[ Kita Tak Punya Banyak Waktu ]

Waktu itu bergerak
Waktu itu berdetak
Waktu itu berpendar

Dimanakah jiwa kita ketika waktu merangkak bergerak

Dimanakah akal kita ketika waktu tersentak berdetak

Dimanakah hati kita ketika waktu memudar berpendar

Telahkah kita jauh melangkah, atau kita hanya berputar putar saja.

Telahkah kita banyak berbuat, atau kita hanya jalan jalan di tempat saja.

Telahkah kita benar beramal, atau kah hanya sebatas prasangka belaka saja.

Telahkah kita benar mengguna waktu, saat beribu detak waktu telah berlalu.

Kita tak punya banyak waktu
Kita tak punya banyak waktu

Ya…
Kita tak punya banyak waktu

 

time

Advertisements

Pas Butuhnya Aja [ Bagian 1 ]

” Ah … dia mah datang pas butuhnya aja ”  mungkin kalimat itu pernah terucap dari bibir kita atau setidaknya pernah terlintas dalam hati kita, ketika ada seorang teman yang kita merasakan melupa kita, ketika dia suka, atau ketika ia telah berjaya.

Padahal ketika dia merana, dia selalu ingin bersama kita. Berwaktu waktu ia mengampiri kita, bercerita segala cemas, berupa gundah gulana, berbagai luka dan duka, dan kita selalu menyetia ada untuk nya.

Namun setelah badai yang ia rasakan telah berlalu, ia pun juga berlalu, melupa. Ia tak lagi menyapa kita, bahkan tak mau tau dengan hidup kita, diam, tak peduli dan menyibuk dengan dunia nya. Luka ia bagi dengan kita, namun ketika bahagia atau suka, ia rasa tak pantas untuk berbagi dengan kita, dia telah dengan dunianya …

****

Mungkin ini dirasakan oleh beberapa diantara kita, ketika seorang teman berlalu dengan mudah nya. Saat duka dia ingin kita ada, namun saat suka diapun entah kemana, sudah menemukan dunia barunya, lupa dengan siapa dia pernah melalui badai dalam hidupnya.

Saya pernah merasakannya. Ini yang dinamakan pamrih barangkali. Kita menghitung hitung “kebaikan” yang telah kita lakukan kepada orang lain, atau mungkin kita hanya merasa telah berbuat baik. Yang kemudian kita merasa berhak “menutut” ia membalas apa yang telah kita lakukan terhadapnya dengan sepadan.

Kemudian, saya coba melihat kedalam diri lebih dalam lagi, kenapa saya sampai merasa seperti itu, seharusnya ikhlas saja, terhadap apa yang telah kita usahakan untuknya, walaupun balasannya justru berbeda. Jangan jangan saya pun begitu, namun saya tidak menyadarinya.

Atau saya menjadi manusia yang penuh “pamrih”, membisakan diri menghitung hitung kebaikan dan jasa yang telah kita perbuat, sehingga ketika balasan adalah sebaliknya, maka hati kita menjadi sempit.

Padahal sejatinya kebaikan itu akan kembali kepada kita sendiri, dalam berbagai bentuk, entah ia membalas yang serupa atau tidak. Jangan jangan ketika menghitung, mengingat dan menuntut di balas dengan yang sepadan, justru  nilai kebaikan yang pernah kita lakukan menjadi lebur, tak berbekas apa apa untuk kita, dan kita merugi tak mendapat kebaikan dan nilai apa apa.

Manusiawi ? ya memang bisa dibilang sangat manusiwi, karena kita mempunyai berbagai emosi dan reaksi. Namun semoga kita bisa tak berhenti dan menggantungkan diri dari kata “manusiawi”.

Kita harus menguasahakan yang lebih dari itu, memberikan kebaikan kemudian melupakannya. Karena hidup yang sedang kita jalani sekarang ini, pasti ada peran kebaikan orang lain yang bisa jadi tak kita ingat atau kita tau tapi kita lupakan.

Dan yang terpenting yang harus kita garis bawahi, bahwa kebaikan yang mampu kita lakukan adalah atas izin-Nya,  Jadi kenapa kita harus merasa berbalas …

To Be Continued …

 

 

 

 

 

Mengukur Kehidupan Orang Lain

Dalam keseharian, tanpa disadari kita seringkali memberikan ukuran dan penilaian pada kehidupan orang lain menggunakan ukuran atau standart yang dibuat berdasarkan “ukuran” hidup kita.

