Sesi Konsultasi Talents Mapping

Alhamdulillah kemarin bertemu klient untuk sesi feedback Talents Mapping yang, mendengarkan tentang berbagai keresahan tentang peran juga . Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah ini benar-benar diri kita?” atau “Mungkinkah diri kita yang sesungguhnya justru sedang menunggu di seberang sana?” pun mengalir dalam obrolan.

Pencarian “jati diri” terkadang melalui banyak likuan, kadang harus melalui jalan yang tidak kita harapkan, peran yang bukan kita inginkan. Namun itulah perjalanan kehidupan. Sesekali kita diminta untuk ikhlas menjalankan, sesekali kita dihadapkan dengan berbagai pilihan.

Tugas kita adalah mencari tentang siapa diri kita yang sejati. Dengan cara memahami diri, mengetahui apa kekuatan, keunggulan bahkan kelemahan dari dalam diri. Agar kita tahu kemana arah melangkah, agar kita mengetahui arah masa depan.

Obrolan kemudian berlanjut bersama teman-teman disabilitas yang mengelola Café More, yang berlokasi di sekitar Wiyataguna, Pajajaran, Bandung. Masya Allah, ketika mereka diberi ruang dan kesempatan, mereka mampu menunjukkan potensi luar biasa dan bisa untuk lebih berdaya.

Semoga semakin banyak ruang-ruang inklusif seperti ini, yang dapat memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk berkarya dan mengekspresikan potensi, kekuatan, serta keunikan mereka masing-masing.

Kenali Potensi Diri Semenjak Dini

Sebuah kesyukuran bisa berbagi ilmu & inspirasi dengan para siswa SMP Al Amanah Cileunyi Bandung. Senang sekali, para siswa disini mempunyai lingkungan yang mendukung tumbuh kembang potensi & bakatnya. Mereka sudah berani mengekspresikan bakat, juga menyatakan cita cita.

Kemarin anak anak diberikan ilmu mengenal diri dengan Metode Talents Mapping. Belajar mengidentifikasi apa yang unik, unggul dan kuat di diri mereka, agar bisa menjadi panduan untuk langkah mereka selanjutnya kelak di masa depan.

Tugas kita para orangtua, untuk memberikan ilmu, kesempatan dan lingkungan yang baik, agar mereka bisa terus bertumbuh.

Saat Ide Hadir di Saat yang Tak Terduga!

Buncahan dan lintasan ide sering kali muncul di saat yang tidak terduga. Ada yang mengalami hal yang sama? Alih-alih hadir saat sengaja mencarinya secara serius, ide justru seringkali datang saat kita melepaskan diri dari tekanan pekerjaan.

Seringkali saya mengalami kebuntuan saat hanya duduk di depan laptop, memaksa otak untuk “menghasilkan” ide dan gagasan, sayangnya hasilnya nihil! Sebaliknya, saat saya keluar dari “zona kerja” dan memasuki suasana yang berbeda, tiba-tiba saja—cling!— gagasan baru melintas begitu saja.

Ini adalah salah satu uniknya sebuah proses kreatif. Ide kerap datang saat kita melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda—di luar kebiasaan dan di luar zona rutinitas kita.

Bisa jadi saat membaca tema buku yang tak biasa, bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda, atau saat berada di di tempat yang baru. Perbedaan suasana, orang, lingkungan, seringkali membantu saya melihat sesuatu secara berbeda, yang selama ini tertutup oleh repetisi dan pola yang monoton dalam aktifitas harian.

Sebagai seseorang yang memiliki bakat #Ideation yang kuat dalam konsep Talents Mapping, saya pribadi sangat sering mengalami momen-momen seperti ini. Pikiran saya seakan tidak pernah benar-benar “mati”. Bahkan saat melakukan aktivitas yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan—seperti memasak, berolahraga, menyiram tanaman atau bahkan saat cuci piring— buncahan ide-ide segar bisa saja muncul dengan sendirinya.

Uniknya, ide-ide tersebut sering kali lebih jernih dan orisinal, mungkin karena muncul dari alam bawah sadar yang lebih rileks, bukan dari pikiran sadar yang sedang dalam kondisi tertekan. Kondisi ini memperkuat pemahaman bahwa proses kreatif tidak selalu rasional, terstruktur, atau linier. Justru kebebasan, kelonggaran, dan stimulasi dari luar yang menghasilkan sesuatu yang istimewa.

