Menghimpun Keping Keping Hati

Hari ini hanya ingin menulis berbagai rasa yang terhimpun di hati akhir-akhir ini. Hanya ingin menyimpan rapi episode kehidupan yang seringkali tidak terbaca arahnya, tidak tertebak ujiannya, tidak bisa terkira plot twist-nya.

Benar rupanya, kita tidak bisa memilih apa ujian yang datang, kita hanya bisa memprediksi barangkali, itupun bisa jadi meleset sama sekali.

Benar adanya, ujian perasaan seringkali datang dari orang-orang terdekat, orang-orang yang kita sayang, orang-orang yang kita cintai. Ia yang kita bayangkan bisa merangkai cita masa depan bersama, mereka yang padanya kita menaruh percaya.

Sepertinya sudah sunantullah, bahwa kita akan diuji oleh orang yang kita cintai, orang-orang yang dekat dalam jiwa juga selalu ada dalam doa-doa kita. Karena rasanya berat, sangat berat. Barangkali disanalah ujiannya.

Diuji oleh orang-orang terdekat pada akhirnya adalah ujian tentang siapakah yang lebih kita cintai, manusia atau pencipta kita, Allah Swt. Apakah berbagai tekad kebaikan yang kita lakukan hanya sebatas karena keinginan ambisi dalam diri, karena keseruan persahabatan, atau karena Allah Swt. Apakah kau akan bertahan, terus berjalan saat kau kehilangan.

“Takdir Allah terlalu baik untuk kita curigai” -tiba-tiba melintas perkataan seorang Ustadz di sebuah podcast saat saya menulis ini- ahh ini bukan sebuah kebetulan bukan…?

Sepertinya di balik patah hati, luka, dan kecewa. Allah sedang membuat “settingan hidup” yang lebih baik lagi, bagi diri yang tengah rapuh ini, juga bagi sesiapa yang ada, pernah ada, dan akan datang di dalam episode hidup kita.

Lalu kita memang butuh waktu untuk mencerna, menerima, menyikapi, mengikhlaskan & Ridha tentang apa yang terjadi. Tidak mudah memang, tapi mari kita memohon kepada Allah segala kekuatan untuk kemudian kembali berjalan.

Mari menutup mata, menerima segala rasa; luka, kecewa, bahkan cinta. Larutkan itu semua dalam sebuah doa yang dilangitkan oleh Nabi Ibrahim:

رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ

‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang salih.’ (QS. Ash-Shu’ara [26]: 83).

Leave a comment