Misalnya ada kawan, saudara, kerabat yang kita nilai salah satu bagian hidup nya ada di posisi di “bawah” kita. Dan karena merasa poisisi kita “diatas” dia, maka dengan mudahnya kita  memberikan penilaian, mengomentari, menyalah nyalahi akan kehidupannya saat ini.

Ke-superior-an, kesuksesan, keberhasilan kita saat ini, level hidup yang dirasa leboh baik, dijadikan alasan untuk pantas mengomentari, menilai, mengukur, menstandari tentang kehidupan orang lain di bawah kita.

 ” Harusnya dia beginilah, harusnya dia begitulah, salah dia sih begini, salah dia sih begitu,  ko dia ga belajar ya, ya dia sekarang kaya gini soalnya dia begitu, katanya pengen maju tapi kerjaannya begitu, dia ga maju maju karena begini begitu, dsb …”

Kemudian bersambung kita membandingkan dengan apa yang telah kita kerjakan dan apa yang telah kita capai

” Harusnya kaya saya nih, tuh kan lihat saya, udah punya ini, udah punya itu, bisa ini – bisa itu, kaya saya dong begini , dsb …”

Kata kata yang mungkin walau tidak terucapkan, tapi terbersit dalam hati kita ketika melihat, kawan, saudara, rekan kita yang kehidupannya sedang ada di “bawah” kita. Kita begitu pandai “menangkap” kondisi orang lain, dan kemudian membuat standar standar ukuran, berdasarkan standar hidup kita.

Salah ? Entahlah, tapi tidak bijak sepertinya. Karena setiap orang memiliki jalur sendiri akan hidupnya, jalan hidup setiap orang tidak ada yang sama, cerita tak akan da yang serupa. Setiap orang pada akhirnya akan menemukan titik balik, titik sukses, titik kehidupan dengan caranya masing masing.

Bila kita sudah dalam tahap baik, tahap keberhasilan, tahap kesuksesan, maka tidak elok rasanya mengomentari dan menertawai mereka yang sedang bergelut mencari titik berhasilnya, titik sukesnya, sedang berpayah payah menyusun hidupnya.

Lebih bijak rasanya, bila posisi berhasil kita saat ini adalah sebagai sumber kebaikan, sumber inspirasi, menjadi kawan setia bagi mereka yang masih berjuang, masih berusaha keras, masih berikhitar dalam kehidupannya. Karena kita tidak pernah tau sejauh mana, sekeras apa dia berjuang dalam hidupnya, karena yang kita lihat seringkali hanya permukaannya saja.

Ini bukan tentang pepatah “roda kehidupan berputar” atau “uruslah hidupmu saja”, tapi tentang bagaimana melembutkan hati, tentang berempati kepada kehidupan orang lain, tentang belajar pada kehidpan dan menyadari bahwa sukses, sejahtera, dan posisi kita saat ini, semata mata bukan hanya hasil kerja keras kita, tapi ada Izin-Nya di dalamnya.

Maka Lembutkanlah Hatimu …

 

 

 

Fn : Sebuah nasihat diri akan rasa jumawa yang kadang tak terasa

 

 

Mengapa Takut Menua

Pagi ini saya saya mandi dan siap siap bekerja, merapihkan diri di depan kaca, kemudian tanpa sengaja, pandangan saya tertuju pada ujung mata, pada garis garis halus yang kadang terlihat jelas kadang samar, hati saya berbisik   “ahh, mulai ada kerutan …” .

Tak henti disitu, jari jari ini  mencari cari lagi sudut lain lebih seksama, ahh rupanya ada beberapa titik hitam di wajah, tipis memang, namun bila dilihat lebih dekat itu ada.  “Ah bintik hitam, saya akan terlihat tua “ si hati tiba tiba berteriak dalam hati.

Kemudian terjadi dialog dalam hati : “ Duhh, cream anti aging yang bagus apa yaa …” tiba tiba hati ini merasa panik, hanya karena melihat garis halus dan titik titik hitam di wajah.

 


 

Otak saya kemudian sibuk mengingat ingat krim anti aging, yang kata iklan bisa membuat 5 -10 tahun  lebih muda, lebih segar, dan menjadi lebih percaya diri.

