R I N D U – K E P I N G S A T U

“ Aku ingin bertemu pagi ini “ kataku, lewat pesan singkat kepada mu

“ Pagi ini ? ada apa ? “ Jawab mu

Sepertinya aku butuh bercerita “

Dan pagi itu, kau telah datang lebih awal. Menyiapkan dua buah cangkir, teh dan kopi. Kau pun menyodorkan teh yang masih hangat “ Minum ini …..“ katamu. karena kau tau aku biasa tersugesti dengan wangi dan hangatnya aroma teh di pagi hari. Menenangkan.

“ Kenapa…? ” kau menyeruput kopi mu, menatap lurus ke arah ku

“Entahlah …” aku pun hanya memainkan tepian cangkir teh sambil menggigit gigit bibir, dan menggerakan kaki dalam ritme yang cepat. Beberapa kali aku menarik nafas yang dalam, yang dihembuskan dengan tergesa gesa. Sesekali aku menggigit gigit ujung jari, dengan kaki yang terus bergerak tak henti.

“ Kamu sedang  resah, ada apa ? “ Pertanyaan dan pertanyaan yang kau ucapkan berbarengan . Aku tak bisa menjawab nya seketika, aku mencoba menenangkan ritme nafasku, agar aku telihat baik baik saja di hadapmu. Dan di saat yang sama mataku mulai berkaca, dan aku berusaha agar tak ada yang pecah di sana.

Lama hingga aku akhirnya berani berkata …

“ Kamu tau, susah sekali rasanya bagiku mendefinisikan perasaan ini, perasaan yang bercampur baur, perasaaan bersalah, perasaan rindu, perasaan takut kehilangan, segala perasaan …”

“Apa penyebabnya ..? “

“ Dia menghilang, entah … atau aku yang menghilang, entahlah. Kamu tau, komunikasi yang salah, barangkali itu, atau mungkin bukan itu “ deru nafas ku makin tidak beraturan, seperti ada badai dalam dada, yang meminta segera diturunkan…

Dan kemudian aku pun bercerita kepadamu tentang segala gemuruh yang ada di dada, tentang dia, bercerita tentang segala resah yang ada di fikiran, tentang rasa bersalah, tentang bagaimana aku telah jauh berjuang, tentang apa yang sebenarnya, tentang betapa aku telah berusaha semampu yang aku bisa, tentang momentum yang terasa salah, tentang segala …

“ Mungkin benar kata mu, aku resah, aku gelisah, aku takut kehilangan, aku cemburu, aku rindu …”

Kamu pun mengangguk, kau tuangkan lagi teh ke gelas ku yang sudah mulai habis.          “ Minumlah dan tenanglah … atau bila kau ingin menangis, menangislah, its ok some time, to know about your own feel  …. “

“ Saat ini , aku merasa aku tak boleh menangis, aku tak boleh lemah, aku tak boleh kalah dengan perasaan, bukan kah katamu aku harus kuat, aku harus stabil, aku harus bisa melalui segala rasa rasa yang ada, aku harus kuat, bukankah itu yang kamu selalu katakan kepadaku…..

“ Bukankah katamu tugas kita masih banyak ? kita tak boleh tenggelam dalam rasa rasa yang seperti ini, bukan kah katamu banyak hal penting yang perlu kita urusi, yang tidak boleh kalah dengan urusan perasaan …”  Serasa ada yang tersangkut di kerongkonganku, aku ingin menangis saja

Lama kau tak menjawab apa yang menjadi pernyataan dan pertanyaan ku, kau biarkan rasaku tersampaikan, kau biarkan fikiran di kepala teruraikan, kau biarkan semuanya tersampaikan.

Kau biarkan deru nafasku naik dan turun tak beraturan, dan kau biarkan bulir hangat air mata itu hadir apa adanya. membiarkan naluri hati ini  tak lagi terpenjara …

“ I miss him so much, so much …..” kalimat itu yang akhirnya mewakili segala rasa yang tertahan, tangisku membuncah walau ku benamkan wajah dalam dalam di atas meja, lama …

“ Kalau dia di sini apa yang ingin kamu bilang pada nya “ katamu dengan perlahan

Entahlah, hatinya sedang mendingin saat ini

Tangis ku makin menderas, walau pun telah ku tengadahkan kepala ke atas, agar tidak lagi terlalu banyak naluri hati  yang mengalir.

Andaikan dia di sini apa yang ingin kamu bilang pada nya, bicaralah… “ Kamu ulangi lagi pertanyaan mu

Aku tidak tau kata kata yang tepat untuk mewakili kondisi kita saat ini, aku rindu kamu yang dahulu, kita yang dahulu, maafkan, aku tak pernah berniat mengabaikanmu atau melewatkanmu. Aku hanya butuh waktu, ya aku hanya butuh waktu saat itu, untuk memikirkan tentang kita, aku hanya butuh waktu, karena aku tau aku merasakan rasa yang kuat kepadamu, jangan pergi ……. “

Dan setelah itu semuanya mengalir begitu saja

Taukah kau, aku menanggung rindu yang terlalu banyak padanya, setiap malam aku berbicara pada diri ku sendiri, kapan aku menjumpa ia lagi, setiap hari yang ku tunggu adalah kabar baik dari nya, bahwa ia telah tiba …. “

Rindu ini semakin hari semakin menebal, kadang aku ingin melupakan rindu ini, resah rindu ini menjadi khayalan saja, resah rindu ini tidak pernah terbayarkan, aku takut rindu ini tidak pernah terhapuskan, aku resah  ia tak pernah datanag,  aku ingin dia datang, aku ingin perjumpaan, aku ingin menyelesaikan rindu ini …

Dan kini rindu ini menjadi dua, rindu untuk berjumpa dengan nya, dan rindu untuk kembali baik dengan nya,  …. “

Itu saja ….

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “R I N D U – K E P I N G S A T U

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s