Antara Janji dan Komitmen

Barangkali kita sering mengucapkan janji, baik janji pada diri sendiri atau berjanji kepada orang lain. Diantara janji janji itu ada yang bisa kita penuhi ada yang tidak. Ada janji yang memang terpaksa kita tidak bisa memenuhinya, bisa juga kita memang tidak mau untuk memenuhi janji tersebut, kita batal memenuhi janji tersebut, karena ada beda nyata antara tidak bisa dan tidak mau.

Lalu bagaimana dengan komitmen, menurut saya komitmen setingkat diatas dari pada janji. Karena janji cendrung mudah untuk diingkari, disalahi, di bumbui dengan alasan alasan yang bisa jadi memang apa adanya, atau alasan yang dibuat ada.

Komitmen lebih kepada kesadaran diri untuk bersungguh sungguh kepada sesuatu atau kepada seseorang, komitmen adalah itikad diri untuk melakukan apa yang telah kita niatkan dan  katakan, baik kepada diri sendiri atau pun orang lain. Komitmen adalah berusaha 100 % untuk melakukan yang kita katakan dan niatkan.

Komitmen berhubungan erat dengan integritas diri, karakter seseorang, akhlaq seseorang. Karena integritas seseorang, bisa dilihat dengan sejauh mana ia melaksanakan dan mengusahakan apa yang telah diniatkan dan dikatakan.

Seperti lagu dari The Whitest Boy Alive : ” Promise Less Or Do More

 

 

 

 

Me”Ratting” diri

Pernahkah kita secara sadar atau tidak sadar melakukan ratting kepada diri sendiri? ya, melakukan penilaian pada diri kita sendiri, di berbagai aspek, pekerjaan, kesehatan, rumah tangga, keuangan bahkan ratting kadar keimanan.

Apa salah kita melakukan rating kepada diri kita sendiri ? In My Humble Opinion, hal ini tidak salah, karena menjadi tolak ukur apakah dari masa ke masa apakah kita mengalami peningkatan -tentunya ke arah kebaikan- apa tidak. Justru hal ini penting untuk menjadi tolaj ukur, apakah kita menjadi manusia yang beruntung,karena masa ini lebih baik dari masa sebelumnya  atau justru  menjadi manusia yang merugi, yang masa ini tak lebih baik dari masa kemarin.

Yang kadang terjadi adalah, kita -termasuk saya- me ratting diri atas orang lain, entah teman kita, saudara, atau rekan kerja. Merasa diri lebih baik, lebih berprestasi, lebih mulia dari orang lain yang di hadapan kita. Tak hanya me ratting diri sendiri, juga melakukan “pe rating an” kepada orang lain, atas hal yang sebenarnya semu dan sementara.

Atau bahkan kita sibuk “menunjukan” bahwa grade kita diatas dari mereka, dengan banyak hal, dengan gaya bicara, dengan pembawaan, dengan barang barang yang melekat pada diri kita. Kita sibuk “menampakan” apa apa keberhasilan yang telah kita raih, kepada mereka yang kita anggap rate nya di bawah kita. Hanya untuk menunjukan dalam maksud  samar sebuah kalimat “Hei..look at me, i’m better than you” atau hanya ingin semacam mengungkapkan ” My level above you”

Atau barangkali tidak bermaksud untuk merememhkan teman atau saudara kita, tapi masih terselip keinginan untuk “dilihat” bahwa kehidupan yang kita jalani sekarang sangat hebat dengan segala pencapaian dan perubahan yang kita alami

Ah… padahal semua prestasi dan keberhasilan yang kita miliki,adalah mutlak karena Kebaikan-Nya, karena Persetujuan-Nya. Tak ada hak kita untuk me-ratting diri kita kepada orang lain.

Fn : Tulisan random, tentang perasaan hari ini, semoga bisa menjadi cerminan diri, untuk membersihkan segala penyakit hati

 

 

Ketentraman

Ketentraman adalah ketika diri menerima apa yang telah dicatatkan, ketika diri yakin bahwa apa saja yang datang pada kita, terjadi untuk sebuah alasan -walau kita belum bisa melihat nya sekarang-, tentram adalah ketika kita tidak terlalu khawatir dengan masa lalu, dan tidak terlalu cemas dengan masa depan, tentram adalah saat apa pun yang terjadi, kita bisa selalu get conneted with HIM, ini lebih dari cukup.