Saat fikiran  sibuk memilih mana krim anti aging yang paling baik, tetiba suara lain dalam hati dia “ Kenapa begitu takut menua, mengapa sebegitunya, mengapa begitu  resah dengan hal permukaan itu ” kata sang suara hati

Ya ini kan untuk perawatan, perempuan itu butuh perawatan, tak salah kan ingin terlihat lebih muda ” begitu kata suara hati yang lain

Entahlah, semacam kau terlalu berlebihan. Mengapa kau begitu takut terlihat tua ? ” lanjutnya lagi


 

Kemudian dialog dalam hati itu terus berlanjut dalam hati dan fikiran saya, ya kenapa kita begitu takut terlihat tua -mungkin banyak kaum hawa juga yang merasakannya – , padahal menua adalah sebuah proses alami, sebuah hukum Tuhan, sebuah siklus waktu yang setiap manusia jalani, mau tidak mau, suka tidak suka. Dengan segala konsukensi fisik dan psikisnya.

Menua raga, menua usia, kadang menjadi kekhawatiran, ketakutan, dan keadaan yang kita hindari atau ingin kita samarkan. Seakan muda adalah segalanya, seakan muda atau terlihat muda adalah sebuah keharusan, dan kesenangan tersendiri.

Menua kadang kita sikapi hanya dengan mencari penyamarannya, dengan berbagai cara, dengan berbagai usaha, dari yang wajar, dengan menyamarkan penampilan, menyamarkan garis dan kerutan, hingga ada yang melakukannya dengan cara yang berlebihan, oprasi, seolah menjadi terlihat tua adalah sebuah cela atau kesalahan.

Padahal mungkin garis dan kerutan itu adalah semacam peringatan, peringatan akan tahun tahun hidup yang telah kita habiskan, tentang waktu yang telah kita pergunakan, tentang apa yang telah kita lakukan, tentang apa yang belum kita lakukan, tentang kesempatan yang tersisa.

Ahh.. akhirnya saya terdiam sebentar, mencoba untuk menyelami lebih dalam, mencari tau apa yang saya inginkan sebenarnya, apa yang di niatkan sesungguhnya. Akhirnya saya belajar untuk berusaha “meluruskan”sebuah niat, bahwa apa yang dikenakan, apa yg di pakai, bukan tentang menentang sebuah proses alami, hukum Tuhan, bukan tentang ingin terlihat selalu muda, bukan hanya sekedar ingin terlihat oleh orang lain, namun semoga selalu di beri kekuatan dalam menyadari bahwa hal itu dilakukan sebagai bagian dari mensyukuri apa yang Ia titipkan kepada kita, anugrah jiwa dan raga.

Semoga ….

 

 

 

 

Kisah Si Rok Mini

Sore itu  saya berada di sebuah gedung perkantoran, dan sudah tiba waktunya untuk shalat Ashar. Saya pun mencari tempat Wudhu dan Mushola.

Saat akan berwudhu, saya berpapasan dengan seorang wanita pertengahan usia,yang memakai baju yang menurut saya cukup tidak pantas untuk usianya, dia memakai setelan warna merah, dengan rok diatas lutut. Kemudian hati saya spontan berkata ” Ih … ga tau malu, sudah tua masih memakai baju yang mini ”  dan saya pun sedikit membuang muka kepadanya.

Kemudian saya  melaksanakan shalat Ashar 4 Rakaat. Disamping saya sudah  ada seorang wanita yang telah duluan melaksanakan shalat.

Setelah shalat, perempuan itu tidak langsung pergi, ia kemudian membuka tas nya, dan mengambil sebuah buku kecil, sepintas saya lihat itu seperti buku doa, karena ada huruf arab dan terjemahannya. Dia begitu khusuk membaca doa doa yang di buku itu dengan pelan dan khusuk.

Setelah beberapa lama, ia kemudian membuka mukenanya, dan ternyata perempuan yang bersebelahan shalat dengan saya adalah perempuan tadi yang berpapasan ketika saya akan wudhu, si rok mini. Lalu saya bertanya padanya “ lagi baca apa bu ? ” dia menjawab ” ini mba, lg baca al mansturat, dzikir sore … saya sedang belajar rutin membacanya, biar hati tenang

Masya Allah … seketika hati saya langsung terasa jatuh, malu. Malu pada si rok mini, malu pada diri sendiri, malu kepada Nya. Begitu mudah hati ini menilai apa yang nampak pada mata, dan merasa kita lebih baik dari orang lain yang belum sama seperti kita.

Padahal kita tidak tau, dibalik kekurangan seseorang, kita tidak tau kebaikan apa yang ia sembunyikan, dan justru kebaikan itu yang Allah suka darinya.

Ini bukan tentang rok mini yang ia pakai, ini tentang hati yang suka merasa JUMAWA atas apa apa yang kita kenakan, apa yang telah kita kerjakan, apa yang kita tampakan.

