Story Of Sembalun

Masih di rangakaian cerita perjalanan di Lombok bulan kemarin (Opening cerita ada di postingan sebelumya)

Pertama tahu tentang SEMBALUN itu dari sebuah postingan di Instagram kalau ga salah. Postingan itu memperlihatkan landscaping sawah yang membentang dengan warna warna yang sangat menawan.

Lalu browsing lah, apa itu Sembalun, dan kemudian tahu lah bahwa Sembalun adalah sebuah daerah di Lombok, yang juga merupakan perkampungan yang ada di kaki gunung Rinjani.

Melihat keindahannya, dalam hati berkata : ” some day saya harus kesini ” tanpa menulis deadline target waktu kapan saya harus kesana. Cuma dicatat dalam hati saja. Hhe..

Qadarullah bulan kemarin, saya dapat ajakan untuk mengunjungi Lombok lagi, dan destinasi utama nya adalah Sembalun ! Masya Allah PRAY LIST saya terwujud, mengunjungi SEMBALUN.

Dan yang lebih Spesial nya lagi, Saya ke Sembalun bukan buat jalan jalan, traveling yang bertujuan hanya having fun, tapi ke Sembalun untuk mengasuh anak anak korban gempa, di acara kemah ceria.

Alhamdulillah, saya sebenernya telah lama menanamkan dalam dalam kepada hati dan fikiran. Ingin banyak menjelajah ke banyak tempat di Indonesia bahkan dunia, tapi bukan sekedar tujuan wisata. Saya ingin menjelajah banyak tempat dengan membawa misi, perjalanan yang bertujuan, petualangan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri, juga bagi orang lain. Bukan perjalanan hampa, yang oleh oleh nya hanya cerita dan foto foto semata.

Ahh… Balik lagi, tentang Sembalun ! Pertama memandang langsung Sembalun, Saya merasa sedang berada di negri dongeng. Beneran … Mungkin ada yang bilang berlebihan. Tapi itu yang saya rasakan … Saya kemudian banyak diam dan terpana saja, menikmati sajian di depan mata, lupa mengabadikan nya dengan kamera. Ahh.. tak apa apa bisik hatiku. Yang penting adalah apa yang kita abadikan di memori ingatan kita, ketimbang apa yang kita simpan di memori kamera kita bukan ?Lagian saya akan ada disini sekitar tiga harian, akan banyak waktu untuk mengabaikan nya lewat kamera. Nanti.

Lalu saya benar benar menikmati alam Sembalun lewat mata saya, dinikmati sungguh sungguh dan dimasukan ke dalam memori kepala saya.

Subhanallah ….

Ini negri dongeng ….

Sawah yang membentang

Perbukitan kecoklatan yang mengelilingi desa, bagaikan benteng2 pertahanan kota bangsa bangsa kuno dulu ..

Udara yang dingin, embun embun yang turun, masyarakat yang riuh rendah bercengkrama, desa yang damai dan mendamaikan …

Rasanya betah berlama lama di desa ini, desa yang tepat ketika kau ingin menyendiri tanpa merasa sepi. Sembalun, negri dongeng bagiku..

Tentram …

Keterangan Foto :

Ini foto diambil oleh kamera dan effot seadanya, di atas atap rumah warga dimana kami tinggal. Beberapa foto masih tersimpan rapih di kamera, belum sempat dipindah. Biar saya nikmati sendiri dulu kenangannya.

Advertisements

Menikmati Pagi Di Kaki Rinjani

Pertengahan bulan lalu saya berkesempatan untuk ke Lombok lagi. Ini kali kedua saya ke Lombok setelah peristiwa bencana gempa beberapa bulan lalu.

Kali pertama, saya menjadi relawan untuk dibagian trauma healing anak anak pengungsi bencana Lombok. Walau akhirnya pada kenyataannya, jadi relawan harus bisa segalanya – diluar dari tugas utama – termasuk skill menyetir saat dibutuhkan .. hha

Nah kali kedua ini saya menjadi relawan untuk jadi tim KEMAH CERIA MANDIRI yang diadakan oleh komunitas GERAK BARENG. Anak anak nya kurang lebih ada sekitar 200 orang, dari wilayah Sembalun dan sekitarnya.

