Membaca Membawaku Berkeliling Indonesia

Ini adalah tulisan saya di sebuah buku “The Magic OF Reading”, sebuah antalogi yang diprakarasi oleh Mas Ahmad Rifa’i Rifan dengan beberapa penulis lainnya. Nah, di blog pribadi ini, saya ingin berbagi tentang apa yang saya tulis di buku tersebut. Berbagai pengalaman perjalanan, cerita dan makna dalam setiap langkahnya. Selamat Membaca !

Membaca Membawaku Berkeliling Indonesia
Oleh: Nuriska Fahmiany

Bionarasi: Seorang visioner, penuh semangat dalam bidang sosial, pengembangan manusia dan komunitas. Pendiri Kebukit Indonesia, praktisi Talents Mapping.

Sebenarnya, saya sudah lupa apa bacaan pertama saya. Yang jelas, bacaan pertama saya adalah buku-buku dan majalah-majalah milik almarhum ayah saya. Beliau adalah seorang guru dan penulis, yang tulisannya sering dimuat di majalah-majalah keguruan sekitar tahun 1980-an.

Saat itu, saya masih usia sekolah dasar. Bacaan-bacaan tersebut sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa, membahas dunia pendidikan, kebijakan pemerintah, dan sebagainya. Tapi entah mengapa, saya menikmatinya.

Bacaan lain yang saya ingat adalah buku Sejarah Gereja — bukunya masih ada sampai sekarang. Entah kenapa ayah saya memiliki buku itu. Waktu itu saya tidak memahami isinya, tapi tetap saya baca saja… hehe.

Ketersediaan buku-buku milik almarhum ayah membuat saya terbiasa membaca, tumbuh bersama buku-buku di rak ayah, menikmati suara mesin tik saat beliau menulis di malam hari, membaca naskah dan puisi-puisinya — semuanya masih terekam jelas dalam ingatan. Tulisan-tulisan beliau hingga kini masih saya simpan dengan baik.

Kebiasaan membaca terus memengaruhi saya saat remaja. Di masa SMA, saya gemar membaca cerita-cerita fiksi seperti Animorphs, Goosebumps, Chicken Soup, dan sejenisnya. Di sekolah, saya bahkan menjadi sumber referensi buku pelajaran. Saya dengan senang hati menjadi koordinator pembelian buku pelajaran. Saya mencatat siapa saja yang ingin membeli buku, lalu mencarinya di Toko Buku Palasari Bandung, pusat buku saat itu.

Saat beranjak dewasa, kecintaan saya pada membaca semakin kuat. Ketika kuliah, saya mulai mengoleksi buku dari berbagai genre: fiksi, sejarah, novel, pengembangan diri, dan lain-lain. Saya pernah bermimpi memiliki perpustakaan dengan kedai kopi — yang hingga kini belum terwujud… hehe. Namun, cita-cita lain justru tercapai, bahkan lebih besar: saya bisa berkeliling Indonesia.

Membaca membuat saya memiliki mimpi besar, menjadi seorang pemimpi — yang belakangan saya tahu memiliki istilah lain: visioner. Saat kuliah, saya menginisiasi komunitas literasi bersama teman-teman yang juga mencintai buku. Komunitas ini bernama Kebukit (Kelola Buku Kita). Misinya sederhana: membuat lebih banyak orang gemar membaca.

Awalnya hanya di Bandung, kemudian kami mulai merambah daerah lain seperti Garut, Sumedang, Subang, dan lainnya. Kami mengumpulkan buku dari para donatur lalu membagikannya ke daerah-daerah terpencil secara mandiri, bersama para relawan. Selain itu, kami juga menyelenggarakan pelatihan untuk “menularkan virus membaca”.

Setelah lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan, saya tetap aktif mengembangkan komunitas ini. Berkat jalan yang dibukakan oleh Allah, Kebukit mendapatkan kesempatan berkeliling Indonesia selama lima tahun berturut-turut bersama Kementerian Kesra saat itu, membawa misi literasi.

Dari situ, wawasan saya tentang Indonesia semakin terbuka. Di satu sisi saya melihat betapa kayanya negeri ini, tetapi di sisi lain saya menyaksikan betapa miskinnya Indonesia dalam hal buku, kesempatan membaca, dan akses pendidikan yang layak.

Pengalaman berkeliling Indonesia menyadarkan saya akan ketimpangan pendidikan yang dialami anak-anak bangsa. Jomplangnya pendidikan di Pulau Jawa dibandingkan dengan di NTT dan Papua sangat mencolok.