 

 

 

 

 

Silaturahmi Yang Sulit

Masih nyambung sama tulisan saya sebelumnya, tentang silaturahmi, Sebuah Pesan Saat Lebaran Mungkin akan lebih mudah dan tidak ada hambatan ketika kita bersilaturahmi dengan mereka yang tidak pernah ada masalah dengan kita, kalau pun ada masalah masalah kecil saja, tidak  meninggalkan bekas yang dalam pada hati kita.

Namun yang sulit adalah ketika bersilaturahmi dengan orang yang pernah menyakiti kita, deeply. Padahal awalnya hubungan nya sangat dekat dan baik. Saat membaca hadist tentang keutamaan menyambung silaturahmi, saya langsung teringat kepada seorang yang pernah menyakiti saya, mungkin Allah secara tersirat meminta saya untuk menjalin silaturahmi dengan orang tersebut.

Namun, entah mengapa begitu sangat berat yaa.. untuk memulai lagi silaturahmi dengan orang yang pernah bermaslah dalam dengan kita, apalagi kita di posisi orang yang merasa ter dzolimi oleh nya. Masih teringat kenangan kenangan buruk yang terjadi, berkelabatan, walau sudah termaafkan tapi tidak terlupakan, rasa sakit yang tertingal, dsb.

Ah mungkin karena sulit atau tidak mudah itu, maka Allah memberi ganjaran, barang siapa yang menyambung silaturahmi (memulai, mengawali, silaturahmi) maka baginya kasih sayang Allah yang tak terbatas.

Semoga, suatu hari nanti,ada kekuatan ada kelapangan hati, untuk memulai silaturahmi, membuka komunikasi, walau apa yang pernah terjadi di masa lalu. Butuh usaha yang lebih memang, butuh hati yang luas, jiwa yang bebas…

Semoga, suatu hari nanti …

 

 

Dia pasti kembali

Hai … selamat malam alam raya. Sudah lama saya ingin menulis ini, menulis tentang sebuah hubungan, yaks.. dalam bahasa inggris nya about a relationship. Hubungan dengan siapa ? dengan siapa aja sih sebenernya, namun saat ini saya ingin membahas hubungan sebuah persahabatan.

Pernah ngalamin berantem ama sahabat? atau sahabat kamu tiba tiba marah marah ama kamu? atau salah faham yang bikin salah satu dari kalian jadi marah yang berkepanjangan? mostly pernah yaa….saya pernah mengalaminya. Sebuah peristiwa yang bisa disebut membuat hubungan saya dengan sahabat bisa dikatakan sangat tidak baik, dan membuat saya bener bener sangat sedih.

Satu peristiwa yang cukup membekas dalam ingatan saya, atau bisa jadi dalam hidup saya kedepan,adalah sebuah peristiwa antara saya dan salah seorang saya. Kami begitu dekat, walaupun jarak usia lumayan jauh, beliau lebih tua dari saya, sepertinya beliau sudah sangat percaya dengan saya, dia sangat terbuka dengan saya dan segalanya dia ceritakan pada saya, saya pun demikian, dan berusaha untuk bisa menjaga kepercayaannya.

Hingga suatu saat ada sebuah peristiwa, dimana ada kesalah fahaman atau bisa dibilang saya di “fitnah” oleh salah satu anggota keluarga dekatnya, yang mengatakan saya inilah saya itulah. Hingga sahabat saya ini marah besar kepada saya, marah yang sangattttt besar, hingga keluar kata kata sangat kasar dari dia, dan menyebut saya pengkhianat dan tidak tau berterimakasih dsb.

Sakit hati ? Pasti. Sangat sakit, pertama karena saya merasa tidak melakukannya, dan bukan seperti itu kisah yang sebenarnya. Kedua, karena saya sudah banyak berkorban buat sahabat saya itu, sisi emosi saya bercampur antara sakit hati,marah, kesal juga sedih.

Saya sudah mencoba menjelaskan kepada sahabat saya itu tentang cerita dari versi saya, namun  dia tidak mau mendengar, entah mungkin karena suara dari sana lebih keras terdengar, ditambah lagi mungkin karena suara dari sana adalah dari keluarga dekatnya sendiri, hingga sahabat saya lebih percaya kepada saudaranya ketimbang kepada saya.

