” Mobile Lagend ” Untuk Kemajuan Anak Bangsa … ?

games online

Anak-anak bermain game online di sebuah warnet. – Ilustrasi/indigos.com

 

Sebenarnya saya cukup menahan nahan untuk tidak membahas ini -di masa tenang- dalam pemilu ini. Tapi sebenarnya ini bukan hanya tentang keberpihakan saya kepada seorang kandidit presiden, tentang di kubu mana saya berada, namun ini tentang seorang pemimpin yang bernarasi tentang masa depan bangsanya.

Rasanya saya tidak perlu lagi membahas tentang bahanya games online bagi manusia, terutama anak anak. Sudah banyak pihak, yang memaparkan bahannya kecanduan games online ini. Baik dari sisi pendidikan, kesehatan, emosi, bahkan perkembangan jiwa. http://Kecanduan Games Online Meyebabkan Kerusakan Fungsi Otak

Tak sedikit orang tua yang curhat, mengeluh, resah ketika melihat anak nya kecanduan games online. Tak sedikit mereka kemudian menyesal saat tahu anak nya sudah dalam tahapan kecanduan parah games online, yang kenyataannya banyak merusak banyak sisi kehidupan mereka.

Sedih sekali, ketika seorang kandidat presiden yang juga seorang pemimpin negara, membawa isu ini ke ranah pembahasan program kebangsaan. Alih alih membahas tentang bagaimana menjaga rakyatnya, anak bangsa nya, dari kerusakan yang ditimbulkkan dari games online, malah seakan akan games online atau di “keren” kan dengan istilah e-sport sebagai sebuah program yang prioritas.

Salah kah membuat games online sebagai program besar pemerintah … ?

Dengan kondisi negara kita yang seperti ini, rasanya sangat tidak elok menjadikan games online, sebagai hal yang harus diprioritaskan. Masih banyak sektor lain yang esensial, mendasar, substantif, dibangun di negri ini : pertanian, perikanan, jiwa jiwa kemandiran, wirausaha, pendikan, kesehatan dsb.

Bukan hanya tidak substantif, bila kita menggali lebih dalam kecanduan games online ini bisa membawa mudharat yang sangat banyak, bukan hanya perkara menyia nyiakan waktu, membuat tidak berinteraksi denga lingkungannya, namun lebih jauh ini merusak fungsi otak, merusak fungsi otak depan (pre-frontal cortex), yaitu fungsi otak yang membedakan manusia dengan hewan. Fungsi otak dimana manusia berfikir, dan menjalankan fungsi nya sebagai manusia. Bila fungsi otak itu rusak, apakah jadinya manusia tersebut ?

Maka, berbagai dalih yang mengatakan bahwa potensi income dari games online ini luar biasa, sehingga harus didukung dan dikembangkan. Maka pertanyaan nya adalah, seberapa sanggup kita menanggung jutaan, bahkan puluhan juta, rusaknya  fungsi otak anak bangsa kita, anak anak kita, adik adik kita, para penerus bangsa.

Dimana tanggung jawab kita, dimana kita membiarkan anak anak kita, adik adik kita, yang masa depan nya masih panjang, kemudian kamampun berfikir, kemampuan bernalar tak berfungsi. Apakah pemerintah mau bertanggung jawab ketika hal ini terjadi ?

Maka apabila ada pemimpin Bangsa yang justru mendukung bahkan ingin menjadikan games online ini sebagai sesuatu yang besar, di akses masal generasi muda, bukan nya mencegah, memberi pengertian yang baik tentang akibatnya, membuat regulasi yang baik dan benar menghadapi serbuan games online yang makin banyak.

Akan jadi apakah generasi muda kita ini ?

Ah entahlahh ….

Saya mengerti sekarang, bila dulu ada pribahasa, “Bila ingin merusak sebuah bangsa, maka bakarlah bukunya, jangan biarkan mereka membaca” Sekarang mungkin akan ada tambahan pribahasa : “Bila ingin merusak sebuah Bangsa, maka biarkan anak muda nya kecanduan games online, dan biakan mereka terelana, dirusak secara terencana, tanpa mereka menyadarinya “

Semoga Allah melindungi anak anak kita, adik adik kita, dari program pembodohan yang terencana …

Bandung, 15 April 2019

Advertisements

Pertanyaan Seorang Awam : “Benarkah Pertahanan Negara Kita Lemah…?”

19765170_1948393952095716_7524042254525136896_n

Seberapa kuatkah ketahanan dan ketahanan negara kita ?

Well, saya bukan orang yang ada di kapasitas ini untuk menjawabnya. Debat presiden beberapa waktu lalu yang membahas tentang seberapa kuat ketahanan militer negara kita, membawa ingatan saya akan percakapan beberapa tahun lalu dengan seorang komandan kapal TNI AL sewaktu saya dalam program berkeliling Nusantara, menggunakan amada KRI untuk program sosial dan pendidikan.

