My Silence Time

lonceng

Di zaman tekhnologi 4.0 – yang konon katanya tak lama lagi akan menuju zaman 5.0, waduhh apalagi nihh…  – kita tidak bisa lepas yang dari namanya gadget atau gawai. Rasa rasanya hal yang kini paling dekat dengan kita adalah gawai tersebut. Keseharian kita tak bisa lepas dari gawai, baik itu yang berkaitan dengan urusan pekerjaan, kehidupan sosial ataupun yang bersifat hiburan.

Gak diperlu dibahas lagi sebenarnya tentang bagaimana orang orang -termasuk saya- menjadi begitu ketergantungan kepada benda yang satu ini.  Dengan level yang berbeda beda tentunya. Ada yang sudah bisa bijak dalam menggunakannya, ada yang tanpa kendali dalam penggunaanya.

Saya ingin sedikit berbagi saja tentang “Self Regulation” yang saya belajar terapkan agar tidak ketergantungan, tetap produkif, dan tetap bijak dalam menggunakan gawai dan teknologi internet ini

Silence Time 

Jadi saya membuat moment yang saya sebut dengan “Silence Time” dimana saat itu saya meng-nonaktifkan gawai saya, terutama dari koneksi internet. Untuk telfon dan sms masih bisa diakses, untuk mengantisipasi apabila ada hal atau kondisi penting, sehingga orang perlu menghubungi kita atau sebaliknya.

Ada dua waktu dalam sehari biasanya saya atur untuk “Silence Time” saya, yaitu di pagi hari dan sore hari. Pagi hari dari bangun tidur sampai sekitar jam 6 pagi dan sore hari dari magrib hingga menjelang Isya. 

Misalnya kalau kita bangun sekitar jam 3-4 subuh, saya usahakan benar benar tidak menyentuh gawai sedikitpun hingga menjelang jam 6 pagi.

Begitu pun dengan sore menjelang magrib. Bila posisinya sedang ada dirumah, maka saya off kan koneksi internet di gawai saya, hingga menjelang Isya. Setelah Isya baru biasanya saya aktikan lagi koneksi internet nya

Kenapa saya off kan data nya, karena kadang kita masih tergoda untuk membuka gawai ketika kita mendengar ada notifikasi yang masuk. Jadi aman nya di off kan saja.

Ada saat atau kondisi tertentu memang saya tetap harus tetap aktif dengan kondisi internet, terutama di sore/magrib atau sedang di luar. Namun untuk waktu dini/pagi hari, saya betul betul mengusahakan dan menkondisikan diri saya dalam keadaan “Silence Time”

 

Kenapa Sih Mesti Ada “Silence Time”

Tentu setiap orang punya alasan dan kebutuhan yang berbeda beda. Bagi saya, saya sangat membutuhkan “Silence Time” ini. Untuk apa ? untuk saya berkomunikasi dengan diri saya sendiri, lebih saya “mengisi” hati, jiwa dan pikiran saya sendiri, lebih jauh “Silence Time” ini saya gunakan untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Bagi saya yang mudah teralihkan, mudah ter “distrace” , mudah tergoda, masih gampang terlena, yang masih suka asyik asyik scroll kemudian lupa waktu. yang kadang bias antara niat menggunakan gawai untuk urusan yang produktif, tapi jadinya “khilaf” mengakses hal hal receh, info tidak penting, dan jadi tidak produktif, maka saya akhirnya membutuhkan dan menerapkan “Self Regulation” seperti ini.

Karena dengan penggunaan gawai yang tanpa kendali, kita akan menjadi manusia yang “Outside In”menghabiskan waktu dan fikiran kita untuk hal yang datang dari luar, menjadi sangat responsif, seakan akan “wajib” rasanya menjawab segera semua chat yang datang dari luar, wajib rasanya membaca status status terbaru kontak kita, wajib rasanya bersegera mengecek dan menjawab notifikasi yang ada di medsos kita, dsb.

Belum lagi godaan godaan lainnya, dari satu medsos ke medsos lain, dari satu chat ke chat lain, dari satu notifikasi ke notifikasi lain, tanpa henti ….

Pernah ada yang ngerasain hal yang sama ?

Ngapain Aja Silence Time Itu ?

