Imperfect Life

_Instagram Post (1)

Tentang hidup yang tidak sempurna ….

Iya hidup ini tidak sempurna, banyak hal  yang tidak sesuai dengan keinginan, harapan  dan keinginan kita.

Iya, hidup ini tidak sempurna. Kadang kita dibuat kecewa, marah, sedih, bahkan patah hati oleh orang lain

Iya hidup ini tidak sempurna, seberapa detik lalu kita hidup baik baik saja, namun tak berapa lama tiba tiba ada masalah mendera kita

Iya, hidup ini tidak sempurna, terkadang tidak semua hasil sesuai dengan yang kita sudah usahakan

—-

Sekarang saya sering menasihati diri sendiri saat menghadapi masalah.

“Hei … dont take it personal”.

Karena setiap orang pun sama, merekasetiap manusia menghadapi masalah nya masing masing. Kita, dia, mereka …

Saat kita sadar bahwa setiap orang diikuti masalah nya masing masing, tak lagi  kita merasa orang yang paling malang, paling tidak beruntung, atau paling menderita

Ketika kita mau belajar dan mensikapi masalah sebagai konsukensi hidup, maka hidup akan lebih tenang. Mungkin tidak serta merta menjadikan masalah itu hilang, namun kita akan lebih bisa menerimanya dengan lapang dada dan kemudian berani menghadapinya

Hidup di dunia ini memang tidak sempurna, imperfect, karena begitulah ketentuannya

Kita tidak selalu mendapatkan yang kita mau, namun seringkali kita mendapatan kenikmatan yang tidak terduga

Kita tidak selamanya kecewa, dan tidak selamanya  dibuat gembira

Kita tidak selamanya bahagia, dan tidak  akan selamanya menderita

Kita tidak akan selamanya bersedih, dan tidak akan selamanya bersuka

Kita tidak akan selamanya  gagal, dan tidak akan  selamanya berjaya

Kita tidak akan selalu melalui hidup yang mulus mulus saja, dan tidak juga akan selalu menghadapi badai bencana

Karena hidup ini memang dipergulirkan oleh Nya

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS. Ali Imran: 140

Lalu adakah hidup yang sempurna ?

Ada. Namun kelak di kehidupan kita berikutnya, di kehidupan setelah kematian dan kebangkitan. Disana hidup akan sempurna, sesempurna sempurnanya

Dan ada dua pilihan, sempurna dalam kenikmatan atau sempurna dalam penderitaan. Semuanya bergantung pada amalan, keimanan dan ketakwaan kita di kehidupan saat ini

Dan dimana kita  berada kelak, ditentukan di hidup sekarang, saat ini. Di kehidupan yang tidak sempurna ini …

Bandung, 05 Mei 2020

Sebuah Nasihat Pada Diri Sendiri

Tentang Do’a …

_Instagram Post

Ada masa masa di waktu yang lalu, saya menjadi orang yang “Lelah Berdoa” (Astagfirullah, maafkan hamba ya Allah…)

Rasa rasanya segala amalan jenis do’a sudah di panjatkan, segala jenis dzikir dan amalan sunnah yang orang sarankan. Namun kenapa do’a tersebut tidak kunjung dikabulkan

Hingga terbersit :
Kemanakah do’a do’a itu pergi
Adalah DIA benar2 mendengar
Apa dosa yang kulakukan, hingga do’a ini tak kunjung dikabulkan…

Hingga di suatu waktu, saya berulang ulang selalu mendengar tentang makna sesungguhnya dari do’a

Bahwa do’a bukan perkara dikabul atau tidaknya permintaan kita
Bahwa do’a bukan perkara kapan kah waktunya, apakah nanti atau segera

Namun do’a adalah seberapa erat kita bergantung kepada-Nya

Namun do’a adalah seberapa kita mempercayai-Nya sebagai tempat kita meminta, sebagai tempat bercerita, mengadu, berkeluh kesah

Namun do’a adalah seberapa besar ketergantungan kita kepadanya

Namun do’a adalah seberapa sering kita menyeru, menatap, dan bersandar kepada-Nya

