Mencari “Ruang Sendiri”

wp

Setelah merasa ada kondisi yang “stuck”, akhirnya saya memutuskan untuk sejenak “menghilang” sejenak dari keramaian, terutama dari keramaianan dunia maya.

Kurang lebih selama empat lima saya memutuskan untuk mengnonaktifkan segala hal yang berhubungan dengan dunia maya, juga mengurangi interaksi dengan keramaian yang ada di dunia nyata. Handphone hanya saya aktifkan untuk telfon dan sms saja, beberapa pertemuan dan janji saya tunda sementara. Saya butuh benar benar sendiri dan butuh ruang sunyi.

Sayangnya ruang sunyi atau sendiri itu ga bisa hanya diam dirumah, mengunci kamar, atau diam semedi di kamar mandi. Malah kalau hanya berdiam diri kita tidak mendapat “apa apa”, tidak mendapat jawaban atau pencerahan yang kita cari. Hanya diam dirumah, mengunci diri, biasanya hanya menghasilkan kejenuhan dan pikiran yang malah tak teratur merajalela.

Akhirnya kemarin saya memutuskan untuk menghampiri “Ruang Sendiri” dengan pergi ke luar kota, yang tak begitu jauh dari kota Bandung. Saya memilih kota yang bisa ditempuh dengan kereta. Karena perjalanan nya sendiri pun kadang kala adalah sebuah tempat untuk berfikir yang nyaman.

Pergi sendiri, melihat suasana baru, berjalan kaki di kota yang baru, berjumpa dengan orang orang baru, sesekali berbicara dengan mereka, membaca buku, membuat catatan catatan ketika ada lintasan pikiran, kesadaran atau pencerahan, dan sisanya adalah benar benar menikmati “Ruang Sendiri”. Tanpa gawai, tanpa banyak percakapan, tanpa banyak gangguan.

Di perjalanan itu saya lebih banyak untuk menilisik diri ( hhaa … bahasanya menelisik)^^, banyak mendengarkan diri, menyimak isi hati, mencari tau apa keinginan terdalam, menggali apa kesalahan diri, mencari tahu apa kesalahan pemikiran dan persepsi yang selama ini di imani.

Saya sangat menikmati saat saat seperti ini, ga sibuk tengok tengok gawai untuk cek notifikasi, ga juga bernafsu untuk mengupdate status saya sedang apa dan lagi dimana, atau memberitakan apa yang sedang saya rasa. Ingin menjadi manusia yang “Present Moment” saja.

Pernah ada yang nanya juga sih, seorang teman tentang kebiasaan saya seperti ini :

” Trus kerjaan kamu gimana , target kamu gimana, kan sayang beberapa hari ga ada kegiatan….?”

Saya rasa dunia ramai dan dunia sibuk itu tidak akan ada habisnya. Apalagi dengan dunia digital yang tak pernah tidur ini. Kita semacam digiring untuk selalu terbuka kepada dunia 24/7, diminta selalu mengikuti setiap informasi yang ada, beromba lomba untuk menampakan diri. Eksisitensi sebagai manusia di cirikan dengan tampak tidak nya dia di timeline. Berlomba lomba untuk menjadi yang pertama tahu, dan yang paling pertama menyebarkan nya pada dunia

Ga salah sih… memang ini zamannya, zaman yang banyak juga kebaikan didalamnya

Namun, saya rasa kita tetap butuh ruang untuk “kembali” kepada diri kita lagi, kembali untuk mengunjungi diri kita lagi, melakukan monolog dengan diri kita sendiri, mengecek kualitas diri kita, dan yang terpenting mengecek bagaimana kualitas diri kita dengan Sang Pencipta.

Dan rasanya itu akan agak berat, saat kita terus menerus dalam keramaian, dalam bertubi tubi nya notifikasi yang tak pernah berhenti, dalam keinginan scroling layar yang membuat ketagihan, dalam percakapan percakapan di keramaian.

Maka bagi saya “Ruang Sendiri” adalah sebuah kebutuhan, untuk sebagai ruang merenung, ruang berfikir, sekaligus ruang untuk memilih dan menyiapkan langkah langkah besar.


Itu dia ceritaku, bagaimana dengan kamu ?

Apakah kamu memiliki “Ruang Sendiri” juga kah … ?

Sharing dong …… 🙂

Salam Dari Kota Bandung,

Yang Sedang Menghangat Udaranya

Ruang Sendiri

Akan selalu ada masa dimana kita membutuhkan “Ruang” untuk menyendiri, ruang yang tidak ada sesiapa dan tidak perlu menjadi sesiapa. Ruang dimana kita bisa meluruhkan segala atribut dunia, melepaskan segala peran yang ada, meletakan rupa rupa topeng dunia, ruang dimana ini tentang diri kita saja.

