Suatu hari dalam momen lebaran, momen dimana kita saling mengunjungi antar keluarga. Lalu bertemulah saya dengan keluarga yang selama ini jarang bertemu. Sepupu jauh, sepupu dekat, keponakan, dan saudara saudara lainnya.
Dalam sebuah percakapan biasa, seorang istri dari sepupu – yang mungkin kita hanya satu kali atau dua kali pernah bertemu-, tiba tiba saja bertanya ;
“Kapan teh undangannya ….” Tanyanya sambil gendong anaknya
“Belum nih, doain aja ….” jawab saya singkat, sambil tersenyum
“Teh, pernikahan tidak semanakutkan itu kok, yaaa ada dukanya, tapi banyak juga sukanya. Ga usah takut, tidak semenakutkan itu ko!” sambungnya didepan saudara saudara lain, yang entah mereka dengar atau tidak.
Terkejut saya mendengar perkataanya. Ingin rasanya menjawab seperti ini ;
“Maksudnya apa? memang kamu tahu saya belum menikah karena ‘takut’, memang kamu tahu apa tentang diri saya …”. Dan jawabanpanjang lebar berikutnya yang mematahkan argumen dangkalnya. Tapi entah saya saat itu hanya ingin diam saja, tidak menjawab apa apa. Rasanya percuma.
—
Setelah beberapa saat, Saya merenung kenapa ya tekadang manusia mudah menarik kesimpulan tentang apa yang tidak benar benar difahaminya, tentang orang yang juga tidak benar benar ia mengenalnya. Seperti pernyataan ia diatas, seolah olah Saya belum menikah itu, karena saya takut akan pernikahan.
Lalu Apa yang saya rasa? Pastinya ada rasa sakit hati, kesal juga rasanya. Wajar sepertinya, karena Saya juga manusia biasa dengan punya rasa.
Tapi kenapa saya memilih diam? Ah sudahlah, pun tidak tepat untuk menjawab secara situasi dan waktu saat itu. Saya pun tidak mesti menjawab atau membenarkan persepsi dia atas diri saya. Tidak penting baik secara objek maupun secara konteks. Biarkan saja dia dengan persepsinya, tidak signifikan terhadap hidup saya.
Lalu apa hikmahnya ….
Dari peristiwa itu, saya mencoba belajar ; Semoga dengan terus bertambahnya usia, semakin bertambah pula kedewasaan diri kita. Belajar tentang bagaimana beraksi, tentang bagaimana berkomentar, tentang mana yang penting untuk ditanggapi mana yang hanya akan menguras energi.
Lalu saya pun belajar, agar tidak dengan mudah menilai hidup orang yang mungkin hanya sekali dua kali kita temui, orang yang bahkan kita tidak pernah bercakap cakap mendalam dengan yang bersangkutan, orang yang hanya kita lihat bisa nilai secara permukaan. Kita tidak melihat utuh kisahnya bahkan hidupnya.
Karena kita tidak tahu peristiwa apa saja yang sudah ia lampaui, perjuangan apa saja yang sudah ia jalani, duka dan air mata apa yang sudah ia jalani. Lalu ada perkataan diri kita yang rasanya biasa saja, atau tidak seberapa menurut diri kita, tapi ternyata menggoreskan luka di hatinya. Dan kita tidak menyadarinya.
Ah semoga saya bisa mengambil hikmah dan bisa semakin bijak …
betuul
LikeLiked by 1 person