Takut tambah dewasa Takut aku kecewa Takut tak seindah yang kukira Takut tambah dewasa Takut aku kecewa Takut tak sekuat yang kukira
Sebait lagu dari Idgitaf, berjudul “Takut”. Lagunya memang enak, banyak disuka anak anak zaman sekarang, apalagi anak GEN-Z. Lagu lagu teman saat saat sendu, romantisasi kegalauan, penyatu keresahan mungkin para -sebagian- generasi muda masa kini
Kalau hanya didengarkan sekilas saja sih lagu ini enak enak saja. Namun ada kekhawatiran dalam diri saya, tentang lagu ini disukai & diresapi berlebihan, juga saat jadi lagu “wajib” para pemuda yang memasuki usia dua puluh seperti yang ada di awal lagu. Lagu yang tidak hanya sekedar “curahan hati”, namun yang saya khawatirkan ini adalah jadi SUGESTI dan JUSTIFIKASI seorang yang memasuki usia pemuda dalam perjalanan hidupnya.
“Takut Tambah Dewasa” sekilas serasa romantis, namun bila terus dilantunkan, khawatir jusru jadi penanaman di alam bawah sadar mereka, bahwa menjadi DEWASA adalah sesuatu yang MENAKUTKAN, “Takut Kecewa-Takut TIdak Indah – Takut Tidak Kuat”….] begitu lanjutan lagunya
Seakan akan dalam dunia DEWASA semuanya akan menakutkan, mereka akan selalu kecewa, mereka akan tidak bisa melaluinya. Padahal masa dewasa ini adalah masa dimana mereka bisa mengambil tanggung jawab dalam hidupnya, masa dimana mereka bisa menggerakan potensi terbaiknya, bisa menjelang peran peran kebermanfaatannya untuk banyak orang. Menurut saya lagu ini, sedikit banyak menanamkan bahwa menjadi dewa begitu menakutkan
Aku sudah dewasa Aku sudah kecewa Memang tak seindah yang kukira Aku sudah dewasa Aku sudah kecewa Memang tak sekuat yang kukira
Usia dua puluhan dimana semangat semestinya bisa dikobarkan. Tantangan, kendala, naik turun kehidupan akan ada disetiap usia. Pemuda yang diharapkan tidak mudah menyerah. Kecewa adalah hal biasa, bagian dari kehidupan , ada masanya bahagia- ada masanya kecewa. Jangan karena kecewa maka berhenti berkarya, jangan takut dewasa hingga tidak kemana mana, tidak berbuat apa apa
Kekhawatiran saya akan lagu ini, jadi “MANTRA” yang menyelusup ke alam bawah sadar pada pemuda yang sebenarnya diharapkan banyak orang akan membawa banyak perubahan kebaikan, yang sebenarnya mempunyai potensi keunggulan, malah dikerdilkan dengan terus menerus mengamini tentang “Takut Dewasa” ini, hingga jadi SUGESTI & JUSTIFIKASI mereka untuk malas bertumbuh, bersembunyi dari dunia, terus terusan menggalau, malasa bertanggungjawab dalam mengambil peran dalam kehidupan
Sebuah lagu bisa berpengaruh dalam alam sadar seorang manusia, apalagi bila terus di dengung dengungkan. Bukan berarti tidak boleh jujur akan kata hati, tapi tentang sadar sepenuh hati, apa yang akan mempengaruhi jiwa, hati dan fikrian kita atas apa yang kita baca dan kita dengar …
So, para pemuda JANGANLAH TAKUT DEWASA, karena menjadi DEWASA adalah sebuah kemuliaan, anugrah, kesempatan untuk menjadi MANUSIA yang PARIPURNA. Manusia yang mau terus bertumbuh, siap jatuh dan bangun, siap untuk menjelang dunia yang penuh warna
Menjadi DEWASA adalah saatnya untuk tahu apa, mengapa & bagaimana, mau kemana diri kita. Menjadi DEWASA adalah kesempatan untuk bisa menyebarkan KEBAIKAN seluas luasnya untuk diri sendiri, keluarga & banyak orang. Menjadi DEWASA adalah saat yang tepat untuk mei, menemukan makna, dan memunculkan versi terbaik diri kita.
So, Ganti kalimat “Takut Jadi Dewasa” menjadi “Aku Mau Jadi Dewasa …!”