Nyambung sama bahasan diatas, saya sedang belajar untuk tidak menjadi manusia yang terus menerus “Outside In” tapi menjadi manusia yang “Inside Out” meluangkan diri untuk lebih berfikir mendalam,  banyak bercakap cakap dengan diri sendiri, membuat perencanaan perencanaan jangka panjang, mengevaluasi diri, membaca buku, merenungi ayat ayat suci, dan hal hal mendalam lainnya.

Atau memperuntukan  “Silence Time”  itu untuk berbicara mendalam, meluangkan waktu, pikiran dan hati untuk keluarga kita, orang orang yang benar benar di depan mata kita, tanpa gangguan notifikasi, chat grup, atau semacamnya yang tidak akan pernah ada habisnya. Benar benar ada untuk mereka, orang orang terdekat kita.

Bahkan, bisanya saya meluangan beberapa hari (Minimal satu hari penuh) untuk melakukan “Puasa Internet” going outside, jalan jalan keliling kota, berbicara dengan orang orang baru, melihat hal hal lebih dalam yang selama ini luput dari pandangan kita

 

Sudah Disiplin Dengan “Silence Time” nya ?

Nah itu dia sedikit berbagi tentang “Silence Time” yang saya lakukan. Masih suka tergoda ? Tentunya, godaan selalu ada, dan masih kadang melakukan “cheating” hhaa… Tidak mudah mendisiplinkan diri di tengah derasnya arus informasi dan eksistensi diri, apalagi bila tanpa me-regulasi diri.

Namun, sekali lagi. Dalam hal ini, setiap orang sebaiknya punya “Self Regulation” yang sesuai dan dibutuhkan oleh masing masing individu, yang tentunya berbeda satu dan yang lainnya

Yang jelas, bijak bermedos sangat sangat dibutuhkan -dengan cara masing masing- jangan sampai menjadi manusia yang “Outside In” lupa untuk berusaha menjadi manusia yang “Inside Out” dan menjadi manusia yang menjadi korban informasi, tidak mampu berpikir mendalam, menjadi tidak produktif, habis masa sia sia tanpa karya dan amalan berguna.

How About You ? Do You Have Your Silence Time ?

Sharing dong … 🙂

Bandung, 18 Juni 2018

Advertisements

Resah gara Gara Luc**** Lu*a …

Kenapa emang kenapa ama doi ?

Jadi lebaran kemarin sempat tidak sengaja melihat explore di IG, ada seorang perempuan berjilbab sedang mencium tangan seorang laki laki. Karena merasa agak ganjil saya pun meng-klik nya …

Oh ternyata kerucigaan itu terbukti, pelaku di foto itu adalah sang kontroversial LL dengan seorang laki laki, yang di caption nya di sebut sebagai “Calon Imam-ku” . ( Uhhh.. entah mau komentar apa). Karena rasa penasaran, siapakah laki laki yang sepertinya “ganjil” itu, akhirnya di prediksi bahwa “sang laki laki” pun tidak jauh kisahnya dari LL. Kebalikannya.

Ah bukan gosip nya yang ingin saya bahas disini, namun tentang keresahan hati tentang ketika kebenaran bercampur aduk dengan kebatilan. Sudah banyak orang tau tentang kontrofersi kisah LL ini, yang kemudian memang figure inii jadi komoditas, menjadi industri, menjadi bisnis yang cukup menjanjikan.

Yang menjadi miris adalah, Ketika isu “gender yang tertukar” ini, di bumbui dengan simbol simbol keagamaan. Atau moment keagamaan turut “digunakan” dalam meng UP figure kontroversial ini., yang sebenarnya seorang pria, memakai jilbab lengkap, yang sejatinya wanita, memakai pakaian yang laki laki banget. Seolah olah menjadi “pembenaran” atas apa yang mereka lakukan. Seolah olah boleh boleh saja, toh mereka pun bisa “religius”. Kebatilan dibungkus atribut keagamaan …

Belum lagi -yang membuat tambah miris- adalah, ketika figure kontroversial ini, di UP juga oleh youtuber berjilbab, terkenal, dan tampaknya mempunyai dasar kegamaan yang kuat. Tapi mungkin untuk kepentingan konten, atau entah apa itu, sang youtuber jilbaber ini ikut membuat konten bersama tokoh kontrofersi ini. Dengan konten yang agak cukup membuat saya resah …

Kenapa resah ? karena sang youtuber ini mempunyai subsciber hingga belasan juta, belum lagi follower IG nya yang sudah jutaan. Dimana banyak subscriber dan follower nya adalah usia anak anak dan remaja, yang sangat mudah terpengaruh, labil, gampang terbentuk persepsi nya, cendrung gampang meniru, apalagi apabila itu “disajikan” oleh orang yang merupakan idola mereka.