Gimana, suka dapat ide pas lagi ngapain? yukss ceritaa…!


Antara Bisa dan Suka – Kamu yang Mana ?

Dua kalimat yang sekilas sama, namun sebenarnya sangat berbeda dalam makna.

BISA adalah hasil dari pembiasaan, pengulangan, atau bahkan keterpaksaan.
SUKA adalah sesuatu yang berasal dari hati—natural, genuine, dan datang dari dorongan & kecenderungan dalam diri.

Dua kalimat yang membuat arti menjadi berbeda, seperti pernyataan di atas; Bisa jadi setiap orang bisa mengajar, tapi tidak semua orang suka—bahkan mencintai mengajar.

Hal inilah yang mulai saya pelajari dan pahami lebih dalam melalui konsep Talents Mapping. Perbedaan antara “bisa” dan “suka” ternyata memengaruhi banyak aspek: kualitas, daya tahan, kepuasan, prestasi dan pencapaian.

1. BISA adalah tentang KEMAMPUAN

“Bisa” berarti terampil, terlatih, atau memiliki keahlian dalam melakukan suatu aktifitas. Kemampuan ini pada umumnya didapatkan melalui latihan, kebiasaan, atau karena tuntutan.

Namun, bisa tidak selalu berarti suka.

Contoh:

“Saya bisa berbicara di depan umum dengan baik, tetapi saya tidak terlalu menikmati saat melakukannya.”

2. SUKA adalah tentang KECENDERUNGAN HATI

“Suka” berarti menikmati, tertarik, dan memiliki gairah terhadap sesuatu. Biasanya muncul secara alami—karena ada ketertarikan, rasa ingin tahu, atau dorongan dari dalam diri.

Contoh:

“Saya suka memimpin, meski mungkin belum terlalu baik. Tapi saya merasa senang saat melakukannya.”

Bagaimana Kalau Hanya Bisa?

Untuk aktivitas jangka pendek atau yang dilakukan sesekali, “bisa” tanpa “suka” mungkin tidak menimbulkan masalah besar. Namun, saat kita harus melakukan sesuatu secara terus-menerus hanya karena kita bisa, tanpa menyukainya, maka hal itu bisa menjadi sesuatu yang serius. Kita lebih rentan terhadap burnout, stres, bahkan bisa mengarah pada depresi.

Selain itu, melakukan sesuatu yang tidak kita sukai membuat kita sulit mencapai performa dan prestasi terbaik. Sebab, untuk mencapai peak performance, dibutuhkan bukan hanya kemampuan, tapi juga rasa suka—bahkan cinta—terhadap apa yang kita lakukan.

Bagaimana Saat Kita Suka?

Memiliki rasa suka terhadap suatu aktivitas adalah modal yang sangat berharga. Kondisi “suka” ini bisa menjadi bahan bakar untuk melakukan akitifitas yang produktif dan prestasi terbaik.

Namun, jika hanya berhenti pada “suka” tanpa upaya untuk mengasah dan menumbuh-kembangkannya agar menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat, maka modal “suka” itu tidak akan menghasilkan banyak hal.

Talents Mapping Membantu Mengenal Tentang BISA dan SUKA

Melalui test Talents Mapping, selain memberikan deskripsi tentang Urutan Bakat , Kluster Kekuatan (Thinking, Striving, Influencing, Relating), disajikan juga tentang apa saja aktifitas yang kita sukai, kita kuasai (bisa), bahkan aktifitas irisan keduanya

Manfaat Mengetahui Apa yang Kita Bisa & Suka

Dengan memahami apa yang kita bisa dan suka, kita dapat:

  • Merancang masa depan dengan lebih tepat,
  • Memilih profesi, karier, atau bidang bisnis/akademis yang sesuai,
  • Menjalani hidup dengan lebih nikmat dan penuh makna.

Saat kita menikmati apa yang kita jalani, maka pencapaian, performa & prestasi terbaik pun menjadi lebih mudah diraih. Dan yang juga penting, dengan faham mengenai “bisa” dan “suka”, bahkan bisa memadukan keduanya, maka jalan untuk menjadi manusia yang memberikan kebermanfaatanpun akan lebih terbuka lebar.

