Mengerikannya Dunia Judi Online!

Selama ini kita mungkin hanya mendengar tentang bahayanya judi online yang memakan banyak korban. Nah di film ini kita mendapatkan gambaran tentang bagaimana serius & sistematisnya JUDI ONLINE, betapa kejam sistem kerja didalamnya, dan bagaimana korban korban judi online ini hancur kehidupanya

NO MORE BETS ! film yang diangkat dari kisah nyata, menceritakan tentang orang orang yang tertipu, terjebak & terpaksa bekerja dalam perusahan jaringan judi online, pinjaman online & scammer.

Filmnya dimulai dari sejumlah anak muda China yang ditawari untuk bekerja di perusahaan Singapore dengan dijanjikan gaji & fasilitas yang menggiurkan. Ditengah perjalanan ternyata mereka diculik dan diselundupkan ke negara lain -dalam beberapa artikel disebutkan negara tersebut adalah Kamboja- . Kemudian mereka dibawa ketempat tersembunyi & dipaksa untuk mau bekerja untuk perusahaan jaringan judi online tersebut.

Di scene lainnya, ada seorang model wanita China yang mendadak di pecat dari perusahaannya. Singkat cerita kemudian seorang kawannya manawarkan ia pekerjaan yang menjanjikan diluar negri. Seperti kisah beberapa laki laki sebelumnya, sang perempuan ternyata dijebak dan dipaksa untuk bekerja di perusahaan judi online yang sama.

Kemudian digambarkanlah bagaimana begitu sistemtis & terstukturnya meraka menjalankan bisnisnya, dengan adanya jenjang2 kerja, pembagian tugas, skenario, penentuan timing, dsb. Digambaran pula bagaimana kejamnya sistem kerja kepada para karyawan2 di dalamnya, yang mana sebagaian besar dari merekapun di jebak untuk bekerja disana

Diceritakan pula tentang seorang laki laki muda terpelajar, yang awalnya iseng iseng ikut judi online. Lama kelamaan ia masuk lebih dalam, terjerat, dan tidak bisa lagi keluar karena sudah dalam tahap ketagihan. Tidak hanya harta bendanya saja yang habis, namun sampai harta kelurga besarnya ia gadaikan. Belum lagi ia nekad meminjam dana yang cukup besar dari pinjaman online demi taruhan, yang sebenarnya masih satu perusahaan dengan perusahaan judi online dimana ia terjerat. Benar benar lingkaran setan !

Film ini membuat saya pribadi merasa ngeri, prihatin sekaligus kasihan, tidak hanya kepada para korban tapi juga kepada para pekerja judi online. Yang di film diceritakan, bahwa hampir sebagian besar mereka dijebak, dipaksa, bahkan diancam untuk bekerja. Mereka ditempatkan di tempat antah berantah, yang membuat meraka tidak bisa kemana mana. Dengan pengamanan yang ketat dan penjaga bersenjata, dan apabila berbuat kesalahan sedikit saja atau melawan, siksaannya tiada ampun, sampai dikurung seperti binatang.

Saya jadi teringat berita beberapa tentang sejumlah warga Indonesia yang disekap di negara Kamboja, dan dipaksa untuk menjadi scammer. Betapa mereka tidak berdaya, dan butuh proses yang sangat susah untuk meminta tolong dan memberitahuan keadaan mereka untuk minta diselamatkan.

Dalam hati saya, orang orang ini (pemilik jaringan judi online) patut disiksa seberat beratnya kelak di neraka, karena meraka berhasil manghancurkan banyak orang, merebut tidak hanya harta benda, tapi juga menghancurkan keluarga, pernikahan, dan kehidupan seseorang. Karena kalau hukuman di dunia, entahlah apa mereka benar bisa dihukum seberat beratnya atau tidak.

Film ini recomended untuk ditonton sih ! Agar kita lebih mawas, lebih waspada

Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya lebih prihatin lagi, ternyata negara kita Indonesia, menempati urutan pertama sebagai “konsumen” judi online…Astagfirullahaladzim

Entah apa alasannya atau bagaimana awalnya Negri kita menjadi peringkat pertama. Apakah murni karena faktor ekonomi, atau bisa jadi karena tingkat pendidikan, atau bisa terkait tingkat literasi kita yang rendah, sehingga mereka yang terjebak, merasa judi online adalah jawaban atas permasalahan permasalahan yang meraka hadapi & bisa mewujudkan impian impian mereka dengan cara yang instan. Atau mereka belum sadar betapa mengerikannya apabila sudah masuk dan terjebak!

Kemudian bertanya dalam hati, apa langkah pemerintah untuk mengatasi permasalahan besar ini? entahlah, bagi kita masih menjadi tanda tanya besar. Padahal pemerintah dengan segala kemampuannya untuk membuat peraturan dan keputusan untuk menyelamatkan Masyarakatnya. Wallau’alam bissawab…

Bila harus kembali kepada apa yang bisa kita kontrol, mungkin jawabannya adalah saling menjaga diri kita, keluarga & orang orang terdekat kita agar terhindar dari godaan, ajakan, dan jeratan hal hal yang haram sekaligus merugikan dan menyengsarakan baik di dunia juga akhirat.