Dalam perjalanan saya berkesempatan berbincang bincang dengan seorang Komandan  KRI , kami bincang bincang sederhana, tentang lautan Indonesia. Beliau adalah seorang anggota TNI AL, yang sudah belasan tahun bertugas menjaga lautan Indonesia. Ia bercerita tentang betapa luasnya lautan kita, ribuan pulau, dengan jutaan kekayaan dan pesona baik di permukaan, pantai, juga di dalam lautan itu sendiri.

Begitu luasnya perairan  Indonesia,  berbatasan dengan lebih dari satu perairan negara lain, bahkan benua. Beliau bercerita, kondisi seperti ini adalah dua sisi mata uang, bisa jadi sebuah anugrah, bisa juga menjadi ancaman.

Anugrah yang besar ketika kita mampu untuk menjaganya, saat kita mampu memaksimalkan potensi nya untuk kemakmuran dan kesejahtraan masyarakatnya, dan menjadi ancaman ketika kita tidak benar benar menjaga perairan Indonesia, yang nyatanya banyak negra lain  “menginginkan” kekayaan negara kita.

Beliau bercerita lebih dalam, bahwa jumlah angkatan laut saat ini, tidak sebanding dengan  perairan yang mesti di jaga, terutama di daerah perbatasaan. Perairan Indonesia sangat luas, butuh angkatan laut yang kuat baik kualitas dan kuantitas. Masalah kecintaan para TNI, tidak usahlah diceritakan lagi, namun fasilitas yang menjadi “senjata” kita menjaga masihlah sangat kurang

Dengan mata yang menerawang keatas, beliau berujar panjang lebar “Dek Riska, bayangkan luas nya laut kita, barat, timur, utara, selatan, namun pangkalan laut yang besar hanya ada di Jakarta dan Surabaya, segala alat kelengkapan ada disana, padahal perairan mana yang perlu dijaga? ada di Timur Indonesia, Selatan Indonesia, Utara Indonesia, yang jaraknya jauh dari Surabaya, jauh dari Jakarta. Bayangkan ketika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di wilayah Timur misalnya, kita harus lama menunggu bantuan yang datang dari Jakarta atau Surabaya”

Mendengar penuturan beliau, seakan membukakan mata saya lebar lebar, tentang kenyataan yang ada. Empat tahun terakhir ini saya mengunjungi bebarapa pulau di Indonesia, dari perairan Mentawai, NTT, Papua, hingga ke perbatasaan Indonesia-Filipina, benar adanya, bahwa di pulau pulau tersebut.

Menurut penilaian saya -orang awam- pangkalan angkatan laut nya sangat terbatas, hanya berupa kantor perwakilan saja. Adapun penjagaan dari para TNI AL yang bertugas hanya beberapa kapal saja, tidak bisa “mengcover” wilayah Indonesia yang sangat sangat luas.

Beliau kemudian menceritakan lagi tentang sesuatu yang barangkali menjadi keresahannya ” Banyak negara lain menawarkan untuk melakukan penelitian terhadap kekayaan perairan bawah laut kita, dengan tawaran bahwa apabila penelitian ini berhasil, maka akan membawa kesejahtraan banyak untuk negara kita

Beliau terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ” Namun kita tak pernah tau, apakah mereka benar benar ingin memberi bantuan pada negara kita, atau dibalik itu ternyata mereka memang mencari informasi kekayaan kita, atau peta kekuatan bangsa kita” 

“Negara kita negara yang sangat kaya, banyak yang mengingingkannya” kalimat terakhirnya begitu dalam, matanya berkaca kaca, seperti tak sanggup melanjutkan.

Dia menutup percakapn kami dengan curahatan hati nya ” Kalau memikirkan hal ini, saya kadang sangat sedih, sungguh dek riska. Tapi ada daya, saya hanya prajurit, tak bisa berbuat banyak” dan akhirnya pun kami hanya diam seraya mendengarkan ombak malam yang menghempas buritan kapal.

Percakapan malam itu, meninggalkan banyak pertanyaan dalam diri saya. Masih banyak PR untuk menjaga Bangsa kita ini.


 

 

 

Waspada adalah sebuah keharusan, urusan Bangsa rasanya tidak elok bila kita terus berasumsi semuanya akan baik baik saja. Membuka mata akan realita, bersikap waspada, disalahkan artikan sebagai sikap pesimisme. Dimanakah nalar ditempatkan ? Membuka mata akan realita bukan berarti kita pesimis akan cita cita. Justru sebaliknya, realita yang ada, adalah pijakan kita untuk bagaimana meraih cita cita.

Termasuk cita cita berbangsa. Rasanya sangat naif menilai bahwa 20 tahun kedepan tak akan terjadi invasi apa apa, tak akan ada negara lain yang ingin “masuk” ke dalam negara kita. Mengurus negara tidak cukup hanya dengan merasa semua akan baik baik saja, karena itu akan membuat kita terlena.