Yuk, cari tahu apa yang kamu BISA dan apa yang kamu SUKA—dan temukan titik temu di antara keduanya!

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Belajar Untuk Apa ?

Saya adalah tipe orang yang menyukai proses belajar. Saya selalu antusias dan ingin tahu terhadap hal-hal baru. Dalam konsep #TalentsMapping, ini disebut sebagai “Learner” – si Pembelajar. Dan memang, bakat Learner termasuk dalam 14 bakat teratas saya berdasarkan hasil tes Talents Mapping.

Dulu, saya sempat keranjingan belajar. Setiap ada workshop atau pelatihan, saya ingin ikut. Jika dananya tersedia, saya langsung mendaftar. Tak hanya itu, bila ada buku menarik dan saya punya anggaran, saya langsung membelinya.

Namun, seiring waktu, seiring bertambahnya pemahaman dan kedewasaan – tsahhh – saya mulai belajar untuk belajar dengan penuh kesadaran. Bahwa belajar tidak sekadar tentang prosesnya, tapi tentang tujuannya.

Kini saya mulai bertanya pada diri sendiri:

“Apa tujuan dari proses belajarmu?”

“Apakah yang kamu pelajari sesuai dengan misi hidupmu?”

“Apakah ilmu baru yang akan kamu pelajari berkaitan, mendukung, dan sejalan dengan tujuan-tujuan hidupmu?”

Belajar dengan kesadaran. Belajar dengan arah dan tujuan yang jelas. Bukan semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahu, apalagi sekadar rasa penasaran.

Saya teringat pesan dari Ustadz Harry Santosa dalam bukunya Fitrah Based Life:

“Learning for mission, not learning for learning.”

Belajar bukan semata-mata demi belajar itu sendiri, melainkan demi misi & peran kehidupan yang kita emban. Ini bukan berarti kita tidak boleh menikmati proses belajar, atau membatasi diri dari ilmu. Namun ini adalah ajakan untuk meneguhkan niat dan memperjelas arah: Untuk Apa Kita Belajar.

Semoga setiap ilmu yang kita pelajarii, membawa kita lebih dekat pada misi hidup, pada kebermanfaatan, dan tentu saja—pada Allah SWT.

Selamat belajar dengan penuh kesadaran.
Selamat belajar dengan misi & tujuan
Happy Learning 😊

Yuks Cari Tahu Bakat, Keunggulan & Keunikan Dirimu :

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

#journaling#learner#talentsmapping

Jangan Terlalu Fokus Pada Kelemahan, Sampai Lupa Mensyukuri Kekuatan

Lelahnya Saat Berusaha Mati Matian Tapi Hasilnya Biasa Saja

“Dulu waktu sekolah, saya sudah belajar mati-matian, tapi nilai Matematika dan Kimia saya nggak pernah tembus angka tujuh atau delapan. Paling mentok cuma dapat enam.”

“Nilai Bahasa saya justru selalu bagus. Padahal saya belajar biasa saja, mungkin karena saya memang menikmati pelajaran itu.”

“Saya sebenarnya suka banget ngerjain angka, data, dan kerja di balik layar. Tapi sekarang pekerjaan saya mengharuskan saya tampil di depan kamera setiap hari…”

Apakah kamu pernah merasakan hal yang sama? Baik dulu zaman sekolah ataupun saat ini saat sudah mulai masuk dunia kerja. Saat kamu terpaksa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kamu sukai. Dimana rasanya waktu berjalan sangat lambat dan diri menjadi mudah stress dan tidak menikmati apa yang dikerjakan.

Atau mungkin kamu pernah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap biasa saja. Sementara orang lain tampak santai, tapi hasilnya justru luar biasa.

Ironisnya, kadang terjadi sebaliknya: kamu memberikan usaha yang biasa, tapi hasilnya justru memuaskan, bahkan melebihi ekspektasi.

Sebenarnya apa yang terjadi ?

Kekuatan vs Kelemahan: Mana yang Harus Diprioritaskan?

Katanya, setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tapi bagaimana kalau selama ini kamu justru terjebak—terlalu sibuk menambal kelemahan, sampai lupa mengembangkan kekuatan?

Jangan jangan yang kamu lakukan selama ini adalah fokus dalam menambal kelemahanmu dan tidak tahu bagaimana mengasah kekuatanmu. Sehingga apa yang kamu kerjakan sangat sulit mencapai hasil terbaiknya.