Pernah ga sih kita bertanya, tantang apa sih yang dibutuhkan otak kita ?
Kita semua pasti tahu, bahwa otak adalah tempat masuknya informasi, sekaligus tempat dimana informasi tersebut di proses, yang kemudian hasil olahan informasi itu membuahkan pikiran dimana kita mengambil berbagai macam keputusan kehidupan dari pikiran tersebut.
Nah, oleh karena itu kita perlu rasanya memperhatikan informasi apa yang masuk ke dalam otak. Setuju ?
” Yes indeed, We Need To Be Carefull To What See And Hear About….”
Bila kita begitu selektif memilih makanan yang masuk pada tubuh, maka seharusnya kita pun melakukan hal yang sama -bahkan lebih- saat memberi “makanan” kepada otak. Sayangnya kita masih abai dan cendrung tidak selektif akan apa yang masuk kepada otak kita. Bener gak ..?
Padahal bukankah otak itu adalah organ penting dalam hidup manusia, karena dari sanalah kita bisa berfikir, bernalar, berkomunikasi, mensikapi & memecahkan masalah, mengambil keputusan , membuat berbagai ide gagasan dan sebagainya. Karena apa yang masuk kepada otak kita bisa menjadi “Panduan” kita dalam menjalankan kehidupan.
Bila otak selalu kita “Suapi” dengan berbagai informasi informasi sampah, “Junk Information” maka itu akan membuat otak dan pikiran kita dangkal atau tidak bisa berfikir jernih dan mendalam, mudah goyah, tidak ajeg, dsb. Sama seperti tubuh, bila terus mengkonsumsi makanan sampah, maka kita pun akan mudah terserang penyakit, atau imun tubuh menjadi lemah.
Begitu pun otak, bila yang kita konsumsi kebanyakan hanya informasi informasi sampah, maka pikiran kita akan tumpul, nalar menjadi tidak tajam, mudah kebingungan, tidak ajeg, dan menjadi gampang terbawa arus, tidak punya prinsip, pendirian, dan tujuan. Ga mau kan …?
Pertanyaannya … bila hanya informasi informasi dangkal tersebut yang kita konsumsi, apakah kita bisa menjadi manusia matang yang bisa bijak dalam menentukan langkah, mengambil keputusan, membuat ide dan gagasan besar nan bermanfaat …?
Maka, yuks kita mulai belajar berhati hati dalam memberikan makanan pada otak kita, karena apa yang kita masukan baik secara sengaja ataupun tidak sengaja, baik sadar ataupun tidak sadar pada otak kita, akan mengendap, dan akhirnya menjadi pola pikir juga buah pikir.
Bukankah pola pikir itu sangat penting dalam diri seseorang ?
Bila banyak yang kita konsumsi hanya info info serampangan, gosip gosip pasaran, peristiwa peristiwa acak, receh, asal viral, asal rame dan menyenangkan, informatif sih … tapi tidak bertujuan, lalu apakah itu sehat untuk otak dan pikiran kita ? Apa yang di harapkan dari informasi informasi tersebut ?
Kita abai untuk mulai belajar membaca informasi atau ilmu yang berkualitas, informasi yang memberi makanan sehat dan vitamin bagi otak dan pikiran. Kita tidak memberikan otak dengan ilmu yang mendasar dan mendalam, yang bisa memperteguh pikiran juga hati. Kita merasa tidak perlu membaca buku, mendengarkan para guru. Padahal dari hal inilah kita bisa membentuk pola berfikir yang baik.
Maka ada baiknya kita mulai menyaring apa yang akan masuk kepada otak, melalui pendengaran dan penglihatan. Jangan dianggap remeh, karena hal ini bisa mempengaruhi hidup kita.
Ingin hidup berkualitas, maka mulailah belajat memilah informasi yang kita dengar apa yang kita baca. Belajar agar penglihatan dan pendengaran kita lebih banyak melihat dan mendengar hal yang akan jadi ilmu, pelajaran, dan hikmah yang baik.
Tidak semudah yang dikatakan memang, namun sangat layak mulai kita belajar untuk memulai dan menjalankan …. 🙂
Bukankah ada pula sebuah ayat Al Quran yang menyatakan bahwa
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. al-Israa’ : 36)
—
Bandung, 04 Oktober 2019
Ah …lagi lagi ini nasihat buat diri saya sendiri, yang masih sering lalai pada penglihatan, pendengaran dan juga hati ….