Terkadang ada sebuah hal, kejadian, atau berita yang tiba tiba kita lihat, dan kemudian semacam mengacaukan hari kita. SEsuatu yang sebenarnya tidak ingin kita lihat atau tidak ingin kita ketahui, namun tetiba saja hal itu seperti nampak di depan mata kita atau sampai di telinga kita.
Seperti hari ini, saya mengalaminya. Sesuatu yang tidak ingin saya ketahui sebenarnya, namun Allah sepertinya mentakdirkan saya intuk tahu. Lalu tetiba pikiran saya jadi kacau, perasaan jadi ga karuan, raga sepertinya melayang layang.
Seperti nya setiap orang pernah mengalami, mengetahui sesuatu hal yang tidak ingin diketahui …
Beberapa saat saya hanya tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya saya banyak terdiam, tak banyak bicara, namun perasan semacam gelisah, bercengkrama saling bersahutan didalam, pikiran pun sama, ia terus melayang dan mengambang
Saya harus melakukan sesuatu. Awalnya saya kira semua pikiran dan perasaan akan reda segera, saat saya melakukan pekerjaan pekerjaan yang mengalihkan. Saya coba tidur mendengarkan musik musik penenang jiwa, namun tak begitu bertahan lama, ketika saya harus bangun, semua berita itu kembali menggelisahkan jiwa
Lalu, saya coba untuk menggerakan raga. Mengerjakan pekerjaan pekerjaan rumah, dan berolah raga, mencoba mengalihkan fokus. Alhamdulillah, apa yang terasa menyesakan di dada mulai terasa mereda, walau belum seutuhnya
Dan langkah kemudian yang saya lakukan adalah, membasuh muka, mensucikan raga dan menggelar selembar sajadah, Shalat dua rakaat. Mengambil nafas dalam dalam, dan menggerakan kedua tangan, mengucap Allahu Akbar. Fatihah pertama pun air mata saya sudah berderai derai, entah bagaimana rakaat selanjutnya, saya ikuti saja iramanya …
Di sujud akhir, saya berusaha lepaskan semua, dan setelah itu bercerita pada-Nya tentang apa yang saya rasa. Walau sebenarnya IA sudah tau ada apa. Ah tak apa apa … aku hanya ingin bercerita, dan menjadikan IA tempat pertama untuk bercerita, sebelum ke sesiapa
Setelah itu saya coba berkomunikasi dengan diri sendiri, tentang apa sebenarnya yang saya rasa. Sedihkah, marahkah, kecewakah, atau menyesalkah, atau mungkin perasaan perasaan yang masih undefinitif . Bertanya kepada diri, berusaha menduduk-kan rasa pada tempatnya, menjujuri diri, kemudian memberikan ia ruang untuk leluasa berbicara dan mengungkap segala. Agar setelah semua tercurahkan, kita bisa menyulam sambungnya dengan logika.
Karena ketika rasa memang perlu di difiniskinan, agar kita tahu setelah itu mana yang benar, mana yang hanya letupan semata. Agar setelah nya nalar dan logika bisa berjalan menjalankan fungsinya.
Tidak mudah memang, karena kita -saya- kadang tergoda untuk menjadikan perasaan sebagai tolak ukur segalanya. Padahal tidak seperti itu, tidak selalu seperti itu. Logika adalah garis pembatasnya. Logika adalah yang bisa menolong kita untuk lebih bijak melihat segala
Tidak mudah memang, saya pun harus masih belajar …. 🙂
Bandung, Desember kedua, 2018