Pengalaman Pahit Masa Kecil Dengan Kementrian Agama

Kementerian-Agama

Beberapa pemberitaan tentang peristiwa jual beli jabatan di kementrian agama akhir akhir ini, membawa memori saya ke belasan tahun yang lalu, ketika bapak saya meninggal.

Apa hubungannya kementrian agama dengan almarhum Bapak saya ? Jadi almarhum, adalah seorang guru di lembaga pendidikan yang ada di bawah kementrian agama. Bapak meninggal di tahun 2002, meningalkan istri dan anak yang masih di usia sekolah saat itu.

Saya  masih ingat saat itu, sepeninggalan bapak,  Ibu saya mengajak saya untuk mengurus samacam santunan duka ke kementrian agama kota (saat itu masih disebut dengan DEPAG – Departemen Agama)

Masih lekat peristiwa waktu itu, seorang pegawai lalu menyapa kami, menanyakan keperluan kami. Setelah dijelaskan beliau melihat kelengkapan dokumen yang sudah ibu saya siapkan. Kemudian di akhir pembicaraan, beliau berkata  kurang lebih seperti ini  “Buu… tong hilap weh kanggo abdi na, bisanana mah 10%  ” Kurang lebih artinya seperti ini “ Bu, jangan hilap buat saya ya, biasanya  10 %…” sambil tersenyum penuh makna

Kemudian saya lihat sesuatu di wajah  ibu saya, semacam gabungan ekspresi kaget, marah sekaligus sedih. Lalu ibu saya menjawab kurang lebih ” Pa, ini uang untuk anak yatim …” si bapak menjawab “Nu sanes ge sami da tos biasa, nya atos sabaraha wae lah bu ….” ; ”  yang lain juga sama, sudah biasa ko, ya udah berapa aja kalau begitu ….”

Saya melihat wajah ibu saya sedikit berkaca kaca, menahan tangis barangkali. Yang saya mengerti saat itu, si bapak petugas meminta “jatah” santunan uang duka yang menjadi hak kami. Uang yang akan menjadi bekal ibu saya membesarkan anak anak nya, uang yang sebenarnya tidak terlalu besar juga, namun oknum petugas ini masih meminta jatah yang sama sekali bukan haknya.

Padahal beliau pun sudah  dibayar  oleh pemerintah untuk melakukan tugas nya. Tega ! Barangkali itu yang mewakili perasaan kami saat itu. Ditengah suasana kami yang masih berduka, ditambah dengan peristiwa saat itu, seperti menggoreskan luka yang dalam.

Sepanjang perjalan pulang di angkot saat itu, saya melihat ekspresi kecewa, marah dan sedih di wajah ibu saya. Dan saya pun merasakan hal yang sama.


 

Peristiwa belasan tahun yang lalu itu sangat kuat melekat dalam ingatan saya, hingga saya dewasa. Apa saja yang berhubungan dengan Kementrian Agama (DEPAG) saat ini, ingatan saya kembali ke peristiwa itu. Saya semacam menyimpan memori yang dalam di alam bawah sadar saya tentang kementrian agama ini, hingga sekarang.

Hingga, pemberitaan kemarin tentang kasus jual beli jabatan di kementrian agama yang sedang ramai di media, ingatan saya kembali ke belasan tahun lalu. Dalam hati berkata ” Ya Allah, masih juga seperti ini …” 

Saya tahu, di kementrian agama pasti banyak juga orang orang yang masih lurus, masih menjaga keamanahan dan profesionalitas mereka, berjuang agar kementrian ini menjadi kementrian  bersih, jujur, yang bisa dipercaya, dan benar benar menjalankan fungsi nya untuk masyarakat.

Namun, tidak bisa dipungkiri, di masyarakat masih kuat melekat tentang bagaimana kementrian yang seharusnya menjadi lembaga pemerintah yang  paling amanah, karena mengusung nama AGAMA, tapi faktanya menjadi kementian yang paling banyak melakukan praktek  penyimpangan, yang dilakukan dari jabatan yang paling bawah, hingga jabatan paling tinggi.

Saya menjadi bertanya tanya, apakah ini  adalah budaya yang diwariskan turun temurun, nilai yang di turunkan dari generasi ke generasi, nilai yang dijaga dan dipelihara secara tersirat, sehingga di jadikan sebuah permakluman , ” ahh sudah biasa, yang lain juga begitu, yang sebelum sebelum saya juga begitu … “. Generasi tua mewariskan contoh  kepada yang muda, yang muda melihat, mendengar, dan menyaksikan dan kemudian “meneladani” cara caranya. Begitu terus lingkaannya. Astagfirullah ….


 

Mungkin cara yang terbaik adalah perombakan besar besaran untuk kementrian ini, dimulai dari pimpinan tinggi, stuktur, departemen2 di dalamnya, cara perekrutan, sistem, transparansi, budaya, bahkan mungkin merubah hal hal seperti visual, seperti suasana, warna, seragam, logo kementiran, ll menjadi sesuatu yang benar benar baru, fresh … !

Agar ada persepsi baru terhadap kementrian ini, baik persepsi internal, hingga siapapun yang ingin masuk ke depertemen ini, sudah membawa mind set “kejujuran” juga persepsi eksternal, agar persepsi di benak publik pun benar benar bisa berganti kepada kementrian ini. Dari yang saat ini sedikit banyak, maaf “Untrustable” menjadi “Trusable”


 

Akhirya -Bagi saya-  kenyataan hari ini, bukan berarti kenyataan mutlak di masa depan. Saya pribadi masih menyimpan harapan. Asalkan ada perubahan yang mendasar di kementrian ini. Ibarat rumah yang sudah bobrok, yang dibutuhan bukan saja merenovasi rumahnya, seperti memperbaiki tembok, lantai, atau atap nya saja.

Tapi mungkin yang dibutuhkan adalah merobohkan dulu bangunan lama, mengkokohkan dan mengatur ulang pondasi nya, mendesign ulang bangunannya, interior dan eksterior yang benar benar baru, dan terakhir menyeleksi  benar benar para penghuni yang layak tinggal di dalamnya

Harapan akan selalu ada, terutama kepada kementrian yang mengusung dan mengurus kepentingan masyarakat yang berhubungan dengan AGAMA. Tidak hanya untuk kita, tapi untuk kepentingan generasi kita yang akan datang. Kementrian ini sangat besar peran dan fungsi nya. Sebagai lembaga yang akan membantu masyarakat menagakan nilai nilai agama, nilai nilai moral, nilai nilai kebaikan yang sangat dibutuhan negri ini

Tentunya pemangku kekuasan mempunyai andil yang paling utama untuk bagaimana kementrian ini kedepannya. Apakah mau dibiarkan begitu saja, dengan budaya yang sepertinya sudah kuat mengakar, atau akan dijadikan prioritas yang akan diurus dalam program program nya.

Karena justru yang paling penting untuk membagun negara , selain membangun infrastuktur, adalah bagaimana membangun sumber daya manusia yang jujur, bersih, amanah dan profesional. Semegah apapun infrastuktur yang sebuah negara miliki, namun tanpa sumber daya manusia yang berkualitas -apalagi petugas pemerintahan- maka negri ini tidak akan kemana mana.


 

Ah, sudah sekian dulu …

Tidak ada niat apa apa, hanya sedikit berbagi sekelumit cerita, pengalaman, kenyatan dan harapan dari seorang anak negri yang mencintai negara nya. 

Semoga Bermanfaat,

Bandung, 22 Maret 2019

Nuriska

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s