 

wpid-img_20151105_221144

” Jalesveva Jayamahe “

Salah satu kenikmatan dalam sebuah perjalanan adalah, bahwa kita bertemu dengan orang orang baru dengan latar belakang berbeda, mendengar kisah kisah yang tidak pernah kita bayangkan, meluaskan pandangan kita, menambah rasa syukur, mengambil pelajaran berharga, belajar dari mereka.

Seperti saat itu, saat berkespatan lagi pergi dengan kapal perang KRI Banda Aceh 593, menuju Sulawesi dalam program NUSANTARA MEMBACA GOES TO SULAWESI.

Dalam perjalanan saya berkesempatan berbincang bincang dengan seorang Mayor kapal, Pa Priyo namanya, kami bincang bincang sederhana, tentang lautan Indonesia. Pa Priyo adalah seorang anggota TNI AL, yang sudah belasan tahun bertugas menjaga lautan Indonesia. Ia bercerita tentang betapa luasnya lautan kita, ribuan pulau, dengan jutaan pesona baik di permukaan, pantai, juga di dalam lautan itu sendiri.

Ribuan pulau, juga perairan luas yang berbatasan dengan lebih dari satu negara, nahkan benua. Beliau bercerita, kondisi seperti ini seperti dua sisi mata uang, bisa jadi sebuah anugrah, bisa juga menjadi ancaman. Anugrah yang besar ketika kita mampu untuk menjaganya, dan menjadi ancaman ketika kita tidak benar benar menjaga perairan
Indonesia, yang menjadi pintu masuk negara lain yang “menginginkan” kekayaan negara kita.

Beliau bercerita lebih dalam, bahwa jumlah angkatan laut saat ini, tidak sebanding dengan banyaknya pulau dan perairan yang mesti di jaga, terutama di daerah perbatasaan. Perairan Indonesia sangat luas, butuh angkatan laut yang kuat baik kualitas dan kuantitas. Dengan mata yang menerawang keatas, beliau berujar panjang lebar “Dek Riska, bayangkan luas nya laut kita, barat, timur, utara, selatan, namun pangkalan laut yang besar hanya ada di Jakarta dan Surabaya, segala alat kelengkapan ada disana, padahal perairan mana yang perlu dijaga? ada di Timur Indonesia, Selatan Indonesia, Utara Indonesia, yang jaraknya jauh dari Surabaya, jauh dari Jakarta. Bayangkan ketika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di wilayah Timur misalnya, kita harus lama menunggu bantuan yang datang dari Jakarta atau Surabaya”

Mendengar penuturan beliau, seakan membukakan mata saya lebar lebar, tentang kenyataan yang ada. Empat tahun terakhir ini saya mengunjungi bebarapa pulau di Indonesia, dari perairan Mentawai, NTT, Papua, hingga ke perbatasaan Indonesia-Filipina, benar adanya, bahwa di pulau pualu tersebut, pangkalan angkatan laut nya sangat terbatas, hanya berupa kantor perwakilan saja. Adapun penjagaan dari para TNI AL yang bertugas hanya beberapa kapal saja, tidak bisa “mengcover” wilayah Indonesia yang sangat sangat luas.

Satu lagi dek riska, yang kadang menjadi keresahan saya. Banyak negra lain menawarkan untuk melakukan penelitian terhadap kekayaan perairan bawah laut kita, dengan tawaran bahwa apabila penelitian ini berhasil, maka akan membawa kesejahtraan banyak untuk negara kita

Beliau terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ” Namun kita tak pernah tau, siapa mereka yang benar benar ingin memberi bantuan pada negara kita, atau ternyata mereka adalah yang memang mencari informasi kekayaan, atau peta kekuatan bangsa kita” 

“Negara kita negara yang sangat kaya, banyak yang mengingingkannya” kalimat terakhirnya begitu dalam, matanya berkaca kaca, seperti tak sanggup melanjutkan. Dia menutup percakapn kami dengan curahatan hati nya ” Kalau memikirkan hal ini, saya kadang sangat sedih, sungguh dek riska. Tapi ada daya, saya hanya prajurit, tak bisa berbuat banyak” dan akhirnya pun kami hanya diam seraya mendengarkan ombak malam yang menghempas buritan kapal.