Nah, foto ini diambil saat pagi sekali, saat matahari di kaki gunung Rinjani mulai merekah, menempa rerumputan yang di musim kemarau. Subhanallah warna nya hangat sekali, warna jingga yang kecoklatan.

Rinjani memang masih ditutup saat itu. Katanya menunggu putusan rembuk masyarakat, yang ingin peraturan pendakian di perketat. Bersih dari maksiat, bersih dari perbuatan perbuatan yang melanggar nilai agama dan norma adat setempat.

Jadi Rinjani saat ini hanya bisa dipandang dari kejauhan. Memandang Rinjai dari kakinya, serasa sangat indah, megah. Memandang Rinjani dengan utuh seperti ini tidak bisa lama. Karena siang sedikit saja, biasanya sudah kembali tertutup oleh awan. Rinjani bisa utuh dipandangi saat pagi dan sore hari.

Oh ya, saya bukan seorang wanita pendaki sebenernya, namun menikmati Rinjani dari kakinya saat ini, menggoda saya untuk setidaknya mencoba mendaki keatasnya. Karena, sebelum bertemu Rinjani, saya disuguhi pemandangan “warming up” dulu selama perjalanan, Bukit Pegangsingan dan indahnya bentang alam desa Sembalun. Dan kemudian puncaknya bertemu dengan ia yang cantik menjulang, Rinjani.

Menikmati pagi di Rinjani, dengan segelas kopi, buku, dan mentari pagi, adalah hal mewah yang saya rasakan hari itu.

Subhanallah …

Terimakasih ya Allah, telah kau berikan hamba kesempatan untuk menyaksikan sebagian kecil saja dari Kuasa-Mu. Telah kau berikan kesempatan kepada hamba, untuk menikmati bentuk Kasih Sayang Mu, pada hamba, melalui Indah nya Ciptaan-Mu

Maha Besar Allah dengan Segala Ciptaan-Nya

A Day With A Mentor

Alhamdulillah, hari ini diizinkan oleh Allah bertemu dengan pa Erie Sudewo, salah satu orang yang ingin saya temui sejak lama. Orang yang pertama saya tau melalui buku nya tentang karakter, dan setelah saya cari ternyata beliau adalah Founder Dompet Dhuafa.

Kemudian saya mengikuti dan berteman dengan beliau di facebook, mengikuti status status beliau mengenai dunia sosial kemasyarakatan. Walau belum pernah bertemu langsung beliau, saya merasa beliau orang yang cerdas sekaligus bijak.

Jejak hidup beliau dalam mendirikan organisasi, mengembangkanya, menghebatkannya juga saripati beliau dalam mengurus kemaslahatan ummat menjadikan beliau cerdas, visioner  dan bijak. Allah kasih jalan saya bertemu beliau dalam sebuah forum, kemudian berlanjut mendapatkan kesemaptan untuk mendapatkan coach dari beliau, dengan beberapa teman lainnya.

Layaknya orang yang sudah merasakan saripati pengalaman dan kehidupan. Beliau masih bisa membuat kami “anak anak” didiknya merasa nyama untuk berkonsultasi, untuk bercerita tentang cita cita, keinginan, harapan kami di dunia sosial.

Walau awalnya ada rasa gugup, karena bertemu seseorang yang sangat senior, akhirnya perbincangan bisa mengalir dengan baik. Banyak insight yang didapatkan, banyak kebingungan yang akhirnya menemukan jawabannya, ada ide yang di dapatkan, ada hal yang tersadarkan, itu yang terpenting.

Pertemuan dengan beliau, menyedarkan saya banyak hal penting sekaligus membukakan fikiran saya. Bahwa ada hal yang terlewatkan, ada hal yang terlupakan, ada hal yang tidak diperhatikan.

Ahh, kemudian saya berkaca, betapa saya belum ada apa apanya, entah masih kurang serius, masih kurang fokus, masih kurang merapihkan langkah, masih kurang tegap menentukan arah.

Ahh,, terimaksih Pa Eri, telah bersedia menyediakan waktu dan fikrian, untuk kami yang masih terberai, tak rapih langkah. Semoga Allah menyehatkan Bapak selalu. Dan kami bisa mengikuti jejak bapak menjadi manusia yang bermanfaat seluas luasnya.  Aamiin …

 

Pa Eri

 

 

 

Karena Kita Hanyalah Perantara [Sebuah Catatan Bencana Garut ]

Malam itu saya berencana untuk pergi ke Garut, bersama teman teman dari berbagai komunitas, untuk memberikan beberapa bantuan dan titipan dari teman teman. Lagi asik packing tiba tiba mamah bilang : “ teh, mamah pengen ikut ….”  karena mobil juga kosong, hanya saya dan adik, saya iyakan aja, lagian rencannya hanya sampaikan titipan donasi, kemudian pulang.