Mengakui realita bukan sebuah kesalahan, jusrtu tidak mengakui realita yang ada adalah kebodohan, dan kemauan untuk terus dibodohi. Jangan terlena dengan prestasi semu yang justru melemahkan diri kita, membuat kita seolah olah diatas nirwana, padahal ancaman ada di depan mata, kita saja yang pura pura tidak mengetahuinya, atau mungkin memang dibuat tidak mengerti


Debat presiden kemarin, membuat saya lebih mengerti, siapa  yang benar benar mencintai dan ingin menjaga NKRI ini, siapa yang lebih waspada terhadap keutuhan NKRI ini, ketimbang ia berkata semua baik baik saja, padahal tidak.

Jayalah Selalu Indonesiaku …..

Semoga pemimpin berikutnya, adalah ia yang benar benar mencintai Nusantara ini …

Pengalaman Pahit Masa Kecil Dengan Kementrian Agama

Kementerian-Agama

Beberapa pemberitaan tentang peristiwa jual beli jabatan di kementrian agama akhir akhir ini, membawa memori saya ke belasan tahun yang lalu, ketika bapak saya meninggal.

Apa hubungannya kementrian agama dengan almarhum Bapak saya ? Jadi almarhum, adalah seorang guru di lembaga pendidikan yang ada di bawah kementrian agama. Bapak meninggal di tahun 2002, meningalkan istri dan anak yang masih di usia sekolah saat itu.

Saya  masih ingat saat itu, sepeninggalan bapak,  Ibu saya mengajak saya untuk mengurus samacam santunan duka ke kementrian agama kota (saat itu masih disebut dengan DEPAG – Departemen Agama)

Masih lekat peristiwa waktu itu, seorang pegawai lalu menyapa kami, menanyakan keperluan kami. Setelah dijelaskan beliau melihat kelengkapan dokumen yang sudah ibu saya siapkan. Kemudian di akhir pembicaraan, beliau berkata  kurang lebih seperti ini  “Buu… tong hilap weh kanggo abdi na, bisanana mah 10%  ” Kurang lebih artinya seperti ini “ Bu, jangan hilap buat saya ya, biasanya  10 %…” sambil tersenyum penuh makna

Kemudian saya lihat sesuatu di wajah  ibu saya, semacam gabungan ekspresi kaget, marah sekaligus sedih. Lalu ibu saya menjawab kurang lebih ” Pa, ini uang untuk anak yatim …” si bapak menjawab “Nu sanes ge sami da tos biasa, nya atos sabaraha wae lah bu ….” ; ”  yang lain juga sama, sudah biasa ko, ya udah berapa aja kalau begitu ….”

Saya melihat wajah ibu saya sedikit berkaca kaca, menahan tangis barangkali. Yang saya mengerti saat itu, si bapak petugas meminta “jatah” santunan uang duka yang menjadi hak kami. Uang yang akan menjadi bekal ibu saya membesarkan anak anak nya, uang yang sebenarnya tidak terlalu besar juga, namun oknum petugas ini masih meminta jatah yang sama sekali bukan haknya.

Padahal beliau pun sudah  dibayar  oleh pemerintah untuk melakukan tugas nya. Tega ! Barangkali itu yang mewakili perasaan kami saat itu. Ditengah suasana kami yang masih berduka, ditambah dengan peristiwa saat itu, seperti menggoreskan luka yang dalam.

Sepanjang perjalan pulang di angkot saat itu, saya melihat ekspresi kecewa, marah dan sedih di wajah ibu saya. Dan saya pun merasakan hal yang sama.


 

Peristiwa belasan tahun yang lalu itu sangat kuat melekat dalam ingatan saya, hingga saya dewasa. Apa saja yang berhubungan dengan Kementrian Agama (DEPAG) saat ini, ingatan saya kembali ke peristiwa itu. Saya semacam menyimpan memori yang dalam di alam bawah sadar saya tentang kementrian agama ini, hingga sekarang.

Hingga, pemberitaan kemarin tentang kasus jual beli jabatan di kementrian agama yang sedang ramai di media, ingatan saya kembali ke belasan tahun lalu. Dalam hati berkata ” Ya Allah, masih juga seperti ini …” 

Saya tahu, di kementrian agama pasti banyak juga orang orang yang masih lurus, masih menjaga keamanahan dan profesionalitas mereka, berjuang agar kementrian ini menjadi kementrian  bersih, jujur, yang bisa dipercaya, dan benar benar menjalankan fungsi nya untuk masyarakat.

Namun, tidak bisa dipungkiri, di masyarakat masih kuat melekat tentang bagaimana kementrian yang seharusnya menjadi lembaga pemerintah yang  paling amanah, karena mengusung nama AGAMA, tapi faktanya menjadi kementian yang paling banyak melakukan praktek  penyimpangan, yang dilakukan dari jabatan yang paling bawah, hingga jabatan paling tinggi.

Saya menjadi bertanya tanya, apakah ini  adalah budaya yang diwariskan turun temurun, nilai yang di turunkan dari generasi ke generasi, nilai yang dijaga dan dipelihara secara tersirat, sehingga di jadikan sebuah permakluman , ” ahh sudah biasa, yang lain juga begitu, yang sebelum sebelum saya juga begitu … “. Generasi tua mewariskan contoh  kepada yang muda, yang muda melihat, mendengar, dan menyaksikan dan kemudian “meneladani” cara caranya. Begitu terus lingkaannya. Astagfirullah ….