Percakapan malam itu, meninggalkan semacam kesan dan pesan untuk saya. Entahlah, masih banyak PR untuk Bangsa kita ini. Bila saja anak anak muda diperkenalkan mengenai tugas mulia para tentara, apalagi mereka yang ditempatkan diperbatasan, dan betapa lautan Indonesia ini butuh banyak sekali prajurit yang kuat, yang cerdas, yang sepenuh hati menjaga tanah air kita ini. Sungguh, kita butuh banyak.

Salam ta’dzim untuk para pengabdi negara, yang seringkali berpisah dengan keluarga, berbulan bulan, mengarungi lautan, untuk menjaga Nusantara :

JALESVEVA JAYAMAHE

 

img_8744

Bersama Bapak Komandan Laut KRI Banda Aceh 593

 

 

 

 

 

See It Farther, When Closser Fading You

hh-e1374770550639

 

Terkadang kita butuh menjauh dari sesuatu terlebih dahulu, dari seseorang, dari sebuah situasi, dari sebuah kondisi, dari sebuah posisi, dari apa yang sedang kita alami. Agar kita bisa lebih melihatnya lebih jelas, lebih objektif, lebih terang, lebih menyeluruh.Karena ketika segala sesuatunya begitu terlihat di depan mata, apapn itu akan menjadi blur, menjadi abstrak, kau bahkan tak tau seperti apa sesungguhnya yang terjadi

Mungkin akan ada sebuah jeda yang diperlukan, menghentikan langkah sejenak, menarik nafas dan menghempaskannya sebebas bebasnya, melonggarkan ikat pinggang, melepaskan beban beban yang di bawa di pundak, membuka alas kaki, membiarkannya menyentuh rumput rumput basah, membiarkannya merasakan tanah yang lembab karena hujan, membiarkan seluruh badan merebah di bawah, membiarkan mata tertuju tepat keatas, menyaksikan arak arakan awan, mendengarkan aliran aliran air, dan nyanyian burung di pohon sana, membiarkannya, melepaskannya.

Karena kadang sebuah jeda adalah kekuatan, kekuatan untuk kembali melangkah, lebih kuat, lebih tegap, lebih penuh, lebih jauh.

Interlude …….

Membangun “Rumah” Baru

Kemarin. akhirnya saya putuskan untuk membuat “Rumah” baru untuk tulisan tulisan saya. Alasannya sederhana, agar saya bisa lebih serius lagi menulis. Blog sebelumnya http://www.angkasa13.wordpress.com masih ada, dan mungkin ada beberapa tulisan yang nanti di pindah dari sana ke rumah baru ini.

Alasan selanjutnya adalah, semoga saya semakin berkomitmen untuk menulis tentang segala hal yang bermanfaat dalam hidup saya. Memberanikan diri untuk mencantumkan nama asli di blog saya, semoga bisa menjadikan saya lebih bertanggungjawab dan memberikan kualitas dalam tulisan saya, sehingga bisa bermanfaat bagi diri saya pribadi dan mudah mudahan membawa manfaat bagi orang lain yang sengaja atau tidak sengaja membaca blog saya. Semangat berbagi.

Lebih jauhnya, semoga tulisan tulisan ini bisa menjadi “peninggalan” abadi kelak untuk anak dan cucu saya. Fikiran,keresahan, kegembiraan, rasa syukur, ide, gagasan, cita cita, apa pun itu, yang kelak mereka bisa membacanya sampai kapan pun. Kita tak pernah tau, barangkali  ada ide, gagasan, cita cita dan impian yang belum saya wujudkan, dapat mereka wujudkan.

Untuk saya sendiri : “Selamat menikmati dan mangabadikan episode episode hidup, dan peran peran hidup yang sedang dijalani”

 

Bandung, 03 Mei 2016