Terlepas bagaimana, kapan, dimana dan bagaimana caranya Ia menjawab dan mengabulkan do’a do’a kita itu bukan jadi hal yang utama dan satu satunya

Mengkokohkan bahwa IA adalah Tuhan, dan kita adalah hamba

Yang kepada-Nya lah kita menyandarkan segala kebutuhan, harapan, keinginan, itulah yang paling utama

Seperti Abu Bakar yang pernah berkata :

“Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah do’aku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdo’a.” 😭

Benar, adanya. Yang paling berbahaya adalah ketika kita berhenti berdo’a. Yang berarti kita berhenti bersandar pada-Nya, berhenti percaya bahwa IA adalah Tuhan yang Maha Mendengar, Maha Mengurus hidup kita

Yang terpenting dari do’a adalah tentang bagaimana kita selalu tersambung, terhubung, terikat erat dan bergantung kepada-Nya. Hanya DIA

Mencari Diri Yang Hilang …

Ocean Adventure Instagram Post (1)

Ramadhan yang sunyi
Ya, barangkali seharusnya Ramadhan seperti ini, sunyi
.
Agar kita bisa lebih dalam menyelami diri
Menemukan kembali kepingan kepingan diri kita barangkali tangah tenggelam
Tenggelam karena melangitnya obsesi
.
Agar kita bisa mengasingkan diri
Dari bisingnya suara dunia
Yang tak pernah berhenti
Menawarkan kita dengan berupa impian & angan indahnya
.
Agar kita bisa lebih mencermin diri
Adakah bagian diri kita yang memudar & samar
Tergerus oleh nafsu yang selalu menggerogoti
.
Bisa jadi kita merasa sedang terbang,
Padahal kita sedang tenggelam .
Bisa jadi kira merasa sedang di awan,
Padahal jiwa kita sedang menghilang
.
Jangan, jangan sampai..

Tentang Beban

Ocean Adventure Instagram Post

Pernah kah merasa seperti ini ?

Kadang kala kita mengeluh walau tak terucap, keluhan yang mengendap dalam jiwa, tentang terasa beratnya amanah yang sedang dipikul, hingga terasa sebagai sebuah kewajiban bahkan beban yang berat.

Alih alih mengerjakannya, kita sibuk pada pikiran dan perasaan tentang berapa berat beban tersebut kita tanggung tersebut. Hingga menjadi takut untuk bergerak, cemas dan membayangkan apa yang akan terjadi esok, dsb

Dan kemudian disaat saya sedang bergumul dengan perasaan ini, Allah mengantarkan saya untuk mendengarkan sebuah kajian

Dalam kajian tersebut, Saya mendengar pernyataan seorang pemimpin besar, yang saat ini sedang memegang amanah yang tidak kecil, yang tidak mudah, amanah yang menurut saya sangat besar dengan segala konsekuensinya
.
Saat beliau ditanya tentang bagaimana ia menyikapi amanah yang begitu besar ini…

Beliau menjawab kurang lebih seperti ini : ” Sebenarnya bukan tentang besar kecil kecilnya amanah, yang membuat kita berat menanggungnya. Namun semua terletak pada Ridha Allah “

Bila Allah Ridha kepada kita, maka yang besar pun akan terasa ringan. Namun bila tidak ada Ridha Allah, maka yang kecil pun akan terasa berat …”

” Maka, bukan tentang besar atau kecil nya amanah, namun tentang Ridha Allah kepada kita, jadi apakah Allah Ridha atau tidak pada kita disitulah kuncinya …” Begitu lanjutnya

Masya Allah, apa yang beliau sampaikan saat itu sungguh menyadarkan Saya, tentang bagaimana kita menghadapi sebuah amanah yang seringkali kita anggap sebagai beban. Beban yang rasanya terlampau besar , sehingga kita nilai berat bagi kita rasanya untuk menanggungnya …

Kita menjadi lupa, bahwa kita Punya Allah… Yang akan menolong kita, yang akan menguatkan kita, yang akan menunjukan jalan kepada kita, selama yang kita kerjakan adalah kebenaran & kebaikan

Maka, apabila Kita diberikan amanah, baik besar ataupun kecil. Pertama & utama mintalah Ridhanya, mintalah Ridhanya, mintalah Ridhanya..

