Keresahan Tentang Masa Depan

Siang ini ketika mengemudi mobil, Saya kembali bercakap cakap dengan diri -bermonlog- seperti biasa. pikiran saya mengembara akan banyak yang sedang dialami. Episode episode yang datang silih berganti. Terkadang terhampar kebahagian, ketenangan, keyakinan bahwa semuanya akan baik baik aja. Tidak lama kemudian berganti dengan resah gelisah, khawatir, was was, perasaan berat, dan semacamnya.

Lalu, kemudian hati dan fikiran kembali bercakap cakap, barangkali berdiskusi, mengapa ada resah akan sesuatu yang belum terjadi, mengapa diri ini begitu sibuk mereka mereka apa yang akan terjadi nanti, menerka nerka tentang kehilangan, menerka nerka tentang apa yang mungkin dimiliki dan apa yang mungkin tidak akan termiliki.

“Resah Akan Masa Depan …”

Barangkali saya sedang lupa, atau mungkin sebenarnya tahu ; tapi tidak benar benar mengerti, tidak benar benar meyakini hingga urat nadi. Tidak benar benar tertanam hingga saraf terdalam, tidak tersambung kuat dalam sinaps pikiran, bahwa ada DIA yang Maha mengatur segalanya, bahwa DIA yang memiliki serta mengatur segala, dari susunan atom terkecil hingga susunan alam semesta, dari semua yang bisa kita raba, hingga tak terjangkau oleh panca indra.

Barangkali saya sedang melupa, bahwa hidup ini tidak murni dalam genggaman tangan kita. Atas segala usaha ada ketentuannya yang sudah ia tetapkan untuk Kita hamba-Nya. Menjalankan kalimat “Tugas kita berusaha, Allah yang tentukan akhirnya…” memang tidak semudah pengucapannya. Memahami kalimat “Skenario hidup dari Allah lebih indah, daripada perencanaan & cita cita hidup kita” tidak segampang yang dikira.

Satu waktu kita menjadi lurus, tenang & bijaksana

Satu waktu kita menjadi bingung, resah & tak tentu arah

Barangkali disitulah tugas kita sebagai manusia, saat dalam tak tentu arah, kembali “meng-adjust” hati & pikiran, tentang keyakinan bahwa kepada Allah lah semata hidup ini kita titipkan, kepada Allah sematalah hidup ini kita pasrahkan.