Hidup, Untuk Menghidupi Hidup

Sebuah perjalanan pulang yang melelahkan malam itu membawa alam fikiran saya melayang jauh. Memikirkan apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan, tentang apa sebenarnya untuk apa kelelahan kelelahan ini sehingga mau kita jalani.

Fikiran ini saya biarkan mengalir bebas. Sambil menyetir perlahan, saya matikan AC dan membuka jendela, membiarkan udara malam yang menemani saja. Saat ini saya sedang “mengejar” sesuatu pencapaian dalam bisnis saya. Tak jarang saya harus pulang larut malam, tak jarang pula saya menunda atau mengabaikan hal lain, karena ingin fokus dalam pencapaian tersebut, bahkan tak jarang juga saya mengabaikan kesehatan saya.

Di lampu merah, pandangan saya terhenti pada seorang bapak, yang di pinggir trotoar yang tampaknya sedang berstirahat kelelahan, disampingnya barang dagangannya yang masih ia gelar. Juga ada beberapa pedagang asongan yang masih menjajakan barang dagangannya ke setiap jendela mobil.

Waktu telah hamir dari jam sepuluh, waktu yang dalam dimana banyak orang telah pulang bertemu keluarganya, beristirahat, mempersiapkan esok hari. Tapi mereka masih menjalankan kemungkinan bahwa akan ada orang yang masih membeli dagangannya walau malam telah cukup larut, dan orang orang juga sudah jarang dijalanan. Mungkin sebentar lagi mereka akan pulang, ujarku dalam hati. Dan esok akan kembali menjalani rutininas seperti ini lagi, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan.

Memori saya jadi melayang ke beberapa saat lalu, ketika mengujungi kota Jakarta, dan ketika akan pulang terjebak arus macetnya ibu kota. Katanya macet seperti ini mereka alami setiap hari. Mereka yang bekerja, pulang dan pergi, dengan sukarela menghadapi kemacetan, kejemuan di jalan raya, yang bisa berjam jam. Dan esok akan kembali menjalani rutininas seperti ini lagi, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan.

Lalu berkaca lagi kepada apa yang sedang saya jalani saat ini, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan

Hingga timbul pertanyaan, yang mungkin jawabannya ada dalam diri saya sendiri, jawabannya akan terjawab dengan cara menjalaninya, jawaban yang perlu kita cari sungguh sungguh : ” Apakah kita hidup, hanya untuk menghidupi hidup ? ”

—–

EPISODE HIDUP KITA ….

Tulisan diatas adalah tulisan saya sekitar dua tahun lalu yang saya tulis di blog lama saya. Ditulis waktu saya dalam episode hidup yang lumayan berbeda jauh dengan episode saat ini. Episode saat dimana dunia sehari hari saya adalah dunia yang penuh dengan target target dan pencapaian. Waktu rasanya tidak cukup, karena di otak saya hanya berputar putar tentang bagaimana untuk meraih angka angka dan target tersebut.

Dan saat ini episode yang saya jalankan berbeda dengan yang sebelumnya. Episode hidup kali ini, saya merasa lebih tenang dalam menjalankannya. Karena rupanya inilah dunia dimana saya merasa lebih hidup, lebih menapak, dan lebih menjadi diri sendiri. Episode hidup yang dijalankan bukan berdasarkan target dan pencapaian angka semata, namun karena ukuran kebermanfaatan.

Memang, masing masing episode hidup itu “menawarkan” kenikmatan yang berbeda beda. Episode sebelumnya lebih menawarkan peluang kenikmatan financial yang tak terbatas namun akan selalu diburu dengan target dan angka, dan episode saat ini memang tidak begitu menawarkan financial yang berlebihan -jauh berbeda dengan bidang saya sebelumnya- namun bidang ini menawarkan kenikmatan, ketenangan hati, fikiran dan kebermaknaan. Inilah dunia saya yang sebenarnya.

Namun saya bersyukur pernah ada di episode hidup sebelumnya, karena saya mendapatkan banyak pelajaran, pengalaman, penghidupan dan juga hikmah kehidupan, yang barangkali jadi modal saya ketika menjalani bidang baru ini, yang notabene secara bidang sangat jauh berbeda, terutama dalam hal financial.

Siapa sih yang tidak butuh uang ? Saya rasa setiap orang butuh uang, dan bayak kebaikan yang bisa dilakukan dengan uang. Tapi menjadikan uang sebagai tujuan utama bagi saya akhirnya menjadi sebuah kelelahan yang tidak berkesudahan …

Akhirnya….tidak ada yang sia sia dari cerita hidup yang telah kita lalui, yang juga barangkali merupakan skenario hidup yang Allah buat untuk kita …

Jadi jangan berhenti mencari, saat kau belum menemukan ….