Saya mendengar langsung kisah-kisah perjuangan mendapatkan pendidikan di NTT: sulitnya mendapatkan buku, bangunan sekolah yang tak layak, serta para guru yang tetap semangat di tengah keterbatasan. Semua itu menyadarkan saya bahwa sekecil apa pun, saya harus ambil bagian dalam solusi atas kondisi ini.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membesarkan komunitas Kebukit yang telah saya dan teman-teman bangun. Saya resign dari pekerjaan, dan pada tahun 2019, kami resmi mendirikan Kebukit Indonesia sebagai sebuah yayasan berbadan hukum.

Alhamdulillah, meskipun masih tertatih-tatih, Kebukit Indonesia yang lahir dari kecintaan pada buku dan ilmu, kini telah memperluas kiprah melalui program-program pendidikan seperti pendirian sekolah di pulau-pulau terpencil, pelatihan peningkatan kualitas guru, beasiswa untuk mahasiswa asal Indonesia Timur, dan masih banyak lagi. Allahu Akbar.

Ternyata, membaca tidak hanya membawaku keliling Indonesia. Lebih dari itu, membaca memberiku pandangan akan potensi dan permasalahan negeri ini. Membaca menyadarkan bahwa aku harus turut menjadi bagian dari solusinya. Membaca memberiku ruang untuk berkarya bagi Indonesia, serta peluang untuk beribadah melalui aksi nyata di bumi Allah. Allahu Akbar.

Terima kasih ya Allah, Engkau jadikan hamba ini cinta membaca !

A Diary Of Genocide [ Book Review ]

Buku ini catatan hari demi hari yang dialami penulis sebagai warga Palestina yang merasakan peristiwa GENOSIDA mulai dari 07 Oktober – 30 Desember 2023

Membaca buku ini, membuat saya masuk lebih dalam tentang bagaimana kehidaupan warga Palestina, melalui peristiwa ini hari demi hari

Terkadang saya harus menutup buku dan menyudahinya terlebih dahulu, memejamkan mata, dan menghela nafas, merasakan betapa beratnya apa yang mereka alami …

Melihat apa yang mereka lihat
Mendengar apa yang mereka dengar
Merasakan apa yang mereka rasa
Walaupun mungkin apa yang dibaca,
Tidak ada apa apanya dengan yang mereka alami seutuhnya…

Membaca buku ini membuat saya semakin faham, bahwa orang orang di Palestina adalah orang orang istimewa yang telah Allah pilih untuk perjuangan yang luar biasa ini …

Tiada Do’a lainnya, hanya ingin Palestina segera merdeka, dan saya menjadi bagian dari perjuangan itu, walau hanya seukur debu ….

“Buku ini mengingatkan kita bahwa saudara saudara kita disana masih bertahan, masih berjuang.
Jangan pernah berhenti untuk peduli, berdo’a dan bersuara untuk Palestina”

Free Palestine

Selasa Bersama Morrie [ Review Buku ]

Adalah cerita tentang Morrie seorang profesor yang terkena penyakit langka dengan mahasiswanya yang datang berkunjung setiap hari Selasa, membincangkan banyak hal tentang kehidupan. Selasa yang mereka habiskan dengan banyak obrolan mendalam.

Novel ini sudah beberapa kali saya baca sebenarnya. Selalu ada rindu untuk membaca nasihat nasihat Morrie yang mendalam tentang kehidupan. Berikut beberapa quote dari perbincangan mereka yang berkesan bagi saya dan apa yang ada dibenak saya setelah membacanya …

Tentang Mengasihani Diri Sendiri

“Aku memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis kalau itu perlu. Tapi setelah itu aku memusatkan perhatianku kepada segala hal yang masih baik dalam hidupku. Kepada orang orang yang datang menjengukku, kepada kisah yang akan kudengar….”

“Alangkah baiknya bila orang tidak menahan diri untuk menangisi diri berkepanjang. Cukup beberapa tetes air mata setiap pagi, kemudian menghadapi hari dengan tegar ….”

Ah benar sekali. Sesekali kita butuh menangis, memberikan kesempatan diri kita untuk merasakan luka dan duka, atau apapun itu. Tapi jangan melarutkan diri terlalu dalam dan lama, secukupnya. Setelah itu, mari kita melengkah….

Tentang Penyesalan Diri

“Kita begitu terbelit dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan diri sendiri, keluarga, karir, uang cukup banyak, memnayar hipotek, membeli mobil baru….kita sibuk dengan triliunan perkara kecil, dalam rangka mempertahankan keberlangsungan semua itu …”

“Maka kita tidak terbiasa berdiam diri sejenak untuk merenungkan hidup kita dan berkata. Hanya inikah? hanya inikah yang kuinginkan? adakah sesuatu yang hilang ?”

