“Tasmu Terlalu Berat” [Sebuah Cerita Pendek]

Pagi itu  matahari  mulai menghangatkan bumi, menghangatkan mereka yang bergegas mencari penghidupan dan pengetahuan, dan hari itu aku ingin menikmati sinar pagi  untuk kemudian bertemu denganmu.

Kau sudah sampai duluan dikedai kopi seperti biasa.  Menyeruput teh manis hangat dengan setangkup roti srikaya. Tidak sepertiku yang sangat suka kopi, kamu adalah manusia teh.

Baru saja duduk di hadapanmu, kau langsung bertanya : “Bawa apa sih, banyak banget kayanya bawaannya..?” Sambil menyeruput teh yang sepertinya beraroma jasmine dicampur mint.

“Ini ada laptop, beberapa buku bacaan, payung, peralatan lain, pokonya banyak deh …” jawabku sambil mencari menu.

“Kayanya tiap hari tasmu memang selalu berat ya..”

Sepertinya itu bukan sebuah pertanyaan yang perlu kujawab, aku hanya terbahak kecil. Kadang terlintas juga pertanyaan pada diriku sendiri ; Memangnya aku perlu yaa.. membawa semua barang ini setiap hari…

“Ada apa…?” Kamu langsung bertanya tanpa basi basi lagi. Aku mulai mengaduk  es kopi lemon yang sudah datang, sambil berfikir dari mana harus bercerita.

“Kenapa ya, rasanya fikiranku mudah lelah, aku merasa lelah bahkan saat semua belum dimulai…” kalimat itu jadi pembuka sesi berceritaku.

“Semacam ada banyak hal dalam pikiran, seperti banyak percakapan dalam pikiran tentang hal ini, hal itu, semuanya datang bergantian kadang bersamaan…” lanjutku

“Lintasan lintasan fikiran itu kadang membuat dadaku rasanya sesak, tubuhku lelah, fokusku berantakan…”

“Memangnya apa yang kau fikirkan ….” tanyamu singkat

” Ya banyak hal, semacam semua hal datang bersamaan, tumpang tindih, aku tidak tahu mana dulu yang perlu ku pikirkan atau ku selesaikan…”

“Memangnya semuanya harus kau pikirkan bersamaan ?” tanyamu singkat

Aku diam, tidak segera menjawab pertanyaanmu. Entah bingung, entah sebenarnya aku sudah tahu jawabannya…

“Begini…tidak semua hal perlu perlu kau bawa sekaligus dalam pikiran. Pilah pilahlah mana yang butuh kau pikirkan saat ini, dan mana yang bisa kau pikirkan nanti. Karena memang tidak perlu semuanya diselesaikan bersamaan bukan…” 

“Ringankanlah pikiranmu, tidak semua perlu dibawa sekaligus. Simpan yang perlu disimpan, bawa yang perlu dibawa, ringankan hidupmu …”

“Ibarat hendak bepergian, tidak perlu toh kamu membawa semua ada yang dimeja. Bawa hanya yang kau perlu, tinggalkan yang tidak perlu..”

“Terkadang kamu hanya merasa perlu membawanya, padahal tidak…”

Kalimatmu lama terhenti disitu, lalu kita berdua sama sama menikmati semilir angin pagi di taman depan kedai kopi. 

“Mungkin aku harus mulai meringakan pikiran yaa, dengan tidak membawa semua beban dan tanggung jawab sekaligus, bersamaan…” ku lepaskan nafas dari dada yang masih teras berat

“Yaa…belajarlah. Semua ada kapasitasnya, semua ada waktunya….” jawabmu

“Belajarlah dari mulai meringankan isi tasmu, tidak semua perlu dibawa bukan …?” kau tunjuk tasku yang tergeletak di ujung meja

“Baiklah…..!” jawabku, sambil tertawa ….

Pertemuan singkat seperti biasa. Setelah teh hangat mu habis, kau pamit – kembali menghilang, dan akan datang setiap kali aku membutuhkan. Sampai jumpa Tanaka.

 

[ Sebuah Kisah ] Batik Pertamamu

batik-pria-lengan-panjang-hijau-cream-cb142-va-330x01

 

Sore itu kulihat kau dari kejauhan, tersenyum, rona ceria tersirat di wajahmu. Mungkin kau sedang bahagia saat itu, senyum yang sudah lama tak  kujumpai lagi. Mataku tertuju pada baju batik yang kau pakai. Ingatanku melayang ke beberapa masa yang lalu, saat ada masa kita pernah menghabiskan hari hari bersama.

Sore itu kau bercerita dengan antusisme yang coba kau redam, namun aku tau kau saat itu berbahagia

“Besok hari pertama ku bekerja, aku belum mempunyai pakaian yang pantas, besok antar aku cari baju, batik kurasa, aku ingin hari pertama ku aku terlihat pantas”.

Esok hari nya, kau mengajak ku berbegas menuju pasar, mencari baju batikmu. ah aku tak menyangka kau ternyata tipikal pria yang kurang simple memilih. Kukira biasanya pria akan lebih memilih pakaian, yang penting batik. Tapi tidak dengan mu. Kau tau kakiku hampir lelah mengikuti langkahmu yang sangat bersemangat hari itu.

Aku pun hampir lelah memberikan pendapat mana baju yang bagus menurutku. “Pilihlah sendiri, aku menunggu disini” kataku. Tapi kau bersikeras agar aku ikut memilihkan baju batik pertamamu, hingga akhirnya kita mendapatkannya satu.

Kulihat wajah mu berseri seri saat itu, lucu rasanya, seperti anak kecil yang mendapatkan baju lebarannya. Saat  perjalanan pulang kau berkata “Aku akan tampan besok dengan baju ini” dan aku pun tergelak.

Batik pertamamu beberapa tahun yang lalu, dan kau masih memakainya hari ini, saat aku dari tak sengaja melihatmu dari kejauhan.

Tidak, aku tidak sedang mengingat masa lalu atau semacamnya, aku hanya tetiba saja ingat suatu fragmen yang pernah kita lalui bersama.

Aku tau, kita berbahagia dalam posisi masing masing kita saat ini, kau dengan hidupmu, aku dengan hidupku.

Tidak ada yang lebih melegakan ketika kita mengingat masa lalu, dan kita tertawa lepas mengingatnya, seperti saat ini seperti saat aku mengingatmu, mencari batik pertamamu.