Ruang Sendiri

Akan selalu ada masa dimana kita membutuhkan “Ruang” untuk menyendiri, ruang yang tidak ada sesiapa dan tidak perlu menjadi sesiapa. Ruang dimana kita bisa meluruhkan segala atribut dunia, melepaskan segala peran yang ada, meletakan rupa rupa topeng dunia, ruang dimana ini tentang diri kita saja.

Ruang dimana kita bisa apa adanya menyikapi duka dan bahagia, ruang dimana kita bisa mengaku sepedih pedihnya rasa, dan sebuncah syukur jiwa. Ruang dimana tidak ada sekat antara diri kita, tidak ada sejarak dusta.

Ruang dimana kita melepas segala lelah, memerdeka nafas panjang, mengaku segala rasa sepi, atau tentang melepas air mata yang sempat tertahan, atau mengenang sebuah tanda tanya sebuah kisah cinta. Ruang dimana kita bisa mengakui segala gundah gelisah, ruang dimana segala harap dan cita bebas tercurah.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ruang yang bisa berupa tempat atau waktu, mugkin ruang itu kau temu ketika kau sedang berkendara pulang di malam hari, atau kau temu ruang mu saat kau berlari di pagi hari, atau saat kau menikmati sesuara aliran sungai dan memandangi ujung lautan, atau disujud mu di sepertiga malam.

Ruang itu, ruang yang kau bebas berdialog dengan dirimu sendiri, berdiskusi. Kadang dalam ruang itu adalah ruang kau mengobati luka yang teralami, atau merayakan kemenangan atas hari yang telah bisa terlewati.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ahh.. selamat menemu ruang itu, karena kita selalu membutuh itu, sebuah ruang untuk kita bisa menghela nafas panjang, merenungkan, dan kemudian meghimpun kekuatan untuk perjalan kehidupan selanjutnya …

Ruang yang sebenarnya kau tak pernah benar benar sendiri, ada Ia –yang entah kau sadar atau tidak- yang akan selalu membersamai mu dalam segala ruang sendiri mu, mendengar segala kalimat yang tak terucap, mengetahui dengan baik segala rasa yang tak bisa kau ungkap …

Maka, “ajaklah” Ia dalam ruang sendiri mu, karena Bersama-Nya ruang sendiri mu jiwa-mu akan jauh lebih utuh …

Bandung, 27 Februari 2018

Di Ruang Sendiri

 

 

 

 

Advertisements

[ Kita Tak Punya Banyak Waktu ]

Waktu itu bergerak
Waktu itu berdetak
Waktu itu berpendar

Dimanakah jiwa kita ketika waktu merangkak bergerak

Dimanakah akal kita ketika waktu tersentak berdetak

Dimanakah hati kita ketika waktu memudar berpendar

Telahkah kita jauh melangkah, atau kita hanya berputar putar saja.

Telahkah kita banyak berbuat, atau kita hanya jalan jalan di tempat saja.

Telahkah kita benar beramal, atau kah hanya sebatas prasangka belaka saja.

Telahkah kita benar mengguna waktu, saat beribu detak waktu telah berlalu.

Kita tak punya banyak waktu
Kita tak punya banyak waktu

Ya…
Kita tak punya banyak waktu

 

time