Hampir Tenggelam

Hampir Tenggelam…

Aku ingat persitiwa menjelang subuh itu, saat perahu kita hampir tenggelam, mungkin akan jadi kenangan yang tidak akan kita lupakan.

Menjelang pukul empat dini hari, perahu kita sudah berlayar, keluar daratan menuju Pulau sebrang. Malam sunyi seyap, sepertinya hanya perahu kita yang berlayar, yang terdengar deburan ombak & suara mesin di buritan.

Tak lama kita tersontak tiba tiba! sepertinya perahu menggerus karang & ia pun berhenti melaju. Samar samar terdengar dibelakang sang nakhoda mulai panik kebingungan, beliau mencebur ke laut melihat apa yang terjadi gerangan.

Sementara kita semua hanya bisa diam membisu. Aku tahu, saat itu sebenarnya setiap kita terjaga, namun kita tak sanggup berkata kata atau saling berbicara…

Aku tahu dalam sunyi itu, kita semua TAKUT. Ya,kata itu saja yang mewakilkan segala perasaan yang berkecamuk. Kita memaksa mata terpejam, saat sang nakhoda sedang berusaha memperbaiki keadaan…

Ah … lautan begitu gelap & sunyi, sementara perahu kita makin kencang terombang ambing.

Dalam hati aku hanya membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya,aku membayangkan orangtua, membayangkan apakah besok aku masih ada atau hanya tinggal nama …

Selirih Istigfar & dzikir ku ucapkan dalam hati “Ya Allah selamatkanlah kami …”.

Hingga akhirnya -entah setelah berapa lama- suara mesin tiba tiba bersuara Kembali, diiringi nafas yang hadir Kembali di dada kami “Alhamdulilah…Allahu Akbar”, perahu akhirnya bisa Kembali berlayar. Tak tergambarkan beribu rasa yg riuh dalam dada, Allah masih memberikan Kita semua usia.

Tak lama, matahari terbit menyapa, membius kami dalam warna jingganya, seakan menyambut kami yang baru saja dalam keadaan tidak berdaya, seakan sang Surya berkata “Apa yang mau kau sombongkan wahai manusia, di tengah lautan ini kau bukan siapa siapa & tidak berkuasa apa apa…”

Tanpa pertolongan & kasih sayang-Mu, Sungguh kami kecil-nihil tak berdaya. Dan sungguh jiwa, raga dan nyawa ini mutlak dalam genggaman-Mu, wahai Dzat Pemilik Semesta.

“La Hawla Wala Quwwata Illa Billahil Aliyyil Azim“- “Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”

Ruang Rindu

Pada akhirnya waktu terus beranjak, satu demi satu bergerak menempuh garis hidup masing masing. Kita dipertemukan bukan karena kebetulan, namun karena satu alasan.

Suatu saat kita kembali berjumpa, dengan berbagi cerita. Bisa suka atau tak apa bila teselip juga luka, inilah hidup kita. Berganti ganti antara bahagia dan duka.

Kadang kita sejenak berhenti, kadang kita sejenak bersembunyi, kadang berhenti saling mencari, namun diam diam mendoakan dalam hati.

Suatu hari, mari berjumpa lagi dalam kehangatan yang sama, senyuman yang sama, dan harapan bersama.

Foto ini adalah foto saat kegiatan di Pulau Sukun, salah satu Pulau terluar yang ada di Pedalaman Flores, bersama Yayasan Kebukit Indonesia

We’re Born For The Reasons

We’re born for the reasons, deep and wide,
Not always clear, not easy to find.

But through the roads of joy and tears,
We do our deed & seek the meaning for life here.

With giving hands and hearts to care,
Our reason of existence rest right there.

Picture : With the children from Pangabatang Island, NTT (one of the remote islands in Flores, NTT), Kebukit Indonesia Foundation built a school for them to study in 2019.

Ayo Main Kesini !! Pulau Pangabatang Nan Menawan

Ramadhan kemarin, Alhamdulillah saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah pulau kecil di NTT, yaitu pulau Pangabatang. Secara geogrfis, Pulau Pangabatang ini masuk pada wilayah Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Barat.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya pergi ke kota Maumere, kalau tak salah hitung ini adalah kali ke tiga atau ke empat kali nya saya mengunjungi salah satu tempat yang istimewa di hati saya ini. Ada beberapa kegiatan sosial pendidikan yang saya kerjakan dengan teman teman dari KEBUKIT (Kelola Buku Kita) disini. Kegiatan nya akan saya ceritakan di tulisan berikutnya, Insya Allah.