 

Mungkin cara yang terbaik adalah perombakan besar besaran untuk kementrian ini, dimulai dari pimpinan tinggi, stuktur, departemen2 di dalamnya, cara perekrutan, sistem, transparansi, budaya, bahkan mungkin merubah hal hal seperti visual, seperti suasana, warna, seragam, logo kementiran, ll menjadi sesuatu yang benar benar baru, fresh … !

Agar ada persepsi baru terhadap kementrian ini, baik persepsi internal, hingga siapapun yang ingin masuk ke depertemen ini, sudah membawa mind set “kejujuran” juga persepsi eksternal, agar persepsi di benak publik pun benar benar bisa berganti kepada kementrian ini. Dari yang saat ini sedikit banyak, maaf “Untrustable” menjadi “Trusable”


 

Akhirya -Bagi saya-  kenyataan hari ini, bukan berarti kenyataan mutlak di masa depan. Saya pribadi masih menyimpan harapan. Asalkan ada perubahan yang mendasar di kementrian ini. Ibarat rumah yang sudah bobrok, yang dibutuhan bukan saja merenovasi rumahnya, seperti memperbaiki tembok, lantai, atau atap nya saja.

Tapi mungkin yang dibutuhkan adalah merobohkan dulu bangunan lama, mengkokohkan dan mengatur ulang pondasi nya, mendesign ulang bangunannya, interior dan eksterior yang benar benar baru, dan terakhir menyeleksi  benar benar para penghuni yang layak tinggal di dalamnya

Harapan akan selalu ada, terutama kepada kementrian yang mengusung dan mengurus kepentingan masyarakat yang berhubungan dengan AGAMA. Tidak hanya untuk kita, tapi untuk kepentingan generasi kita yang akan datang. Kementrian ini sangat besar peran dan fungsi nya. Sebagai lembaga yang akan membantu masyarakat menagakan nilai nilai agama, nilai nilai moral, nilai nilai kebaikan yang sangat dibutuhan negri ini

Tentunya pemangku kekuasan mempunyai andil yang paling utama untuk bagaimana kementrian ini kedepannya. Apakah mau dibiarkan begitu saja, dengan budaya yang sepertinya sudah kuat mengakar, atau akan dijadikan prioritas yang akan diurus dalam program program nya.

Karena justru yang paling penting untuk membagun negara , selain membangun infrastuktur, adalah bagaimana membangun sumber daya manusia yang jujur, bersih, amanah dan profesional. Semegah apapun infrastuktur yang sebuah negara miliki, namun tanpa sumber daya manusia yang berkualitas -apalagi petugas pemerintahan- maka negri ini tidak akan kemana mana.


 

Ah, sudah sekian dulu …

Tidak ada niat apa apa, hanya sedikit berbagi sekelumit cerita, pengalaman, kenyatan dan harapan dari seorang anak negri yang mencintai negara nya. 

Semoga Bermanfaat,

Bandung, 22 Maret 2019

Nuriska

Mencari “Ruang Sendiri”

wp

Setelah merasa ada kondisi yang “stuck”, akhirnya saya memutuskan untuk sejenak “menghilang” sejenak dari keramaian, terutama dari keramaianan dunia maya.

Kurang lebih selama empat lima saya memutuskan untuk mengnonaktifkan segala hal yang berhubungan dengan dunia maya, juga mengurangi interaksi dengan keramaian yang ada di dunia nyata. Handphone hanya saya aktifkan untuk telfon dan sms saja, beberapa pertemuan dan janji saya tunda sementara. Saya butuh benar benar sendiri dan butuh ruang sunyi.

Sayangnya ruang sunyi atau sendiri itu ga bisa hanya diam dirumah, mengunci kamar, atau diam semedi di kamar mandi. Malah kalau hanya berdiam diri kita tidak mendapat “apa apa”, tidak mendapat jawaban atau pencerahan yang kita cari. Hanya diam dirumah, mengunci diri, biasanya hanya menghasilkan kejenuhan dan pikiran yang malah tak teratur merajalela.

Akhirnya kemarin saya memutuskan untuk menghampiri “Ruang Sendiri” dengan pergi ke luar kota, yang tak begitu jauh dari kota Bandung. Saya memilih kota yang bisa ditempuh dengan kereta. Karena perjalanan nya sendiri pun kadang kala adalah sebuah tempat untuk berfikir yang nyaman.

Pergi sendiri, melihat suasana baru, berjalan kaki di kota yang baru, berjumpa dengan orang orang baru, sesekali berbicara dengan mereka, membaca buku, membuat catatan catatan ketika ada lintasan pikiran, kesadaran atau pencerahan, dan sisanya adalah benar benar menikmati “Ruang Sendiri”. Tanpa gawai, tanpa banyak percakapan, tanpa banyak gangguan.

Di perjalanan itu saya lebih banyak untuk menilisik diri ( hhaa … bahasanya menelisik)^^, banyak mendengarkan diri, menyimak isi hati, mencari tau apa keinginan terdalam, menggali apa kesalahan diri, mencari tahu apa kesalahan pemikiran dan persepsi yang selama ini di imani.

