Saya adalah tipe orang yang menyukai proses belajar. Saya selalu antusias dan ingin tahu terhadap hal-hal baru. Dalam konsep #TalentsMapping, ini disebut sebagai “Learner” – si Pembelajar. Dan memang, bakat Learner termasuk dalam 14 bakat teratas saya berdasarkan hasil tes Talents Mapping.
Dulu, saya sempat keranjingan belajar. Setiap ada workshop atau pelatihan, saya ingin ikut. Jika dananya tersedia, saya langsung mendaftar. Tak hanya itu, bila ada buku menarik dan saya punya anggaran, saya langsung membelinya.
Namun, seiring waktu, seiring bertambahnya pemahaman dan kedewasaan – tsahhh – saya mulai belajar untuk belajar dengan penuh kesadaran. Bahwa belajar tidak sekadar tentang prosesnya, tapi tentang tujuannya.
Kini saya mulai bertanya pada diri sendiri:
“Apa tujuan dari proses belajarmu?”
“Apakah yang kamu pelajari sesuai dengan misi hidupmu?”
“Apakah ilmu baru yang akan kamu pelajari berkaitan, mendukung, dan sejalan dengan tujuan-tujuan hidupmu?”
Belajar dengan kesadaran. Belajar dengan arah dan tujuan yang jelas. Bukan semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahu, apalagi sekadar rasa penasaran.
Saya teringat pesan dari Ustadz Harry Santosa dalam bukunya Fitrah Based Life:
“Learning for mission, not learning for learning.”
Belajar bukan semata-mata demi belajar itu sendiri, melainkan demi misi & peran kehidupan yang kita emban. Ini bukan berarti kita tidak boleh menikmati proses belajar, atau membatasi diri dari ilmu. Namun ini adalah ajakan untuk meneguhkan niat dan memperjelas arah: Untuk Apa Kita Belajar.
Semoga setiap ilmu yang kita pelajarii, membawa kita lebih dekat pada misi hidup, pada kebermanfaatan, dan tentu saja—pada Allah SWT.
Selamat belajar dengan penuh kesadaran. Selamat belajar dengan misi & tujuan Happy Learning 😊
Yuks Cari Tahu Bakat, Keunggulan & Keunikan Dirimu :
Hy there, gonna try to make a communication with you.
Beberapa pertanyaan tadi lumayan ngena dengan apa yang saya pelajari di dunia industri, ada istilah “Kaizen” dalam industri yang ber kiblat ke negara Jepang, rupanya urutan langkah Kaizen juga bisa menjawab masalah sehari hari, sebagai contoh pada langkah pertama, kita diminta untuk menentukan masalah dimana itu harus SMART – specifik, measureable, achievable, reliable dan timeline.
Harus spesifik masalah yang kita hadapi apa, lalu terukur seberapa jauh masalah atau improvement yang kita lalui, achievable – apakah mungkin untuk dikerjakan, reasoneable – apakah ini menjadi prioritas dan timeline seberapa lama waktu yang kita investasikan untuk menghadapi/mempelajari hal baru.
Senang rasanya hari ini saya bisa membaca pengalaman orang lain dan juga bisa mengeluarkan apa yang ada di kepala saya. Thanks Miss Nuriska, it looks like we’ll gonna send a few word after all.
Hy there, gonna try to make a communication with you.
Beberapa pertanyaan tadi lumayan ngena dengan apa yang saya pelajari di dunia industri, ada istilah “Kaizen” dalam industri yang ber kiblat ke negara Jepang, rupanya urutan langkah Kaizen juga bisa menjawab masalah sehari hari, sebagai contoh pada langkah pertama, kita diminta untuk menentukan masalah dimana itu harus SMART – specifik, measureable, achievable, reliable dan timeline.
Harus spesifik masalah yang kita hadapi apa, lalu terukur seberapa jauh masalah atau improvement yang kita lalui, achievable – apakah mungkin untuk dikerjakan, reasoneable – apakah ini menjadi prioritas dan timeline seberapa lama waktu yang kita investasikan untuk menghadapi/mempelajari hal baru.
Senang rasanya hari ini saya bisa membaca pengalaman orang lain dan juga bisa mengeluarkan apa yang ada di kepala saya. Thanks Miss Nuriska, it looks like we’ll gonna send a few word after all.
LikeLike
Hai haiii…terimakasih yaa sudah mampir. Wahh terimakasih buat insightnya, tentang KAIZEN yang rupanya beririsan. Happy to share, keep in touch yaaa… 🙂
LikeLiked by 1 person