Hidup ini tidak hanya sekali, hidup ini bukan hanya di dunia ini, hidup ini bukan tentang diri kita sendiri. Hidup ini bukan hanya tentang menjalani siklus hidup, dan menghabiskannya dengan melewati waktu demi waktu tanpa jiwa, tanpa cita, tanpa tahu tujuan abadi. Kita perlu sadar siapa kita, untuk apa kita & mau kemana kita….

Tentang Kematian

“Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita belajar tentang bagaimana kita harus hidup”

Sebagai Muslim, quote ini mengingatkan kembali tentang kematian, hidup setelah kematian & bagaimana kita menyiapkan diri untuk kehidupan abadi setelah kematian

Tentang Keluarga

“Sesungguhnya, selain keluarga, tidak ada fondasi atau landasan yang kokoh, yang memungkinkan manusia bertahan sampai saat ini. Peran keluarga menjadi sangat penting sekali bagiku setelah aku sakit. Tanpa dukungan cinta, kasih sayang, perhatian yang kita peroleh dari keluarga, kita seperti tidak memiliki apapun…”

Keluarga adalah hal mendasar yang akan selalu seseorang butuhkan. Keluarga adalah tempat kita memperoleh kekuatan Keluarga adalah tempat kembali, tempat untuk mengistirahatkan diri, tempat untuk menyusun cita, impian & harapan.

Tentang Emosi

“Apabila kita menahan emosi emosi itu -apabila kita tidak membiarkan diri mengalaminya- kita tidak pernah dapat mematikan rasa, kita terlalu sibuk menghadapi rasa takut. Kita takut mengalami rasa nyeri, Kita takut mengalami rasa sedih, Kita takut mengalami penderitaan akibat cinta …”

“Tapi dengan membiarkan diri mengalami emosi emosi ini, dengan membiarkan diri terjun ke dalamnya, sampai sejauh jauhnya, kita akan mengalaminya secara penuh dan utuh. Kita tahu arti sakit, Kita tahu arti cinta, Kita tahu arti sedih, dan hanya ketika kita mengatakan, “Baiklah. Aku telah mengalami emosi itu. Aku kenal emosi itu, sekarang aku perlu mematikan emosi itu untuk sementara…”

“Dalam kehidupan sehari hari, betapa sering kita merasa kesepian, sampai sampai ingin menangis, tetapi kita berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata, karena kaat orang kita tidak boleh menangis …”

“Basuhlah diri kita dengan emosi, Kita tidak akan terluka karenanya, Kita malahan akan terbantu ….”

Mungkin kita tidak terbiasa jujur terhadap diri sendiri, tentang apa yang kita rasakan sebenar benarnya. Seringkali mencoba bertarung melawan rasa , berusaha menutupi luka atau kecewa, padahal itu ada. Kita seringkali tidak mau menerimanya, berusaha tegar sekuat tenaga, padahal hati remuk redam rasanya.

Atau tidak selepas itu menungkapkan bahagia, atau tidak sejelas itu menungkapkan rasa cinta, kita tidak terbiasa…

Sepertiku yang sedang belajar memeluk rasa, kemudian melepaskannya…Tak apa karena kita manusia, yang dianugrahi berlapis lapis rasa

Selamat membaca !

Di kondisi ketidakberdayaannya, Morrie masih banyak menberikan nasihat nasihat tentang kehidupan dari hidup yang telah ia alami.

Mengerikannya Dunia Judi Online!

Selama ini kita mungkin hanya mendengar tentang bahayanya judi online yang memakan banyak korban. Nah di film ini kita mendapatkan gambaran tentang bagaimana serius & sistematisnya JUDI ONLINE, betapa kejam sistem kerja didalamnya, dan bagaimana korban korban judi online ini hancur kehidupanya

NO MORE BETS ! film yang diangkat dari kisah nyata, menceritakan tentang orang orang yang tertipu, terjebak & terpaksa bekerja dalam perusahan jaringan judi online, pinjaman online & scammer.

Filmnya dimulai dari sejumlah anak muda China yang ditawari untuk bekerja di perusahaan Singapore dengan dijanjikan gaji & fasilitas yang menggiurkan. Ditengah perjalanan ternyata mereka diculik dan diselundupkan ke negara lain -dalam beberapa artikel disebutkan negara tersebut adalah Kamboja- . Kemudian mereka dibawa ketempat tersembunyi & dipaksa untuk mau bekerja untuk perusahaan jaringan judi online tersebut.