Agar ringan terasa
Agar lapang jalan Kita
Agar tentram jiwa Kita menjalaninya

Bismillah …..

Berusaha Bermanfaat Saat Keadaan Tidak Bersahabat

Entah kapan Covid-19 ini berlalu dari negri ini, bahkan dari bumi ini. Bercampur rasa ketika wabah ini ternyata “mampir” juga di negara kita tercinta. Ya, wajar saja ketika ada kecemasan dan kekhawatran dalam benak kita. Karena ternyata wabah ini bukan hanya tentang mengancam kesehatan, namun berdampak kepada banyak sisi kehidupan kita, terutama ekonomi.

Mungkin beda beda level kecemasan dan kekhawatiran yang dirasakan setiap orang. Ada yang cemas tentang kesehatan dan keselamatannya saja, namun  untuk kebutuhan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan keluarganya tidak terlalu menjadi masalah bagi golongan masyarakat ini, karena mereka mempunyai tabungan yang cukup, masih mendapat kepastian income di kondisi seperti ini.

Lain cerita mereka yang tidak seperti golongan masyarakat di atas.  Mereka yang menyambung hidup nya dari hari ke hari, yang mesti berjuang untuk memenuhi pangan nanti malam, yang harus memastikan berapa rupiah yang ia bawa pulang ke rumah, agar anak dan istri bisa sarapan pagi esok pagi.

Wabah Corona ini sangat banyak berpengaruh kepada mereka secara ekonomi. Para pengemudi angkutan umum, ojeg online, pengemudi becak, pedagang di sekolah sekolah, pedagang asongan, pedagang pinggir jalan, tukang parkir, buruh harian,  dll.

Apakah mereka sanggup bertahan dengan kondisii seperti ini ….

Ahh … kita tidak bisa diam saja, ada yang mesti kita lakukan, dengan apa yang kita bisa, dengan apa yang kita mampu

Akhirnya saya dan relawan kawan peduli tergerak untuk ikut serta membuat gerakan kecil dengan niat membantu saudara saudara kita diluar sana yang masih mesti berjuang untuk kehidupannya

Kami pun bersepakat untuk membuat gerakan URUNAN 50 RIBU UNTUK PEJUANG JALANAN. Alhamdulillah dalam berapa hari saja, banyak kawan kawanyang tergerak untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan kecil ini.

Bismillah….

Kami langsung bergerak, uang yang terkumpul kami belanjakan kebutuhan kebutuhan pokok yang dibutuhkan. Dalam tiga hari, Alhamdulillah lebih dari 170 paket terkumpul dan akan kami bagikan kepada yang membutuhkan

Gerakan URUNAN 50 RIBU UNTUK PEJUANG JALANAN Kami bagi di beberapa di beberapa titik di Kota Bandung dan sekitarnya, agar pembagian bisa lebih merata.

 

Relawan kawan peduli pun bergerak, menyusuri jalan dan gang gang, membagikan titipan kawan kawan, untuk mereka para pejuang jalanan para pejuang keluarga.

Masya Allah …

Kami menyaksikan, diluar sana ada banyak saudara saudara, yang tidak mendapatkan “Privilege” seperti kita, yang bisa #DirumahAja tanpa terlalu mengkhawatirkan apakah kita bisa makan atau tidak

Mereka bukan tidak peduli wabah, namun mereka lebih khawatir bagaimana bila anak dan istri mereka tidak bisa tidur malam ini, karena perut meraka yang kosong tak terisi. Mereka lebih khawatir bagaimana bila anak dan istri mereka tidak bisa sarapan pagi.

Ya Allah ….jadikan kami manusia manusia yang peka, peduli, dan mau selalu berbagi

e6d42a27-c390-40b1-9755-2c84e2264d7af8dfca1e-9dfe-42e5-89d2-3e8568648bb1fc04bdd3-3398-4f08-9ee3-9e7bd159ce53fe64e476-22c9-4534-b607-e367af3e5e78f5e91ee0-1e2b-4282-bc79-52a2c3be24fe

Bagi kami, sebuah kebahagian dan kesyukuran bisa menjadi jalan dan perantara orang  orang yang selalu peduli dengan orang lain dengan mereka para pejuang kehidupan.

