Selat Sagawin

sagawin

 

 

Sore itu, kapal KRI 592 kami, akan segera memasuki perairan Raja Ampat, Sorong. Tidak seperti biasa, sore itu tidak banyak peserta Ekspedisi yang mengejar matahari tenggelam di anjungan. Karena mungkin faktor kelelahan setelah belasan hari berkeliling pulau pulau sebelumnya.

Speaker di anjungan menginfokan bahwa kapal memasuki wilayah Selat Sagawin,selat kecil yang menjadi salah satu jalan memasuki perairan Sorong. Sore itu saya berinisiatif sendiri menaiki anjungan luar, untuk melihat pemandangan selat. Diatas ternyata hanya ada dua orang teman yang sudah siap dengan kameranya. Suasana pun tidak terlalu riuh.

Kami bertiga bercakap cakap ringan sembari menikmati selat yang sangat senyap, sepi, dan menawan. Terdengar suara kapal membelah selat, laut sangat tenang, samping kiri kanan kami pulau yang hampir tidak berpenghuni terhampar, sesekali hanya ada burung burung laut yang berkicau dari kejauhan. Menikmati selat sempit, menuju lautan lepas di depan, ditemani angin laut yang membelai wajah wajah kami, adalah sebuah kemewahan. Akhirnya kami tak banyak bicara, hanya menikmati saja apa yang di sajikan Tuhan dihadapan.

 

Satu kata saja : Syahdu. Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya

Awan

Sesaat gumpalan putih itu menghampiri dalam rupanya yang sangat cantik, ia mendekat dan kami tercekat

 

Fn : Memori saat mengelilingi Indonesia, Tahun 2012 menggunakan kapal KRI Banda Aceh 593

” Jalesveva Jayamahe “

Salah satu kenikmatan dalam sebuah perjalanan adalah, bahwa kita bertemu dengan orang orang baru dengan latar belakang berbeda, mendengar kisah kisah yang tidak pernah kita bayangkan, meluaskan pandangan kita, menambah rasa syukur, mengambil pelajaran berharga, belajar dari mereka.

Seperti saat itu, saat berkespatan lagi pergi dengan kapal perang KRI Banda Aceh 593, menuju Sulawesi dalam program NUSANTARA MEMBACA GOES TO SULAWESI.

Dalam perjalanan saya berkesempatan berbincang bincang dengan seorang Mayor kapal, Pa Priyo namanya, kami bincang bincang sederhana, tentang lautan Indonesia. Pa Priyo adalah seorang anggota TNI AL, yang sudah belasan tahun bertugas menjaga lautan Indonesia. Ia bercerita tentang betapa luasnya lautan kita, ribuan pulau, dengan jutaan pesona baik di permukaan, pantai, juga di dalam lautan itu sendiri.

Ribuan pulau, juga perairan luas yang berbatasan dengan lebih dari satu negara, nahkan benua. Beliau bercerita, kondisi seperti ini seperti dua sisi mata uang, bisa jadi sebuah anugrah, bisa juga menjadi ancaman. Anugrah yang besar ketika kita mampu untuk menjaganya, dan menjadi ancaman ketika kita tidak benar benar menjaga perairan
Indonesia, yang menjadi pintu masuk negara lain yang “menginginkan” kekayaan negara kita.

Beliau bercerita lebih dalam, bahwa jumlah angkatan laut saat ini, tidak sebanding dengan banyaknya pulau dan perairan yang mesti di jaga, terutama di daerah perbatasaan. Perairan Indonesia sangat luas, butuh angkatan laut yang kuat baik kualitas dan kuantitas. Dengan mata yang menerawang keatas, beliau berujar panjang lebar “Dek Riska, bayangkan luas nya laut kita, barat, timur, utara, selatan, namun pangkalan laut yang besar hanya ada di Jakarta dan Surabaya, segala alat kelengkapan ada disana, padahal perairan mana yang perlu dijaga? ada di Timur Indonesia, Selatan Indonesia, Utara Indonesia, yang jaraknya jauh dari Surabaya, jauh dari Jakarta. Bayangkan ketika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di wilayah Timur misalnya, kita harus lama menunggu bantuan yang datang dari Jakarta atau Surabaya”

Mendengar penuturan beliau, seakan membukakan mata saya lebar lebar, tentang kenyataan yang ada. Empat tahun terakhir ini saya mengunjungi bebarapa pulau di Indonesia, dari perairan Mentawai, NTT, Papua, hingga ke perbatasaan Indonesia-Filipina, benar adanya, bahwa di pulau pualu tersebut, pangkalan angkatan laut nya sangat terbatas, hanya berupa kantor perwakilan saja. Adapun penjagaan dari para TNI AL yang bertugas hanya beberapa kapal saja, tidak bisa “mengcover” wilayah Indonesia yang sangat sangat luas.

Satu lagi dek riska, yang kadang menjadi keresahan saya. Banyak negra lain menawarkan untuk melakukan penelitian terhadap kekayaan perairan bawah laut kita, dengan tawaran bahwa apabila penelitian ini berhasil, maka akan membawa kesejahtraan banyak untuk negara kita

Beliau terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ” Namun kita tak pernah tau, siapa mereka yang benar benar ingin memberi bantuan pada negara kita, atau ternyata mereka adalah yang memang mencari informasi kekayaan, atau peta kekuatan bangsa kita” 

“Negara kita negara yang sangat kaya, banyak yang mengingingkannya” kalimat terakhirnya begitu dalam, matanya berkaca kaca, seperti tak sanggup melanjutkan. Dia menutup percakapn kami dengan curahatan hati nya ” Kalau memikirkan hal ini, saya kadang sangat sedih, sungguh dek riska. Tapi ada daya, saya hanya prajurit, tak bisa berbuat banyak” dan akhirnya pun kami hanya diam seraya mendengarkan ombak malam yang menghempas buritan kapal.

Percakapan malam itu, meninggalkan semacam kesan dan pesan untuk saya. Entahlah, masih banyak PR untuk Bangsa kita ini. Bila saja anak anak muda diperkenalkan mengenai tugas mulia para tentara, apalagi mereka yang ditempatkan diperbatasan, dan betapa lautan Indonesia ini butuh banyak sekali prajurit yang kuat, yang cerdas, yang sepenuh hati menjaga tanah air kita ini. Sungguh, kita butuh banyak.

Salam ta’dzim untuk para pengabdi negara, yang seringkali berpisah dengan keluarga, berbulan bulan, mengarungi lautan, untuk menjaga Nusantara :

JALESVEVA JAYAMAHE

 

img_8744

Bersama Bapak Komandan Laut KRI Banda Aceh 593