Kondisi garut memang sangat memprihatinkan, saya baru sempat ke sana setelah sekitar satu minggu bencana. Alhamdulillah bertemu dengan kawan kawan untuk #GerakBareng, yaitu gabungan dari beberapa komunitas yang mencintai dunia kerelawanan yang telah lebih dahulu ada disana.

Bencana Garut memang menyisakan PR yang sangat panjang, waktu saya kesana masih banyak rumah rumah yang menyisakan rumput yang masih sangat tebal, menempel di semua bagian rumah, merusak hampir semua barang barang, dari mulai pakaian, peabotan, barang elektronik, dsb. Tidak sedikit yang harus merelakan barang nya untuk di buang begitu saja.

Disana, kami tiba di sebuah masjid di desa Tarogong, Alhamdulillah masjid sudah bersih dan bisa ditempati dan dijadikan posko. Namun sekitarnya masih banyak rumah rumah yang belum bisa ditempati karena sisa lumpurnya masih sangat banyak.

Saya langsung ikut bergabung dengan kawan kawan relawan yang sudah turun duluan, tadinya sih pengen ikut ngangkat ngangkat sekop kaya anak mahasiswa yang sedang bersihin jalan, tapi kayanya bakal ribet karena berat dan agak gak cocok dengan saya yang saat itu pakai gamis.

Akhirnya saya ikutan gabung sama relawan yang sedang bersihin salah satu rumah warga, yang hampir 3/4 rumahnya sempat terendam banjir. Dengan peralatan penyemprot air, pel dan sikat kami bersama sama bersihin rumah warga. Satu rumah saja membutuhkan lebih 3 jam, itu pun hanya membersihkan rumahnya saja, belum perabotannya, Ya Allah… sungguh cobaan yang tidak mudah, bagi para warga.

 

****

Saya kira sewaktu kami membersihkan rumah, mamah hanya akan diam saja, menunggu atau menjaga barang bantuan. Tapi ternyata beliau tidak mau hanya diam saja, kesel juga barangkali ya kalo hanya diam saja. Akhirnya pun beliau turun ikut bergabung dengan para relawan yang masih berusia muda (seperti saya) #Batuk hhaa.. ikut membersihkan rumah warga dan perabotannya.

Mamah terlihat sangat semangat sekali, sesaat mungkin melupakan usianya dan tenaganya. Walaupun sebenarnya usia bukan ukuran juga sih, apakah seorang mau turun membantu atau tidak, kadang yang muda juga kalah dengan yang tua, ketika yang tua itu mempunyai semangat yang sangat membara. Merdekaaaa…….!!! halah …

Walau bajunya jadi kotor, dan juga tidak baju ganti, mamah bilang ” ga apa apa lah, kapan lagi bantu orang lain, kasian, nanti aja ganti baju nya di rumah” . 

Hari itu saya belajar dari beliau, bahwa tidak ada halangan untuk kita untuk tidak menjadi manusia bermanfaat, siapapun kita, berapapun usia kita, seperti apa pun kondisi kita. Kuncinya bukan karena mampu atau tidak mampu, tapi mau apa tidak mau

mams

 

****

Ah Garut, kota ini mendapatkan ujian yang tidak terduga, semoga bisa menjadi sesuatu bagi kita semua, bukan hanya mereka yang terdampak langsung, tapi untuk kita semua, bahwa ketika Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah.

Absolutly Our Life In His Hand, No Doubt

Dan semoga ada rasa kepedulian yang mendalam, empati. Bahwa kita merasakan, apa yang mereka rasakan, dan dengan apa yang kita bisa, kita meringankan apa yang menjadi permasalahan mereka.

Bukan kita yang menjadi solusi atau berjasa atau semacamnya, kita hanyalah kepanjangan tangan-Nya, perantara, kita hanya jalan, bukan sumber, dan bersyukurlah, berbahagialah ketika Allah “memilih” kita untuk menjadi jalan Ke Maha Baikkan-Nya