Sesi Konsultasi Talents Mapping

Alhamdulillah kemarin bertemu klient untuk sesi feedback Talents Mapping yang, mendengarkan tentang berbagai keresahan tentang peran juga . Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah ini benar-benar diri kita?” atau “Mungkinkah diri kita yang sesungguhnya justru sedang menunggu di seberang sana?” pun mengalir dalam obrolan.

Pencarian “jati diri” terkadang melalui banyak likuan, kadang harus melalui jalan yang tidak kita harapkan, peran yang bukan kita inginkan. Namun itulah perjalanan kehidupan. Sesekali kita diminta untuk ikhlas menjalankan, sesekali kita dihadapkan dengan berbagai pilihan.

Tugas kita adalah mencari tentang siapa diri kita yang sejati. Dengan cara memahami diri, mengetahui apa kekuatan, keunggulan bahkan kelemahan dari dalam diri. Agar kita tahu kemana arah melangkah, agar kita mengetahui arah masa depan.

Obrolan kemudian berlanjut bersama teman-teman disabilitas yang mengelola Café More, yang berlokasi di sekitar Wiyataguna, Pajajaran, Bandung. Masya Allah, ketika mereka diberi ruang dan kesempatan, mereka mampu menunjukkan potensi luar biasa dan bisa untuk lebih berdaya.

Semoga semakin banyak ruang-ruang inklusif seperti ini, yang dapat memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk berkarya dan mengekspresikan potensi, kekuatan, serta keunikan mereka masing-masing.

Kenali Potensi Diri Semenjak Dini

Sebuah kesyukuran bisa berbagi ilmu & inspirasi dengan para siswa SMP Al Amanah Cileunyi Bandung. Senang sekali, para siswa disini mempunyai lingkungan yang mendukung tumbuh kembang potensi & bakatnya. Mereka sudah berani mengekspresikan bakat, juga menyatakan cita cita.

Kemarin anak anak diberikan ilmu mengenal diri dengan Metode Talents Mapping. Belajar mengidentifikasi apa yang unik, unggul dan kuat di diri mereka, agar bisa menjadi panduan untuk langkah mereka selanjutnya kelak di masa depan.

Tugas kita para orangtua, untuk memberikan ilmu, kesempatan dan lingkungan yang baik, agar mereka bisa terus bertumbuh.

Saat Ide Hadir di Saat yang Tak Terduga!

Buncahan dan lintasan ide sering kali muncul di saat yang tidak terduga. Ada yang mengalami hal yang sama? Alih-alih hadir saat sengaja mencarinya secara serius, ide justru seringkali datang saat kita melepaskan diri dari tekanan pekerjaan.

Seringkali saya mengalami kebuntuan saat hanya duduk di depan laptop, memaksa otak untuk “menghasilkan” ide dan gagasan, sayangnya hasilnya nihil! Sebaliknya, saat saya keluar dari “zona kerja” dan memasuki suasana yang berbeda, tiba-tiba saja—cling!— gagasan baru melintas begitu saja.

Ini adalah salah satu uniknya sebuah proses kreatif. Ide kerap datang saat kita melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda—di luar kebiasaan dan di luar zona rutinitas kita.

Bisa jadi saat membaca tema buku yang tak biasa, bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda, atau saat berada di di tempat yang baru. Perbedaan suasana, orang, lingkungan, seringkali membantu saya melihat sesuatu secara berbeda, yang selama ini tertutup oleh repetisi dan pola yang monoton dalam aktifitas harian.

Sebagai seseorang yang memiliki bakat #Ideation yang kuat dalam konsep Talents Mapping, saya pribadi sangat sering mengalami momen-momen seperti ini. Pikiran saya seakan tidak pernah benar-benar “mati”. Bahkan saat melakukan aktivitas yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan—seperti memasak, berolahraga, menyiram tanaman atau bahkan saat cuci piring— buncahan ide-ide segar bisa saja muncul dengan sendirinya.

Uniknya, ide-ide tersebut sering kali lebih jernih dan orisinal, mungkin karena muncul dari alam bawah sadar yang lebih rileks, bukan dari pikiran sadar yang sedang dalam kondisi tertekan. Kondisi ini memperkuat pemahaman bahwa proses kreatif tidak selalu rasional, terstruktur, atau linier. Justru kebebasan, kelonggaran, dan stimulasi dari luar yang menghasilkan sesuatu yang istimewa.

Gimana, suka dapat ide pas lagi ngapain? yukss ceritaa…!


Temukan Peran Kebermanfaatanmu

Bertumbuh, Berdampak, Bermanfaat…


Alhamdulillah, sebuah rasa syukur bisa berdiskusi dengan para mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang menyelesaikan program magister di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagian besar dari mereka berasal dari Kabupaten Sikka, NTT.