Lalu bila idola mereka yang cukup “ngerti” agama pun, ikut ikutan “menyajikan” LL dengan segala kontroversinya, apa yang mungkin terjadi di benak mereka. “Oh ternyata tidak apa apa ya seperti LL itu, buktinya kakak youtuber itu temenan dan bikin konten bareng juga tuh ama dia” .

Bagi kita mungkin tidak semudah itu terpengaruh, tapi bagi mereka para anak anak atau yang sedang beranjak remaja, sedang mencari jati diri, hal ini akan sangat berbahaya untuk persepsi mereka. Idola mereka adalah panutan mereka. Apa yang dikatakan, dilakukan, dicontohkan bahkan menjadi pola pikir idolanya tersebut akan mudah mereka tiru

Barangkali fenomena LL dan pihak pihak yang ikut serta dalam menjadikan figure ini, atau ikut “menikmati” keuntungan dari figure ini, atau sebagian masyarakat mengganggap wajar wajar saja, atau trend saja. Tapi bagi saya rasanya tidak sesederhana itu, kehadiran LL dan segala gimick nya, akan banyak ber-impact buruk untuk generasi muda kita, anak anak kita …

Sekian dulu curahan keresahan saya, apakah Anda pernah merasa resah juga ?

Terimakasih Ramadhan

So, this is it … Berpisah kita disini rupanya. Banyak yang aku rasakan selama sebulan kebersamaan. Rasanya sangat banyak yang ingin kuungkapkan

Terimakasih untuk suasana syahdu yang kau persembahkan

Terimakasih telah membersamai dalam riuh dan diam

Terimakasih untuk membuatku mau tegak terjaga dalam malam malam, rela terlarut hanyut dalam ayat ayat suci Nya

Terimakasih telah membantuku lebih memaknai sabar dan kesyukuran

Terimaksih telah membantuku, berpikir dan menjiwa dalam dalam

Terimakasih telah membantuku lebih mengerti tentang penerimaan

Terimakasih telah membantuku yakin atas doa doa dan harapan

Terimaksih telah membantuku, meyakini kemana arah jalan kehidupan

Terimakasih telah membantuku, lebih dekat , mengenal, dan menginternalisasi akan Ke Maha Besaran-Nya. Bahwa pada-Nya lah kehidupan ini semua akan bermuara. Ini yang utama

Ya, DIA. Pencipta kau juga aku

Ramadhan,
Walau aku sadar, kau masih banyak ku sia siakan. Masih terperangkap dalam kemalasan dan kelalaian, melakukan banyak pembenaraan

Ramadhan,
Terimakasih yaa, sebulan ini adalah saat yang sangat berharga. Klise barangkali. Tapi kuharap, bisa berjumpa dengan mu di kemudian hari

Dan di hari perjumpaan itu, aku ingin kau melihatku menjadi manusia yang jauh lebih Taqwa di hadapan Pencipta Kita, ALLAH Azza Wa Zalla, dan siap kembali menerima “tempaan” mu di waktu selanjutnya

Ramadhan, sekali lagi terimakasih yaa… See you, when I see you

Kenapa Sih Mesti Jauh Jauh Ke NTT ?

Masih banyak orang yang bertanya atau mungkin berkomentar “Kenapa sih, jauh jauh ke NTT buat bangunin sekolah? disini juga masih banyak yang mesti dibantu !”