Happy Watching & Keep Alert !

ANIMAL [ Movie Review ]

MAHALNYA hubungan AYAH – ANAK

Film ini cukup bikin berdebar-debar, dengan akhir yang cukup mengharukan dan hikmah yang menurut saya cukup dalam…

Menceritakan hubungan ayah dan anak yang sama2 ALFA MALE. Tentang sang Ayah yang cukup DINGIN saat sang Anak masih kecil, sangat haus perhatian & ingin berdekat dekat dengan sang Ayah. Karena menurut Sang Ayah, tugas utama Sang Ayah adalah memberi nafkah yang banyak/mengurus bisnis & kedekatan batin dengan Anak diabaikan ….

Rupanya kondisi ini berpengaruh mendalam kepada karakter Sang Anak, yang jadi ALFA MALE juga. Setelah dewasa Sang Anak -dalam bawah sadarnya- ternyata masih berusaha mendapatkan perhatian dari Sang Ayah dengan berbagai cara, sampai dengan cara cara yang mengerikan …

Terlepas dari cerita tentang konflik lain ; persaingan bisnis, permafiaan, dendam antar keluarga, yang paling membekas dari film ini bagi saya adalah tentang HAUSNYA seorang ANAK atas KASIH SAYANG, PERHATIAN, DIANGGAP ADA, & BERHARGA dari seorang AYAH

Walaupun dengan bumbu2 adegan perkelahiannya cukup sadis, tapi yang paling berkesan adalah adegan saat akhirnya terucap kata MAAF dari Sang Ayah. Kemudian adegan Sang Anak yang super brutal, nangis sesegukan saat dipeluk, diusap usap kepalanya oleh seseorang sosok AYAH yang bukan Ayahnya ….

Para orangtua, calon orangtua, nonten dehh…bagus untuk pelajaran tentang MAHALNYA hubungan AYAH – ANAK …

Pas Butuhnya Aja [ Bagian 1 ]

” Ah … dia mah datang pas butuhnya aja ”  mungkin kalimat itu pernah terucap dari bibir kita atau setidaknya pernah terlintas dalam hati kita, ketika ada seorang teman yang kita merasakan melupa kita, ketika dia suka, atau ketika ia telah berjaya.

Padahal ketika dia merana, dia selalu ingin bersama kita. Berwaktu waktu ia mengampiri kita, bercerita segala cemas, berupa gundah gulana, berbagai luka dan duka, dan kita selalu menyetia ada untuk nya.

Namun setelah badai yang ia rasakan telah berlalu, ia pun juga berlalu, melupa. Ia tak lagi menyapa kita, bahkan tak mau tau dengan hidup kita, diam, tak peduli dan menyibuk dengan dunia nya. Luka ia bagi dengan kita, namun ketika bahagia atau suka, ia rasa tak pantas untuk berbagi dengan kita, dia telah dengan dunianya …

****

Mungkin ini dirasakan oleh beberapa diantara kita, ketika seorang teman berlalu dengan mudah nya. Saat duka dia ingin kita ada, namun saat suka diapun entah kemana, sudah menemukan dunia barunya, lupa dengan siapa dia pernah melalui badai dalam hidupnya.

Saya pernah merasakannya. Ini yang dinamakan pamrih barangkali. Kita menghitung hitung “kebaikan” yang telah kita lakukan kepada orang lain, atau mungkin kita hanya merasa telah berbuat baik. Yang kemudian kita merasa berhak “menutut” ia membalas apa yang telah kita lakukan terhadapnya dengan sepadan.

Kemudian, saya coba melihat kedalam diri lebih dalam lagi, kenapa saya sampai merasa seperti itu, seharusnya ikhlas saja, terhadap apa yang telah kita usahakan untuknya, walaupun balasannya justru berbeda. Jangan jangan saya pun begitu, namun saya tidak menyadarinya.

Atau saya menjadi manusia yang penuh “pamrih”, membisakan diri menghitung hitung kebaikan dan jasa yang telah kita perbuat, sehingga ketika balasan adalah sebaliknya, maka hati kita menjadi sempit.

Padahal sejatinya kebaikan itu akan kembali kepada kita sendiri, dalam berbagai bentuk, entah ia membalas yang serupa atau tidak. Jangan jangan ketika menghitung, mengingat dan menuntut di balas dengan yang sepadan, justru  nilai kebaikan yang pernah kita lakukan menjadi lebur, tak berbekas apa apa untuk kita, dan kita merugi tak mendapat kebaikan dan nilai apa apa.

Manusiawi ? ya memang bisa dibilang sangat manusiwi, karena kita mempunyai berbagai emosi dan reaksi. Namun semoga kita bisa tak berhenti dan menggantungkan diri dari kata “manusiawi”.

Kita harus menguasahakan yang lebih dari itu, memberikan kebaikan kemudian melupakannya. Karena hidup yang sedang kita jalani sekarang ini, pasti ada peran kebaikan orang lain yang bisa jadi tak kita ingat atau kita tau tapi kita lupakan.

Dan yang terpenting yang harus kita garis bawahi, bahwa kebaikan yang mampu kita lakukan adalah atas izin-Nya,  Jadi kenapa kita harus merasa berbalas …

To Be Continued …