Saya sangat menikmati saat saat seperti ini, ga sibuk tengok tengok gawai untuk cek notifikasi, ga juga bernafsu untuk mengupdate status saya sedang apa dan lagi dimana, atau memberitakan apa yang sedang saya rasa. Ingin menjadi manusia yang “Present Moment” saja.

Pernah ada yang nanya juga sih, seorang teman tentang kebiasaan saya seperti ini :

” Trus kerjaan kamu gimana , target kamu gimana, kan sayang beberapa hari ga ada kegiatan….?”

Saya rasa dunia ramai dan dunia sibuk itu tidak akan ada habisnya. Apalagi dengan dunia digital yang tak pernah tidur ini. Kita semacam digiring untuk selalu terbuka kepada dunia 24/7, diminta selalu mengikuti setiap informasi yang ada, beromba lomba untuk menampakan diri. Eksisitensi sebagai manusia di cirikan dengan tampak tidak nya dia di timeline. Berlomba lomba untuk menjadi yang pertama tahu, dan yang paling pertama menyebarkan nya pada dunia

Ga salah sih… memang ini zamannya, zaman yang banyak juga kebaikan didalamnya

Namun, saya rasa kita tetap butuh ruang untuk “kembali” kepada diri kita lagi, kembali untuk mengunjungi diri kita lagi, melakukan monolog dengan diri kita sendiri, mengecek kualitas diri kita, dan yang terpenting mengecek bagaimana kualitas diri kita dengan Sang Pencipta.

Dan rasanya itu akan agak berat, saat kita terus menerus dalam keramaian, dalam bertubi tubi nya notifikasi yang tak pernah berhenti, dalam keinginan scroling layar yang membuat ketagihan, dalam percakapan percakapan di keramaian.

Maka bagi saya “Ruang Sendiri” adalah sebuah kebutuhan, untuk sebagai ruang merenung, ruang berfikir, sekaligus ruang untuk memilih dan menyiapkan langkah langkah besar.


Itu dia ceritaku, bagaimana dengan kamu ?

Apakah kamu memiliki “Ruang Sendiri” juga kah … ?

Sharing dong …… 🙂

Salam Dari Kota Bandung,

Yang Sedang Menghangat Udaranya

Manusia “Setengah Setengah” Di Dunia Digital

Nah … ini dia salah satu dilema yang dialami oleh manusia “setengah setengah” – seperti saya – di dunia digital seperti sekarang. Manusia “setengah setengah” maksudnya gimana ? Ah ini istilah saya aja, untuk menggambarkan situasi saya saat ini. Bisa dikatakan saya seseorang yang setengah ekstrovert dan sebagian diri saya yang lain adalah introvert.

Bidang pekerjaan dan aktifitas saya adalah bidang yang benar benar berhubungan dengan banyak orang, butuh selalu “update” agar selalu terlihat dan eksis, terutama dalam dunia media sosial. Selain itu “dituntut” untuk bisa selalu fast response, ketika ada klient menghubungi. Jenis aktifitas yang menuntut saya selalu ONLINE.

Pekerjaaan pekerjaan extrovert dan interpersonal kalau bisa dibilang. Pekerjaan yang selalu membuat kita terlibat dengan orang lain, pekerjaan yang memang menuntut kita selalu “keep in touch” dan “easy to reach” . Saya menikmati sebenarnya, karena saya memang senang dengan aktifitas yang berhubungan dengan orang lain, bersosialisasi, berinteraksi, dan semacamnya.

Dilain pihak, saya pun orang yang introvert. Bukan berarti tertutup, tapi lebih kepada pemikir dan perenung. Saya seringkali membutuhkan waktu sendiri, yang benar benar sendiri di saat saat tertentu. Ketika saya butuh berfikir hal hal yang mendasar, atau butuh berdialog dengan diri sendiri, saya agak kesulitan ketika masih berada di “dunia ektrovert” saya.

Ketika sedang butuh dengan dunia yang “sunyi” agar bisa lebih jernih berfikir, lebih objektif melihat, lebih bijak mengambil langkah, agak sulit bagi saya, untuk di satu waktu berfikir dan tetap “on line” dengan dunia luar. Terlalu banyak distraksi, terlalu banyak pengalihan, kita tidak akan pernah selesai untuk “melayani” deras nya informasi dan permintaan dari luar. Benar … ?

Pernah saya, membuat jadwal waktu. Misalnya dari subuh sampai jam 07.00 saya tidak akan membuka hp, untuk chek aplikasi chat atau pun medsos. Dan jam 21.00 – sampai waktu tidur saya tidak membuka HP. Fokus pada diri sendiri dan apa yang benar benar ada di depan mata, keluarga dsb.

Tapi , pada kenyataannya dunia tidak semudah yang kita mau ternyata ….

” Kamu kemana aja sih, ko wa ku ga dibales beles …..”

” Ko, jarang komentar di grup ….”

” Ko, jarang jarang lagi update status ama ig stories, kemana aja ….”