Kali ini saya ingin berbagi, tentang Pulau Pangabatang nan menawan. Bagi orang orang sekitar Maumere, mungkin pulau ini sudah tidak asing lagi. Namun bagi saya, yang berasal dari Pulau Jawa, dari Kota Bandung, masih asing. Sebenarnya dari kali pertama ke kota Maumere ini, pernah sesekali di ceritakan tentang Pulau Pangabatang ini, namun kesempatan mengunjungi baru kali ini.

Menuju pulau Pangabatang, membutuhkan waktu sekitar 1,5 Jam an dari Kota. Setelah itu ada kita bisa menyebrang untuk menuju pulau dengan perahu milik warga sekitar, Waktu tempuh pun tak lama, kira kira 15 – 20 menit kita sudah bisa sampai.

IMG_4651IMG_4679IMG_4681IMG_4684

Kapal yang kami tumpangi, hanya saya yang dari luar Maumere, pengawal nya banyak sekali… hhee. Gambar paling bawah adalah, Aba (Panggilan Bapak) yang mengarahkan kemana perahu mengarah.

IMG_4912

IMG_4915

Nah itu dia, Pulau Pangabatang. Pulau yang menampakan garis putih nya dari kejauhan, itu lah dia Pulau yang mempunyai pasir timbul di tengah lautannya. Indah bukan … ^^

Sesampainya disana, kami langsung menikmati lembut nya hamparan pepasir, merdunya nyanyian ombak, sejuknya angin sore, dan hangatnya suasana kebersamaan. Hari itu hanya ada kami saja,  tidak ada yang lain. Hingga rasanya ini adalah our private island, nikmat sekali, bebas sekali ….

IMG_5052IMG_5060

Nah, ini dia the best part nya memori mata yang saya lihat  saya nikmati  dan saya abadikan di Pulau ini, sedikit saja dari sajian Maha Karya Seni Illahi, yang ia sajikan untuk kita di bumi ini. Sedikit saja padahal, namun membuat kita semakin sadar tentang ke Maha Kuasaan-Nya, membuat kita sadar bahwa ia adalah Sang Maha Pencipta Keindahan Alam.

Saya tidak pandai mengedit foto, maka biarkan lah ia apa adanya, sesuai dengan apa yang di abadikan oleh mata ini.

IMG_5270

IMG_5257

IMG_5229

IMG_5096

IMG_5236IMG_5244

IMG_5241IMG_5249

IMG_5247

Keindhan yang lengkap !! Ini salah satu kesan yang saya simpulkan dari pulau ini. Kita bisa menikmati biru nya lautan, berenang renang di lautan landai nya, berlari lari di hamparan pepasir putih nya yang luas, menghirup wangi nya savana hijau yang luas, memandang tebing tebing bukit hijau di sebrang lautan, mendengar merdunya air ombak kecil kecil di tepian pantai, menyaksikan langit yang selalu membiru, menikmati betapa indahnya negri ini, negri Indonesia tercinta, titipan-Nya yang harus kita selalu jaga.

To Be continued …

 

Pasar Ikan Kota Maumere

Sebenarnya ini foto lama, tak sengaja terbuka lagi, saat sedang merapihkan file file di laptop dan hard disk.

Ini adalah saat saya dan kawan kawan dari NUSANTARA MEMBACA mengunjungi kota Maumere, untuk membuat perpustakaan anak anak panti asuhan disana. Abah -pendiri pondok dan panti- suatu pagi mengajak saya ke pasar pelelangan ikan. Katanya biar bisa memilih ikan ikan segar.

Ahh… saya senang sekali, bisa ke pasar ikan yang langsung diambil di laut dan dijual saat itu juga. Bukan hanya itu, suasana pasar seperti ini sangat menyenangkan, orang orang yang bercakap cakap saling tawar menawar, aroma ikan yang masing sangat segar, wangi laut pagi yang menawan, laut dan langit yang kompak berwarna biru, semilir angin lautan, orang orang orang yang ramah menyapa, ahhh… saya jatuh cinta dengan suasana ini.

Kemudian file file foto ini, membuat saya melow, ingin lagi kesana, ingin lagi menikmati suasana serupa, ingin berjumpa lagi dengan mereka, dengan Abah, dengan Ummi, dengan Pa Ihsan, dengan anak anak panti …. ahhhhhh…kangennnnn

Semoga semoga, ada rizki ada kesempatan, untuk kembali ada di tengah tengah mereka. para saudara saudara ku yang ku kenal dengan penuh cinta

Aamiin ….