Di scene lainnya, ada seorang model wanita China yang mendadak di pecat dari perusahaannya. Singkat cerita kemudian seorang kawannya manawarkan ia pekerjaan yang menjanjikan diluar negri. Seperti kisah beberapa laki laki sebelumnya, sang perempuan ternyata dijebak dan dipaksa untuk bekerja di perusahaan judi online yang sama.

Kemudian digambarkanlah bagaimana begitu sistemtis & terstukturnya meraka menjalankan bisnisnya, dengan adanya jenjang2 kerja, pembagian tugas, skenario, penentuan timing, dsb. Digambaran pula bagaimana kejamnya sistem kerja kepada para karyawan2 di dalamnya, yang mana sebagaian besar dari merekapun di jebak untuk bekerja disana

Diceritakan pula tentang seorang laki laki muda terpelajar, yang awalnya iseng iseng ikut judi online. Lama kelamaan ia masuk lebih dalam, terjerat, dan tidak bisa lagi keluar karena sudah dalam tahap ketagihan. Tidak hanya harta bendanya saja yang habis, namun sampai harta kelurga besarnya ia gadaikan. Belum lagi ia nekad meminjam dana yang cukup besar dari pinjaman online demi taruhan, yang sebenarnya masih satu perusahaan dengan perusahaan judi online dimana ia terjerat. Benar benar lingkaran setan !

Film ini membuat saya pribadi merasa ngeri, prihatin sekaligus kasihan, tidak hanya kepada para korban tapi juga kepada para pekerja judi online. Yang di film diceritakan, bahwa hampir sebagian besar mereka dijebak, dipaksa, bahkan diancam untuk bekerja. Mereka ditempatkan di tempat antah berantah, yang membuat meraka tidak bisa kemana mana. Dengan pengamanan yang ketat dan penjaga bersenjata, dan apabila berbuat kesalahan sedikit saja atau melawan, siksaannya tiada ampun, sampai dikurung seperti binatang.

Saya jadi teringat berita beberapa tentang sejumlah warga Indonesia yang disekap di negara Kamboja, dan dipaksa untuk menjadi scammer. Betapa mereka tidak berdaya, dan butuh proses yang sangat susah untuk meminta tolong dan memberitahuan keadaan mereka untuk minta diselamatkan.

Dalam hati saya, orang orang ini (pemilik jaringan judi online) patut disiksa seberat beratnya kelak di neraka, karena meraka berhasil manghancurkan banyak orang, merebut tidak hanya harta benda, tapi juga menghancurkan keluarga, pernikahan, dan kehidupan seseorang. Karena kalau hukuman di dunia, entahlah apa mereka benar bisa dihukum seberat beratnya atau tidak.

Film ini recomended untuk ditonton sih ! Agar kita lebih mawas, lebih waspada

Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya lebih prihatin lagi, ternyata negara kita Indonesia, menempati urutan pertama sebagai “konsumen” judi online…Astagfirullahaladzim

Entah apa alasannya atau bagaimana awalnya Negri kita menjadi peringkat pertama. Apakah murni karena faktor ekonomi, atau bisa jadi karena tingkat pendidikan, atau bisa terkait tingkat literasi kita yang rendah, sehingga mereka yang terjebak, merasa judi online adalah jawaban atas permasalahan permasalahan yang meraka hadapi & bisa mewujudkan impian impian mereka dengan cara yang instan. Atau mereka belum sadar betapa mengerikannya apabila sudah masuk dan terjebak!

Kemudian bertanya dalam hati, apa langkah pemerintah untuk mengatasi permasalahan besar ini? entahlah, bagi kita masih menjadi tanda tanya besar. Padahal pemerintah dengan segala kemampuannya untuk membuat peraturan dan keputusan untuk menyelamatkan Masyarakatnya. Wallau’alam bissawab…

Bila harus kembali kepada apa yang bisa kita kontrol, mungkin jawabannya adalah saling menjaga diri kita, keluarga & orang orang terdekat kita agar terhindar dari godaan, ajakan, dan jeratan hal hal yang haram sekaligus merugikan dan menyengsarakan baik di dunia juga akhirat.

Happy Watching & Keep Alert !

ANIMAL [ Movie Review ]

MAHALNYA hubungan AYAH – ANAK

Film ini cukup bikin berdebar-debar, dengan akhir yang cukup mengharukan dan hikmah yang menurut saya cukup dalam…

Menceritakan hubungan ayah dan anak yang sama2 ALFA MALE. Tentang sang Ayah yang cukup DINGIN saat sang Anak masih kecil, sangat haus perhatian & ingin berdekat dekat dengan sang Ayah. Karena menurut Sang Ayah, tugas utama Sang Ayah adalah memberi nafkah yang banyak/mengurus bisnis & kedekatan batin dengan Anak diabaikan ….

