Manusia “Setengah Setengah” Di Dunia Digital

Nah … ini dia salah satu dilema yang dialami oleh manusia “setengah setengah” – seperti saya – di dunia digital seperti sekarang. Manusia “setengah setengah” maksudnya gimana ? Ah ini istilah saya aja, untuk menggambarkan situasi saya saat ini. Bisa dikatakan saya seseorang yang setengah ekstrovert dan sebagian diri saya yang lain adalah introvert.

Bidang pekerjaan dan aktifitas saya adalah bidang yang benar benar berhubungan dengan banyak orang, butuh selalu “update” agar selalu terlihat dan eksis, terutama dalam dunia media sosial. Selain itu “dituntut” untuk bisa selalu fast response, ketika ada klient menghubungi. Jenis aktifitas yang menuntut saya selalu ONLINE.

Pekerjaaan pekerjaan extrovert dan interpersonal kalau bisa dibilang. Pekerjaan yang selalu membuat kita terlibat dengan orang lain, pekerjaan yang memang menuntut kita selalu “keep in touch” dan “easy to reach” . Saya menikmati sebenarnya, karena saya memang senang dengan aktifitas yang berhubungan dengan orang lain, bersosialisasi, berinteraksi, dan semacamnya.

Dilain pihak, saya pun orang yang introvert. Bukan berarti tertutup, tapi lebih kepada pemikir dan perenung. Saya seringkali membutuhkan waktu sendiri, yang benar benar sendiri di saat saat tertentu. Ketika saya butuh berfikir hal hal yang mendasar, atau butuh berdialog dengan diri sendiri, saya agak kesulitan ketika masih berada di “dunia ektrovert” saya.

Ketika sedang butuh dengan dunia yang “sunyi” agar bisa lebih jernih berfikir, lebih objektif melihat, lebih bijak mengambil langkah, agak sulit bagi saya, untuk di satu waktu berfikir dan tetap “on line” dengan dunia luar. Terlalu banyak distraksi, terlalu banyak pengalihan, kita tidak akan pernah selesai untuk “melayani” deras nya informasi dan permintaan dari luar. Benar … ?

Pernah saya, membuat jadwal waktu. Misalnya dari subuh sampai jam 07.00 saya tidak akan membuka hp, untuk chek aplikasi chat atau pun medsos. Dan jam 21.00 – sampai waktu tidur saya tidak membuka HP. Fokus pada diri sendiri dan apa yang benar benar ada di depan mata, keluarga dsb.

Tapi , pada kenyataannya dunia tidak semudah yang kita mau ternyata ….

” Kamu kemana aja sih, ko wa ku ga dibales beles …..”

” Ko, jarang komentar di grup ….”

” Ko, jarang jarang lagi update status ama ig stories, kemana aja ….”

Kalau ini mungkin saya masih bisa mengabaikannya. Tapi ketika berhubungan dengan pekerjan dan klient

” Mba, ko lama yaa dibales nya, saya butuh data nya segera….”

” Ko, slow response yaaa…, harusnya mudah dihubungi dong, kalau saya butuh apa apa”

Nah, dilema nya disitu, saat kita waktu untuk “ruang sendiri” kita, di sisi lain kita dituntut untuk selalu “ada”

Ada yang pernah merasakan hal yang sama ?

——————-

Bersambung …..

Advertisements

Ruang Sendiri

Akan selalu ada masa dimana kita membutuhkan “Ruang” untuk menyendiri, ruang yang tidak ada sesiapa dan tidak perlu menjadi sesiapa. Ruang dimana kita bisa meluruhkan segala atribut dunia, melepaskan segala peran yang ada, meletakan rupa rupa topeng dunia, ruang dimana ini tentang diri kita saja.

Ruang dimana kita bisa apa adanya menyikapi duka dan bahagia, ruang dimana kita bisa mengaku sepedih pedihnya rasa, dan sebuncah syukur jiwa. Ruang dimana tidak ada sekat antara diri kita, tidak ada sejarak dusta.

Ruang dimana kita melepas segala lelah, memerdeka nafas panjang, mengaku segala rasa sepi, atau tentang melepas air mata yang sempat tertahan, atau mengenang sebuah tanda tanya sebuah kisah cinta. Ruang dimana kita bisa mengakui segala gundah gelisah, ruang dimana segala harap dan cita bebas tercurah.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ruang yang bisa berupa tempat atau waktu, mugkin ruang itu kau temu ketika kau sedang berkendara pulang di malam hari, atau kau temu ruang mu saat kau berlari di pagi hari, atau saat kau menikmati sesuara aliran sungai dan memandangi ujung lautan, atau disujud mu di sepertiga malam.

Ruang itu, ruang yang kau bebas berdialog dengan dirimu sendiri, berdiskusi. Kadang dalam ruang itu adalah ruang kau mengobati luka yang teralami, atau merayakan kemenangan atas hari yang telah bisa terlewati.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ahh.. selamat menemu ruang itu, karena kita selalu membutuh itu, sebuah ruang untuk kita bisa menghela nafas panjang, merenungkan, dan kemudian meghimpun kekuatan untuk perjalan kehidupan selanjutnya …

Ruang yang sebenarnya kau tak pernah benar benar sendiri, ada Ia –yang entah kau sadar atau tidak- yang akan selalu membersamai mu dalam segala ruang sendiri mu, mendengar segala kalimat yang tak terucap, mengetahui dengan baik segala rasa yang tak bisa kau ungkap …

Maka, “ajaklah” Ia dalam ruang sendiri mu, karena Bersama-Nya ruang sendiri mu jiwa-mu akan jauh lebih utuh …

Bandung, 27 Februari 2018

Di Ruang Sendiri