Jadi memang selama beberapa tahun terakhir, saya banyak melakukan berbagai kegiatan sosial pendidikan di wilayah NTT, tepatnya dari tahun 2013. Tentunya bukan saya sendirian, saya bersama tergabung dalam tim Kebukit Indonesia memang lebih sering berkegiatan disana. FYI saya dan rata rata teman Kebukit Indonesia tinggal di Bandung, Jawa Barat

Ketika mendapat komentar seperti diatas biasanya saya jawab kurang lebih seperti ini : ” Apakah kita harus menunggu Jawa Barat beres permaslahannya, baru kita perhatikan saudara saudara kita yang ada di Timur sana”

Tentunya kami memutuskan untuk berfokus untuk berkegiatan disana bukan tanpa alasan. Awal 2012 kami kesana, banyak hal yang akhirnya kami “capture” disana, dan kami memutuskan untuk mulai berkegiatan sosial pendidikan disana, hingga sekarang.

Lalu bila ada yg bertanya atau berkomentar seperti ini : “ Kan harus bantu yang terdekat dulu ! “, Saya hanya bisa tersenyum dan menjawab seperti ini : “Kenapa, Anda tidak mulai membantu saudara2 kita yang dekat?” hhe… agak keras memang jawabannya, namun ini tidak se pragmatis yang dikira

Benar adanya kita perlu membantu yang dekat, tapi bukan berarti kita mengabaikan yang jauh. Ketika yang jarak nya jauh dari kita itu, memang lebih prioritas, urgent, untuk segera di bantu. Rasa rasanya tidak bijak juga ketika kita menunggu -misalnya-Pulau Jawa beres dulu permasalahannya, baru kita bantu saudara saudara kita yang jauh di sana.

Jadi, bukan tentang jauh dan dekatnya. Ini tentang visi, tentang misi, tentang keterpanggilan, tentang “STRONG WHY” dimana dan dengan siapa kita mengukir karya Peradaban. Pada akhirnya, memang kita butuh banyak orang yang mau peduli, peduli atas keaddan negri ini, yang tidak hanya berhenti dalam fase prihatin, berkomentar, namun kemudian berlalu begitu saja.

Karena kepedulian dan kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun kita merasa, Insya Alah akan sangat bermanfaat untuk saudara saudara kita yang membutuhkan. Jadi mulai lah kita sama sama berkarya dengan mata, telinga, hati dan nalar yang terus terbuka. Melihat apa yang bisa kita lakukan untuk saudara saudra kita, mengajak orang lain untuk berbuat yang sama, agar Indonesia lebih berdaya.

Ini dokumentasi waktu akan meresmikan sekolah di Pulau Pangabatang, ceritanya nanti saya sambung yaa … 😃

Oh ya, tentang sekolah apa yang sedang kami bangun, ada di sini : Bangun Sekolah NTT

Do You Listening ?

Saat ngajar saya tidak terlalu suka mengajar dengan teori di awal, namun lebih suka mengajak para mahasiswa untuk melihat realita, mensimulasikannya, untuk kemudian menyimpulkannya dalam sebuah definisi teori

Seperti pekan ini, tema nya adalah tentang “Active Listening” saya mengajak mereka untuk langsung praktek bagaimana mendengarkan yang baik, benar dan produktif. Secara berpasangan mereka saling bergantian untuk mendengarkan cerita kawan bicaranya dengan seksama

Skill mendengarkan jarang diajarkan memang, kita lebih banyak mengutamakan skill berbicara. Training, motivasi, workshop pun kebanyakan membahas tentang public speaking, rasa rasanya belum pernah saya temukan tentang public listening.

Tak heran banyak orang yang lebih ingin didengar daripada mendengar. Tak heran kita sering kali tergoda untuk memotong , menyela, mengintrupsi pembicaraan. Padahal lawan bicara belum selesai menyampaikan maksudnya. Kita ingin buru buru menyampaikan apa yang ada dalam fikiran, dan menggap apa yang akan dikatakan oleh lawan bicara adalah suatu hal yang tidak penting.

Padahal skill mendengarkan ini adalah modal untuk kita dalam berhubungan baik, solid, dan produktif dengan orang lain. Kita akan malas bila berhadapan dengan orang yang tidak mau mendengarkan, tidak mau menyimak, mengabaikan kita.

Oh ya ada hal lain yang tak kalah penting dalam hal “mendengarkan”, yaitu menangkap makna yang ada dibalik rangkaian kata. Menangkap apa pikiran, perasaan, emosi, harapan yang tidak terungkapkan langsung oleh lawan bicara kita.

