Saat Dilanda Kecewa

Namanya juga hidup, selalu ada fase di mana kita harus berhadapan dengan berbagai rasa, salah satunya kecewa. Aku pun pernah mengalaminya, mungkin sama seperti kamu yang juga pernah merasakannya.

Menuliskannya seperti ini, semoga membuat hati terasa sedikit lega…

Belakangan ini, aku dikecewakan oleh seseorang yang sudah kuanggap seperti adik sendiri. Entah mengapa ia tiba-tiba menjauh. Pesan tidak dibalas, telepon tidak diangkat, bahkan keluar dari grup tanpa pamit. Saat aku mencari penjelasan, tidak ada jawaban sama sekali.

Ini bukan hanya urusan personal sebenarnya, secara organisasi ia masih memegang peran yang pernah ia setujui & sepakati bersama. Tiba tiba saja ia menghilang, seperti lupa apa yang pernah ia ikrarkan. Kemudian memilih lebih aktif di organisasi lain yang mungkin lebih strategis baginya.

Ada etika & adab yang mungkin sedang ia lupa. Bukan, ini bukan soal cemburu atau tidak rela, karena justru aku sendiri yang dulu memperkenalkannya ke komunitas tersebut & ikut senang ketika ia berkarya juga disana.

Namun tidak lama, ia pergi begitu saja. Tanpa sebait kalimat, penjelasan sebagai manusia yang telah dewasa. Iya, aku terluka…

Ah, memang benar. Berekspektasi berlebihan pada manusia sering menjadi sumber luka. Seseorang yang kita kira akan menjadi teman seperjalanan ternyata bisa menorehkan luka yang sama sekali tak terduga.

Mungkin ini cara Allah mengingatkan saya (lagi):

Tentang ekspektasi. Bahwa benar, harapan terhadap manusia harus punya batas. Karena manusia bisa berubah, bisa berbalik arah kapan saja.

Tentang menghargai. Rasanya sangat menyakitkan ketika diabaikan oleh orang yang kita percaya. Apalagi jika kita tak tahu alasannya. Dari sini saya belajar agar tidak melakukan hal yang sama pada orang lain yang mempercayai saya.

Tentang memaafkan. Belajar untuk menerima & memaafkan,walaupun tidak terucap maaf.

Tentang menjadi dewasa. Menjadi dewasa dalam menghargai orang lain, berkomunikasi dengan baik & terbuka, berani berbicara pahit ataupun manis , mau menghadapi alih alih diam dan menghilang.

Tentang tetap mendoakan. Mendoakan ia yang sedang menorehkan luka. Mengingat kembali bahwa begitu banyak kebaikan & ketulusan yang telah ia lakukan, dan tidak akan kuhilangkan & kulupakan. Semoga Allah gerakan hatinya & muliakan hidupnya.

“Hai kawan, maafkan bila ada kesalahan yang tidak kusadari. Kelak -entah kapan- bila usia masih tersisa, kita akan dipertemukan lagi dalam jalan jalan kebaikan. Aku memang begitu terluka, namun doa ku untukmu selalu menyerta …”

Leave a comment