Ruang dimana kita bisa apa adanya menyikapi duka dan bahagia, ruang dimana kita bisa mengaku sepedih pedihnya rasa, dan sebuncah syukur jiwa. Ruang dimana tidak ada sekat antara diri kita, tidak ada sejarak dusta.

Ruang dimana kita melepas segala lelah, memerdeka nafas panjang, mengaku segala rasa sepi, atau tentang melepas air mata yang sempat tertahan, atau mengenang sebuah tanda tanya sebuah kisah cinta. Ruang dimana kita bisa mengakui segala gundah gelisah, ruang dimana segala harap dan cita bebas tercurah.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ruang yang bisa berupa tempat atau waktu, mugkin ruang itu kau temu ketika kau sedang berkendara pulang di malam hari, atau kau temu ruang mu saat kau berlari di pagi hari, atau saat kau menikmati sesuara aliran sungai dan memandangi ujung lautan, atau disujud mu di sepertiga malam.

Ruang itu, ruang yang kau bebas berdialog dengan dirimu sendiri, berdiskusi. Kadang dalam ruang itu adalah ruang kau mengobati luka yang teralami, atau merayakan kemenangan atas hari yang telah bisa terlewati.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ahh.. selamat menemu ruang itu, karena kita selalu membutuh itu, sebuah ruang untuk kita bisa menghela nafas panjang, merenungkan, dan kemudian meghimpun kekuatan untuk perjalan kehidupan selanjutnya …

Ruang yang sebenarnya kau tak pernah benar benar sendiri, ada Ia –yang entah kau sadar atau tidak- yang akan selalu membersamai mu dalam segala ruang sendiri mu, mendengar segala kalimat yang tak terucap, mengetahui dengan baik segala rasa yang tak bisa kau ungkap …

Maka, “ajaklah” Ia dalam ruang sendiri mu, karena Bersama-Nya ruang sendiri mu jiwa-mu akan jauh lebih utuh …

Bandung, 27 Februari 2018

Di Ruang Sendiri

 

 

 

 

Pas Butuhnya Aja [ Bagian 1 ]

” Ah … dia mah datang pas butuhnya aja ”  mungkin kalimat itu pernah terucap dari bibir kita atau setidaknya pernah terlintas dalam hati kita, ketika ada seorang teman yang kita merasakan melupa kita, ketika dia suka, atau ketika ia telah berjaya.

Padahal ketika dia merana, dia selalu ingin bersama kita. Berwaktu waktu ia mengampiri kita, bercerita segala cemas, berupa gundah gulana, berbagai luka dan duka, dan kita selalu menyetia ada untuk nya.

Namun setelah badai yang ia rasakan telah berlalu, ia pun juga berlalu, melupa. Ia tak lagi menyapa kita, bahkan tak mau tau dengan hidup kita, diam, tak peduli dan menyibuk dengan dunia nya. Luka ia bagi dengan kita, namun ketika bahagia atau suka, ia rasa tak pantas untuk berbagi dengan kita, dia telah dengan dunianya …

****

Mungkin ini dirasakan oleh beberapa diantara kita, ketika seorang teman berlalu dengan mudah nya. Saat duka dia ingin kita ada, namun saat suka diapun entah kemana, sudah menemukan dunia barunya, lupa dengan siapa dia pernah melalui badai dalam hidupnya.

Saya pernah merasakannya. Ini yang dinamakan pamrih barangkali. Kita menghitung hitung “kebaikan” yang telah kita lakukan kepada orang lain, atau mungkin kita hanya merasa telah berbuat baik. Yang kemudian kita merasa berhak “menutut” ia membalas apa yang telah kita lakukan terhadapnya dengan sepadan.

Kemudian, saya coba melihat kedalam diri lebih dalam lagi, kenapa saya sampai merasa seperti itu, seharusnya ikhlas saja, terhadap apa yang telah kita usahakan untuknya, walaupun balasannya justru berbeda. Jangan jangan saya pun begitu, namun saya tidak menyadarinya.

Atau saya menjadi manusia yang penuh “pamrih”, membisakan diri menghitung hitung kebaikan dan jasa yang telah kita perbuat, sehingga ketika balasan adalah sebaliknya, maka hati kita menjadi sempit.