Yuks kawan kawan yang ingin menyampaikan kepedulian kepada mereka, bisa bergabung dengan gerakan kecil kami :

Urunan 50 Ribu Untuk Para Pejuang Jalanan

Kita berdo’a juga sama sama, agar wabah ini segara berlalu, dan agar wabah ini menjadi jalan kita lebih dekat kepada Sang Pencipta. Itu yang paling penting.

Aamiin Yaa Rabball Alamiin …

Salam Sayang Dari Kota Bandung

#KawanPeduli #PejuangJalanan #PejuangKeluarga

Agar Tetap Produktif Saat #DirumahAja

1

Out Break Happend …!

Peritiwa yang barangkali tidak pernah kita sangaja terjad di negara kita tercinta, dan kita tak pernah menyangka pula bahwa peristiwa ini begitu meluluhlantakan berbagai tatanan kehidupan yang sudah ada, padahal belum genap satu bulan lamanya.

Diantara hal yang berpengaruh adalah ritme aktifitas bekerja. Dengan berbagai kebijakan “Belajar Dari Rumah”  dan “Bekerja Dari Rumah”, tentunya akan banyak perbedaan yang di rasakan.

Nah, ini berbagi berbagai tips yang saya ingin bagikan agar #DirumahAja nya tetap produktif dan menyenangkan.

Semoga Bermanfaat Ya …. ^^

2

 

3

4

5

6

 

8

Ada Apa Dengan Corona

sedekh

Hari ke enam peraturan pemerintah karena  wabah CORONA (COVID-19) yang juga melanda negara kita. Hari hari awal penetapan Belajar Dari Rumah & Working From Home mungkin ada banyak orang yang merasakan seperti perpanjangan liburan akhir pekan.

Bagi yang punya semboyan “I HATE MONDAY” mungkin ada sedikit kegembiraan yang tersembunyi, karena tidak mesti berangkat pagi pergi ke kantor dan mengerjakan pekerjaan yang terkadang serasa  beban kewajiban. Tidak mesti berada di kantor yang rasanya menjemukan, atau bertemu dengan rekan kerja yang menyebalkan, hhe…

Walaupun pada kenyataannya, kewajiban meyelesaikan pekerajaan tetap ada , tapi setidaknya tidak mesti menemui hal hal yang kurang menyenangkan di kantor & bisa merasakan sedikit persaan nyaman, karena  kita lakukan semua itu dari rumah. Bukan Begitu ?

Bagi saya sendiri -yang memang bukan orang kantoran-, konsep “Work From Home” bukanah sesuatu yang baru, karena dari dulu sudah saya jalankan. Tempat bekerja bagi saya bisa dimana saja. Tempat kerja saya kadang di kantor, di rumah, di tempat klient, perpustakaan umum atau perpustakaan pemerintah, coffe shop (kalau keuangan sedang aman), masjid, rumah teman, atau terkadang taman kota

Tapi memang suasana “Working From Home” kali ini berbeda. Wabah Corona yang sedang melanda Indonesia ini, sangat banyak mengambil perhatian & pikiran kita. Berita berita yang tidak kita henti pantau perkembangannya, yang tidak hanya mengenai tentang Corona nya itu sendiri, tapi tentang dampak yang menyertainya ; terbatasnya alat alat kesehatan, harga hargabeberapa komoditas yang merangkak naik, makin tingginya harga dolar, prediksi ekonomi yang terus memburuk, panic buying, isu penjrahan, dll

Kita sepertinya tidak henti dihujani berita berita seperti ini -dari beragai macam media- Televisi sudah pasti, belum lagi berita berita dari media elekrtonik yang seperti nya sangat bertubi tubi, twitter, facebook, share dari grup wa yang tidak hanya satu, yang hampir setiap grup memberitakan hal yang sama

Belum lagi berita berita yang belum tentu sesuai fakta, dibumbui hoax, atau berita yang hanya berdasarkan asumsi dan pendapat pribadi atau golongan tertentu saja, atau berita berita yang akhirnya menjadi konflik karena perbedaan pendapat  atas penyikapan terhadap Corona ini. Lalu ….