Jadi, mana yang seharusnya jadi fokus utama? Terus memperbaiki kelemahan, atau memaksimalkan kekuatan?

Namun, sebelum menjawab itu, ada ertanyaan yang sangat mendasar perlu Kamu jawab : “Apakah kamu benar-benar tahu apa kekuatan dan kelemahanmu?

Fitrah Manusia: Unik, Tak Ada yang Sama

Secara fitrah, Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Wajah, bentuk tubuh, warna kulit, dan tipe rambut—semuanya unik. Begitu juga dengan potensi, karakter, kekuatan, dan kelemahan setiap individu. Tak ada dua manusia yang benar-benar sama.

Sayangnya persepsi dan budaya kita masih menganggap kelemahan seseorang adalah kesalahan. Bahwa kelamahan adalah sesuatu yang harus  ditiadakan, sehingga lupa untuk menghidupkan sisi cemeralangnya. Bahkan seringkali sisi cemerlang itu tidak dihiraukan, dianggap tidak penting atau tidak signifikan untuk hidupnya.

Kita dituntut untuk serba bisa di semua bidang, sempurna di setiap aktivitas. Menjadi manusia serba bisa seolah olah jadi kewajiban

Anologikan dengan benda beda yang ada di dapur: ada pisau, penggorengan, panci, sutil, blender, dll. Bukankah setiap alat punya fungsinya sendiri? Kalau blender digunakan untuk menggoreng, apa jadinya? Apa jadinya bila sutil digunakan untuk mengiris? Barang barang yang digunakan tidak sesuai fungsinya, akan berakibat tujuan memasak sulit untuk cepat selesai, atau bahkan berantakan !

Ibarat tanaman ; beras, buah, sayur, masing masing punya manfaatnya masing masing. Apalagi manusia, makhluk yang paling sempurna, ia mempunyai peran dan kebermanfaatannya masing masing bukan?

Apalagi manusia! makhluk yang paling sempurna. Ia sudah dibekali dengan fungsi dan peran kebermanfaatannya masing masing.

Manusia dengan berbagai sifat, karakter, potensi dan pembawaan masing masing, sudah terinstal di dalam dirinya tentang apa yang menjadi fungsi & peran masing masing. Manusia punya peran spesifik di dunia ini, dimana dia akan berkarya dan menebarkan kebermafaatannya.

Fokus pada Kekuatan: Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Ibarat mata pisau yang memiliki sisi tajam & tumpul, maka tugas kamu adalah mengasah sisi tajam agar menjadi kekuatan. Ketika kamu fokus pada kekuatan, peran & fugsi kamu akan lebih terasa keberadaannya & lebih maksimal kebermanfaatannya.

Fokus pada kekuatan juga bisa memberi rasa puas dan bahagia, karena kamu melakukan sesuatu yang memang “kamu banget”.

Kembali ke Dasar: Sudahkah Kamu Mengenali Dirimu?

Sebelum terlalu jauh melangkah, mari kembali ke pertanyaan dasar diatas. Sudahkah kamu tahu apa saja kekuatanmu? Apa kelemahanmu? Apa keunikan yang membuat dirimu berbada ? Apa aktifitas terbaikmu?

Kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan adalah langkah awal untuk menjadi pribadi yang autentik. Dari sinilah kamu bisa memaksimalkan potensi dan menjalani hidup yang lebih bermakna.

Kalau kamu masih bingung, yuk ngobrol bareng dan cari tahu bersama: apa sebenarnya kekuatan dan kelemahan dirimu disini.

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA

Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Apa yang Sebenarnya Kita Jalani? Misi atau Obsesi?

Lelah, Burn Out, Overthinking. Ada yang Relate?

Capek banget! Bukan cuma badan, tapi juga pikiran…”
“Istirahat pun tak tenang, pikiran terus berputar-putar, seperti tak berhenti mencari. Hati gelisah tanpa sebab yang jelas…”
“Setiap waktu terasa terburu-buru. Harus menyelesaikan ini dan itu. Harus segera, tidak bisa ditunda!”
“Sibuk dan produktif, tapi rasanya kosong, hampa…”
“Selalu merasa ragu dan tidak pernah puas.”

