun perlu memikirkan bagaimana tim kita, bagaimana kekuatan mereka, bagaimana bersepakat untuk mengatur langkah dan startegi, bagaimana mengatur jarak tempuh masing masing, bagaimana kita cerdas dalam berbagi peran dan tanggung jawab.

Karena, bila kita mempunyai impian, visi, cita cita dan tujuan yang besar, dan tentunya menepuh jarak waktu yang jauh, maka mustahil kita berlari sprint sendirian, kita butuh rekan, kita butuh teman, kita butuh kawan seperjuangan yang akan memastikan kita menyentuh garis finish dengan upaya bersama. Kita butuh strategi, langkah langkah yang terukur, pembagian tugas yang tepat, juga kemufakatan

Fahami diri, kenali organisasi, adalah langkah awal untuk mencapai tujuan

Maka, sebelum melangkah dan berlari lebih jauh, pastikan “pelari” tipe apakah kita, apakah tipe pelari sprint dan jangka pendek, yang mempunyai speed tinggi, apakah pelari jangka panjang yang bisa membuat strategi terukur untuk diri sendiri, ataukah kita tipe pelari estafet yang akan mau untuk beragi peran, untuk mencapai tujuan yang jauh dan jangka panjang

Pun dengan organisasi atau bisnis yang sedang kita jalankan, apakah ini akan menjadi bisnis lone ranger, yang akan kita jalankan sendirian saja, karena memang tujuan nya jangka pendek saja. Atau kita akan menjadikan bisnis atau organisasi jangka panjang yang jauh perjalanannya, besar impiannya, yang membutuhkan banyak orang untuk menjalankannya

Maka, luangkan ruang dan waktu untuk mengenali siapa diri kira, bisnis dan organisasi apa yang sedang kita bangun, tim seperti apa yang akan kita butuhkan, agar cita cita dan tujuan kita dapat tercapai

Bandung Juni Ke Sepuluh

Semoga Bermanfaat

Fn : Writing is learning. Menulis adalah proses belajar dan memahami diri, juga media berbagi