Membaca Membawaku Berkeliling Indonesia

Ini adalah tulisan saya di sebuah buku “The Magic OF Reading”, sebuah antalogi yang diprakarasi oleh Mas Ahmad Rifa’i Rifan dengan beberapa penulis lainnya. Nah, di blog pribadi ini, saya ingin berbagi tentang apa yang saya tulis di buku tersebut. Berbagai pengalaman perjalanan, cerita dan makna dalam setiap langkahnya. Selamat Membaca !

Membaca Membawaku Berkeliling Indonesia
Oleh: Nuriska Fahmiany

Bionarasi: Seorang visioner, penuh semangat dalam bidang sosial, pengembangan manusia dan komunitas. Pendiri Kebukit Indonesia, praktisi Talents Mapping.

Sebenarnya, saya sudah lupa apa bacaan pertama saya. Yang jelas, bacaan pertama saya adalah buku-buku dan majalah-majalah milik almarhum ayah saya. Beliau adalah seorang guru dan penulis, yang tulisannya sering dimuat di majalah-majalah keguruan sekitar tahun 1980-an.

Saat itu, saya masih usia sekolah dasar. Bacaan-bacaan tersebut sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa, membahas dunia pendidikan, kebijakan pemerintah, dan sebagainya. Tapi entah mengapa, saya menikmatinya.

Bacaan lain yang saya ingat adalah buku Sejarah Gereja — bukunya masih ada sampai sekarang. Entah kenapa ayah saya memiliki buku itu. Waktu itu saya tidak memahami isinya, tapi tetap saya baca saja… hehe.

Ketersediaan buku-buku milik almarhum ayah membuat saya terbiasa membaca, tumbuh bersama buku-buku di rak ayah, menikmati suara mesin tik saat beliau menulis di malam hari, membaca naskah dan puisi-puisinya — semuanya masih terekam jelas dalam ingatan. Tulisan-tulisan beliau hingga kini masih saya simpan dengan baik.

Kebiasaan membaca terus memengaruhi saya saat remaja. Di masa SMA, saya gemar membaca cerita-cerita fiksi seperti Animorphs, Goosebumps, Chicken Soup, dan sejenisnya. Di sekolah, saya bahkan menjadi sumber referensi buku pelajaran. Saya dengan senang hati menjadi koordinator pembelian buku pelajaran. Saya mencatat siapa saja yang ingin membeli buku, lalu mencarinya di Toko Buku Palasari Bandung, pusat buku saat itu.

Saat beranjak dewasa, kecintaan saya pada membaca semakin kuat. Ketika kuliah, saya mulai mengoleksi buku dari berbagai genre: fiksi, sejarah, novel, pengembangan diri, dan lain-lain. Saya pernah bermimpi memiliki perpustakaan dengan kedai kopi — yang hingga kini belum terwujud… hehe. Namun, cita-cita lain justru tercapai, bahkan lebih besar: saya bisa berkeliling Indonesia.

Membaca membuat saya memiliki mimpi besar, menjadi seorang pemimpi — yang belakangan saya tahu memiliki istilah lain: visioner. Saat kuliah, saya menginisiasi komunitas literasi bersama teman-teman yang juga mencintai buku. Komunitas ini bernama Kebukit (Kelola Buku Kita). Misinya sederhana: membuat lebih banyak orang gemar membaca.

Awalnya hanya di Bandung, kemudian kami mulai merambah daerah lain seperti Garut, Sumedang, Subang, dan lainnya. Kami mengumpulkan buku dari para donatur lalu membagikannya ke daerah-daerah terpencil secara mandiri, bersama para relawan. Selain itu, kami juga menyelenggarakan pelatihan untuk “menularkan virus membaca”.

Setelah lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan, saya tetap aktif mengembangkan komunitas ini. Berkat jalan yang dibukakan oleh Allah, Kebukit mendapatkan kesempatan berkeliling Indonesia selama lima tahun berturut-turut bersama Kementerian Kesra saat itu, membawa misi literasi.

Dari situ, wawasan saya tentang Indonesia semakin terbuka. Di satu sisi saya melihat betapa kayanya negeri ini, tetapi di sisi lain saya menyaksikan betapa miskinnya Indonesia dalam hal buku, kesempatan membaca, dan akses pendidikan yang layak.

Pengalaman berkeliling Indonesia menyadarkan saya akan ketimpangan pendidikan yang dialami anak-anak bangsa. Jomplangnya pendidikan di Pulau Jawa dibandingkan dengan di NTT dan Papua sangat mencolok.