Berkali kali saya minta waktu untuk menjelaskan, saya minta bertemu langsung, tapi dia menolak, malah terus mengeluarkan kata kata kasar via sms, berkali kali, dan saya coba membalas untuk menjelaskan, tapi sia sia, ia terus mengaggap saya salah.Sungguh awalnya saya tidak terima, dan saya bersikeras untuk menjelaskan bahwa tidak seperti itu ceritanya, namun ketika saya bersikeras juga, semua menjadi tambah buruk.

Hingga akhirnya  saya tiba di suatu titik, titik dimana saya “ngotot” untuk membuktikan saya tidak bersalah, membuktikan bahwa apa yang di katakan saudaranya tentang saya adalah tidak benar. Dan saya pun mengirim sms terakhir yang kurang lebih isinya seperti ini “Pada akhirnya waktu yang akan membuktikan apa yang benar, apa yang salah. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan suatu saat Ia akan menampakannya” dan dari saat itu hubungan kami terputus, tidak ada komunikasi lagi, dalam waktu yang cukup lama. Dan saya pasrahkan kepada Allah, apa yangs sudah, sedang dan akan terjadi, Ia yang mengetahui kebenaran, Ia yang mengetahui isi hati, dan Ia yang akan mengatur segalanya, saya pasrah, itu saja.

Dalam doa saya saya meminta begini pada Allah, saat saya merasa sedih atau sakit hati mengingat peristiwa itu “Ya Allah,sungguh Engkau mengetahui apa yang terjadi. bila hubungan persahabatan saya dengan dia mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat maka dekatkanlah, apabila tidak maka engkau lah yang Maha memisahkan”

Hingga suatu hati, setelah waktu yang cukup lama, tiba tiba dia menghubungi saya, memang tidak untuk meminta maaf atau untuk mengungkit kembali persoalan yang telah lalu, tapi dia datang untuk menyapa, entah, tiba tiba Allah mengatur lagi, pertemuan saya dengan dia, dan kemudian hubungan kami mengalir begitu saja, mulai dekat lagi, dan saat ini hubungan kami jauh lebih dekat malah, kami banyak melakukan kegiatan sosial bersama, saling sharing kehidupan masing masing, dsb, tanpa pernah lagi membahas masa lalu, mengungkit apa yang salah, apa yang benar, seperti mengalir begitu saja.

Peristiwa ini mengantarkan saya  pada semacam kesimpulan, pertama bahwa ada saat kita tidak mengerti tentang peristiwa yang datang kepada kita, entah baik entah buruk, ketika kita tidak mengerti, kita hanya perlu menerimanya, ada rencana-Nya yang hebat, yang kadang tidak bisa kita cerna sekarang, yang akan kita fahami setelah jauh dari peristiwa itu.

Kedua bahwa ketika kita tau kita tidak bersalah, kewajiban kita tetap menjelaskan semampu kita, kalau dalam bahasa anak anak mesjid Tabayyun hhee.. setelah kita berusaha maksimal untuk menjelaskan, kemudian pasrahkan. Karena hati kita, hati dia, absolutly dalam genggaman-Nya. Biar Allah yang mengatur kemana bergeraknya.

Ketiga, ketika Allah berkehendak ada kebaikan dalam sebuah persahabatan, maka percayalah maka Ia yang akan menyatukan hati hati kita, yang perlu kita lakukan adalah berdoa agar persahabatan yang kita jalani ada dalam keridaan-Nya dan janga lupa untuk didekatkan dengan sahabat sahabat yang bisa membawa kebaikan dan kebermanfaatan tak hanya di dunia, tapi juga untuk kelak di akhirat.

Percayalah, ketika kau tau kebenarannya #DiaPastiKembali

rare-animal-friendship-gray-wolf-brown-bear-lassi-rautiainen-finland-thumb

Sumber Gambar : Disini

Persahabatan yang sesungguhnya adalah, persahabatan yang bisa membuatmu lebih Taqwa kepada-Nya

 

 

 

What People See

Pernah di “nilai” sesuatu oleh orang lain yang sebenarnya bukan seperti itu adanya ? baik dalam hal positif atau pun sebaliknya. KESAN.  Mungkin itu yang orang lain liat dari diri kita, entah itu kesan yang tidak kita sengaja buat , atau memang sesuatu yang kita ingin orang terkesan. 