Hidup akan penuh dengan pilihan, dan dalam pilihan tersebut tidak ada kondisi yang sempurna, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pilihlah dengan hati nurani, atas dasar niat suci. Mintalah petunjuk dari Sang Penggenggam Hati Dan Penggenggam Hidup kita, tentang kemana arah jalan hidup kita …

Tunjukan kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau Ridhai …

—-

Bandung, 24 Oktober 2019

Bagaimana Menentukan Pilihan

Sampai kapan pun, hidup ini akan selalu berhadapan dengan pilihan pilihan. Dari memilih hal hal biasa hal hal keseharian, hingga memilih hal hal besar dalam hidup. Nah yang ini yang lumayan berat, menentukan hal hal besar dalam hidup.

Ketika pilihan itu tidak sederhana, tidak semudah memilih baju yang biru atau yang hijau, tidak sesederhana memilih makan nasi goreng atau nasi uduk, tidak semudah memilih mau  mandi atau tidak.

Berat dan memang tidak mudah untuk diputuskan, kadang butuh berfikir panjang dan berfikir dalam, berhenti sejenak, bertanya, banyak membaca, membaca diri, flash back ke masa lalu, meneropong masa depan.

Bertanya kepada mereka yang lebih mengerti, meminta pendapat pada mereka yang kenal kita lebih dalam, mereka yang menyayangi kita, mereka yang peduli. Dan yang terpenting adalah meminta petunjuk kepada-Nya, kepada Zat yang menciptakan kita, yang tau A To Z hidup kita, sang pemilik hajat.

Meminta padanya, agar di berikan petunjuk, diberikan isyarat hati,  mana yang harus ditempuh, jalan yang mana yang sebaiknya dilewati, cara seperti apa yang harus di lakukan, dan meyakinkan apa yang menjadi pilihan.

Saya sedang belajar, saya sedang mengalaminya, saya sedang mencari tau, saya sedang meminta kepada Allah, agar dibimbing memilih pilihan yang tepat, yang bermanfaat, dan yang terpenting adalah pilihan yang ada dalam Ridha-Nya.

 

Hidup Untuk Menghidupi Hidup

Sebuah perjalanan pulang yang melelahkan malam itu membawa alam fikiran saya melayang jauh. Memikirkan apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan, tentang apa sebenarnya untuk apa kelelahan kelelahan ini sehingga mau kita jalani.

Fikiran ini saya biarkan mengalir bebas. Sambil menyetir perlahan, saya matikan AC dan membuka jendela, membiarkan udara malam yang menemani saja. Saat ini saya sedang “mengejar” sesuatu pencapaian dalam bisnis saya. Tak jarang saya harus pulang larut malam, tak jarang pula saya menunda atau mengabaikan hal lain, karena ingin fokus dalam pencapaian tersebut, bahkan tak jarang juga saya mengabaikan kesehatan saya.

Di lampu merah, pandangan saya terhenti pada seorang bapak, yang di pinggir trotoar yang tampaknya sedang berstirahat kelelahan, disampingnya barang dagangannya yang masih ia gelar. Juga ada beberapa pedagang asongan yang masih menjajakan barang dagangannya ke setiap jendela mobil.

Waktu telah hamir dari jam sepuluh, waktu yang dalam dimana banyak orang telah pulang bertemu keluarganya, beristirahat, mempersiapkan esok hari. Tapi mereka masih menjalankan kemungkinan bahwa akan ada orang yang masih membeli dagangannya walau malam telah cukup larut, dan orang orang juga sudah jarang dijalanan. Mungkin sebentar lagi mereka akan pulang, ujarku dalam hati. Dan esok akan kembali menjalani rutininas seperti ini lagi, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan.

Memori saya jadi melayang ke beberapa saat lalu, ketika mengujungi kota Jakarta, dan ketika akan pulang terjebak arus macetnya ibu kota. Katanya macet seperti ini mereka alami setiap hari. Mereka yang bekerja, pulang dan pergi, dengan sukarela menghadapi kemacetan, kejemuan di jalan raya, yang bisa berjam jam. Dan esok akan kembali menjalani rutininas seperti ini lagi, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan.

Lalu berkaca lagi kepada apa yang sedang saya jalani saat ini, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan

Hingga timbul pertanyaan, yang mungkin jawabannya ada dalam diri saya sendiri, jawabannya akan terjawab dengan cara menjalaninya, jawaban yang perlu kita cari sungguh sungguh : ” Apakah kita hidup, hanya untuk menghidupi hidup ?

Bandung, 10 April 2016

Originally Post From My Oldest Blog : http://www.angkasa13.wordpress.com