Salah satu beban terberat seorang pemimpin adalah ketika harus mengambil keputusan. Apalagi saat keputusan tidak hanya melibatkan nalar dan logika, namun saat terlibat rasa sebagai seorang manusia didalamnya.
Keputusan yang melahirkan konsekuensi setelahnya
keputusan yang belum pasti bagaimana langkah sesudahnya
Keputusan yang akan menuntut lebih banyak dari diri kita
Namun pada akhirnya, diam dan tidak melangkah bukanlah pilihan. Siap atau berat hati, berani atau setengah hati, mati kita putuskan. Keputusan dengan segala konsukensi yang mengirinya, dengan segala rasa yang bercampur di dalamnya, dengan segala tanda tanya yang menyertainya.
Mari kita lakukan, mari kita rayakan.
Kita tidak tahu barangkali keputusan yang awalnya penuh ketidaknyamanan itu kemudian menjadi jalan kebaikan dan keberkahan yang lebih luas. Dan mungkin inilah cara Allah dalam menempa, mendidik dan menguatkan kita, untuk menjadi manusia yang lebih paripurna.
“Maka bertawakkallah kepada Allah; sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Dengan niat yang lurus dan hati yang berserah, kita mulai langkah ini: Bismillahi tawakkaltu ‘alallah…