Karena seringakali pikiran dan perasaan yang sesungguhnya oleh lawan bicara kita tidak terungkap secara langsung. Hanya tersirat. Menjadi pendengar yang baik adalah, bisa peka terhadap akan pikiran, perasaan, dan emosi yang tersembunyi itu.

Dalam prakteknya dengan para Mahasiswa. Setelah mereka saling bergantian mendengarkan, saya meminta beberapa anak untuk maju kedepan, untuk menceritakan ulang apa yang telah mereka dengar, kemudian menangkap pikiran, perasaan, emosi yang tersirat yang, dalam proses mendengarkan tersebut

Less talk – Listen more adalah sebuah proses untuk mengasah rasa empati kita terhadap orang lain. Less talk-listen more membuat diri kita lebih peka, lebih peduli, lebih menghargai, lebih bisa bijak dalam menghadapi sesuatu.

So, Do You Listening ?

Mengenal Diri & Memahami Orang Lain

Foto Edited In Canva

Salah satu manfaat dari TM (Talent Mapping) yang saya rasakan secara pribadi adalah ; saya bisa lebih mengenali diri sendiri, sekaligus lebih bisa belajar bijak dalam memahami orang lain. Sebelumnya saya masih sedikit sukar ketika memahami diri sendiri, dan juga memahami orang lain

Kenapa ya saya begini, kenapa ya saya begitu…

Kenapa saya begitu menikmati melakukan sebuah hal, namun tersiksa untuk melakukan hal lainnya …

Kenapa di sebuah hal saya begitu mudah dan mengalir, di lain hal saya begitu berat untuk menjalankannya …

Kenapa dia begini, kenapa dia begitu …

Saya aja bisa, kenapa dia ga bisa seperti saya …

Harusnya dia bisa seperti saya …

Awalnya saya kira ini tentang kemampuan atau ketidakmampuan semata. Kemauan atau ketidakmauan semata. Namun ketika saya belajar ilmunya, saya kini lebih mengerti bahwa memang manusia itu berbeda beda. Berbeda beda dalam hal potensi keunggulannya.

Itu sebabnya ada orang yang sangat unggul dalam suatu bidang, dan lemah dibidang lainnya. Itu sebabnya ada yang bisa kita lakukan, dan orang lain tidak bisa, begitu juga sebaliknya. Jadi ini bukan perkara bisa – tidak bisa, mampu – tidak mampu, mau – tidak mau. Pandangan dan pemahaman kita harus lebih bisa diluaskan dari sekedar menilai hal yang permukaan saja

Kadang kita “menuntut” diri kita agar serba bisa. Agar kita mampu bisa melakukan banyak hal. Atau kita pun menuntut orang lain agar bisa sama dengan kita, dengan pembawaan kita, dengan karakter kita, dengan kemampuan kita. Bila kita mampu dalam suatu bidang, maka kita pun menuntut orang untuk sama dengan kita. Pun sebaliknya, ketika orang lain mampu, kita pun menuntut kita bisa sama

Padahal bukankah tersurat dalam Al Quran pun bahwa pembawaan manusia berbeda beda, fitrah potensi setiap orang berbeda pula :

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya ” (QS Al-Isra 84)

SYAKILAH di ayat diatas di beberapa pembahasan tafsir, dimaknai sebagai pembawaan, potensi, keunggulan. Dan pada setiap manusia, Allah berikan pembawaan nya masing masing, berbeda satu antar satu yang lainnya. Unik, Spesifik.

Saya lalu berifikir … kenapa ya Allah menciptakan manusia berbeda beda ?

Lalu saya teringat, sebuah ayat Al Quran tentang manusia yang diciptakan berbeda beda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Perbedaan ini juga barangkali bukan tentang perbedaan fisik, perbedaan tempat, suku, warna kulit, dsb. Namun tentang perbedaan sifat, karakter, pembawaan, potensi dan keunggulan. Perbedaan ini pun tentang perbedaaan peran yang nantinya akan diambil oleh setiap orang.