Pernahkah kamu merasakan hal ini?
Saya pernah! Beberapa tahun lalu, masa-masa di mana hari-hari terasa penuh tekanan. Banyak hal harus dikejar dan diselesaikan, apapun keadaannya. Hari-hari terasa tergesa. Seolah setiap saat harus berprestasi, selalu harus naik level, selalu membuktikan sebuah pencapaian.

Belum lagi, saat melihat orang lain dengan segala pencapaian dan prestasinya, membuat saya merasa kerdil dan tidak berarti apabila tidak melakukan hal yang sama.

It feels very tiring… I felt truly exhausted...”

Sampai pada suatu titik, saya mulai mempertanyakan semuanya. Proses ini dimulai dari monolog dalam diri yang tiba-tiba mengalir begitu saja:

“Ada apa dengan diriku?”
“Kenapa aku jadi begini?”
“Apa yang sebenarnya kucari?”

Pertanyaan-pertanyaan ini terus tumbuh, semakin menebal, hingga akhirnya mendesak butuh sebuah jawaban.

Pertemuan dengan Konsep “Misi vs Obsesi”

Di masa pencarian itu, saya dipertemukan dengan buku Fitrah Based Life karya almarhum Ustadz Harry Santosa. Saya membacanya secara acak, dan tanpa sengaja menemukan satu bab berjudul “Misi vs Obsesi”.

Deg! Seketika judul ini serasa menghantam saya dengan keras. Menuntun saya membaca lebih lanjut tentang materi ini. Mungkinkan ini jawaban yang saya butuhkan?

Mengapa Kita Gelisah?

Apa yang membuat seseorang terus merasa gelisah, cemas, dan terus menerus khawatir dalam hidupnya?

Dari luar mungkin terlihat sibuk, sukses, bahkan bermanfaat bagi orang lain. Tapi jauh di dalam dirinya—dan hanya dia yang tahu—ia merasa tersiksa, tidak menikmati hari harinya, tak kunjung merasakan ketenangan. Karena mungkin—bisa jadi— dia bekerja dan berkarya karena obsesi, bukan karena misi.

Perbedaan Misi & Obsesi

“Misi itu berangkat dari hati, niat yang lurus. Ia melahirkan ketenangan, kecintaan, dan kebahagiaan dalam berkreasi serta menemukan jalan untuk mewujudkannya.
Sedangkan obsesi melahirkan kegelisahan, kepanikan, kebuntuan berpikir, ketamakan, atau keputusasaan.”

Harry Santosa, Fitrah Based Life

Misi lahir dari panggilan jiwa. Murni, tulus. Bukan sekadar mengejar prestasi atau kepuasan pribadi. Bukan pula keinginan untuk tampil atau membuktikan eksistensi diri. Bukan pula di dorong karena keinginan untuk seperti orang lain.

Sebaliknya, obsesi terasa melelahkan. Ia sering membuat kita menampilkan diri yang bukan kita sebenarnya. Obsesi lahir dari dorongan untuk dilihat, diakui, dan dibanggakan. Pada kadar tertentu, motivasi seperti itu memang bisa menggerakkan. Tapi bila dibalut hawa nafsu, ia berubah menjadi obsesi yang menggerogoti diri.

Misi tumbuh dari terdalam, dari panggilan hati. Lebih dalam misi tumbuh dari keimanan dan kesadaran tentang keinginan berkarya & beribadah untuk Allah Swt. Sedangkan obsesi datang dari keinginan yang berlebihan untuk dilihat, diakui dan kebanggan eksistensi diri.

Refleksi Diri

Saya mulai belajar berbincang dengan diri. Menggali keresahan yang saya rasakan setiap menghadapi hari esok. Mengapa begitu terburu-buru? Mengapa begitu berambisi?

Belum lagi saat menjadikan orang lain sebagai barometer kesukesan diri.
“Kalau dia bisa, masa aku tidak?”
kalimat yang sekilas seperti sebuah kalimat pembakar motivasi, tapi kemudian saya sadari itu adalah tentang diri yang penuh obsesi.