Kami saling berbagi inspirasi mengenai keresahan dan permasalahan yang mereka temukan di daerah asal masing-masing. Selain itu, mereka juga menyampaikan potensi yang ada serta impian mereka untuk kemajuan daerah dan masyarakatnya.

Setelah itu, kami berdiskusi tentang solusi dan peran spesifik yang bisa mereka ambil saat kembali ke daerah masing-masing, serta bagaimana mereka dapat berkontribusi melalui ilmu yang telah dipelajari.

Ternyata, dalam diskusi yang terbuka, banyak cita-cita mulia yang ingin mereka wujudkan dan berbagai potensi baik yang bisa dioptimalkan. Niat baik ini tentu akan lebih kuat jika dijalin, dikoneksikan, dan dikolaborasikan. Sebab, kebaikan besar hanya akan terwujud jika dilakukan bersama-sama.

Dengan berkumpul seperti ini, kita saling menumbuhkan, saling menguatkan, dan saling bersinergi demi terwujudnya cita-cita kebaikan bersama.

Belajar Untuk Apa ?

Saya adalah tipe orang yang menyukai proses belajar. Saya selalu antusias dan ingin tahu terhadap hal-hal baru. Dalam konsep #TalentsMapping, ini disebut sebagai “Learner” – si Pembelajar. Dan memang, bakat Learner termasuk dalam 14 bakat teratas saya berdasarkan hasil tes Talents Mapping.

Dulu, saya sempat keranjingan belajar. Setiap ada workshop atau pelatihan, saya ingin ikut. Jika dananya tersedia, saya langsung mendaftar. Tak hanya itu, bila ada buku menarik dan saya punya anggaran, saya langsung membelinya.

Namun, seiring waktu, seiring bertambahnya pemahaman dan kedewasaan – tsahhh – saya mulai belajar untuk belajar dengan penuh kesadaran. Bahwa belajar tidak sekadar tentang prosesnya, tapi tentang tujuannya.

Kini saya mulai bertanya pada diri sendiri:

“Apa tujuan dari proses belajarmu?”

“Apakah yang kamu pelajari sesuai dengan misi hidupmu?”

“Apakah ilmu baru yang akan kamu pelajari berkaitan, mendukung, dan sejalan dengan tujuan-tujuan hidupmu?”

Belajar dengan kesadaran. Belajar dengan arah dan tujuan yang jelas. Bukan semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahu, apalagi sekadar rasa penasaran.

Saya teringat pesan dari Ustadz Harry Santosa dalam bukunya Fitrah Based Life:

“Learning for mission, not learning for learning.”

Belajar bukan semata-mata demi belajar itu sendiri, melainkan demi misi & peran kehidupan yang kita emban. Ini bukan berarti kita tidak boleh menikmati proses belajar, atau membatasi diri dari ilmu. Namun ini adalah ajakan untuk meneguhkan niat dan memperjelas arah: Untuk Apa Kita Belajar.

Semoga setiap ilmu yang kita pelajarii, membawa kita lebih dekat pada misi hidup, pada kebermanfaatan, dan tentu saja—pada Allah SWT.

Selamat belajar dengan penuh kesadaran.
Selamat belajar dengan misi & tujuan
Happy Learning 😊

Yuks Cari Tahu Bakat, Keunggulan & Keunikan Dirimu :

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

#journaling#learner#talentsmapping

Jangan Terlalu Fokus Pada Kelemahan, Sampai Lupa Mensyukuri Kekuatan

Lelahnya Saat Berusaha Mati Matian Tapi Hasilnya Biasa Saja

“Dulu waktu sekolah, saya sudah belajar mati-matian, tapi nilai Matematika dan Kimia saya nggak pernah tembus angka tujuh atau delapan. Paling mentok cuma dapat enam.”

“Nilai Bahasa saya justru selalu bagus. Padahal saya belajar biasa saja, mungkin karena saya memang menikmati pelajaran itu.”

“Saya sebenarnya suka banget ngerjain angka, data, dan kerja di balik layar. Tapi sekarang pekerjaan saya mengharuskan saya tampil di depan kamera setiap hari…”

Apakah kamu pernah merasakan hal yang sama? Baik dulu zaman sekolah ataupun saat ini saat sudah mulai masuk dunia kerja. Saat kamu terpaksa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kamu sukai. Dimana rasanya waktu berjalan sangat lambat dan diri menjadi mudah stress dan tidak menikmati apa yang dikerjakan.

Atau mungkin kamu pernah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap biasa saja. Sementara orang lain tampak santai, tapi hasilnya justru luar biasa.

Ironisnya, kadang terjadi sebaliknya: kamu memberikan usaha yang biasa, tapi hasilnya justru memuaskan, bahkan melebihi ekspektasi.