Balik lagi ke pertanyaan saya tadi, kenapa ya Allah menciptkan manusia berbeda beda ? Barangkali salah satu alasan nya adalah agar manusia bisa saling melengkapi, saling bersinergi, saling menggenapkan, satu dengan lainnya. Agar manusia bisa hidup dalam hidup bersosial, berjamaah.

Tidak ada manusia yang bisa melakukan segala hal, pintar dalam segala hal. Seseorang yang mahir dalam suatu bidang ia lemah dalam hal lainnya. Karena bila manusia menjadi serba bisa, menjadi “SUPERMAN” mungkin kita tidak bisa berjamaah dalam kehidupan ini, karena setiap orang merasa mampu melakukan segalanya sendirian.

____

Nah ketika saya mulai belajar untuk memahami tentang ini lebih dalam, saya  memahami bahwa ada hal yang saya mampu lakukan dan mana yang tidak mampu saya lakukan. Balajar untuk tahu apa sifat keunggulan saya, dan apa sisi kelemahan saya, untuk kemudian  menggali dan memaksimalkan keunggulan saya, dan mensiasati kelemahan saya.

Pun dengan ketika bergaul dalam orang lain, baik dalam lingkaran keluarga, organisasi, dsb. Saya semakin mengerti bahwa, kita tidak bisa dengan mudah menilai, men-judge, seseorang karena kita membuat penilaian kepada orang lain sesuai dengan standar diri kita. Padahal tidak segampang itu. Dunia tidak bisa kita nilai sesuai dengan persepsi atau standar kita semata.

Kita harus lebih bijak. Bijak untuk mau belajar, bijak untuk mau memahami diri kita. Apa yang jadi keunggulan kita, apa yang menjadi kelemahan kita. Kemudian bijak mengakui keunggulan orang lain, dan menerima apa kelemahannya.

Memilih untuk justru fokus kepada keunggulan diri kita, bukan berlelah lelah berusaha menghebatkan kelemahan kita. Seperti elang, yang fokus pada belajar terbang, ketimbang belajar berenang.

Memaksimakan Zona Keunggulan Kita, Mensiasati Zona Kelemahan Kita

Dalam konteks hidup berjamaah, kelemahan kita akan diisi oleh keunggulan orang lain. begitu pun sebaliknya, keunggulan kita adalah pelengkap untuk pengisi kelemahan orang lain. Saling menguatkan, saling menggenapkan, saling bersinergi untuk kebaikan, untuk produktifitas, untuk kebermanfaatan yang lebih besar dan luas.

Dan kemudian, PR selanjutnya adalah bagaimana cara kita menganali diri dan memahami orang lain …

Bersambung …

Bangun Sekolah NTT

Bangun sekolah NTT adalah sebuah program pendidikan yang saya dan teman teman Kebukit Indonesia.  Program yang bertujuan untuk membantu memajukan pendidikan di Indonesia Timur, khususnya di NTT.

Program ini diawali dengan pendirian sebuah sekolah di Pulau terpencil di Kepulauan Flores, bernama Pulau Pangabatang. Disini sudah ada Sekolah Dasar dengan kurang lebih berisi 40 siswa.

Namun, bangunan yang mereka punyai masih sangat dari kata layak. Bangunan sekolah yang hanya berupa dua ruangan sempit, beralasakan pasir, berdinding bambu, beratap seng. Bangku bangku pun sangat apa adanya. Jangan ditanya apakah mereka mempunyai buku pelajaran yang layak, alat tulis yang memadai, dsb. Sebuah fasilitas pendidikan yang jauh dari kata ideal.

Namun, kami melihat perjuangan mereka untuk pendidikan sangatlah besar. Contohnya, karena ruang kelas yang terbatas, siswa kelas 5 dan kelas 6, mereka harus menyebrang lautan untuk bisa bersekolah di Pulau sebelah. Atau pilihan lainnya adalah, diusia sekecil itu, mereka harus “indekost” atau menumpang tinggal di rumah warga di Pulau sebrang.

Bayangkan, anak sekolah dasar yang masih kecil, harus rela berjauh jauhan dengan orang tua nya, agar mereka bisa menuntut ilmu. Hal ini lah yang membuat kami tergerak untuk membantu mereka, untuk mempunyai bangunan sekolah yang lebih layak. Agar mereka tidak perlu lagi kepanasan, kehujuan saat sekolah. Agar mereka tidak perlu berdesak desakan lagi di dalam kelas. Agar mereka tidak perlu lagi menyebrang lautan di usia sekecil agar bisa bersekolah.