Rupanya kondisi ini berpengaruh mendalam kepada karakter Sang Anak, yang jadi ALFA MALE juga. Setelah dewasa Sang Anak -dalam bawah sadarnya- ternyata masih berusaha mendapatkan perhatian dari Sang Ayah dengan berbagai cara, sampai dengan cara cara yang mengerikan …

Terlepas dari cerita tentang konflik lain ; persaingan bisnis, permafiaan, dendam antar keluarga, yang paling membekas dari film ini bagi saya adalah tentang HAUSNYA seorang ANAK atas KASIH SAYANG, PERHATIAN, DIANGGAP ADA, & BERHARGA dari seorang AYAH

Walaupun dengan bumbu2 adegan perkelahiannya cukup sadis, tapi yang paling berkesan adalah adegan saat akhirnya terucap kata MAAF dari Sang Ayah. Kemudian adegan Sang Anak yang super brutal, nangis sesegukan saat dipeluk, diusap usap kepalanya oleh seseorang sosok AYAH yang bukan Ayahnya ….

Para orangtua, calon orangtua, nonten dehh…bagus untuk pelajaran tentang MAHALNYA hubungan AYAH – ANAK …

Why “Takut Tambah Dewasa” ?

Takut tambah dewasa
Takut aku kecewa
Takut tak seindah yang kukira
Takut tambah dewasa
Takut aku kecewa
Takut tak sekuat yang kukira

Sebait lagu dari Idgitaf, berjudul “Takut”. Lagunya memang enak, banyak disuka anak anak zaman sekarang, apalagi anak GEN-Z. Lagu lagu teman saat saat sendu, romantisasi kegalauan, penyatu keresahan mungkin para -sebagian- generasi muda masa kini

Kalau hanya didengarkan sekilas saja sih lagu ini enak enak saja. Namun ada kekhawatiran dalam diri saya, tentang lagu ini disukai & diresapi berlebihan, juga saat jadi lagu “wajib” para pemuda yang memasuki usia dua puluh seperti yang ada di awal lagu. Lagu yang tidak hanya sekedar “curahan hati”, namun yang saya khawatirkan ini adalah jadi SUGESTI dan JUSTIFIKASI seorang yang memasuki usia pemuda dalam perjalanan hidupnya.

“Takut Tambah Dewasa” sekilas serasa romantis, namun bila terus dilantunkan, khawatir jusru jadi penanaman di alam bawah sadar mereka, bahwa menjadi DEWASA adalah sesuatu yang MENAKUTKAN, “Takut Kecewa-Takut TIdak Indah – Takut Tidak Kuat”….] begitu lanjutan lagunya

Seakan akan dalam dunia DEWASA semuanya akan menakutkan, mereka akan selalu kecewa, mereka akan tidak bisa melaluinya. Padahal masa dewasa ini adalah masa dimana mereka bisa mengambil tanggung jawab dalam hidupnya, masa dimana mereka bisa menggerakan potensi terbaiknya, bisa menjelang peran peran kebermanfaatannya untuk banyak orang. Menurut saya lagu ini, sedikit banyak menanamkan bahwa menjadi dewa begitu menakutkan

Aku sudah dewasa
Aku sudah kecewa
Memang tak seindah yang kukira
Aku sudah dewasa
Aku sudah kecewa
Memang tak sekuat yang kukira

Usia dua puluhan dimana semangat semestinya bisa dikobarkan. Tantangan, kendala, naik turun kehidupan akan ada disetiap usia. Pemuda yang diharapkan tidak mudah menyerah. Kecewa adalah hal biasa, bagian dari kehidupan , ada masanya bahagia- ada masanya kecewa. Jangan karena kecewa maka berhenti berkarya, jangan takut dewasa hingga tidak kemana mana, tidak berbuat apa apa

Kekhawatiran saya akan lagu ini, jadi “MANTRA” yang menyelusup ke alam bawah sadar pada pemuda yang sebenarnya diharapkan banyak orang akan membawa banyak perubahan kebaikan, yang sebenarnya mempunyai potensi keunggulan, malah dikerdilkan dengan terus menerus mengamini tentang “Takut Dewasa” ini, hingga jadi SUGESTI & JUSTIFIKASI mereka untuk malas bertumbuh, bersembunyi dari dunia, terus terusan menggalau, malasa bertanggungjawab dalam mengambil peran dalam kehidupan

Sebuah lagu bisa berpengaruh dalam alam sadar seorang manusia, apalagi bila terus di dengung dengungkan. Bukan berarti tidak boleh jujur akan kata hati, tapi tentang sadar sepenuh hati, apa yang akan mempengaruhi jiwa, hati dan fikrian kita atas apa yang kita baca dan kita dengar …