Kalau ini mungkin saya masih bisa mengabaikannya. Tapi ketika berhubungan dengan pekerjan dan klient

” Mba, ko lama yaa dibales nya, saya butuh data nya segera….”

” Ko, slow response yaaa…, harusnya mudah dihubungi dong, kalau saya butuh apa apa”

Nah, dilema nya disitu, saat kita waktu untuk “ruang sendiri” kita, di sisi lain kita dituntut untuk selalu “ada”

Ada yang pernah merasakan hal yang sama ?

——————-

Bersambung …..

Ada Apa Dengan “Taman Dilan”

Beberapa hari yang lalu, media sosial lumayan ramai dengan berita “Taman Dilan” yang diresmikan oleh Bapak Gubenur Ridwan Kamil. Makin ramai ketika “urang Bandung” mulai membahas sekaligus mempertanyakan tentang, kenapa sih mesti ada yang namanya “Taman Dilan” ….. ?

Pertama saya tahu berita ini dari sebuah account IG. Dalam hati langsung bilang ” Duhhh ko ga penting bangettt yaaa “, memang Bandung sedang membangun iconic nya dengan taman, dengan berupa tema. Namun peresmian “Taman Dilan” ini sungguh jadi kontrovesi di masyarakat, terutama masyarakat Bandung

Saya penasaran juga dengan tanggapan netizen akan hal ini. Saya telusuri komen komen di postingan yang membahas hal ini, juga di account IG Bapak Gubernur, dan juga media elektronik yang mengangkat isu ini.

Diluar dugaan, tanggapan mereka kebanyakan – para kaum millennials – rupanya “tidak setuju” akan adanya taman ini. Nada protes di lontarkan oleh para anak anak millenals ini, baik di account IG berita, juga di account JABAR 1.

Padahal mungkin tujuannya agar taman ini bisa menarik perhatian kaum millennial

” Siapa sih dilan, sampai dibuatkan taman? “
” Emang apa jasa dilan buat Indonesia ? “
Ini taman ngajarin pacaran ala2 dilan gitu maksudnya … ?

Dan tanggapan tanggapan lainnya, sampai dihubung hubungkan dengan kondisi permasalahan masyarakat JABAR yang masih butuh prioritas lain, dibandingkan mengurus hal hal yang mereka anggap “receh” seperti ini. Sampai dihubungkan dengan kepentingan perolehan simpati suara untuk PEMILU APRIL 2019 nanti, dsb.

Namanya juga netizen, bebas buat berkomentar mungkin yaaa… hhe

Saya lebih tertarik pada tanggapan JABAR 1 dalam berita di sebuah media, ketika para wartawan menanyakan tanggapan beliau, tentang kontroversi “Taman Dilan” ini. Jawaban beliau kemudian adalah bahwa taman ini punya tujuan meningkatkan literasi. Karena film dilan itu diangkat dari sebuah novel yang sukses best seller, di film kan, dan kemudian masuk jajaran film terlaris di Indonesia

Karena saya bergerak di bidang literasi, saya lebih tergelitik untuk bertanya, literasi apa yang di dimaksud ? Rasanya agak masih belum bisa mengambil irisan antara dan keterkaitan antara novel dilan, film dilan, dan dibangunnya sebuah taman …

Apakah dengan ada “Taman Dilan” ( atau katanya itu sebuah sudut saja ) itu akan membuat orang tergugah membaca, berliterasi ? atau setidaknya disitu akan dibangun perpustakaan kecil atau quote quote penggugah, agar orang orang diajak untuk membaca, sebagai gerbang awal berliterasi

Padahal berliterasi tidak hanya perkara baca buku, lalu selesai. Tanpa memperhatikan konten dalam buku tersebut. Dalam literasi itu ada proses berfikir tentang baik – buruk, benar – salah, bermanfaat atau tidak.

Kalau berliterasi cukup dengan membaca novel, kemudian apa2 di dalam nya ditiru tanpa ada proses berfikir, maka itu bukan berliterasi. Apalagi apabila sampai membawa manfaat yang buruk.

Saya tidak antipati dengan film atau novel dilan. Saya pun pernah membaca bukunya, dan film pertama saya sempat nonton juga. Namun apabila Fenomena Dilan ini semacam ditasbihkan dan kemudian di benarkan dengan dibuat monumen, taman atau yang semacamnya, menurut saya pribadi hal ini berlebihan.

Tak hanya berlebihan, tapi “Taman Dilan” ini bisa jadi semacam pembenaran dan dukungan akan apa yang dilakukan oleh seorang Dilan yang sebenarnya hanya tokoh fiksi saja. Tidak ada nilai yang sangat terasa dari tokoh utama ini, untuk dijadikan panutan generasi muda. Untuk sebatas hiburan, boleh lah ….

Masih wondering aja sampai sekarang, ko bisa pa JABAR satu meresmikan “Taman Dilan” itu, yang sekarang jadi kontraproduktif di masyarakat. Kalau hanya untuk membantu gimmick2 film biar fantastis, popularitas, atau membuat viral, rasanya sangat mubazir. Lebih dari itu, masyarakat saat ini -juga generasi muda- sudah lebih cerdas untuk menilai sesuatu apakah itu perlu atau tidak, urgen atau tidak, bermanfaat atau tidak

Sekian ….

