All We Are Just “Dust In The Wind”

I close my eyes, only for a moment, and the moment’s gone
All my dreams pass before my eyes, a curiosity
Dust in the wind
All they are is dust in the wind

Same old song, just a drop of water in an endless sea
All we do crumbles to the ground though we refuse to see
Dust in the wind
All we are is dust in the wind

Now, don’t hang on, nothing lasts forever but the earth and sky it slips away

And all your money won’t another minute buy
Dust in the wind
All we are is dust in the wind
All we are is dust in the wind
Dust in the wind
Everything is dust in the wind
Everything is dust in the wind
The wind

Dua hari ini playlist di laptop saya berulang ulang memutar lagu ini, “Dust In The Wind”  yang dinyanyikan oleh Kansas. Perlahan saya lamati artinya, dalem ternyata …

tentang bahwa kita sebenarnya bukan apa apa, bukan sesiapa, tentang kita hanya butiran debu yang di terbangkan angin …

Mungkin ada “Butiran Debu” yang lain yang di nyanyikan oleh salah satu penyanyi Indonesia  yang merasa hancur karena ditinggal sang kekasih. Namun maknanya serasa dangkal bila kita lajukan untuk sesama makhluk, sesama manusia …

Lagu “Dust In The Wind” ini semacam refleksi, bahwa manusia adalah makhluk tak berdaya, tentunya di hadapan-nya, di hadapan Allah Sang Penggenggam hidup kita…

 

“All my dreams pass before my eyes, a curiosity” Manusia selalu punya banyak keinginan, rencana dan impian. Namun pada akhirnya kepada-Nya lah segala ketentuan. Ia lah sebaik baiknya pembuat keputuasan

“just a drop of water in an endless sea”  diri kita hanya setetes air di lautan samudra, kita bukan apa apa. Tak pantas ada jumawa dalam diri kita.

And all your money won’t another minute buy”  Tak bisa kita membeli waktu, menukar satu menit jatah usia kita, walaupun dengan seluruh harta di dunia

.
All we are is dust in the wind
.
.

“All we do crumbles to the ground though we refuse to see” Suatu saat semua akan hancur, berterbangan, suatu kondisi yang kita tak sanggup melihatnya. Hari akhir. Alam raya ini akan hancur bagaikan debu berterbangan …

 

Bukan … lagu ini bukan tentang pesimisme, hingga kita tidak mau berbuat apa apa…

Namun bagi saya lagu ini adalah sebuah ekspresi kesadaran seorang manusia, bahwa dia adalah bukan siapa siapa, dia bagaikan butiran debu yang tertiup angin…

Lalu apakah kuasa sebutir debu yang sedang melayang layang tertiup angin ?

Karena ada DIA yang berkuasa atas jiwanya, ada  DIA yang berkuasa atas segala kejadian, ada DIA yang berkuasa atas segala urusan …

Maka, bila kita bukan apa apa, sadar sepenuhnya bahwa segala urusan kita ada dalam genggamannya, maka mendekatlah pada-Nya, bergantunglah kepada-Nya, percayakan hidup kita Kepada-Nya, yakin lah dengan segala Pengaturan-Nya …

Coz All we are is dust in the wind….

 https://www.youtube.com/watch?v=tH2w6Oxx0kQ
Bandung,
Ramadhan Ke 5

Semoga Hati Hati Kita Semakin Menyadari 

Tentang Seberapa Kuasa Ia

Akan Hidup Kita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s