[ Keping 3 ] Al-Buruj, Masjid Megah di Pulau Buru

IMG_1557

Al-Buruj, mesjid megah yang ada di tengah tengah pulau Buru ini, adalah kejutan yang lain yang kami dapatkan di pulau ini. Ditengah tengah pulau yang belum banyak di kenal orang, yang namanya terdengar sedikit menyeramkan, pulau yang dulu merupakan tempat pembuangan pemberontak PKI ini, ada sebuah masjid yang luar bisa besar dan megah, bahkan bila masjid ini ada di tengah tengah kota besar, masjid ini masih bisa dikatakan megah.

Mesjid ini menggoda kami untuk singgah, saat itu belum banyak aktifitas yang terlhat, hanya ada beberapa orang saja, sehingga kami leluasa untuk berkeliling dan mengambil foto

 

 

Alhamdulillah di dalam kami bisa bertemu dengan Bapak Amir, salah satu pengurus mesjid di Al-Buruj. Dari cerita beliau kami mendapatan informasi bahwa mesjid ini dibangun atas swadaya masyarakat, urunan. Waww.. kami kembali di buat tercengang, dengan betapa peduli nya masyarakat untuk membangun mesjid yang sekaligus Islamic Center di pulau ini, dan betapa kaya nya masyarakat disini, sehingga mau dan mampu untuk urunan masjid yang megah ini.

IMG_1578

Pembicaraan berlanjut mengenai kegiatan kegiatan di masjid ini.Pa Amir bercerita dana infaq/shadaqah di mesjid ini lumayan besar. Setiap kali jumatan dana kotak infaq yang terkumpul tidak pernah kurang dari 3 juta rupiah setiap minggunya, belum dana zakat/infaq/shadaqah yang lainnya. Kesejahtraan para pengurus masjid disini pun sangat diperhatikan, dan dana tersebut adalah dana yang terkumpul dari  masyarakat.

Pulau Buru, pulau penghasil emas yang masih tersembunyi, di luar dari plus minus akibat dari pertambangan emas yang mulai masiv di pulau ini, ada bagian dari masyarakat yang ingin tetap mengimbanginya dengan nilai nilai agama, salah satunya dengan membangun Al-Buruj ini, mesjid sekaligus Islamic Center masyarakat di pulau ini. Semoga bangunan megah ini bisa memberikan dampak baik bagi para warganya. Aamiin..

Bersambung ……

[ Keping 2 ] Namlea, Dimana Semua Berlabuh

 

img_1639Namlea, ada kesan tersendiri ketika mendengar nama dari pelabuhan pulau Buru ini. Namlea adalah pelabuhan yang menajadi pusat transportasi para warga yang akan masuk dan keluar pulau Buru, menuju Ambon atau Maluku.

Saat tiba di pelabuhan ini, kebetulan ada kapal yang baru saja merapat untuk kemudian menunggu penumpang yang hendak naik untuk keberangkatan selanjutnya, hingga Namlea saat itu riuh ramai.

Kami begitu menikmati suasana saat itu : pelabuhan, orang orang, dan semilir angin laut, suasana yang tidak bisa kami nikmati di kota kami, Bandung. Mengamati orang orang yang hilir mudik dengan berbagai urusannya barangkali, ada yang pergi dan pulang untuk pekerjaan, sekolah, urusan keluarga dan berdagang.

Sesekali kami mencoba tersenyum dengan mereka ketika berpapasan, dan membuka beberapa obrolan. Seperti dengan salah satu Ibu yang sedang berjualan minuman dan makanan ringan di pinggir jalanan pelabuhan, yang ternyata Beliau berasal dari pulau Jawa, dan telah lama merantau di pulau Buru ini.

Bercerita tentang kisah nya hidup di perantauan, dan bagaimana ia selalu saja merindukan kampung halamannya. Ahh… saya selalu kagum dengan mereka yang mempunyai jiwa jiwa perantau, yang mau melangkah jauh dengan keluarga, meninggalkan kenyamanan, menjelajah dunia baru, budaya baru yang berbeda dengan rumah mereka, yang berani melangkahkan kaki untuk esok hari, untuk masa depan.

Menikmati Namlea di sore hari, dengan harum semilir angin laut yang teduh, perjalanan yang menambah lapis lapis kesyukuran. Kebaikan-Nya mengantarkan ku jauh ke daratan ini, daratan yang beribu ribu mil jauhnya dari rumah. Karena Kehendak-Nya bertemu dengan mereka yang memilki keberanian ditengah keterbatasan.

Bersambung …..

Keping 1 DISINI

[Keping 1] Pulau Buru, Pulau Emas yang Tersembunyi

Pulau Buru, pulau yang pertama kali saya injak di tahun 2012 ini, adalah salah satu pulau yang tergolong besar di Kepulauan Maluku, dengan kota besar yang terdekat adalah Ambon dengan jarak tempuh menggunakan semacam kapal Fery, apabila menggunakan kapal cepat kurang lebih membutuhkan waktu empat jam.

Tahun 2012 saya bekesempatan berkeliling beberapa pulau di Indonesia menggunakan KRI Banda Aceh. Pulau Buru adalah pulau ketiga yang rombongan kapal kunjungi setelah Pulau Flores(Kota Maumere), dan Pulau Lembata. Perjalanan panjang yang lumayan di tempuh dari Lembata ke Pulau Buru ini menghabiskan waktu kurang lebih dua hari mengarungi dan melewati laut Banda yang terkenal sebagai salah satu laut dalam di Indonesia.

Pulau Buru mugkin belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, tapi untuk mereka yang senang sejarah pasti tau, pulau Buru ini pada masa lalu adalah Pulau pembuangan para pemberontak aktivis aktivis PKI, dan pulau ini adalah salah satu Pulau di mana Bapak proklamator Indonesia pernah diasingkan.

Kesan pertama melihat dermaga  pulau ini yang menjadi gerbang masuk, sekilas sama dengan pulau pulau yang kami kunjungi sebelumnya. Namun beberapa langkah memasuki pulau ini, saya menemui banyak kejutan yang sangat berbeda dengan pulau pulau yang kami kunjungi sebelumnya ….

Bersambung