Saya mendengar langsung kisah-kisah perjuangan mendapatkan pendidikan di NTT: sulitnya mendapatkan buku, bangunan sekolah yang tak layak, serta para guru yang tetap semangat di tengah keterbatasan. Semua itu menyadarkan saya bahwa sekecil apa pun, saya harus ambil bagian dalam solusi atas kondisi ini.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membesarkan komunitas Kebukit yang telah saya dan teman-teman bangun. Saya resign dari pekerjaan, dan pada tahun 2019, kami resmi mendirikan Kebukit Indonesia sebagai sebuah yayasan berbadan hukum.

Alhamdulillah, meskipun masih tertatih-tatih, Kebukit Indonesia yang lahir dari kecintaan pada buku dan ilmu, kini telah memperluas kiprah melalui program-program pendidikan seperti pendirian sekolah di pulau-pulau terpencil, pelatihan peningkatan kualitas guru, beasiswa untuk mahasiswa asal Indonesia Timur, dan masih banyak lagi. Allahu Akbar.

Ternyata, membaca tidak hanya membawaku keliling Indonesia. Lebih dari itu, membaca memberiku pandangan akan potensi dan permasalahan negeri ini. Membaca menyadarkan bahwa aku harus turut menjadi bagian dari solusinya. Membaca memberiku ruang untuk berkarya bagi Indonesia, serta peluang untuk beribadah melalui aksi nyata di bumi Allah. Allahu Akbar.

Terima kasih ya Allah, Engkau jadikan hamba ini cinta membaca !

Rindu Bertualang

Ahh… saya lagi rindu kembali bertualang, menjelajah tanah tanah yang jauh, menapaki bumi Allah yang ada di ujung sana, bertemu mereka yang belum pernah kutemui. Hidup memang butuh keseimbangan, butuh pengaturan, butuh keteraturan.

Banyak hal yang memang pelu kita kerjakan, berdiam, berjuang dengan rutinitas, karena memang hidup butuh keseimbangan.

 

Ini adalah memori di kepulauan Halmahera, menyusuri pulau pulau kecilnya memakai perahu kecil, tanpa palampung dan tidak juga bisa berenang. Namun sungguh kami seolah olah diberikan keberanian lebih  untuk melampauinya.

Ah saya rindu kembali menjelajah ……

 

 

 

 

[Keping 1] Pulau Buru, Pulau Emas yang Tersembunyi

Pulau Buru, pulau yang pertama kali saya injak di tahun 2012 ini, adalah salah satu pulau yang tergolong besar di Kepulauan Maluku, dengan kota besar yang terdekat adalah Ambon dengan jarak tempuh menggunakan semacam kapal Fery, apabila menggunakan kapal cepat kurang lebih membutuhkan waktu empat jam.

Tahun 2012 saya bekesempatan berkeliling beberapa pulau di Indonesia menggunakan KRI Banda Aceh. Pulau Buru adalah pulau ketiga yang rombongan kapal kunjungi setelah Pulau Flores(Kota Maumere), dan Pulau Lembata. Perjalanan panjang yang lumayan di tempuh dari Lembata ke Pulau Buru ini menghabiskan waktu kurang lebih dua hari mengarungi dan melewati laut Banda yang terkenal sebagai salah satu laut dalam di Indonesia.

Pulau Buru mugkin belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, tapi untuk mereka yang senang sejarah pasti tau, pulau Buru ini pada masa lalu adalah Pulau pembuangan para pemberontak aktivis aktivis PKI, dan pulau ini adalah salah satu Pulau di mana Bapak proklamator Indonesia pernah diasingkan.

Kesan pertama melihat dermaga  pulau ini yang menjadi gerbang masuk, sekilas sama dengan pulau pulau yang kami kunjungi sebelumnya. Namun beberapa langkah memasuki pulau ini, saya menemui banyak kejutan yang sangat berbeda dengan pulau pulau yang kami kunjungi sebelumnya ….

Bersambung

” Jalesveva Jayamahe “

Salah satu kenikmatan dalam sebuah perjalanan adalah, bahwa kita bertemu dengan orang orang baru dengan latar belakang berbeda, mendengar kisah kisah yang tidak pernah kita bayangkan, meluaskan pandangan kita, menambah rasa syukur, mengambil pelajaran berharga, belajar dari mereka.

Seperti saat itu, saat berkespatan lagi pergi dengan kapal perang KRI Banda Aceh 593, menuju Sulawesi dalam program NUSANTARA MEMBACA GOES TO SULAWESI.

Dalam perjalanan saya berkesempatan berbincang bincang dengan seorang Mayor kapal, Pa Priyo namanya, kami bincang bincang sederhana, tentang lautan Indonesia. Pa Priyo adalah seorang anggota TNI AL, yang sudah belasan tahun bertugas menjaga lautan Indonesia. Ia bercerita tentang betapa luasnya lautan kita, ribuan pulau, dengan jutaan pesona baik di permukaan, pantai, juga di dalam lautan itu sendiri.

Ribuan pulau, juga perairan luas yang berbatasan dengan lebih dari satu negara, nahkan benua. Beliau bercerita, kondisi seperti ini seperti dua sisi mata uang, bisa jadi sebuah anugrah, bisa juga menjadi ancaman. Anugrah yang besar ketika kita mampu untuk menjaganya, dan menjadi ancaman ketika kita tidak benar benar menjaga perairan
Indonesia, yang menjadi pintu masuk negara lain yang “menginginkan” kekayaan negara kita.

Beliau bercerita lebih dalam, bahwa jumlah angkatan laut saat ini, tidak sebanding dengan banyaknya pulau dan perairan yang mesti di jaga, terutama di daerah perbatasaan. Perairan Indonesia sangat luas, butuh angkatan laut yang kuat baik kualitas dan kuantitas. Dengan mata yang menerawang keatas, beliau berujar panjang lebar “Dek Riska, bayangkan luas nya laut kita, barat, timur, utara, selatan, namun pangkalan laut yang besar hanya ada di Jakarta dan Surabaya, segala alat kelengkapan ada disana, padahal perairan mana yang perlu dijaga? ada di Timur Indonesia, Selatan Indonesia, Utara Indonesia, yang jaraknya jauh dari Surabaya, jauh dari Jakarta. Bayangkan ketika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di wilayah Timur misalnya, kita harus lama menunggu bantuan yang datang dari Jakarta atau Surabaya”

Mendengar penuturan beliau, seakan membukakan mata saya lebar lebar, tentang kenyataan yang ada. Empat tahun terakhir ini saya mengunjungi bebarapa pulau di Indonesia, dari perairan Mentawai, NTT, Papua, hingga ke perbatasaan Indonesia-Filipina, benar adanya, bahwa di pulau pualu tersebut, pangkalan angkatan laut nya sangat terbatas, hanya berupa kantor perwakilan saja. Adapun penjagaan dari para TNI AL yang bertugas hanya beberapa kapal saja, tidak bisa “mengcover” wilayah Indonesia yang sangat sangat luas.

Satu lagi dek riska, yang kadang menjadi keresahan saya. Banyak negra lain menawarkan untuk melakukan penelitian terhadap kekayaan perairan bawah laut kita, dengan tawaran bahwa apabila penelitian ini berhasil, maka akan membawa kesejahtraan banyak untuk negara kita

Beliau terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ” Namun kita tak pernah tau, siapa mereka yang benar benar ingin memberi bantuan pada negara kita, atau ternyata mereka adalah yang memang mencari informasi kekayaan, atau peta kekuatan bangsa kita” 

“Negara kita negara yang sangat kaya, banyak yang mengingingkannya” kalimat terakhirnya begitu dalam, matanya berkaca kaca, seperti tak sanggup melanjutkan. Dia menutup percakapn kami dengan curahatan hati nya ” Kalau memikirkan hal ini, saya kadang sangat sedih, sungguh dek riska. Tapi ada daya, saya hanya prajurit, tak bisa berbuat banyak” dan akhirnya pun kami hanya diam seraya mendengarkan ombak malam yang menghempas buritan kapal.

Percakapan malam itu, meninggalkan semacam kesan dan pesan untuk saya. Entahlah, masih banyak PR untuk Bangsa kita ini. Bila saja anak anak muda diperkenalkan mengenai tugas mulia para tentara, apalagi mereka yang ditempatkan diperbatasan, dan betapa lautan Indonesia ini butuh banyak sekali prajurit yang kuat, yang cerdas, yang sepenuh hati menjaga tanah air kita ini. Sungguh, kita butuh banyak.

Salam ta’dzim untuk para pengabdi negara, yang seringkali berpisah dengan keluarga, berbulan bulan, mengarungi lautan, untuk menjaga Nusantara :

JALESVEVA JAYAMAHE

 

img_8744

Bersama Bapak Komandan Laut KRI Banda Aceh 593