Padahal sejatinya kebaikan itu akan kembali kepada kita sendiri, dalam berbagai bentuk, entah ia membalas yang serupa atau tidak. Jangan jangan ketika menghitung, mengingat dan menuntut di balas dengan yang sepadan, justru  nilai kebaikan yang pernah kita lakukan menjadi lebur, tak berbekas apa apa untuk kita, dan kita merugi tak mendapat kebaikan dan nilai apa apa.

Manusiawi ? ya memang bisa dibilang sangat manusiwi, karena kita mempunyai berbagai emosi dan reaksi. Namun semoga kita bisa tak berhenti dan menggantungkan diri dari kata “manusiawi”.

Kita harus menguasahakan yang lebih dari itu, memberikan kebaikan kemudian melupakannya. Karena hidup yang sedang kita jalani sekarang ini, pasti ada peran kebaikan orang lain yang bisa jadi tak kita ingat atau kita tau tapi kita lupakan.

Dan yang terpenting yang harus kita garis bawahi, bahwa kebaikan yang mampu kita lakukan adalah atas izin-Nya,  Jadi kenapa kita harus merasa berbalas …

To Be Continued …

 

 

 

 

 

Mendefiniskan Impian

Fenomena saat ini banyak orang sedang  gandrung membahas tentang IMPIAN, saya sedang belajar mencerna lebih dalam mengenai hal ffenomena ini yang sedang sangat IN. kemudian mencoba belajar untuk melihat dari sisi yang berbeda, semoga menjadi sebuah manfaat, bukan bermaksud mengajari atau menunjukan sebuah kesalahan, namun ini memang bersumber dari keresahan fikiran saya secara pribadi. *halaahhh ….😀

*******

Bagaikan setiap orang di “cekoki” mengenai apa impian impian mereka, berbagai seminar atau buku di industrialisasi untuk mengajak seseorang menggapai impiannya. Tidak salah memang, justru ini adalah hal yang positif. banyakk orang yang sangat terbantu untuk benar benar mengarahkan bagaimana untuk mencapai impiannya.

Kemudian setiap orang mendefinisikan impian mereka masing masing. Dari sisi harta mungkin impian itu berupa rumah nyaman, kendaraan mewah, jumlah assets yang dipunya. Ada pula yang mendefinisikan impian dengan profesi atau usaha yang di miliki. Didefinisikan juga dengan nama besar, kekusaaan, prestasi, dan ambisi, dsb. Atau tak jarang pula impian di definisikan dengan kesempatan untuk menjelajah dunia, berputar pada hal hal yang sifatnya fisikly.  Sekali lagi ini tidak salah, manusia memang harus punya impian.

Namun kemudian, saya belajar mencerna apabila impian hanya terbatas pada tataran pribadi atau keluarga saja , maka impian ini menajadi sedikit “hampa”, karena setiap orang menjadi hanya memikirkan bagaimana ia mencapai impiannya, thats it. Dan kemudian ketika impian pribadi itu tercapai, maka thats all, mission done. Yang kemudian tenggelam dan menikmati impian impian yang ia capai dengan susah payah, cukup. lagi lagi ini tidak salah, manusia memang harus punya impian.

Mungkin yang kadang kita lupa, atau banyak dream motivator lupa sampaikan adalah mengenai kenapa seseorang harus mempunyai Impian, Apa ujung dari impian tersebut, apa goals akhirnya, kemana semua bermuara pada akhirnya, agar impian yang kira rancang tidak hanya untuk kepuasaan dan pencapaian saat ini saja, namun impian itu adalah sesuatu yang bisa juga menjadi bekal nanti di kehidupan yang kemudian.

Impian adalah salah satu cara pengabdian kita pada Nya, Impian adalah hasil karya terbaik kita, Impian adalah wujud kebermanfaatan kita sebagai manusia, Impian adalah peninggalan kita. Impian adalah bukti kita adalah manusia yang ditugaskan menjadi khalifah di muka bumi ini

Maka IMPIAN janganlah egois, bukan hanya tentang kita saja, bukan hanya tentang apa apa yang ingin kita punya, tentang tanah mana yang ingin kita jelajah, bukan saja tentang ingin menjadi seperti apa, bukan hanya tentang pencapaian atau ambisi ambisi duniawi, namun lebih jauh dari itu, lebih dalam dari itu. Impian adalah sebuah “legacy” yang bisa dirasakan kebermanfaatannya bahkan setelah kita tiada.

Maka, kini saya belajar mendefinisikan kembali tentang impian, dalam versi saya :

Impian adalah kebermanfaatan, impian adalah peninggalan, Impian adalah jalan, impian adalah cara pengabdian kita kepada-Nya

Fn : Sebuah catatan untuk pengingat diri sendiri, semoga menjadi manfaat untuk diri dan yang mambaca