Kamis, 28 Februari 2018

Curhatan mojang Bandung, yang suka film, suka taman, cinta Bandung

Every Body Need Idol

Setiap orang butuh idola.  Beberapa fenomana yang saya amati, interaksi dengan berbagai komunitas, percapakapan mendalam dengan beberapa kawan, Akhirnya saya ada di titik keseimpulan itu.

Seorang manusia di usia berapapun dia butuh orang yang bisa dia lihat, dia jadikan figure, yang akan menjadi tolak ukur, panutan dalam melakukan sesuatu. Bahkan figure ini akan menjadi “kiblat”  untuk dia dalam pola pandang dan pola berfikir nya.

Dalam sebuah percakapan dengan kawan kawan dari komunitas punk hijrah , mereka bercerita, tentang bagaimana pengaruh grup band favorit mereka yang tidak hanya mempengaruhi gaya bermusik mereka, namun juga mempengaruhi pola pandang mereka.

Saat sang idola mengatakan sesuatu hal, atau menyatakan suatu pandangan tentang kehidupan misalnya, maka hal itu akan menjadi semacam “petuah” bagi mereka. Apa yang diyakini oleh idolanya, seringkali akan menjadi keyakinan pengikutnya juga. Terlepas benar atau tidak apa yang diucapkan sang idola. Karena yang dilihat bukan tentang isi, tapi karena siapa yang menyampaikannya. Idola nya

Balik lagi, tentang butuhnya manusia akan idola atau figure. Waktu kecil orang tua atau lingkaran keluarga terdalam akan jadi idola kita. Beranjak ke usia sekolah, kita mulai mencari idola diluar dari lingkaran keluarga, misalnya guru kita

Beranjak dewasa ketika kita mulai melihat banyak hal, idola kita mulai berubah, seiring dengan kecendrungan dan passion kita, bidang profesi kita, atau hobi kita. Walau kadang kita tidak sadar bahwa kita mengalami masa pencarian idola tersebut.

Yang suka musik, maka naluri nya akan mencari musisi siapa yang “pantas” jadi ia jadikan idola, yang suka dengan dunia pendidikan maka ia akan mencari tokoh yang pemikiran atau tindakannya membuatnya kagum, yang dunia bisnis ia akan mencari siapa tokoh yang ia anggap sukses dalam bisnisnya.  Yang suka dengan dunia perpolitikan, ia akan mencari tokoh yang pemikirannya membuat ia terpesona. Tanpa disadari setiap kita pasti mencari sebuah figur, tokoh, panutan, idola.

Kenapa sih manusia butuh idola ? Akhirnya saya berfikir seperti itu. Mulai deh baca baca, salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah karena manusia membutuhan penguatan identitas dirinya, siapa sih dia, mau jadi apa dia, apa nilai nilai yang akan diyakininya, maka salah satu cara untuk menguatkan identitas nya, ia akan mencari manusia yang telah ada terlebih dahulu sebagai contoh, panutan atau pegangan.

Naluri nya akan mencari ….

Pertanyaannya adalah, akankah kita sudah “bertemu” dengan idola yang tepat. Atau malah seseorang yang kita “idolakan” selama ini adalah seseorang yang bisa menghantarkan kita ke arah kebaikan atau sebaliknya.

Apalagi, kalau dikaitkan dengan generasi muda sekarang, dengan begitu banyak figure yang bermunculan, apakah mereka sudah benar dalam memililih idola ? apa efek yang akan ditimbulkan ketika mereka salah memilih idola ? lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka “memilih” idola yang tepat ?

Nah … pertanyaan itu sedang bermunculan dalam kebun pikiran saya

Mungkin akan saya bahas di tulisa berikutnya, setelah saya mulai bisa menguraikan jawaban nya …. ^^

 

Kebun Pikiran

Bandung, 7 Februari 2019

 

Bijak Itu Tidak Tiba Tiba

Seperti pendewasaan, sikap bijak pun tidak datang tiba tiba. Kalau kita lihat dan mungkin kagum dengan orang yang kita nilai bijak, mungkin di balik itu semua ia telah mengalami banyak hal. Entah itu mungkin ujian, musibah atau bahkan penderitaan. Dibalik bijak nya sikap seseorang mungkin, telah bertubi tubi hal datang pada dirinya. Tak hanya sekali, dua kali , bahkan mungkin berkali kali.

Telah banyak barangkali kita saksikan cerita atau disekitar kita, bahwa orang yang bijak adalah mereka yang hadir dari penderitaan, matang karena ujian, lahir dari sebuah tempaan. Ia tumbuh dari jalan hidup yang tidak mudah.

Barangkali ada, orang yang jalan hidupnya lurus lurus saja, tapi ia mampu bersikap bijak. Ia juga istimewa, karena ia senang belajar, senang mengambil hikmah, rendah hatinya, hatinya terbuka dan gemar ia mendengar.