 

 

Semangat mereka lah, kesungguhan mereka lah yang menjadi energi bagi kami tim Kebukit Indonesia untuk membantu mereka, ikut menjadi bagian dari perjuangan mereka.

Bismillahirrahmanirrahiim …

Ini adalah modal kami, modal utama kami untuk bergerak, memberitahukan, mengajak, menghimpun berbagai support dan bantuan dari banyak orang. Karena kami tidak mampu bila mengerjakan ini sendirian …

 

 

Cara Sukses Vs Jalan Sukses

kemana

 

Selama ini kita banyak sekali mendapat masukan, arahan, motivasi tentang bagaimana caranya meraih sukses. Banyak sekali buku, seminar, nasihat baik dari orangtua kita, kawan kita, para motivator, dan para orang orang yang sudah dinilai sukses.

Saya termasuk orang yang senang belajar, senang mendengarkan, senang membaca. Apalagi tentang orang orang yang sudah sukses di bidang nya masing masing. Mendengarkan tentang bagaiamana perjalanan hidup mereka, bagaimana cara mereka meraih sukses, dsb.

Bagaimana cara meraih sukses !

Ini adalah mungkin adalah salah satu kalimat yang sangat banyak di cari, banyak ditanyakan, banyak didiskusikan, banyak dirumuskan, banyak diformulakan …

Berlomba orang mencari jawaban atas pertanyaan ini. Bagaimanakah CARA nya, menjadi sukses …

Namun benarkah untuk menjadi SUKSES, yang perlu kita cari tahu adalah hanya tentang CARA nya ?Hingga kita terlupa tentang unsur penting lainnya tentang kesuksesan, yaitu tentang :

Bagaimana Memilih Jalan Sukses

Ah ini dia !!

Saya sangat tertohok dengan sebuah pertanyaan seorang teman : ” Kenapa kita selalu fokus dengan cara cara meraih sukses. Pertanyaan yang sebenarnya perlu kita cari jawabannya adalah : apakah benar ini jalan sukses kita ? “

Atau pertanyaan lainnya adalah :

” Sudah benarkah jalan ini yang akan ku tempuh untuk meraih kesuksesan ….”

” Di jalan yang manakah aku akan memperoleh kesuksesan …. “

” Bagaimanakah aku yakin, bahwa ini adalah jalan aku memperoleh kesuksesan …”

Barangkali pertanyaan pertanyaan ini yang masih jarang kita dialogkan dengan diri kita sendiri. Kita begitu terlarut dengan cara cara yang kadang terlalu “tekhnis” dalam mencapai kesuksesan. Kita terlarut dalam CARA.

Kemudian melupakan hal lain yang lebih utama, yaitu mengetahui DIMANAKAH JALAN KESUKESAN kita …

Bersambung ….

kemana

 

Goes To NTT ( lagi )

Kayanya NTT bakalan jadi kampung kedua saya nih, hhe.. hampir setiap tahun di takdirkan Allah ke pulau yang dulunya saya tidak pernah bayangkan sama sekali akan sering di kunjungi.

Akhir April ini saya kembali ke Pulau nan eksotik ini. Dalam rangka peresmian sekolah yang sedang saya bangun dengan teman teman Kebukit Indonesia dalam program “Bangun Sekolah NTT”

Jadi program “Bangun Sekolah NTT” ini adalah program pendidikan, dimana kami ingin membantu masyarakat NTT untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik, lebih layak, lebih berkualitas. Baik dari insfrasuktur maupun dari pengembangan sumber daya manusia nya.

Alhamdulillah, walau dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya terbangun satu sekolah, di senbuah pulau terpencil bernama Pulau Pangabatang.

