Ada Apa Dengan Corona

sedekh

Hari ke enam peraturan pemerintah karena  wabah CORONA (COVID-19) yang juga melanda negara kita. Hari hari awal penetapan Belajar Dari Rumah & Working From Home mungkin ada banyak orang yang merasakan seperti perpanjangan liburan akhir pekan.

Bagi yang punya semboyan “I HATE MONDAY” mungkin ada sedikit kegembiraan yang tersembunyi, karena tidak mesti berangkat pagi pergi ke kantor dan mengerjakan pekerjaan yang terkadang serasa  beban kewajiban. Tidak mesti berada di kantor yang rasanya menjemukan, atau bertemu dengan rekan kerja yang menyebalkan, hhe…

Walaupun pada kenyataannya, kewajiban meyelesaikan pekerajaan tetap ada , tapi setidaknya tidak mesti menemui hal hal yang kurang menyenangkan di kantor & bisa merasakan sedikit persaan nyaman, karena  kita lakukan semua itu dari rumah. Bukan Begitu ?

Bagi saya sendiri -yang memang bukan orang kantoran-, konsep “Work From Home” bukanah sesuatu yang baru, karena dari dulu sudah saya jalankan. Tempat bekerja bagi saya bisa dimana saja. Tempat kerja saya kadang di kantor, di rumah, di tempat klient, perpustakaan umum atau perpustakaan pemerintah, coffe shop (kalau keuangan sedang aman), masjid, rumah teman, atau terkadang taman kota

Tapi memang suasana “Working From Home” kali ini berbeda. Wabah Corona yang sedang melanda Indonesia ini, sangat banyak mengambil perhatian & pikiran kita. Berita berita yang tidak kita henti pantau perkembangannya, yang tidak hanya mengenai tentang Corona nya itu sendiri, tapi tentang dampak yang menyertainya ; terbatasnya alat alat kesehatan, harga hargabeberapa komoditas yang merangkak naik, makin tingginya harga dolar, prediksi ekonomi yang terus memburuk, panic buying, isu penjrahan, dll

Kita sepertinya tidak henti dihujani berita berita seperti ini -dari beragai macam media- Televisi sudah pasti, belum lagi berita berita dari media elekrtonik yang seperti nya sangat bertubi tubi, twitter, facebook, share dari grup wa yang tidak hanya satu, yang hampir setiap grup memberitakan hal yang sama

Belum lagi berita berita yang belum tentu sesuai fakta, dibumbui hoax, atau berita yang hanya berdasarkan asumsi dan pendapat pribadi atau golongan tertentu saja, atau berita berita yang akhirnya menjadi konflik karena perbedaan pendapat  atas penyikapan terhadap Corona ini. Lalu ….

Saya pernah merasa lelah, karena terlalu mengkonsumsi banyak berita, apakah teman teman pernah merasakan hal yang sama …?

Mungkin niat awalnya ingin tahu perkembangan saja, tapi akhirnya kita terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi informasi, yang kadang kala juga tidak apa apa kalau kita tidak mengetahui hal tersebut. Namun fokus kita menjadi salah, alih alih melakukan sikap antisipasi untuk menghadapai virus ini, kita malah tenggelam dalam berita berita yang tidak ada hentinya ini.

Tidak salah memang memantau perkembangan berita, tapi ketika kita sudah tahu mengenai esensi beritanya, itu sudah lebih dari cukup. Langkah selanjutnya adalah bagaimana mengantisipasi, dan bagaimana mengantisipasi juga menyikapi apabila hal tersebut terjadi di sekitar kita. Ikuti saja apa yang menjadi arahan pemerintah dan para tenaga medis yang memang pakar dibidangnya. Karena …

Bukan seberapa banyak berita yang kita dapatkan, namun apa yang kita lakukan dengan berita tersebut

Karena sepertinya, bila kita tenggelam pada berita semata, hal ini bisa menjadi kontraproduktif. Diataranya kita menjadi cemas berlebihan, atau berbagai tugas “WORKING FROM HOME” yang semestinya kita kerjakan menjadi terabaikan, dan kewajiban kewajiban lain yang mesti ditunaikan pun menjadi terabaikan.