Saya pernah merasa lelah, karena terlalu mengkonsumsi banyak berita, apakah teman teman pernah merasakan hal yang sama …?

Mungkin niat awalnya ingin tahu perkembangan saja, tapi akhirnya kita terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi informasi, yang kadang kala juga tidak apa apa kalau kita tidak mengetahui hal tersebut. Namun fokus kita menjadi salah, alih alih melakukan sikap antisipasi untuk menghadapai virus ini, kita malah tenggelam dalam berita berita yang tidak ada hentinya ini.

Tidak salah memang memantau perkembangan berita, tapi ketika kita sudah tahu mengenai esensi beritanya, itu sudah lebih dari cukup. Langkah selanjutnya adalah bagaimana mengantisipasi, dan bagaimana mengantisipasi juga menyikapi apabila hal tersebut terjadi di sekitar kita. Ikuti saja apa yang menjadi arahan pemerintah dan para tenaga medis yang memang pakar dibidangnya. Karena …

Bukan seberapa banyak berita yang kita dapatkan, namun apa yang kita lakukan dengan berita tersebut

Karena sepertinya, bila kita tenggelam pada berita semata, hal ini bisa menjadi kontraproduktif. Diataranya kita menjadi cemas berlebihan, atau berbagai tugas “WORKING FROM HOME” yang semestinya kita kerjakan menjadi terabaikan, dan kewajiban kewajiban lain yang mesti ditunaikan pun menjadi terabaikan.

Pada akhirnya dibutuhkan kebijakan dalam manghadapi wabah ini, pun dalam mengelola berita yang kita konsumsi. Memang ada yang perlu kita ketahui secara mendalam, ada yang perlu kita ketahui pertengahan, ada hal yang perlu kita ketahui cukup permukaannya saja.

Jadikan  diri kita tetap produktif berkegiatan dari rumah, dengan apa yang terjadi. Produktif secara fisik, intelektual, emosional dan spritual.

Kita lakukan bagian kita, untuk menghadapi wabah ini. Melakukan apa yang telah disarankan, menbatasi kontak fisik, menjaga daya tahan tubuh, menjaga kebersihan diri, dll.

Yang juga sangat penting adalah menjaga keterhubungan kita dengan Tuhan, Sang Pencipta kita, yang menguasai hidup kita, yang memutuskan hidup dan mati kita, karena Ia lah yang berkuasa atas setiap nafas hidup kita

Kita kuatkan do’a agar wabah ini segera berlalu dari negri ini, dari dunia ini. Kita terus kuatkan do’a agar keluarga kita, orang orang yang kita cinta, dan bahkan siapapun orang yang tidak kita kenal terhindar dari wabah ini.

Ikhiar Maksimal – Berdoa Maksimal

Fn : Sebuah catatan dan nasihat kepada diri sendiri, dalam masa yang tidak biasa ini. Oh ya temen temen, biar #DirumahAja nya tetap berkah, saya ingin infokan program program sosial bisa berpatisipasi.

https://kitabisa.com/campaign/bangunsekolahntt

https://kitabisa.com/campaign/alquranuntukflores

 

Pentingnya Menyamakan Frekuensi

Menyamakan frekuensi adalah hal yang penting dalam sebuah organisasi. Apalagi untuk organisasi yang bergerak dalam bidang sosial. Menyamakan frekuensi bahkan menjadi salah satu pondasi, nilai dan budaya yang mesti dimiliki oleh organisasi tersebut.

Itu pula yang kami lakukan pekan kemarin. Duduk bersama menyamakan frekuensi  dari organisasi sosial dalam bidang pendidikan yang saat ini kami jalankan bersama, yaitu Kebukit Indonesia.  

Pekan kemarin kami sengaja mengundang putra putra asli NTT, yang saat ini baru saja menyelesaikan studi sarjana dan pasca sarjana nya di kampus di Pulau Jawa.