Sesuatu yang kita memang buat agar memang “terkesan”. Entah itu terkesan pintar, terkesan kaya, terkesan rendah hati, terkesan shaleh, terkesan baik hati, terkesan ramah, terkesan sukses, dll. Sesuatu yang kita memang sengaja tampilkan di permukaan, in other “People see what we want to be seen

 Disisi lain kadang orang melihat kesan kita “terlalu”. Judging us overestimate or maybe underestimate. Pernah ga orang bilang contohnya seperti ini ” Kamu, sukses banget deh sekarang, hebat yaa, bla bla bla ….” . Padahal kita tau, kita tak sehebat apa yang dia katakan, kita tak seperti kesan yang dia tangkap dari kita – dan itu tidak kita sengaja, atau buat buat-, they just reputed us like that.

Benar adanya, banyak orang yang meilhat kita hanya di permukaan, apa yang tampak, apa yang dilihat oleh mata, apa yang didengar oleh telinga, atau mungkin apa yang orang lihat,  memang sengaja kita ingin tampakan dan kesankan. Atau sebaliknya, kita bisa juga menilai seseorang hanya di kesan permukaannya saja, kulit saja.

Ya, memang butuh waktu dan kedekatan untuk melihat lebih dalam tentang seseorang, begitu juga sebaliknya orang lain terhadap kita. Belajar tidak menilai dan dinilai hanya “permukaan” saja. Juga tidak memaksakan diri untuk membuat “terkesan” yang sebenarnya bukan/belum diri kita.

Adapun ketika orang melihat kita over, maka Aaminkanlah semoga menjadi doa, dan ketika orang menilai kita under, jadikan evalusi diri dan motivasi diri, untuk menjadi lebih baik. Bukan untuk mengesankan orang lain, tapi untuk diri kita sendiri saja, itu.

Fn : Sebuah pesan pengingat diri

download

gambar dari sini

 

 

 

Me”Ratting” diri

Pernahkah kita secara sadar atau tidak sadar melakukan ratting kepada diri sendiri? ya, melakukan penilaian pada diri kita sendiri, di berbagai aspek, pekerjaan, kesehatan, rumah tangga, keuangan bahkan ratting kadar keimanan.

Apa salah kita melakukan rating kepada diri kita sendiri ? In My Humble Opinion, hal ini tidak salah, karena menjadi tolak ukur apakah dari masa ke masa apakah kita mengalami peningkatan -tentunya ke arah kebaikan- apa tidak. Justru hal ini penting untuk menjadi tolaj ukur, apakah kita menjadi manusia yang beruntung,karena masa ini lebih baik dari masa sebelumnya  atau justru  menjadi manusia yang merugi, yang masa ini tak lebih baik dari masa kemarin.

Yang kadang terjadi adalah, kita -termasuk saya- me ratting diri atas orang lain, entah teman kita, saudara, atau rekan kerja. Merasa diri lebih baik, lebih berprestasi, lebih mulia dari orang lain yang di hadapan kita. Tak hanya me ratting diri sendiri, juga melakukan “pe rating an” kepada orang lain, atas hal yang sebenarnya semu dan sementara.

Atau bahkan kita sibuk “menunjukan” bahwa grade kita diatas dari mereka, dengan banyak hal, dengan gaya bicara, dengan pembawaan, dengan barang barang yang melekat pada diri kita. Kita sibuk “menampakan” apa apa keberhasilan yang telah kita raih, kepada mereka yang kita anggap rate nya di bawah kita. Hanya untuk menunjukan dalam maksud  samar sebuah kalimat “Hei..look at me, i’m better than you” atau hanya ingin semacam mengungkapkan ” My level above you”

Atau barangkali tidak bermaksud untuk merememhkan teman atau saudara kita, tapi masih terselip keinginan untuk “dilihat” bahwa kehidupan yang kita jalani sekarang sangat hebat dengan segala pencapaian dan perubahan yang kita alami

Ah… padahal semua prestasi dan keberhasilan yang kita miliki,adalah mutlak karena Kebaikan-Nya, karena Persetujuan-Nya. Tak ada hak kita untuk me-ratting diri kita kepada orang lain.

Fn : Tulisan random, tentang perasaan hari ini, semoga bisa menjadi cerminan diri, untuk membersihkan segala penyakit hati

 

 

Ketentraman

Ketentraman adalah ketika diri menerima apa yang telah dicatatkan, ketika diri yakin bahwa apa saja yang datang pada kita, terjadi untuk sebuah alasan -walau kita belum bisa melihat nya sekarang-, tentram adalah ketika kita tidak terlalu khawatir dengan masa lalu, dan tidak terlalu cemas dengan masa depan, tentram adalah saat apa pun yang terjadi, kita bisa selalu get conneted with HIM, ini lebih dari cukup.

 

wpid-img_20151105_221144