Belajar Memperbaiki Orientasi

Maka benar, kesadaran diri adalah titik pertama perubahan. Setelah sadar, saya terus mencari & memperdalam tentang apa itu MISI diri, dari mana ia bisa didapatkan & sekaligus ditumbuhkan, agar menjadi sesuatu karya & kebermanfaatan. Dimana yang murni tumbuh dari dalam diri, ia bermanfaat bagi banyak orang dan ia juga sebahai sarana ibadah kita kepada sang Pencipta. Perjalanan yang panjang & mengasikan …

Yuk, Temukan Misi Hidupmu!

Bisa jadi saat ini kamu merasakan hal yang sama pernah saya alami waktu itu. Bisa jadi ini saatnya kamu juga mencari tahu apa : Apa misi hidupmu?.

Salah satu caranya adalah dengan mengenal bakat dan potensi terdalam dalam dirimu—yang mungkin selama ini belum kamu sadari atau maksimalkan.

Yuk, ngobrol, berbagi imu juga pengalaman, dan mulai memetakan kekuatan dan keunikan diri kamu di sini:

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Jangan Salah Memahami Konsep BAKAT

Miskonsepsi Tentang Konsep BAKAT

Program-program seperti Indonesia Mencari Bakat, Indonesian Idol, X Factor, Mama Mia, Master Chef, dan lain-lain merupakan ajang pencarian bakat yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dalam program-program ini, bakat yang ditampilkan biasanya meliputi menyanyi, menari, menulis, melukis, memasak, dan sebagainya.

Persepsi umum di masyarakat saat diminta menyebutkan contoh anak berbakat pun sering kali terbatas pada bidang-bidang tersebut. Bakat masih banyak dianggap sebagai kemampuan fisik semata.

Akibatnya, mereka yang tidak memiliki kemampuan di bidang-bidang tersebut sering merasa “tidak punya bakat apa-apa”. Tapi benarkah definisi dan konsep bakat hanya sebatas itu?.

Bakat Itu Ternyata Lebih Luas Dari Yang Kita Kira

Sesungguhnya, definisi bakat jauh lebih luas dan mendalam daripada yang selama ini dipahami oleh masyarakat umum. Bakat tidak terbatas pada kemampuan atau keahlian fisik—yang umumnya memang terlihat secara visual.

Ada jenis bakat yang bersifat sifat atau karakter, namun sayangnya masih belum banyak dikenal dan dipahami. Padahal, jenis bakat ini mencakup ranah yang lebih luas dan lebih mendasar. Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita samakan dulu pemahaman kita tentang definisi bakat!

Apa Itu Bakat?

“Bakat adalah pola pikir, perasaan, dan tindakan yang alami, muncul secara berulang, dan dapat digunakan untuk sesuatu yang produktif.”
(Donald O. Clifton)

Jadi, bakat tidak hanya terbatas pada kemampuan fisik. Justru, menurut definisi ini, bakat mencakup hal-hal yang lebih dalam dan mendasar, serta sangat menarik untuk dipelajari!

34 Tema Bakat Menurut Gallup

Dalam Teori CliftonStrengths dari Gallup, terdapat 34 tema bakat yang ada dalam diri manusia. Setiap individu memiliki kombinasi unik dari tema-tema ini, yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak.

Tema-tema bakat ini dikelompokkan ke dalam empat klaster kekuatan utama:

  • Thinking – Gemar berpikir mendalam dan menganalisis
  • Executing/Striving – Suka bekerja keras dan menyelesaikan tugas
  • Influencing – Senang memengaruhi dan meyakinkan orang lain
  • Relating – Suka bekerja sama dan membangun hubungan

Contoh Sederhana Bakat dalam Kehidupan Sehari-Hari

  • Ada orang yang suka memimpin
  • Ada orang yang senang membantu
  • Ada yang mudah terharu
  • Ada yang sangat supel dan mudah bergaul

Nah, sifat atau karakter seperti ini juga merupakan bentuk dari bakat!

Nantikan Pembahasan Selanjutnya!

Sampai di sini dulu, ya! Di bagian selanjutnya kita akan membahas:

  • Mengapa penting mengenali bakat diri?
  • Pengenalan lebih lanjut pada masing-masing tema bakat
  • Cara mengetahui bakat diri
  • Strategi mengoptimalkan bakat
  • Manfaat memahami bakat diri
  • Kerugian tidak memahami bakat diri
  • Dan masih banyak lagi!

See you!