So, para pemuda JANGANLAH TAKUT DEWASA, karena menjadi DEWASA adalah sebuah kemuliaan, anugrah, kesempatan untuk menjadi MANUSIA yang PARIPURNA. Manusia yang mau terus bertumbuh, siap jatuh dan bangun, siap untuk menjelang dunia yang penuh warna

Menjadi DEWASA adalah saatnya untuk tahu apa, mengapa & bagaimana, mau kemana diri kita. Menjadi DEWASA adalah kesempatan untuk bisa menyebarkan KEBAIKAN seluas luasnya untuk diri sendiri, keluarga & banyak orang. Menjadi DEWASA adalah saat yang tepat untuk mei, menemukan makna, dan memunculkan versi terbaik diri kita.

So, Ganti kalimat “Takut Jadi Dewasa” menjadi “Aku Mau Jadi Dewasa …!”

The Power Of Language [ Resensi Buku ]

Salah satu buku yang saya beli beberapa bulan lalu adalah buku “The Power Of Language” buku terjemahan dari Korea yang ditulis oleh Shin Do Hyun & Yoon Na Ru

Seperti biasa, kalau lagi hunting buku, saya banyaknya mengandalkan feeling, untuk beli buku yang saya butuhkan dan bakal jadi vitamin bagi jiwa

Seperti buku yang satu ini ; “The Power Of Language” saya tertarik pertama kali oleh cover dan warnanya yang cukup sederhana. Lalu saya lihat daftar isi, dan beberapa halaman secara acak. Bila ada tiga atau paragraf yang saya rasa “kena” saya biasanya tidak lagu langsung meminangnya ….#tsahh

Nah sekarang kita ke review nya yaa, let’s go !

” More then i expected “ tampaknya ini kalimat yang tepat untuk buku ini, tampak ringan namun buku ini cukup dalam di setiap bab bahkan di setiap pembahasannya

Buku ini bukan tentang tips berbahasa, tata cara, tekhnik, atau teori teori berbahasa. Namun lebih dalam membahas tentang nilai nalai dasar berbahasa, yang diambil dari pemikiran para filusuf klasik baik dari timur atau barat, yang kemudian penulis ramu dalam kajian keseharian

Malahan, buku ini bukan tentang nilai nilai dasar berbahasa, namun tentang nilai nilai dalam berkomunikasi, bagaimana menyimak dengan bijak, bagaimana memahami dan menghargai orang lain.

Selain itu buku ini mengajak untuk faham bagaimana menggali rasa, menggali makna, mengajak berfikir tentunya dengan menggunakan kekuatan dan kebijakan dalam berbahasa.

Sekali lagi buku ini bukan buku teknik berbahasa, namun buku tentang bagaimana berbahasa yang bijak, berdasar pada nilai yang luhur, niat yang baik, penerapan yang tepat, akan bisa merubah diri kita, orang lain, bahkan dunia

Tentang Penulisnya ….

Sebelumnya saya tidak tahu tentang mereka berdua. Rupanya Shin Do Hyun rupanya seorang aktris Korea yang masih muda. Dan juga ternyata buku ini sangat direkomendasikan dan ikut di promokan oleh BTS. (Duhhh saya juga tau bahwa begitu BTS terkenal …hhhaa)

Tapi memang salute sih, seorang aktris Korea yang masih muda ini, bisa menulis buku yan berkualitas dan dalam seperti ini. Pun tidak salah saat BTS ikut merekomendasikan buku ini, karena sangat bergizi

Apa Yang Dibutuhkan Otak Kita … ?

Pernah ga sih kita bertanya, tantang apa sih yang dibutuhkan otak kita ?

Kita semua pasti tahu, bahwa otak adalah tempat masuknya informasi, sekaligus tempat dimana informasi tersebut di proses, yang kemudian hasil olahan informasi itu membuahkan pikiran dimana kita mengambil berbagai macam keputusan kehidupan  dari pikiran tersebut.

Nah, oleh karena itu kita perlu rasanya memperhatikan informasi apa yang masuk ke dalam otak. Setuju ?

 

” Yes indeed, We Need To Be Carefull To What See And Hear About….”

 

Bila kita begitu selektif memilih makanan yang masuk pada tubuh, maka seharusnya kita pun melakukan hal yang sama -bahkan lebih- saat memberi “makanan” kepada otak. Sayangnya kita masih abai dan cendrung tidak selektif akan apa yang masuk kepada otak kita. Bener gak ..?