Banyak cerita, banyak pelajaran, banyak hikmah yang saya (kami) dapatkan dalam perjalanan kali ini. Bismilllah. Semoga di Ramadhan ini bisa baik terceritakan …

Tunggu ceritanya yaa…

Belajar Tentang Kehidupan Di Kampus

Pekan ini jadwal saya masuk kampus lagi. Dapat tugas untuk mengajar tentang materi “Active Learning” di mata kuliah Pengembangan Kepribadian. Sebenarnya, materi  materi berupa slide show, sudah diberikan dari pihak kampus, namun saya pribadi lebih senang mengajar dengan cara dua arah, engan cara diskusi atau praktek.

Karena, selain agar perkuliahan tidak membosankan, saat ini bukan saatnya lagi materi perkuliahan itu satu arah, terpaku pada teori. Di tingkatan mahasiswa, yang mereka butuhkan selain knowladge, adalah bagaimana mereka punya karakter dan personal skill bisa menerapkan ilmu mereka dalam kehidupan nyata.

Maka, kuliah pekan ini saya isi dengan menonton film “Facing The Giant”. sebuah film yang sangat inspiratif. Tentunya film yang diputar hanya part yang dibutuhkan nya saja. Sekitar tujuh menit para mahasiswa diberikan kesempatan untuk menonton film tersebut, selanjutnya secara berkelompok, mereka diminta untuk menganalisis film tersebut, mengexplore masing masing karater, dan mencari tahu hikmah atau pelajaran yang mereka dapatkan dari film tersebut

img_20190425_1111341295293534.jpg

Proses belajar mengajar dengan seperti ini, bagi saya pribadi sangat menyenangkan. Kelas menjadi hidup, para mahasiswa diasah kemampuan berfikir kritis nya, kemampuan analisisnya, kemampuan berkomunikasinya, sekaligus kreatifitasnya.

Ketika menonton, mereka dilatih untuk menyimak film dengan seksama, mengaktifkan penglihatan dan pendengaran mereka. kemudian masing masing mengambil nilai, pelajaran,  kesimpulan yang mereka dapatkan. Setelah itu mereka belajar untuk berkomunikasi dalam forum diskusi. Menyampaikan pemikiran, gagasan, secara verbal dan tulisan.

Sehingga proses belajar, baik itu melihat, mendengar, menyampaikan secara lisan dan tulisan, semua bisa terjadi. Watching, Listening, Speaking And Writing.

Selain itu kita memberikan insight bahwa mereka bisa belajar dari apa saja, salah satu nya dari sebuah film. Belajar bisa melalui hal yang mengasikan. Kuncinya adalah memilih source yang tepat. Seperti saat mereka belajar dari sebuah film, sebenarnya kita sedang mengajarkan tentang nilai nilai kehidupan yang sebenarnya mereka butuhkan.

Sayangnya saat ini, lembaga lembaga pendidikan bahkan setaraf sekolah tinggi atau universitas, masih mengutamakan hal hal kognitif saja. Urusan moral, nilai kehidupan, kemampuan problem solving, daya juang, life skill, seolah olah bukan “urusan” kami, para mahasiswa dinilai sudah bisa mencari cari sendiri, padahal sehari hari mereka banyak menghabiskan waktu di dunia kampus, dunia perkuliahan.

Padahal bila kampus ingin menghasilkan manusia manusia berkualitas baik secara soft skill, pengembangan diri, penajaman karater, kemampuan problem solving, dan nilai nilai kehidupan seperti ini seharusnya menjadi “ranah” tanggung jawab  mereka. Tidak melulu berkutat di area area nilai akademis

Seperti di SMA dulu, kita ada  mata pelajaran bimbingan konseling, maka sebenarnya di kampus pun mata kuliah seperti ini masih sangat dibutuhkan. Kerena mahasiswa butuh hal yang lain diluar dari mata kuliah kognitif. Sayangnya tidak semua kampus menyadari hal ini, perkuliahan jadi sangat kering dengan niali nilai moral dan penanaman nilai nila kehidupan.

Maka, saya bersyukur bisa hadir dan menjadi bagian di salah satu sekolah tinggi di Kota Bandung ini, yang progam studi nya menghadirkan satu mata kuliah khusus, yaitu mata kuliah “Pengembangan Kepribadian”, untuk membantu para mahasiswa nya belajar tentang life skill, juga nilai nilai kehidupan, yang kelak akan mereka butuhkan saat ini dan juga kelak di kehidupan nyata.