Ingin konsultasi langsung tentang bakatmu? Klik link di bawah ini:

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Si Visioner – Futuristic Talent

Kali ini saya akan bahas tentang bakat FUTURISTIC yang merupakan salah satu bakat terkuat (urutan atas) yang saya miliki, dalam Assessment test TALENTS MAPPING.

Apa sih bakat FUTURISTIC ini ? Secara singkat orang orang yang mempunyai bakat ini, adalah orang orang yang senang membayangkan tentang MASA DEPAN, pikirannya jauh melayang ke jauh ke depan, dia punya banyak bayangan tentang masa depan, bisa jadi tentang dirinya sendiri, bisa juga tentang orang lain. Dia punya banyak sekali cita cita. Dia melihat apa yang tidak orang lain, dan memercayai apa yang belum orang percayai saat ini

Dulu, sebelum faham tentang bahasa BAKAT & sebelum kenal dengan TALENTS MAPPING, saya sering kali melabeli diri Saya sebagai “pengkhayal”, karena kecendrungan saya tadi, yang senang membayangkan masa depan. Saat belum faham ,saya menilai pengkhayal nya diri saya adalah hal yang cendrung negatif.

Namun, setelah memperdalam TALENTS MAPPING, saya jadi faham bahwa pengkhayalnya saya itu adalah sebuah TALENTA unik sekaligus anugrah yang diberikan oleh Allah Swt. Tidak semua orang mempunyai keuinkan tersebut dan kabar baiknya, talenta itu bisa membuat saya bisa lebih percaya diri, produktif & bermanfaat saat saya tahu apa dan bagaimana menggunakan serta memaksimalkannya.

Nah….lalu apa sih yang di bayangkan tentang MASA DEPAN oleh orang orang dengan bakat FUTURISTIC ini ? Nah tentunya setiap orang akan berbada, tergantung konteks, latar belakang, juga kombinasi bakat lain yang mereka miliki.

Uniknya, dalam diri Saya FUTURISTIC yang saya miliki, kecendrungan membayangkan tentang MASA DEPAN orang lain, bukan hanya tentang diri saya. Hal ini sepertinya berkaitan dengan bidang yang saat ini saya sedang lakukan -di bidang sosial pendidikan- dan juga berkaitan dengan bakat kuat saya yang lain, diantaranya bakat DEVELOPER, IDEATION dan juga BELIEF.(Lain kali kita bahas bakat yang ini)

“Membayangkan masa depan dengan berbagai ide gagasan dengan tujuan membantu dan menumbuhkan orang lain”

VISIONER ! Setelah saya faham tentang TALENTS MAPPING, saya dengan percaya diri bisa mengatakan bahwa saya adalah seorang VISIONER, yang punya banyak cita cita tentang masa depan. Bukan hanya tentang diri saya sendiri, tapi cita cita untuk banyak orang.

So, bila kamu yang baca ini, punya kecendrungan yang sama seperti saya ; Senang membayangkan masa depan, bisa jadi kamu punya bakat FUTURISTIC! yang merupakan potensi, keunggulan dan keunikanmu, untuk modal dan “bahan bakar” untuk masa depanmu!

Pengen Tahu Apa Bakatmu ? Yuks Ngobrol Langsung :

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA

Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Ciri-Ciri Bakat yang Perlu Kamu Ketahui

Coba amati kegiatan yang saat melakukannya kita begitu menikmatinya

Ada orang yang begitu menikmati ketika menuang ide gagasan ….

Ada yang begitu menikmati ketika berurusan dengan kegiatan menganalisa ….

Ada yang begitu senang ketika bertemu dan berinteraksi dengan orang banyak….

Ada yang begitu bersemangat dalam meraih dalam target2 dan pencapaian …

Dan masih banyak lagi, keunikan dan keunggulan bakat yang kadang kita tidak sadari ada dalam diri kita

Nah, sudah ngeuh dikegiatan apa yang kamu merasakan ketagihan, cepat belajar, merasakan kepuasan tersendiri, lupa akan waktu, dan hasilnya sangat baik

Coba cermati dan sadari, bisa jadi ada MUTIARA BAKAT terpendam yang sebenarnya kita miliki … 

Berikut saya uraikan beberapa CIRI CIRI BAKAT yang bisa kita amati dalam diri kita

Semoga Bermanfaat Ya ….

Konsultasi Talents Mapping ; https://bit.ly/KonsultasiTalentsMapping