Perlukah Selalu Membuat Resolusi ?

Blog pertama di tahun 2020 …

Setelah lama “sok sibuk” dengan beberapa urusan dan setelah itu dilanjutkan dengan aroma liburan yang cukup membuat sedikit enggan untuk membuka laptop, akhirnya kita bertemu lagi …..

Ahh selamat datang tahun baru, lebih tepatnya selamat datang kalender baru …hhe.

Seperti biasa, dia wal tahun ini orang orang yang beramai ramai menyatakan tentang resolusinya. Memang, moment pergantian tahun adalah salah satu cara yang pas untuk membuat resolusi, harapan, rencana atau pencapaian. Semacam ada euforia atau energi yang baru saat kita menuliskan apa saja yang ingin dicapai di awal pergantian tahun.

Namun di tahun ini saya memilih untuk tidak membuat resolusi yang besar besaran, saya memilih untuk lebih banyak mengevalusi diri atas perjalanan hidup yang telah selama ini dilalui.

Rasa rasanya bila kita hanya berfokus kepada keinginan pencapaian diri, namun abai terhadap pentingnya mengevaluasi diri, maka kita hanya akan menjadi manusia pemimpi yang senang dan terbuai dengan angan angan, namun lupa untuk menjadi manusia yang perlu untuk berfikir evaluatif dan senatiasa berkeinginan memperbaiki diri.

Barangkali karena selama ini kita begitu banyak di “infiltrasi” dengan kalimat kalimat dari quotes para motivator seperti ini : “Apa impianmu tahun ini ….” ; “Apa yang ingin kamu punyai ditahun ini” ; ” Berapa income yang ingin kamu punyai tahun ini…” dan lain sebagainya.

Rasanya jarang yang meneriakan : “Apa kesalahanmu tahun lalu ….” ; “Apa yang hendak kau perbaiki tahun ini….” dan semacamnya

Tidak salah memang, namun saat berlebihan dan tidak pada tempatnya, maka kita akan menjadi manusia yang hanya pandai berangan angan.

Padahal evaluasi diri adalah modal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menyadari kesalahan kesalahan baik tingkah, laku, rasa, cita, karsa, pemahaman, sudut pandang, nilai yang dipilih, dll. Belum lagi evaluasi dalam kita mengambil langkah, keputusan, pilihan pilihan hidup dan lain sebagainya, yang selama ini masih terasa masih salah, kurang tepat atau belum bijak.

Ah kalau di bikin list perbaikan diri, banyak sekali rupanya yang perlu diperbaiki dari diri ini, dari hal yang kecil sampai hal yang besar …

Evaluasi pun tentang bagaimana kesyukuran kita terhadap hal hal yang telah berhasil kita lakukan, ujian yang mempu kita lewati, tantangan yang mampu kita jawab, kesabaran yang berhasil kita lakukan, juga kebajikan yang mampu kita tanam.

Keduanya kita jadikan catatan untuk langkah kehidupan selanjutnya. Apa apa yang telah baik, dan tercapai kita lanjutkan, luaskan dan naikan.

Apa apa yang masih belum tercapai, kita telisiki apa yang membuat hal itu belum tercapai.

Bertanya kepada diri , kenapa hal ini berhasil ? dan kenapa hal lain belum tercapai. Selalu bertanya tentang KENAPA adalah cermin kemawasan diri

Mencermati apa yang menjadi prosesnya, bukan hanya tentang hasil akhirnya …

Semoga selalu diberikan kesadaran dan kekuatan untuk mampu melihatdan mengakui adanya ketidaktepatan dalam pikiran, rasa atau pensikapan, kemdian bersuyukur akan pencapaian, keberhasilan dan kebaikan yang telah mampu kita lakukan. Kemudian mengambil hikmah, pelajaran, dan kebajikan dari keduanya.

Ah satu lagi, agar diberikan ke-Ridha-an atas apa apa yang telah terjadi, terutama atas perkara yang diluar dari kendali kita, diluar kuasa kita. Karena ada banyak hal juga yang tidak langsung akan kita ketahui apa maksud dan makna di balik semua perstiwa. Bersabarlah ….

Tulisan ini bukanlah cerminan akan pesimisme atau keengganan untuk lebih berdaya, justru catatan ini -bagi saya pribadi- adalah wujud optimise dipadu dengan penyadaran diri.

Bila ada sedikit resolusi sederhana di tahun ini, barangkali ini yang utama :

Bisa tidur lebih awal dan bangun lebih awal, hingga bisa terus menemui-Nya di sepertiga malam. Aamiin yaa rab …

Fn : Sebuah catatan pengingat diri, semoga bermanfaat juga bagi kamu, iyaa kamu …. 🙂

2 Januari 2020

Dari

Bandung Yang Sedang Hujan Hujannya

Adakah Penerbit Buku Di Luar Jawa ?

Permasalahan utama yang di hadapi masyarakat Indonesia dalam hal pendidikan, atau lebih spesifik lagi dalam budaya membaca adalah karena sangat terbatasnya askes baca masyarakat.

Indonesia adalah negara kepulauan, ribuan pulau yang tersebar, menjadikan penduduk pun tersebar dari ujung barat ke ujung timur Indonesia. Sedangkan penerbit buku yang ada hanya terpusat di pulau Jawa, bisa dibilang tidak ada penerbit buku yang berasal dari pulau lain. Hal ini bisa menjadi penyebab kenapa pendidikan diluar jawa jauh tertinggal, karena akses buku yang sangat terbatas.

Buku buku yang ada hanya bersifat buku pelajaran. Untuk mendapatkan buku bukuu di luar buku pelajaran, seperti buku agama, buku self helf, buku keterampilan, sejarah, pengetahuan umum, tekhnologi, dll, hampir semuanya harus di dapatkan dari Pulau Jawa.

Adapun toko toko buku di luar Pulau Jawa, sifatnya hanya menyediakan saja. Ini berakibat pada mahalnya harga buku. Selain mahal, jarak juga menjadi kendala, toko toko buku bacaan hanya ada di Ibu kota provinsi saja. Makin sulitlah masyarakat pedalaman untuk bisa mengakeses buku bacaan berkualitas. Bisa ditarik benang merahnya, kenapa pendidikan di luar Pulau Jawa banyak tertinggal, karena terbatasnya aksese pendidikan, dalam hal ini akses terhadap buku buku bacaan berkualitas.

Seorang kawan di NTT sana pernah bercerita, untuk mendapatkan buku buku bacaan berkualitas, bisa didapat ketika mereka sedang berkunjung ke Bandung, Jakarta, Surabaya atau Makasar. Saat itulah kesempatan untuk mendapatkan buku buku bacaan yang bisa menjadi asupan yang baik untuk kualitas kehidupan mereka.

Cita cita kami di Nusantara Membaca, semoga kelak lima tahun kedepan, kami bisa mendirikan penerbit buku di luar Pulau Jawa, NTT, Sulawesi, Papua dll. Agar semua masyarakat memiliki hak yang sama, kemudahan yang sama, dalam membaca buku, mendapatkan ilmu, menjadi masyarakat yang lebih berpendidikan dan  hidup yang lebih sejahtera, Aammin…

18999_882612508427840_2040427344414153421_n