How Deep Is Your Dream

teaser 1

Mungkin saat ini bukan hanya seberapa besar impian kita, seberapa besar kita ingin mendapatkannya, namun juga seberapa dalam impian kita tertanam, mengakar, tersulur dalam aliran aliran darah, bersatu dalam sumsum tulang, berdegup bersama alunan jantung. Impian itu bisa saja sederhana bagi mereka, tapi istimewa bagi kita. 

Seberapa dalam impian kita, aku bertanya pada diri sendiri, antara kau dan aku, kita. apakah impian mu hanya sekedara untuk dunia semata, untuk riuhan tepuk tangan untuk sebuah eksistensi, atau untuk sebuah pengakuan.

Aku bertanya pada mu diriku, seberapa dalam kah impian mu, hingga kau mampu menebus nya dengan waktu, kesenangan dan kenyamanan. Seberapa dalam ? Seberapa dalam ?

 

******

 

Advertisements

Mendefiniskan Impian

Fenomena saat ini banyak orang sedang  gandrung membahas tentang IMPIAN, saya sedang belajar mencerna lebih dalam mengenai hal ffenomena ini yang sedang sangat IN. kemudian mencoba belajar untuk melihat dari sisi yang berbeda, semoga menjadi sebuah manfaat, bukan bermaksud mengajari atau menunjukan sebuah kesalahan, namun ini memang bersumber dari keresahan fikiran saya secara pribadi. *halaahhh ….😀

*******

Bagaikan setiap orang di “cekoki” mengenai apa impian impian mereka, berbagai seminar atau buku di industrialisasi untuk mengajak seseorang menggapai impiannya. Tidak salah memang, justru ini adalah hal yang positif. banyakk orang yang sangat terbantu untuk benar benar mengarahkan bagaimana untuk mencapai impiannya.

Kemudian setiap orang mendefinisikan impian mereka masing masing. Dari sisi harta mungkin impian itu berupa rumah nyaman, kendaraan mewah, jumlah assets yang dipunya. Ada pula yang mendefinisikan impian dengan profesi atau usaha yang di miliki. Didefinisikan juga dengan nama besar, kekusaaan, prestasi, dan ambisi, dsb. Atau tak jarang pula impian di definisikan dengan kesempatan untuk menjelajah dunia, berputar pada hal hal yang sifatnya fisikly.  Sekali lagi ini tidak salah, manusia memang harus punya impian.

Namun kemudian, saya belajar mencerna apabila impian hanya terbatas pada tataran pribadi atau keluarga saja , maka impian ini menajadi sedikit “hampa”, karena setiap orang menjadi hanya memikirkan bagaimana ia mencapai impiannya, thats it. Dan kemudian ketika impian pribadi itu tercapai, maka thats all, mission done. Yang kemudian tenggelam dan menikmati impian impian yang ia capai dengan susah payah, cukup. lagi lagi ini tidak salah, manusia memang harus punya impian.

Mungkin yang kadang kita lupa, atau banyak dream motivator lupa sampaikan adalah mengenai kenapa seseorang harus mempunyai Impian, Apa ujung dari impian tersebut, apa goals akhirnya, kemana semua bermuara pada akhirnya, agar impian yang kira rancang tidak hanya untuk kepuasaan dan pencapaian saat ini saja, namun impian itu adalah sesuatu yang bisa juga menjadi bekal nanti di kehidupan yang kemudian.

Impian adalah salah satu cara pengabdian kita pada Nya, Impian adalah hasil karya terbaik kita, Impian adalah wujud kebermanfaatan kita sebagai manusia, Impian adalah peninggalan kita. Impian adalah bukti kita adalah manusia yang ditugaskan menjadi khalifah di muka bumi ini

Maka IMPIAN janganlah egois, bukan hanya tentang kita saja, bukan hanya tentang apa apa yang ingin kita punya, tentang tanah mana yang ingin kita jelajah, bukan saja tentang ingin menjadi seperti apa, bukan hanya tentang pencapaian atau ambisi ambisi duniawi, namun lebih jauh dari itu, lebih dalam dari itu. Impian adalah sebuah “legacy” yang bisa dirasakan kebermanfaatannya bahkan setelah kita tiada.

Maka, kini saya belajar mendefinisikan kembali tentang impian, dalam versi saya :

Impian adalah kebermanfaatan, impian adalah peninggalan, Impian adalah jalan, impian adalah cara pengabdian kita kepada-Nya

Fn : Sebuah catatan untuk pengingat diri sendiri, semoga menjadi manfaat untuk diri dan yang mambaca

Antara Janji dan Komitmen

Barangkali kita sering mengucapkan janji, baik janji pada diri sendiri atau berjanji kepada orang lain. Diantara janji janji itu ada yang bisa kita penuhi ada yang tidak. Ada janji yang memang terpaksa kita tidak bisa memenuhinya, bisa juga kita memang tidak mau untuk memenuhi janji tersebut, kita batal memenuhi janji tersebut, karena ada beda nyata antara tidak bisa dan tidak mau.

Lalu bagaimana dengan komitmen, menurut saya komitmen setingkat diatas dari pada janji. Karena janji cendrung mudah untuk diingkari, disalahi, di bumbui dengan alasan alasan yang bisa jadi memang apa adanya, atau alasan yang dibuat ada.

Komitmen lebih kepada kesadaran diri untuk bersungguh sungguh kepada sesuatu atau kepada seseorang, komitmen adalah itikad diri untuk melakukan apa yang telah kita niatkan dan  katakan, baik kepada diri sendiri atau pun orang lain. Komitmen adalah berusaha 100 % untuk melakukan yang kita katakan dan niatkan.

Komitmen berhubungan erat dengan integritas diri, karakter seseorang, akhlaq seseorang. Karena integritas seseorang, bisa dilihat dengan sejauh mana ia melaksanakan dan mengusahakan apa yang telah diniatkan dan dikatakan.

Seperti lagu dari The Whitest Boy Alive : ” Promise Less Or Do More