Yang jelas, bijak itu tidak tiba tiba. Ia akibat dari sebuah proses. Sebuah proses panjang yang awalnya mungkin ia pun tidak bisa bijak menyikapi atas apa yang hadir dalam jalan hidupnya -cobaan, ujian, penderitaan-. Awalnya pun ia tidak rela, ia memilih tidak menerima. Kemudian yang ia tidak suka itu, justru malah terus menerus hadir dalam hidupnya, seakan tiada yang tahu kapan akan berlalu.

Namun dimasa masa itu, ia pun akhirnya dipaksa untuk belajar. Belajar menghadapi segala sesuatu yang ada diluar kuasanya dan belajar untuk memahami dirinya. Ia memproses dirinya, ia belajar faham, ia belajar memperbaiki, dan mau mengakui apa yang lemah dalam diri. Ia belajar untuk bisa berdiri, sesakit apapun jalan hidup yang ia alami.

Sehingga jalan panjang hidupnya, melahirkan saripati kebajikan dan kebijaksanaan. Bahwa hidup memang adalah soal soal yang mesti kita temukan jawabannya. Bahwa hidup adalah berupa kepingan gambar yang mesti kita susun hingga jelas terlihat gambaran besarnya. Bahwa hidup tidak tentang bagaimana kencang berjalan, tapi tentang bagaimana jernih melihat arah tujuan.

Maka, bila kau lihat ada orang yang kau anggap bijak. Maka ia adalah hasil dari tempaan usia atau temaan peristiwa. Tidak mungkin ia tiba tiba ada.

Tentang Rasa Syukur Dengan Produktifitas

bersyukur

Adakah korelasi nya antara rasa syukur kita dengan produktifitas ?

Ternyata ada rasa syukur kita bisa berkelindan dengan produktifitas kita, apapun yang sedang kita kerjaan. Baik produktifitas kerja, produktitas menajemen diri, produktifitas kita berkarya, dsb. Saya pun baru ngeuh dengan hal ini.

Walau belum benar benar rutin setiap hari melakukannya, saya mempunyai kebiasaan untuk menuliskan rasa syukur, dalam sebuah buku khusus, yang dinamakan “Jurnal Syukur”. Jadi ini adalah buku khusus, berupa catatan harian, yang berisi tentang hal hal yang kita syukuri setiap hari. Ini tulisan saya di blog sebelumnya tentang jurnal syukur.

Dan hari ini saya menemukan manfaat lain dari menulis jurnal syukur ini, yaitu PRODUKTIFITAS.

Hari ini sebenarnya adalah pagi yang kurang ceria bagi saya, sedikit gloomy. Ada rasa malas untuk memulai beberapa dead line pekerjaan. Lalu saya memutuskan untuk mengambil jurnal syukur saya. Saya ingat ingat lagi beberapa hal di hari kemarin, dan mulai menulis.

Saya menulis tentang rasa terimakasih saya kepada Allah Swt atas beberapa kemudahan dan kelancaran aktifitas hari kemarin, saya tulis tentang rasa terimakasih saya diberikan kesehatan, diberikan keselamatan selama perjalanan. Saya tulisakan juga rasa terimakasih saya tentang beberapa konsep, ide, gagasan yang kemarin DIA berikan kepada benak saya, saya lanjutkan juga tentang rasa terimakasih atas beberapa masalah yang kemudian bisa saya hadapi.

Tak lupa, saya tuliskan juga tentang terimakasih untuk rasa nyaman, rasa tenang, perasaan optimis yang masih ia izinkan bersemat dalam hati saya. Saya juga tuliskan tentang rasa terimakasih atas masih diizinkan untuk masih bernafas dengan leluasa sehingga masih bisa berkarya.

Masya Allah, sebenarnya bila kita hitung satu satu, tak cukup rasanya satu halaman buku, untuk menuliskan betapa banyak kebaikan yang Allah berikan untuk kita …

Dan setelah menuliskan beberapa rasa syukur dan rasa terimakasih yang saya rasakan di hari sebelumnya, tangki semangat saya seperti diisi ulang lagi, seperti tanaman yang sedang layu, kemudian diberikan siraman air di pagi hari, segar …..

Saya tak mau menyia nyiakan begitu banyak nya kebaikan, anugrah, nikmat yang Allah berikan kepada saya. Saya tidak mau Allah kecewa, sehingga mencabut kebaikan kebaikan itu, saya tidak mau menyiakan kepercayaan-Nya kepada saya.

Produktifitas saya kembali lagi. Saya langsung bergerak, melanjutkan lagi apa yang telah saya mulai. Menjalankan lagi peran peran yang Allah percayakan kepada saya. Mensyukuri atas kepercayaan yang ia beri untuk saya, untuk tetap menjadi manusia bermanfaat.

Hari ini saya merasakan, bahwa rasa syukur, rasa terimakasih kita kepada-Nya adalah sebuah kekuatan yang akan kembali lagi untuk kita.

Hari ini saya meraskan bahwa salah satu kebaikan dari rasa syukur adalah meningkatkan produktifitas.

Terimakasih Ya Allah ….

Bandung,

21 Januari 2019