Definisi Bahagia …

Siapa sih yang tidak ingin hidupnya bahagia ?

Rasa rasanya tidak ada yang tidak ingin bahagia dalam hidupnya. Kadang orang melakukan sesuatu mati matian agar dia mengejar dan merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.

Pertanyaan yang mungkin harus kita clear di awal adalah :

Apa sih definisi bahagia … ?

Setiap orang sepertinya mempunyai ragam jawaban yang berbeda. Tergantung sudut pandang, kondisi dia saat ini, latar belakang, masa lalu, atau harapan harapan di masa depan, dan lain sebagainya.

Mungkin ada yang menjawab : ” Bahagia itu ketika kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan …..” atau ada yang menjawab “Bahagia itu ketika kita meraih kesuksesan ….” atau “Bahagia itu ketika kita bisa membahagiakan orang orang yang kita cintai ….”

Bagi orangtua mungkin bahagia itu ketika melihat anak anak nya bertumbuh sehat, cerdas, dan menjadi anak yang soleh. Atau bagi sang peraih impian, bahagia itu adalah ketika dia mendapatkan kebebasan financial sehingga kita bisa berbuat banyak untuk dirinya dan banyak orang.

Atau definisi bahagia yang sederhana. Ketika seorang petani melihat sawahnya menguning  subur bertumbuh, atau seorang ibu yang bahagia ketika makanan nya habis dilahap oleh suami dan anak anaknya, atau ketika seorang supir angkot yang bahagia ketika uang hasil tarikannya cukup untuk membayar biaya SPP anak anaknya, atau bagi seorang wanita bahagia itu ketika bisa bersanding dengan laki laki idamannya …

Tidak ada definisi yang pasti untuk menerjemahkan makna kebahagian, tergantung bagaimana di konsidi manusia tersebut berada ….

Menarik ketika seorang teman mendefinisikan tentang kebahagian melalui cerita seorang komedian yang baru baru ini ditangkap karena kasus narkoba. Konon katanya pekerjaan komedian adalah membuat orang lain tertawa, dan ketika melihat orang lain tertawa maka ia pun akan bahagia, harusnya ia bahagia karena telah membuat orang lain bahagia. 

Tapi dalam sebuah wawancara, sang komedian ini mengaku bahwa “Hidup saya tidak bahagia ….” sehingga narkoba itu lah pelariannya. Padahal di  sisi lain hidupnya ia adalah seorang yang baik juga, menjadi tulang punggung keluarga, banyak membantu orang lain, dan tentunya banyak disenangi oleh orang lain.

Lalu apa yang salah ? kenapa dia tak kunjung bahagia, walaupun dia sudah bisa memberikan “kebahagian” kepada orang lain ?

Kemudian teman saya ini membuat kesimpulan yang cukup membuat saya kembali tersadarkan. Bahwa ada tingkatan dalam definisi kebahagian, ada yang menerjemahkan kebahagian yang disadarkan pada dirinya sendiri, kebahagian yang ia sandarkan kepada orang lain, dan yang ketiga adalah kebahagian yang di sandarkan kepada Sang Pencipta.

” Memuaskan keinginan keinginan diri, atau memuaskan keinginan keinginan orang lain terhadap diri kita, tidak lah membuat kita mendapatkan makna bahagia yang sesungguhnya ….”

Karena kita akan mendapatkan kebahagian sesungguhnya adalah, ketika kita hidup dengan sesuai dengan  keinginan SANG PENCIPTA atas diri kita

Tak salah ketika kita mendefiniskan bahagia melalui kacamata kita. Namun bila kita terus sandarakan kebahagian tersebut pada hal hal yang tak abadi, maka kebahagian itu pun akan tidak abadi, apapun itu …

Maka, mari kita belajar untuk “naik kelas” bahwa kebahagian adalah ketika kita menjalankan hidup sesuai dengan keinginan Sang-Pencipta atas diri kita,  karena disanalah letak kebahagian sesungguhnya, kebahagian Abadi

Ah lagi lagi ini nasihat untuk saya pribadi, pembicaraan dengan kawan saya ini menyadarkan saya. Bahwa sering kali kita lupa untuk menyandarkan kebahagian kita kepada-Nya. Dalam definisi-Nya.

Alih alih kita terus mengejar kebahagiaan yang seperti fatamorgana, nampak seperti air yang menyejukan, namun nyatanya hanya bayangan  saja, ketika kita hampiri, ia bukan apa apa dan kita pun kecewa ….

Lalu Apa Makna Bahagia Buatmu kawanku …?

 

Bandung, 10 September 2019