Semenjak kami memutuskan untuk berkegiatan di NTT dari sekitar tahun 2013. Kami mulai banyak balajar, salah satunya adalah untuk memperbanyak porsi mendengarkan. Mendengarkan apa yang menjadi permasalahan yang sedang mereka hadapi, keinginan yang ingin mereka wujudkan, serta harapan masyarakat disana.

Menurut padangan saya, sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang sosial, program yang digulirkan jangan sampai hanya program yang berdasarkan asumsi organisasi semata. Jangan sampai program yang kita adakan adalah program yang kita rumuskan berkutat pada persepsi dan teori, pengamatan jarak jauh, tanpa mendengaran apa yang menjadi permasalahan yang benar benar terjadi disana.

Jadi sebagai pengurus organisasi yang sedang berkegiatan di Pulau NTT, namun domisili para pengurusnya banyak di Pulau Jawa, maka sangat penting bagi kami untuk mendengarkan dan berdiskusi dengan para putra putri asli NTT

 

fbca173d-5245-4366-826b-e191fa0f8913

Dan pekan kemarin, Kami bersyukur bisa duduk bareng bersama mereka. Putra putra asli tanah Timur. Mendengarkan apa yang menjadi fenomena selama ini di tanah lahir mereka. Mendengarkan apa saja kendala, permasalahan sekaligus potensi dan peluang  yang bisa ditumbuh kembangkan disana.

Mendengarkan adalah bagian dari menyamakan frekuensi

Kenapa kita perlu mendengarkan ? Karena dengan mendengarkan kita bisa melihat apa yang selama ini tidak kita lihat, menyadari apa yang selama ini kita belum sadari. Dengan mendengarkan kita bisa melihat berbagai sudut pandang yang berbeda sekaligus sudut pandang yang bisa mencerahkan cara berfikir kita

Manfaat lain dalam menyamakan frekuensi adalah, kita bisa membuat kesepemahaman tentang apa permasalahan yang perlu kita selesaikan, menyamakan pandangan tentang bagaimana menentukan prioritas, menentukan ide & gagasan bagaimana menyelesaikan permasalahan juga merancang cara, stretegi & tekhnis yang akan dilakukan.

Menyamakan frekuensi juga artinya membulatkan kembali akan maksud dan tujuan, juga cita cita besar, agar segala derap langkah aktifitas adalah memang untuk menuju maksud dan tujuan tersebut

Menurut pandangan saya kembali, dalam berorganisasi jangan sampai kita melulu menghabiskan segala daya, tenaga dan fikiran kita untuk hal yang bersifat tekhnis. karena apabila kita hanya tertuju dan terobsesi pada hal hal yang bersifat  tekhnis, kita akan mudah melupakan arah tujuan, cita cita kenapa sebuah organisasi atau lembaga diadakan dan didirikan.

Lalu kita terjebak dalam kegiatan kegiatan yang seolah olah hanya “yang penting ada kegiatan” menjadi hampa, tanpa ruh, tanpa energi, tanpa tujuan, tanpa misi, tanpa strategi …

Jadi, ayo kita duduk sebentar, samakan frekuensi antar tim, agar tujuan yang kita inginkan benar benar tercapai. Atau jangan jangan kita memang tidak punya tujuan ? yang penting jalan ….

Bandung, 16 Maret 2020

Sebuah catatan perjalan untuk disimpan, direkam dan dijadikan pelajaran

Setiap Orang Berhak Bercita & Bercerita

d55d0fc7-3ee3-45b8-8cfb-5de898ce5fb0

Akhir pekan kemarin kami sengaja “Escape” sebentar dari hingar bingar kota Bandung. Nyari tempat yang sedikit sunyi & tersembunyi untuk duduk sebentar, merileksan fikiran, untuk kemudian berdiskusi santai, menyamakan frekuensi, menggagas harapan dan cita bersama tim Kebukit Indonesia

Katanya sebuah yayasan/lembaga sosial itu, jiwanya ada di pendirinya. Maksud dan tujuannya pun harus sesuai dengan tujuan “Founding Father” nya. Anggota lain tinggal meneruskan perjuangan.