Sebenarnya apa yang terjadi ?

Kekuatan vs Kelemahan: Mana yang Harus Diprioritaskan?

Katanya, setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tapi bagaimana kalau selama ini kamu justru terjebak—terlalu sibuk menambal kelemahan, sampai lupa mengembangkan kekuatan?

Jangan jangan yang kamu lakukan selama ini adalah fokus dalam menambal kelemahanmu dan tidak tahu bagaimana mengasah kekuatanmu. Sehingga apa yang kamu kerjakan sangat sulit mencapai hasil terbaiknya.

Jadi, mana yang seharusnya jadi fokus utama? Terus memperbaiki kelemahan, atau memaksimalkan kekuatan?

Namun, sebelum menjawab itu, ada ertanyaan yang sangat mendasar perlu Kamu jawab : “Apakah kamu benar-benar tahu apa kekuatan dan kelemahanmu?

Fitrah Manusia: Unik, Tak Ada yang Sama

Secara fitrah, Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Wajah, bentuk tubuh, warna kulit, dan tipe rambut—semuanya unik. Begitu juga dengan potensi, karakter, kekuatan, dan kelemahan setiap individu. Tak ada dua manusia yang benar-benar sama.

Sayangnya persepsi dan budaya kita masih menganggap kelemahan seseorang adalah kesalahan. Bahwa kelamahan adalah sesuatu yang harus  ditiadakan, sehingga lupa untuk menghidupkan sisi cemeralangnya. Bahkan seringkali sisi cemerlang itu tidak dihiraukan, dianggap tidak penting atau tidak signifikan untuk hidupnya.

Kita dituntut untuk serba bisa di semua bidang, sempurna di setiap aktivitas. Menjadi manusia serba bisa seolah olah jadi kewajiban

Anologikan dengan benda beda yang ada di dapur: ada pisau, penggorengan, panci, sutil, blender, dll. Bukankah setiap alat punya fungsinya sendiri? Kalau blender digunakan untuk menggoreng, apa jadinya? Apa jadinya bila sutil digunakan untuk mengiris? Barang barang yang digunakan tidak sesuai fungsinya, akan berakibat tujuan memasak sulit untuk cepat selesai, atau bahkan berantakan !

Ibarat tanaman ; beras, buah, sayur, masing masing punya manfaatnya masing masing. Apalagi manusia, makhluk yang paling sempurna, ia mempunyai peran dan kebermanfaatannya masing masing bukan?

Apalagi manusia! makhluk yang paling sempurna. Ia sudah dibekali dengan fungsi dan peran kebermanfaatannya masing masing.

Manusia dengan berbagai sifat, karakter, potensi dan pembawaan masing masing, sudah terinstal di dalam dirinya tentang apa yang menjadi fungsi & peran masing masing. Manusia punya peran spesifik di dunia ini, dimana dia akan berkarya dan menebarkan kebermafaatannya.

Fokus pada Kekuatan: Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Ibarat mata pisau yang memiliki sisi tajam & tumpul, maka tugas kamu adalah mengasah sisi tajam agar menjadi kekuatan. Ketika kamu fokus pada kekuatan, peran & fugsi kamu akan lebih terasa keberadaannya & lebih maksimal kebermanfaatannya.

Fokus pada kekuatan juga bisa memberi rasa puas dan bahagia, karena kamu melakukan sesuatu yang memang “kamu banget”.

Kembali ke Dasar: Sudahkah Kamu Mengenali Dirimu?

Sebelum terlalu jauh melangkah, mari kembali ke pertanyaan dasar diatas. Sudahkah kamu tahu apa saja kekuatanmu? Apa kelemahanmu? Apa keunikan yang membuat dirimu berbada ? Apa aktifitas terbaikmu?

Kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan adalah langkah awal untuk menjadi pribadi yang autentik. Dari sinilah kamu bisa memaksimalkan potensi dan menjalani hidup yang lebih bermakna.

Kalau kamu masih bingung, yuk ngobrol bareng dan cari tahu bersama: apa sebenarnya kekuatan dan kelemahan dirimu disini.

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA

Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Si Visioner – Futuristic Talent

Kali ini saya akan bahas tentang bakat FUTURISTIC yang merupakan salah satu bakat terkuat (urutan atas) yang saya miliki, dalam Assessment test TALENTS MAPPING.