Pada akhirnya dibutuhkan kebijakan dalam manghadapi wabah ini, pun dalam mengelola berita yang kita konsumsi. Memang ada yang perlu kita ketahui secara mendalam, ada yang perlu kita ketahui pertengahan, ada hal yang perlu kita ketahui cukup permukaannya saja.

Jadikan  diri kita tetap produktif berkegiatan dari rumah, dengan apa yang terjadi. Produktif secara fisik, intelektual, emosional dan spritual.

Kita lakukan bagian kita, untuk menghadapi wabah ini. Melakukan apa yang telah disarankan, menbatasi kontak fisik, menjaga daya tahan tubuh, menjaga kebersihan diri, dll.

Yang juga sangat penting adalah menjaga keterhubungan kita dengan Tuhan, Sang Pencipta kita, yang menguasai hidup kita, yang memutuskan hidup dan mati kita, karena Ia lah yang berkuasa atas setiap nafas hidup kita

Kita kuatkan do’a agar wabah ini segera berlalu dari negri ini, dari dunia ini. Kita terus kuatkan do’a agar keluarga kita, orang orang yang kita cinta, dan bahkan siapapun orang yang tidak kita kenal terhindar dari wabah ini.

Ikhiar Maksimal – Berdoa Maksimal

Fn : Sebuah catatan dan nasihat kepada diri sendiri, dalam masa yang tidak biasa ini. Oh ya temen temen, biar #DirumahAja nya tetap berkah, saya ingin infokan program program sosial bisa berpatisipasi.

https://kitabisa.com/campaign/bangunsekolahntt

https://kitabisa.com/campaign/alquranuntukflores

 

~ Jangan Jangan Kita Hanya Merasa … .

348dc0d7-ff95-490e-88e4-b7ab0ce20cbcJleb banget dapet mame ini, betapa seringkali nya kita memberikan komentar terhadap orang lain, karena ia tak sama dengan apa yang kita lakukan.

Karena kita sedang lapang, maka dengan mudah memberikan penilaian untuk mereka yang sebenarnya sedang kesulitan.

Karena kita telah mahir berlari, maka dengan mudahnya memberi cibir pada mereka yang sedang tertatih untuk bisa berdri lagi.

Karena kita sudah merasa berdaya, maka dengan mudahnya memberi komentar tak nyaman pada mereka yang sebenarnya sedang bersungguh sungguh berusaha.

Kita tidak mencoba memberi jeda pada hati kita, untuk melihat lebih dalam, hanya senang memberikan komentar pada hal hal yang hanya terlihat di permukaan ..

Padahal barangkali sesungguhnya apa yang ia lakukan, lebih mulia dari kita, hanya saja tak tampak di permukaan

Ah barangkali jiwa kita yang hanya pandai merasa

Merasa lebih baik , Merasa lebih mulia …

#SelfRemainder

[ Kita Tak Punya Banyak Waktu ]

Waktu itu bergerak
Waktu itu berdetak
Waktu itu berpendar

Dimanakah jiwa kita ketika waktu merangkak bergerak

Dimanakah akal kita ketika waktu tersentak berdetak

Dimanakah hati kita ketika waktu memudar berpendar

Telahkah kita jauh melangkah, atau kita hanya berputar putar saja.

Telahkah kita banyak berbuat, atau kita hanya jalan jalan di tempat saja.

Telahkah kita benar beramal, atau kah hanya sebatas prasangka belaka saja.

Telahkah kita benar mengguna waktu, saat beribu detak waktu telah berlalu.

Kita tak punya banyak waktu
Kita tak punya banyak waktu

Ya…
Kita tak punya banyak waktu

 

time