Namun bagi saya -sebagai founder sebuah yayasan sosial- sebuah yayasan atau pergerakan sosial, jiwa nya ada di setiap orang. Setiap orang berhak untuk menitipkan impian impian besar nya di sana. Setiap orang berhak mengemukakan ide dan gagasan nya disana. Setiap orang harus memilik tujuan disana

Founder adalah pemantik, penggagas awal dan pembuka jalan.

 

Karena perjuangan selanjutnya akan lebih panjang. Perjuangan tidak bisa dilakukan sang “Founder” sendirian. Sang “Founder” akan menggajak banyak orang untuk berjuang bersama meraih tujuan. Karena ia tahu, di depan sana akan membutuhkan banyak orang. Orang yang memiliki semangat dan cita cita yang sama untuk mencapai tujuan,

Karena ia tahu di depan sana, akan dibutuhkan berbagai macam kemampuan,  keunikan, kekuatan yang berbeda beda dari berbagai orang. Dibutuhkan banyak strategi untuk bersinergi dan berkolaborasi.

Oleh karena tujuan kebaikan itu sangat panjang. Maka, setelah membukakan jalan, bukan berati founder yang memilki jalan tersebut. Jalan tersebut adalah jalan yang dimiliki bersama sama, jalan yang akan ditempuh bersama sama.

Oleh karena itu, setiap orang berhak menuangkan gagasan, pikiran dan cita cita nya di sana.

 

 

Setiap Orang Berhak Berbicara

Setiap orang berhak untuk meruahkan ide, gagasan & cita citanya. Mereka diperkenankan melejitkan bakat dan potensi nya disana.

Dan kemarin, sebuah kesyukuran bisa mengajak generasi yang lebih muda dari saya ini untuk melanjutkan perjuangan atas gerakan kebaikan yang telah saya mulai. Dan ternyata ide, gagasan dan cita cita mereka luar biasa. Banyak hal yang diluar dari pemikiran saya yang ternyata mereka bisa pikirkan.

Semoga mereka kelak yang akan melanjutkan. Tidak hanya melanjutkan, tapi menguatkan &melejitkan perjalanan kebaikan ini.

Oleh karena itu saya memberikan ruang kepada mereka untuk menuliskan apa cita cita kebaikan yang ingin mereka lakukan. Menuliskan apa harapan harapan besar mereka, untuk kebermanfaatan bagi  banyak orang. Berperan maksimal di di zamannya.

eb853465-84e7-4720-b554-7c42663e5640

—–

Fn : Late post, dalam rangka menyusun diri untuk bisa rutin nulis lagi

 

Ingin Merubah Kebiasaan, Dari Mana Memulainya ?

Berapa banyak sih dari kita yang sadang berjuang mati matian  untuk memperbaiki/mengubah kebiasaan ?

Dan berapa banyak pula dari kita yang gagal dalam mengubah atau memperbaiki kebiasaan yang kita anggap tidak baik atau buruk tersebut.

Saya pun pernah beberapa kami merasakan dan mengalami hal yang sama, yaitu betapa sulitnya kita merubah kebiasaan.

Kenapa yaa, kita begitu kesulitan dalam merubah kebiasaan  ?

Padahal tak terhitung banyaknya tips & trik juga berbagai  cara yang di berikan entah itu oleh para guru, motivator, tokoh berpengaruh dan sebagainnya

Cara cara seperti rumus “21 hari” merubah kebiasan -atau ada yang sampai 40 hari- yang konon katanya cara ini bisa membuat kita bisa merubah kebiasan kita.

Mungkin bagi beberapa orang ini efektif, mungkin bagi sebagian yang lainnya ini tidak efektif, gagal di tengah jalan, dan akhirnya butuh tenaga yang lebih besar  untuk memulai dari awal lagi. Kembali ke kebiasaan lama, dan akhirnya menganggap bahwa dirinya tidak bisa berubah

Lalu adakah cara yang lebih efektif, powerfull dan  bertahan dalam jangka panjang dalam merubah kebiasan tidak baik dalam diri kita. Bukan karena terpaksa, tidak terasa berat ketika menjalankannya, malah kita merasaan ringan dan kokoh dalam menjalankannya.