Padahal bukankah otak itu adalah organ penting dalam hidup manusia, karena dari sanalah kita bisa berfikir, bernalar, berkomunikasi, mensikapi & memecahkan masalah, mengambil keputusan , membuat berbagai ide gagasan dan sebagainya. Karena apa yang masuk kepada otak kita bisa menjadi “Panduan” kita dalam menjalankan kehidupan.

Bila otak selalu kita “Suapi” dengan berbagai informasi informasi sampah, “Junk Information” maka itu akan membuat otak dan pikiran kita dangkal atau tidak bisa berfikir jernih dan mendalam, mudah goyah, tidak ajeg, dsb. Sama seperti tubuh, bila terus mengkonsumsi makanan sampah, maka kita pun akan mudah terserang penyakit, atau imun tubuh menjadi lemah.

Begitu pun otak, bila yang kita konsumsi kebanyakan hanya informasi informasi sampah, maka pikiran kita akan tumpul, nalar menjadi tidak tajam, mudah kebingungan, tidak ajeg, dan menjadi gampang terbawa arus, tidak punya prinsip, pendirian, dan tujuan. Ga mau kan …?

Pertanyaannya … bila hanya informasi informasi dangkal tersebut yang kita konsumsi, apakah kita bisa menjadi manusia matang yang bisa bijak dalam menentukan langkah, mengambil keputusan, membuat ide dan gagasan besar nan bermanfaat …?

Maka, yuks kita mulai belajar berhati hati  dalam memberikan makanan pada otak kita, karena apa yang kita masukan baik secara sengaja ataupun tidak sengaja, baik sadar ataupun tidak sadar pada otak kita, akan mengendap, dan akhirnya menjadi pola pikir juga buah pikir.

Bukankah pola pikir itu sangat penting dalam diri seseorang ?

Bila banyak yang kita  konsumsi hanya info info serampangan,  gosip gosip pasaran, peristiwa peristiwa acak, receh, asal viral, asal rame dan menyenangkan, informatif sih … tapi tidak bertujuan, lalu apakah itu sehat untuk otak  dan pikiran kita ? Apa  yang di harapkan dari informasi informasi tersebut ?

Kita abai untuk mulai belajar membaca informasi atau ilmu yang berkualitas, informasi yang memberi makanan sehat dan vitamin bagi otak dan pikiran. Kita tidak memberikan otak dengan ilmu yang mendasar dan mendalam, yang bisa memperteguh pikiran juga hati. Kita merasa tidak perlu membaca buku, mendengarkan para guru. Padahal dari hal inilah kita bisa membentuk pola berfikir yang baik.

Maka ada baiknya kita mulai menyaring apa yang akan masuk kepada otak, melalui pendengaran dan penglihatan. Jangan dianggap remeh, karena hal ini bisa mempengaruhi hidup kita.

Ingin hidup berkualitas, maka mulailah belajat memilah informasi  yang kita dengar apa yang kita baca. Belajar agar penglihatan dan pendengaran kita lebih banyak melihat dan mendengar hal yang akan jadi ilmu, pelajaran, dan hikmah yang baik.

Tidak semudah yang dikatakan memang, namun sangat layak mulai kita belajar untuk memulai dan menjalankan …. 🙂

Bukankah ada pula sebuah ayat Al Quran yang menyatakan bahwa

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. al-Israa’ : 36)

Bandung, 04 Oktober 2019

Ah …lagi lagi ini nasihat buat diri saya sendiri, yang  masih sering lalai pada penglihatan, pendengaran dan juga hati ….

Ngadem Di Perpustakaan ? Why Not !

Akhir akhir ini saya lumayan sering mengunjungi sebuah perpustakaan di salah satu kampus swasta di kota Bandung, tepatnya perpustakaan kampus Maranatha, yang ada di kawasan jalan Surya Sumantri (Dekat dengan jalan Pasteur).

Perpustakaan ini direkomendasikan oleh seorang teman, yang juga sering kesana. Katanya ” Tempatnya enak, cocok buat ngadem mikir, nulis, baca buku, cobain deh …”

Nah karena si teman ini soal taste nya rada lumayan sama (sama sama tipikal yang butuh quite moment, escape from the world), maka gak ragu kalau dia yang merekomendasikan.

Dan bener saja, ketika kesana kemudian menghabiskan waktu beberapa jam disana, kesan nya memuaskan! Perpustakaan yang layak, bahkan recommended buat dikunjungi. Pertama karena tempatnya sangat luas. Kampus ini menyediakan dua lantai khusus yang dipakai untuk perpustakaan, lengkap dengan berbagai fasilitas pendukungnya.