Apa sih bakat FUTURISTIC ini ? Secara singkat orang orang yang mempunyai bakat ini, adalah orang orang yang senang membayangkan tentang MASA DEPAN, pikirannya jauh melayang ke jauh ke depan, dia punya banyak bayangan tentang masa depan, bisa jadi tentang dirinya sendiri, bisa juga tentang orang lain. Dia punya banyak sekali cita cita. Dia melihat apa yang tidak orang lain, dan memercayai apa yang belum orang percayai saat ini

Dulu, sebelum faham tentang bahasa BAKAT & sebelum kenal dengan TALENTS MAPPING, saya sering kali melabeli diri Saya sebagai “pengkhayal”, karena kecendrungan saya tadi, yang senang membayangkan masa depan. Saat belum faham ,saya menilai pengkhayal nya diri saya adalah hal yang cendrung negatif.

Namun, setelah memperdalam TALENTS MAPPING, saya jadi faham bahwa pengkhayalnya saya itu adalah sebuah TALENTA unik sekaligus anugrah yang diberikan oleh Allah Swt. Tidak semua orang mempunyai keuinkan tersebut dan kabar baiknya, talenta itu bisa membuat saya bisa lebih percaya diri, produktif & bermanfaat saat saya tahu apa dan bagaimana menggunakan serta memaksimalkannya.

Nah….lalu apa sih yang di bayangkan tentang MASA DEPAN oleh orang orang dengan bakat FUTURISTIC ini ? Nah tentunya setiap orang akan berbada, tergantung konteks, latar belakang, juga kombinasi bakat lain yang mereka miliki.

Uniknya, dalam diri Saya FUTURISTIC yang saya miliki, kecendrungan membayangkan tentang MASA DEPAN orang lain, bukan hanya tentang diri saya. Hal ini sepertinya berkaitan dengan bidang yang saat ini saya sedang lakukan -di bidang sosial pendidikan- dan juga berkaitan dengan bakat kuat saya yang lain, diantaranya bakat DEVELOPER, IDEATION dan juga BELIEF.(Lain kali kita bahas bakat yang ini)

“Membayangkan masa depan dengan berbagai ide gagasan dengan tujuan membantu dan menumbuhkan orang lain”

VISIONER ! Setelah saya faham tentang TALENTS MAPPING, saya dengan percaya diri bisa mengatakan bahwa saya adalah seorang VISIONER, yang punya banyak cita cita tentang masa depan. Bukan hanya tentang diri saya sendiri, tapi cita cita untuk banyak orang.

So, bila kamu yang baca ini, punya kecendrungan yang sama seperti saya ; Senang membayangkan masa depan, bisa jadi kamu punya bakat FUTURISTIC! yang merupakan potensi, keunggulan dan keunikanmu, untuk modal dan “bahan bakar” untuk masa depanmu!

Pengen Tahu Apa Bakatmu ? Yuks Ngobrol Langsung :

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA

Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Tidak Perlu Terburu …

Saat jatuh, terpuruk, atau situasi tidak sesuai dengan harapan & keinginan, tidak perlu terburu mencari hikmah, tidak perlu terburu menjadi bijak
Memaksa diri untuk bijak, padahal hati & fikiran masih berontak.

Take your time…

Terima dahulu segala rasa di diri, tiada salahnya, kita manusia dengan segala rasa

Endapkan, uraikan, lepaskan…

Setelah itu perlahan tata lagi hati & fikiran, mencermati apa yang terjadi. Pelan pelan lakukan apa yang mampu kita kerjakan, perbaiki apa yang bisa diperbaiki, akui dengan jujur apa yang salah, apa yang kurang, seraya langitkan do’a sepenuh hati, agar terang langkah kemudian

Diperjalanan, tanpa sengaja biasanya hikmah itu didapatkan, tapi bukan dipaksakan. Diperjalanan hikmah itu hadir, menghangatkan diri kita, tanpa memaksa

Dan kita pun memeluknya dengan bahagia…

Setelah Ramadhan

Rasanya inilah sebenar benarnya pertempuran, waktu setelah Ramadhan

Apakah kita akan tetap dalam kekuatan ketaqwaan

Atau kesungguhan dalam Ramadhan kita tinggalkan

“Ah sebentar saja bermalas malasan tidak apa ….”

“Ah istirahat sebentar sehabis Ramadhan…”

Yang nyatanya kadang tidak sebentar, malah keasyikan dalam kelalaian

Astaqfirullahal’adziim, Fagfirlii Yaa Rabb

Seharusnya setelah Ramadhan kita membawa energi pembaharuan

Lebih baik dalam segala sisi kehidupan

Bukan malah lalai, melayang layang, menunda, mengurangi waktu waktu ibadah

Astaqfirullahal’adziim, Fagfirlii Yaa Rabb

Yaa Rabb…

Izinkan hamba kembali dalam kekokohan kebaikan Ramadhan

Dimana hati dan fikiran ini selalu ingin tertaut kepada-Mu

Ketika jiwa ini begitu khusyu ingin meraih Ridha-Mu

Yaa Rabb Izinkan hamba ….