New Habits vs Old Habits

 

Credit : https://www.teamusa.org/

 

Akhirnya saya luangan waktu untuk berfikir, merenung dan mencari tahu.

Rupanya bagi saya tidak efektif ketika ingin merubah sebuah kebiasan yang melompat langsung kepada akifitas yang ingin dirubah tersebut. Bagi saya perlu hal yang lebih mendalam dan mendasar ketika akan merubah sebuah kebiasaan. Yaitu dengan terlebih dahulu merubah PIKIRAN dan KEYAKINAN kita. Caranya adalah dengan BERTANYA kepada diri sendiri .

Kenapa Sih Saya Harus Merubah Kebiasan Tersebut ..?

Sebagai contoh ; Berapa banyak dari kita yang gagal diet, bukan karena gagalnya dia menjaga pola makan, tapi karena gagal menemukan ALASAN yang KUAT kenapa dia perlu melakukan diet.

Berapa banyak dari kita yang gagal dalam menghilangkan kebiasaan menunda pekerjaan, bukan karena dia tidak bisa melakukan pekerjaan tersebut, namun karena kurang ALASAN yang KUAT kenapa ia akan lebih baik ketika bersegara.

Berapa banyak dari kita yang berjuang untuk tepat waktu, namun berapa banyak dari kita hanya semangat awal awal  nya saja, dan kemudian berantakan kembali di hari hari berikutnya. Bukan karena dia tidak bisa tepat waktu, tapi karena kurangnya ALASAN yang KUAT dalam diri kenapa ia sebaiknya menepati waktu.

ALASAN KUAT, adalah penting kita miliki ketika ingin merubah sebuah kebiasaan

 

Tanpa alasan yang kuat, merubah kebiasan akan menjadi sebuah hal yang sangat berat

Tanpa alasan yang kuat, merubah kebiasan akan menjadi sebuah hal yang sementara

Tanpa alasan yang kuat, merubah kebiasan akan menjadi sebuah hal yang tidak bertahan lama

 

Saya rasa, merubah kebiasaan bukan tentang niat dan disiplin semata. Namun seringkali kita terlewat untuk menanyakan kepada diri kita sendiri tentang ;

” Untuk apa saya merubah kebiasan ini ? ”

“Mengapa saya perlu melakukan perubahan hal ini? ”

“Apa akibatnya kalau saya tidak melakukan perubahan ini ?”

Pertanyaan yang penting sepeti ini justru seringkali kita lewatkan. Kita langsung berkutat sibuk dengan hal hal yang bersifat aktifiatas tekhnis, tapi kita lupa membuat pondasi yang kokoh atas alasan dibalik keinginan merubah kebiasan tersebut.

Misalnya kita ingin merubah kebiasan kita yang malas berolahraga menjadi rajin berolahraga. Maka kita perlu alasan yang kuat agar terbentuk kebiasan olahrag yang baik.

” Saya olahraga agar saya langsing dan badan saya proporsional dong ….”

” Saya olahraga agar lemak lemak di perut ini hilang ….”

” Saya olahraga agar badan saya sehat, saya bisa produktif dan berkarya, bisa terus menebar kebermanfaatan, tidak mudah sakit dan untuk investasi kesehatan nanti masa tua….”

Nah kira kira dari berbagai alasan tersebut, mana yang akan lebih baik, konsisten dan jangkan panjang dalam melakukan olahraga ?

Ini bukan tentang benar dan salah, karena alasan bisa sangat personal. Namun bila alasan alasan tersebut tidak cukup kuat, dan tidak bersifat pondasi, maka usaha merubah kebiasaan tersebut akan mudah patah.

Jadi sebelum sibuk meng-set aktifitas, membuat ukuran ukuran keberahasilan dalam merubah kebiasaan, maka sebaiknya temukan terlebih dahulu ALASAN YANG KUAT kenapa kita perlu melakukan perubahan tersebut

First, Find Your Why

Then

Do Your How

9087213b-02a7-4a9d-84b3-7a2b9a9c4656


Love Note :

Bandung, 25 Februari 2020

Ditulis ditengah perjuangan dalam menemukan alasan yang kuat untuk merubah berbagai kebiasaan