Kedua buku buku yang disediakan tergolong banyak, lengkap dan kekinian. Buku buku yang saya cari hampir 70% nya ada. Ditambah tersedianya koleksi buku buku terbaru, best seller, buku yang lagi hits pun ada. Adanya koleksi buku terbaru ini, bisa jadi bahan referensi bagi saya. ( Jadi setidaknya bisa lebih dalam isi sebuah buku, sebelum membeli, hhee …)

Ketiga, -yang tidak kalah penting- adalah suasananya yang nyaman bukan ? Disini dari mulai ruangan yang luas, penataan buku yang rapih, kebersihan yang sangat dijaga, pengaturan cahaya yang baik, kursi dan meja sebagai area membaca/kerja disediakan sangat banyak, baik untuk yang sendiri sendiri atau pun bergrup,tToilet bersih dan nyaman, pelayanan ramah, dll. Kalau lapar, butuh makan, atau coffe break ada kantin tersedia di lantai bawah.

Over all its really comfortable and convenience. Bagi yang ingin sekedar membaca, atau butuh fokus mengerjakan tugas, deadline, bikin konsep, dan lain sebagainya bisa betah berjam jam diam disini.

Keempat bagi saya tempat ini tambah nyaman, karena gak jauh dari rumah…hhe. Jadi ga ngabisin waktu lama di jalan juga, jadi bisa lebih produktif penggunaan waktunya. Karena di Kota Bandung ada beberapa juga perpustakaan yang nyaman, namun lokasi relatif jauh dari rumah. Sebagai catatan tambahan, wifi dan peminjaman buku ke luar perpustakaan hanya tersedia untuk mahasiswa kampus saja.

Ya udah, segitu dulu ahh review nya. Semoga bemanfaat bagi teman teman yang ada di wilayah Bandung, atau sedang berkunjung ke Bandung, dan nyari referensi perpustakaan yang lengkap dan nyaman.

Semoga Bermanfaat …

Mukaddimah – Buku Bacaan Para Tokoh Dunia

Saya lagi nyici baca buku nya IBNU KHALDUN yang judulnya MUQADDIMAH. Buku yang super tebal. Buku yang konon katanya banyak jadi rujukan para filusuf, politisi, sosiolog, pakar ekonomi, ilmuan dan cendikiwan di berbagai negara . Bahkan konon katanya, buku ini adalah salah satu buku “MUST READ BOOK” nya seorang MARK ZUCKERBERG adalah buku MUQADDIMAH ini.

Sudah lama sih, nyari buku ini. Akhirnya seorang teman memberikan pinjaman secara sukarela buku ini. Dengan rencana, next saya mau beli sendiri buku ini. Sebenernya saya belum khatam dengan buku ini, saya masih membaca bagian bagian yang saya anggap menarik, saya butuhkan, dan ingin mengetahui lebih dalam pemikiran tentang topik tersebut dari seorang IBNU KHALDUN.

Beberapa bagian yang sudah saya baca, diantaranya adalah pemikiran beliau tentang pendidikan, tentang akhlaq, tentang metode penerapan ilmu pengetahuan, dan beberapa kajian beliau tentang sejarah kaum Arab.

Kesan saya di interaksi awal saya dengan buku ini adalah, bahwa IBNU KHALDUN adalah seorang yang sangat cerdas, berani, mendalam. Lahir di abad ke 13 masehi, namun pemikiran nya sangat mendalam sekaligus visioner. Buah fikir nya yang berwujud buku ini, ternyata masih menjadi buku yang banyak di baca oleh banyak orang hingga saat ini, setelah 7 abad berlalu. Pemikiran nya masih sangat adaptable dipakai saat ini. Bahkan mungkin beberapa puluh tahun kedapan, buku ini masih sangat recommended buat dibaca.

Saya jadi banyak membayangkan, di masa itu. Di masa yang mungkin ilmu pengetahuan belum berkembang seperti sekarang, masa di mana literatur masih sangat terbatas, kemudahan akses informasi masih manual, namun mampu terlahir para pemikir yang luar biasa, yang karya karya nya masih bisa mempengaruhi dunia berabad abad kemudian.

Beberapa kali dalam tulisan di beberapa bab nya, ia selalu mengembalikan dan merajuk banyak hal kepada Al Qur’an dan Al Hadist. Berbagai tulisan nya banyak berawal dari perenungan mendalam atas fenomena yang ia lihat saat itu, dan pandangan dia akan dunia masa depan.

Akhirnya, saya tahu. Saya akan sangat jatuh cinta dengan buku ini, dan siap mendengar, berialog dengan pendahulu yang hidup berabad abad lalu ini …

#BacalahDenganNamaTuhanmu

#BacalahAgarDirimuTaqwa