Goes To NTT ( lagi )

Kayanya NTT bakalan jadi kampung kedua saya nih, hhe.. hampir setiap tahun di takdirkan Allah ke pulau yang dulunya saya tidak pernah bayangkan sama sekali akan sering di kunjungi.

Akhir April ini saya kembali ke Pulau nan eksotik ini. Dalam rangka peresmian sekolah yang sedang saya bangun dengan teman teman Kebukit Indonesia dalam program “Bangun Sekolah NTT”

Jadi program “Bangun Sekolah NTT” ini adalah program pendidikan, dimana kami ingin membantu masyarakat NTT untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik, lebih layak, lebih berkualitas. Baik dari insfrasuktur maupun dari pengembangan sumber daya manusia nya.

Alhamdulillah, walau dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya terbangun satu sekolah, di senbuah pulau terpencil bernama Pulau Pangabatang.

Banyak cerita, banyak pelajaran, banyak hikmah yang saya (kami) dapatkan dalam perjalanan kali ini. Bismilllah. Semoga di Ramadhan ini bisa baik terceritakan …

Tunggu ceritanya yaa…

Menikmati Pagi Di Kaki Rinjani

Pertengahan bulan lalu saya berkesempatan untuk ke Lombok lagi. Ini kali kedua saya ke Lombok setelah peristiwa bencana gempa beberapa bulan lalu.

Kali pertama, saya menjadi relawan untuk dibagian trauma healing anak anak pengungsi bencana Lombok. Walau akhirnya pada kenyataannya, jadi relawan harus bisa segalanya – diluar dari tugas utama – termasuk skill menyetir saat dibutuhkan .. hha

Nah kali kedua ini saya menjadi relawan untuk jadi tim KEMAH CERIA MANDIRI yang diadakan oleh komunitas GERAK BARENG. Anak anak nya kurang lebih ada sekitar 200 orang, dari wilayah Sembalun dan sekitarnya.

Nah, foto ini diambil saat pagi sekali, saat matahari di kaki gunung Rinjani mulai merekah, menempa rerumputan yang di musim kemarau. Subhanallah warna nya hangat sekali, warna jingga yang kecoklatan.

Rinjani memang masih ditutup saat itu. Katanya menunggu putusan rembuk masyarakat, yang ingin peraturan pendakian di perketat. Bersih dari maksiat, bersih dari perbuatan perbuatan yang melanggar nilai agama dan norma adat setempat.

Jadi Rinjani saat ini hanya bisa dipandang dari kejauhan. Memandang Rinjai dari kakinya, serasa sangat indah, megah. Memandang Rinjani dengan utuh seperti ini tidak bisa lama. Karena siang sedikit saja, biasanya sudah kembali tertutup oleh awan. Rinjani bisa utuh dipandangi saat pagi dan sore hari.

Oh ya, saya bukan seorang wanita pendaki sebenernya, namun menikmati Rinjani dari kakinya saat ini, menggoda saya untuk setidaknya mencoba mendaki keatasnya. Karena, sebelum bertemu Rinjani, saya disuguhi pemandangan “warming up” dulu selama perjalanan, Bukit Pegangsingan dan indahnya bentang alam desa Sembalun. Dan kemudian puncaknya bertemu dengan ia yang cantik menjulang, Rinjani.

Menikmati pagi di Rinjani, dengan segelas kopi, buku, dan mentari pagi, adalah hal mewah yang saya rasakan hari itu.

Subhanallah …

Terimakasih ya Allah, telah kau berikan hamba kesempatan untuk menyaksikan sebagian kecil saja dari Kuasa-Mu. Telah kau berikan kesempatan kepada hamba, untuk menikmati bentuk Kasih Sayang Mu, pada hamba, melalui Indah nya Ciptaan-Mu

Maha Besar Allah dengan Segala Ciptaan-Nya