Males Benget, Kalo Hidup Hanya Sekali

Waktu itu saya sempat berbincang dengan seorang teman yang bisa dikatakan “Tidak Percaya Akhirat” dikatakan ateis tidak juga, dia mengidentitaskan dirimya memeluk ssuatu agama, namun dia “memilih” untuk tidak percaya akan ajaran agamanya

Bagi dia hidup ya sekarang ini, tidak ada hidup di kemudian hari setelah kematian. Dia memilih tidak percaya akhirat, entah karena dia mengandalkan logikanya entah karena dia tidak  tau, dan tidak mau tau. Yang jelas bagi dia, hidup ya sekarang, tidak usah memikirkan kehidupan lain nanti yang baginya sangat absurd.So, menurut dia sekarang puas puasakan lah hidup dengan apa yang kita mau, yang pengen kita kejar, pengen kita jalankan, cita cita pun cita cita dunia aja, ga usah muluk buat akhirat nabti, Karena baginya hidup cuma sekali.

Kami berteman baik, walau di ranah ini kami sering sekali berdebat masalah ini, dia keukeuh, “jangan mikirin hidup nanti yang ga jelas lah, nikmatin aja yg sekarang, berbuat terbaik pun ya untuk sekarang, jangan muluk mikirin akhirat. Kerja yang bener buat keluarga, cari duit ya untuk keluarga, sekali sekali bersenang senang, berbuat yang terbaik ya untuk hari ini, untuk hidup di dunia ini, akhirat itu masih abu abu, belum ada yg pernah ke sana juga ko, buat gw ya hidup ini  cuma sekali, hidup yang terbaik ya sekarang, di dunia ini”

 

Terus saya jawab, kurang lebih gini “Ih rugi banget kalo hidup ini cuma sekali, cuma yang sekarang doang. Hidup yang sekarang ini kan harus kerja, harus berjuang, harus cape, harus cari uang, masalah demi masalah datang bergantian, harus berlelah lelah. Kalo hidup memang cuma hari ini doang, hanya sekali doang, rugi banget, what we are fighting for ? hidup yang cuma menjalani rutinitas, hanya untuk menjalani masa muda ke masa tua, dan melihat berulang siklus itu, ah tidak, rugi banget…. kalo hidup memang cuma sekali yang sekarang ini, meningan ga usah ngapa ngapain, ga ada masa depan yang lebih abadi, ahh malessss, ga ada semangat, hambar…….

Kalo udah ngobrol kaya gini kadang dia ngeles ngeles gimana gitu. Dari air mukanya sih kayanya dia juga mengiyakan apa yang saya katakan, cuma entah gengsi entah memang “memilih” untuk tidak menyetujui dan meyakini.

Ah memang tujuan saya juga tidak ingin mendebat, obrolan obrolan yang kami lakukan juga  sambil santai, dan kadang hanya ingin tau apa sih yang ada di benak mereka yang tidak percaya dengan kehidupan setelah kematian. Apa sekedar karena mengandalkan logika, atau memang ada sisi hati yang tertutup rapat erat, sehingga tidak ada celah cahaya kebenaran yang merembes masuk.

Karena kembali, hidayah adalah absolut hak nya Allah, ketika ada di sekitar saya yang berkeyakinan berbeda dengan apa yang saya yakini, tugas saya mungkin hanya memberi insight sesuai porsinya dan tetap membina hubungan baik. Karena yang Maha membolak balikan hati, benar benar hanya Ia.

DSC_1998

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Males Benget, Kalo Hidup Hanya Sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s