Apa yang Sebenarnya Kita Jalani? Misi atau Obsesi?

Lelah, Burn Out, Overthinking. Ada yang Relate?

Capek banget! Bukan cuma badan, tapi juga pikiran…”
“Istirahat pun tak tenang, pikiran terus berputar-putar, seperti tak berhenti mencari. Hati gelisah tanpa sebab yang jelas…”
“Setiap waktu terasa terburu-buru. Harus menyelesaikan ini dan itu. Harus segera, tidak bisa ditunda!”
“Sibuk dan produktif, tapi rasanya kosong, hampa…”
“Selalu merasa ragu dan tidak pernah puas.”

Pernahkah kamu merasakan hal ini?
Saya pernah! Beberapa tahun lalu, masa-masa di mana hari-hari terasa penuh tekanan. Banyak hal harus dikejar dan diselesaikan, apapun keadaannya. Hari-hari terasa tergesa. Seolah setiap saat harus berprestasi, selalu harus naik level, selalu membuktikan sebuah pencapaian.

Belum lagi, saat melihat orang lain dengan segala pencapaian dan prestasinya, membuat saya merasa kerdil dan tidak berarti apabila tidak melakukan hal yang sama.

It feels very tiring… I felt truly exhausted...”

Sampai pada suatu titik, saya mulai mempertanyakan semuanya. Proses ini dimulai dari monolog dalam diri yang tiba-tiba mengalir begitu saja:

“Ada apa dengan diriku?”
“Kenapa aku jadi begini?”
“Apa yang sebenarnya kucari?”

Pertanyaan-pertanyaan ini terus tumbuh, semakin menebal, hingga akhirnya mendesak butuh sebuah jawaban.

Pertemuan dengan Konsep “Misi vs Obsesi”

Di masa pencarian itu, saya dipertemukan dengan buku Fitrah Based Life karya almarhum Ustadz Harry Santosa. Saya membacanya secara acak, dan tanpa sengaja menemukan satu bab berjudul “Misi vs Obsesi”.

Deg! Seketika judul ini serasa menghantam saya dengan keras. Menuntun saya membaca lebih lanjut tentang materi ini. Mungkinkan ini jawaban yang saya butuhkan?

Mengapa Kita Gelisah?

Apa yang membuat seseorang terus merasa gelisah, cemas, dan terus menerus khawatir dalam hidupnya?

Dari luar mungkin terlihat sibuk, sukses, bahkan bermanfaat bagi orang lain. Tapi jauh di dalam dirinya—dan hanya dia yang tahu—ia merasa tersiksa, tidak menikmati hari harinya, tak kunjung merasakan ketenangan. Karena mungkin—bisa jadi— dia bekerja dan berkarya karena obsesi, bukan karena misi.

Perbedaan Misi & Obsesi

“Misi itu berangkat dari hati, niat yang lurus. Ia melahirkan ketenangan, kecintaan, dan kebahagiaan dalam berkreasi serta menemukan jalan untuk mewujudkannya.
Sedangkan obsesi melahirkan kegelisahan, kepanikan, kebuntuan berpikir, ketamakan, atau keputusasaan.”

Harry Santosa, Fitrah Based Life

Misi lahir dari panggilan jiwa. Murni, tulus. Bukan sekadar mengejar prestasi atau kepuasan pribadi. Bukan pula keinginan untuk tampil atau membuktikan eksistensi diri. Bukan pula di dorong karena keinginan untuk seperti orang lain.

Sebaliknya, obsesi terasa melelahkan. Ia sering membuat kita menampilkan diri yang bukan kita sebenarnya. Obsesi lahir dari dorongan untuk dilihat, diakui, dan dibanggakan. Pada kadar tertentu, motivasi seperti itu memang bisa menggerakkan. Tapi bila dibalut hawa nafsu, ia berubah menjadi obsesi yang menggerogoti diri.

Misi tumbuh dari terdalam, dari panggilan hati. Lebih dalam misi tumbuh dari keimanan dan kesadaran tentang keinginan berkarya & beribadah untuk Allah Swt. Sedangkan obsesi datang dari keinginan yang berlebihan untuk dilihat, diakui dan kebanggan eksistensi diri.

Refleksi Diri

Saya mulai belajar berbincang dengan diri. Menggali keresahan yang saya rasakan setiap menghadapi hari esok. Mengapa begitu terburu-buru? Mengapa begitu berambisi?

Belum lagi saat menjadikan orang lain sebagai barometer kesukesan diri.
“Kalau dia bisa, masa aku tidak?”
kalimat yang sekilas seperti sebuah kalimat pembakar motivasi, tapi kemudian saya sadari itu adalah tentang diri yang penuh obsesi.

Belajar Memperbaiki Orientasi

Maka benar, kesadaran diri adalah titik pertama perubahan. Setelah sadar, saya terus mencari & memperdalam tentang apa itu MISI diri, dari mana ia bisa didapatkan & sekaligus ditumbuhkan, agar menjadi sesuatu karya & kebermanfaatan. Dimana yang murni tumbuh dari dalam diri, ia bermanfaat bagi banyak orang dan ia juga sebahai sarana ibadah kita kepada sang Pencipta. Perjalanan yang panjang & mengasikan …

Yuk, Temukan Misi Hidupmu!

Bisa jadi saat ini kamu merasakan hal yang sama pernah saya alami waktu itu. Bisa jadi ini saatnya kamu juga mencari tahu apa : Apa misi hidupmu?.

Salah satu caranya adalah dengan mengenal bakat dan potensi terdalam dalam dirimu—yang mungkin selama ini belum kamu sadari atau maksimalkan.

Yuk, ngobrol, berbagi imu juga pengalaman, dan mulai memetakan kekuatan dan keunikan diri kamu di sini:

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska