Apa yang Sebenarnya Kita Jalani? Misi atau Obsesi?

Lelah, Burn Out, Overthinking. Ada yang Relate?

Capek banget! Bukan cuma badan, tapi juga pikiran…”
“Istirahat pun tak tenang, pikiran terus berputar-putar, seperti tak berhenti mencari. Hati gelisah tanpa sebab yang jelas…”
“Setiap waktu terasa terburu-buru. Harus menyelesaikan ini dan itu. Harus segera, tidak bisa ditunda!”
“Sibuk dan produktif, tapi rasanya kosong, hampa…”
“Selalu merasa ragu dan tidak pernah puas.”

Pernahkah kamu merasakan hal ini?
Saya pernah! Beberapa tahun lalu, masa-masa di mana hari-hari terasa penuh tekanan. Banyak hal harus dikejar dan diselesaikan, apapun keadaannya. Hari-hari terasa tergesa. Seolah setiap saat harus berprestasi, selalu harus naik level, selalu membuktikan sebuah pencapaian.

Belum lagi, saat melihat orang lain dengan segala pencapaian dan prestasinya, membuat saya merasa kerdil dan tidak berarti apabila tidak melakukan hal yang sama.

It feels very tiring… I felt truly exhausted...”

Sampai pada suatu titik, saya mulai mempertanyakan semuanya. Proses ini dimulai dari monolog dalam diri yang tiba-tiba mengalir begitu saja:

“Ada apa dengan diriku?”
“Kenapa aku jadi begini?”
“Apa yang sebenarnya kucari?”

Pertanyaan-pertanyaan ini terus tumbuh, semakin menebal, hingga akhirnya mendesak butuh sebuah jawaban.

Pertemuan dengan Konsep “Misi vs Obsesi”

Di masa pencarian itu, saya dipertemukan dengan buku Fitrah Based Life karya almarhum Ustadz Harry Santosa. Saya membacanya secara acak, dan tanpa sengaja menemukan satu bab berjudul “Misi vs Obsesi”.

Deg! Seketika judul ini serasa menghantam saya dengan keras. Menuntun saya membaca lebih lanjut tentang materi ini. Mungkinkan ini jawaban yang saya butuhkan?

Mengapa Kita Gelisah?

Apa yang membuat seseorang terus merasa gelisah, cemas, dan terus menerus khawatir dalam hidupnya?

Dari luar mungkin terlihat sibuk, sukses, bahkan bermanfaat bagi orang lain. Tapi jauh di dalam dirinya—dan hanya dia yang tahu—ia merasa tersiksa, tidak menikmati hari harinya, tak kunjung merasakan ketenangan. Karena mungkin—bisa jadi— dia bekerja dan berkarya karena obsesi, bukan karena misi.

Perbedaan Misi & Obsesi

“Misi itu berangkat dari hati, niat yang lurus. Ia melahirkan ketenangan, kecintaan, dan kebahagiaan dalam berkreasi serta menemukan jalan untuk mewujudkannya.
Sedangkan obsesi melahirkan kegelisahan, kepanikan, kebuntuan berpikir, ketamakan, atau keputusasaan.”

Harry Santosa, Fitrah Based Life

Misi lahir dari panggilan jiwa. Murni, tulus. Bukan sekadar mengejar prestasi atau kepuasan pribadi. Bukan pula keinginan untuk tampil atau membuktikan eksistensi diri. Bukan pula di dorong karena keinginan untuk seperti orang lain.

Sebaliknya, obsesi terasa melelahkan. Ia sering membuat kita menampilkan diri yang bukan kita sebenarnya. Obsesi lahir dari dorongan untuk dilihat, diakui, dan dibanggakan. Pada kadar tertentu, motivasi seperti itu memang bisa menggerakkan. Tapi bila dibalut hawa nafsu, ia berubah menjadi obsesi yang menggerogoti diri.

Misi tumbuh dari terdalam, dari panggilan hati. Lebih dalam misi tumbuh dari keimanan dan kesadaran tentang keinginan berkarya & beribadah untuk Allah Swt. Sedangkan obsesi datang dari keinginan yang berlebihan untuk dilihat, diakui dan kebanggan eksistensi diri.

Refleksi Diri

Saya mulai belajar berbincang dengan diri. Menggali keresahan yang saya rasakan setiap menghadapi hari esok. Mengapa begitu terburu-buru? Mengapa begitu berambisi?

Belum lagi saat menjadikan orang lain sebagai barometer kesukesan diri.
“Kalau dia bisa, masa aku tidak?”
kalimat yang sekilas seperti sebuah kalimat pembakar motivasi, tapi kemudian saya sadari itu adalah tentang diri yang penuh obsesi.

Belajar Memperbaiki Orientasi

Maka benar, kesadaran diri adalah titik pertama perubahan. Setelah sadar, saya terus mencari & memperdalam tentang apa itu MISI diri, dari mana ia bisa didapatkan & sekaligus ditumbuhkan, agar menjadi sesuatu karya & kebermanfaatan. Dimana yang murni tumbuh dari dalam diri, ia bermanfaat bagi banyak orang dan ia juga sebahai sarana ibadah kita kepada sang Pencipta. Perjalanan yang panjang & mengasikan …

Yuk, Temukan Misi Hidupmu!

Bisa jadi saat ini kamu merasakan hal yang sama pernah saya alami waktu itu. Bisa jadi ini saatnya kamu juga mencari tahu apa : Apa misi hidupmu?.

Salah satu caranya adalah dengan mengenal bakat dan potensi terdalam dalam dirimu—yang mungkin selama ini belum kamu sadari atau maksimalkan.

Yuk, ngobrol, berbagi imu juga pengalaman, dan mulai memetakan kekuatan dan keunikan diri kamu di sini:

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Jangan Salah Memahami Konsep BAKAT

Miskonsepsi Tentang Konsep BAKAT

Program-program seperti Indonesia Mencari Bakat, Indonesian Idol, X Factor, Mama Mia, Master Chef, dan lain-lain merupakan ajang pencarian bakat yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dalam program-program ini, bakat yang ditampilkan biasanya meliputi menyanyi, menari, menulis, melukis, memasak, dan sebagainya.

Persepsi umum di masyarakat saat diminta menyebutkan contoh anak berbakat pun sering kali terbatas pada bidang-bidang tersebut. Bakat masih banyak dianggap sebagai kemampuan fisik semata.

Akibatnya, mereka yang tidak memiliki kemampuan di bidang-bidang tersebut sering merasa “tidak punya bakat apa-apa”. Tapi benarkah definisi dan konsep bakat hanya sebatas itu?.

Bakat Itu Ternyata Lebih Luas Dari Yang Kita Kira

Sesungguhnya, definisi bakat jauh lebih luas dan mendalam daripada yang selama ini dipahami oleh masyarakat umum. Bakat tidak terbatas pada kemampuan atau keahlian fisik—yang umumnya memang terlihat secara visual.

Ada jenis bakat yang bersifat sifat atau karakter, namun sayangnya masih belum banyak dikenal dan dipahami. Padahal, jenis bakat ini mencakup ranah yang lebih luas dan lebih mendasar. Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita samakan dulu pemahaman kita tentang definisi bakat!

Apa Itu Bakat?

“Bakat adalah pola pikir, perasaan, dan tindakan yang alami, muncul secara berulang, dan dapat digunakan untuk sesuatu yang produktif.”
(Donald O. Clifton)

Jadi, bakat tidak hanya terbatas pada kemampuan fisik. Justru, menurut definisi ini, bakat mencakup hal-hal yang lebih dalam dan mendasar, serta sangat menarik untuk dipelajari!

34 Tema Bakat Menurut Gallup

Dalam Teori CliftonStrengths dari Gallup, terdapat 34 tema bakat yang ada dalam diri manusia. Setiap individu memiliki kombinasi unik dari tema-tema ini, yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak.

Tema-tema bakat ini dikelompokkan ke dalam empat klaster kekuatan utama:

  • Thinking – Gemar berpikir mendalam dan menganalisis
  • Executing/Striving – Suka bekerja keras dan menyelesaikan tugas
  • Influencing – Senang memengaruhi dan meyakinkan orang lain
  • Relating – Suka bekerja sama dan membangun hubungan

Contoh Sederhana Bakat dalam Kehidupan Sehari-Hari

  • Ada orang yang suka memimpin
  • Ada orang yang senang membantu
  • Ada yang mudah terharu
  • Ada yang sangat supel dan mudah bergaul

Nah, sifat atau karakter seperti ini juga merupakan bentuk dari bakat!

Nantikan Pembahasan Selanjutnya!

Sampai di sini dulu, ya! Di bagian selanjutnya kita akan membahas:

  • Mengapa penting mengenali bakat diri?
  • Pengenalan lebih lanjut pada masing-masing tema bakat
  • Cara mengetahui bakat diri
  • Strategi mengoptimalkan bakat
  • Manfaat memahami bakat diri
  • Kerugian tidak memahami bakat diri
  • Dan masih banyak lagi!

See you!

Ingin konsultasi langsung tentang bakatmu? Klik link di bawah ini:

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Keresahan Tentang Masa Depan

Siang ini ketika mengemudi mobil, Saya kembali bercakap cakap dengan diri -bermonlog- seperti biasa. pikiran saya mengembara akan banyak yang sedang dialami. Episode episode yang datang silih berganti. Terkadang terhampar kebahagian, ketenangan, keyakinan bahwa semuanya akan baik baik aja. Tidak lama kemudian berganti dengan resah gelisah, khawatir, was was, perasaan berat, dan semacamnya.

Lalu, kemudian hati dan fikiran kembali bercakap cakap, barangkali berdiskusi, mengapa ada resah akan sesuatu yang belum terjadi, mengapa diri ini begitu sibuk mereka mereka apa yang akan terjadi nanti, menerka nerka tentang kehilangan, menerka nerka tentang apa yang mungkin dimiliki dan apa yang mungkin tidak akan termiliki.

“Resah Akan Masa Depan …”

Barangkali saya sedang lupa, atau mungkin sebenarnya tahu ; tapi tidak benar benar mengerti, tidak benar benar meyakini hingga urat nadi. Tidak benar benar tertanam hingga saraf terdalam, tidak tersambung kuat dalam sinaps pikiran, bahwa ada DIA yang Maha mengatur segalanya, bahwa DIA yang memiliki serta mengatur segala, dari susunan atom terkecil hingga susunan alam semesta, dari semua yang bisa kita raba, hingga tak terjangkau oleh panca indra.

Barangkali saya sedang melupa, bahwa hidup ini tidak murni dalam genggaman tangan kita. Atas segala usaha ada ketentuannya yang sudah ia tetapkan untuk Kita hamba-Nya. Menjalankan kalimat “Tugas kita berusaha, Allah yang tentukan akhirnya…” memang tidak semudah pengucapannya. Memahami kalimat “Skenario hidup dari Allah lebih indah, daripada perencanaan & cita cita hidup kita” tidak segampang yang dikira.

Satu waktu kita menjadi lurus, tenang & bijaksana

Satu waktu kita menjadi bingung, resah & tak tentu arah

Barangkali disitulah tugas kita sebagai manusia, saat dalam tak tentu arah, kembali “meng-adjust” hati & pikiran, tentang keyakinan bahwa kepada Allah lah semata hidup ini kita titipkan, kepada Allah sematalah hidup ini kita pasrahkan.

“Setiap Cerita Punya Dua Versi Berbeda: Belajarlah Mendengar Keduanya”

Penyesalan Karena Terlalu Cepat Menyimpulkan

Pernahkah kamu mengalami menghadapi sebuah situasi konflik, baik itu dengan teman, keluarga, atau bahkan melihat konflik orang-orang terkenal di media sosial? Dan pernahkah kamu dengan mudah membela satu pihak dan menyalahkan pihak lainnya?

Sepertinya situasi ini pernah kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Lalu setelah beberapa lama, kamu berkesempatan mendengar “versi lain” dari konflik tersebut, dan pandanganmu berubah tentang hal itu, bisa sedikit bisa juga banyak.

Ya betul! Terlalu cepat membuat kesimpulan sering membuat kita menyesal. Menyesal karena kita sudah berprasangka, bersikap antipati, atau bahkan sudah bersikap tidak adil kepada salah satu pihak. Menyesal karena kita buru-buru dalam membuat kesimpulan yang tidak adil, apalagi bila mereka adalah orang-orang terdekat kita.

Setiap Cerita Punya Sisi Berbeda

Seperti layaknya sebuah benda, mereka punya sisi berbeda. Begitu juga dengan konflik pada manusia, ia akan punya sisi berbeda. Bisa jadi hanya dua sisi, atau juga banyak sisi berbeda. Untuk mendapatkan pandangan yang lebih menyeluruh, maka kita harus mendengarkan berbagai sisi yang terlibat di dalamnya. Dari setiap sisi apapun yang disampaikan , perlu kita hargai, dan dengarkan apa adanya. Biarkan mereka sampaikan dengan versi masing-masing.

Menetralkan keberpihakan memang tidak mudah, namun kita bisa mengusahakannya. Agar pandangan kita bisa adil, dan apabila kita adalah orang yang perlu mengambil keputusan atau dimintai masukan dari konflik tersebut, maka kita akan mengambilnya dengan bijaksana.

Bagaimana Menjadi Pendegar Yang Baik

Dalam mendengarkan, sering kali maksud dan tujuan sebenarnya terang terangan terucapkan. Maka dengarlah apa-apa yang tidak terucapkan, tangkaplah perasaan-perasaan yang tersembunyi dalam ucapan. Mendengar untuk memahami & mengerti apa yang dimaksudkan.

Mendengar tanpa menghakimi, mendengar tanpa asumsi, dan mendengar tanpa berpihak & terburu-buru membuat kesimpulan, akan membuat kita bisa lebih jernih melihat konflik yang terjadi.

Hubungkan dengan konteks, latar belakang, atau peran yang saat ini masing masing pihak jalankan, akan membuat sudut pandang lebih jelas dari masing-masing pihak.

Mendengar Dengan Adil

Mendengarkan dari setiap pihak dengan netral, membuat kita tetap bisa menjaga hubungan yang baik dengan mereka. Karena setiap pihak merasa didengarkan, dihargai, dan dipedulikan. Mendengarkan dari setiap pihak menjaga rasa hormat, juga terhindar dari konflik yang tidak perlu atau konflik yang berkepanjangan.

Bagi kita yang berada “di tengah-tengah”, mendengarkan dengan penuh rasa empati, hormat, dan peduli, membuat kita bisa menganalisis dengan lebih jelas konflik yang ada. Membuat kita bisa berpikir kritis dalam setiap sudutnya dan akhirnya bisa menilai apa yang terjadi secara objektif.

Tips Agar Bisa Adil Menghadapi Konflik Dua Pihak

  • Netralkan perasaan saat ada kecendrungan keberpihakan pada satu pihak, baik kedekatan secara emosional atau keterikatan secara personal
  • Belajar untuk benar-benar mendengarkan semua pihak, mendengarkan untuk memahami, bukan mendengar untuk menjawab
  • Tulisakan apabila ada hal yang perlu ditanyakan
  • Bertanya apabila ada point point yang kurang jelas, butuh konfirmasi, dan butuh penjelasan lebih dalam
  • Dalam bertanya gunakan pertanyan yang netral, terbuka, tidak mengintimidasi, dan tidak memperkeruh situasi konflik

Ajaran Islam Mengajarkan Kita Untuk Mendengarkan

Al Qur’an pun sudah membimbing kita untuk bertabayun apabila ada sesuatu kabar, sebuah konflik yang terjadi

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui kebenarannya, dan kamu (nantinya) akan menyesal atas perbuatanmu.” (Al Hujarat Ayat 6)

Semoga kita bisa belajar & bisa melatih diri untuk bisa mendengarkan, memahami, serta bijak dalam menyikapi terhadap konflik yang terjadi.

Ya betul ! Setiap cerita punya dua sisi yang berbeda, belajarlah untuk mendengar keduanya!

See You !

Menghimpun Keping Keping Hati

Hari ini hanya ingin menulis berbagai rasa yang terhimpun di hati akhir-akhir ini. Hanya ingin menyimpan rapi episode kehidupan yang seringkali tidak terbaca arahnya, tidak tertebak ujiannya, tidak bisa terkira plot twist-nya.

Benar rupanya, kita tidak bisa memilih apa ujian yang datang, kita hanya bisa memprediksi barangkali, itupun bisa jadi meleset sama sekali.

Benar adanya, ujian perasaan seringkali datang dari orang-orang terdekat, orang-orang yang kita sayang, orang-orang yang kita cintai. Ia yang kita bayangkan bisa merangkai cita masa depan bersama, mereka yang padanya kita menaruh percaya.

Sepertinya sudah sunantullah, bahwa kita akan diuji oleh orang yang kita cintai, orang-orang yang dekat dalam jiwa juga selalu ada dalam doa-doa kita. Karena rasanya berat, sangat berat. Barangkali disanalah ujiannya.

Diuji oleh orang-orang terdekat pada akhirnya adalah ujian tentang siapakah yang lebih kita cintai, manusia atau pencipta kita, Allah Swt. Apakah berbagai tekad kebaikan yang kita lakukan hanya sebatas karena keinginan ambisi dalam diri, karena keseruan persahabatan, atau karena Allah Swt. Apakah kau akan bertahan, terus berjalan saat kau kehilangan.

“Takdir Allah terlalu baik untuk kita curigai” -tiba-tiba melintas perkataan seorang Ustadz di sebuah podcast saat saya menulis ini- ahh ini bukan sebuah kebetulan bukan…?

Sepertinya di balik patah hati, luka, dan kecewa. Allah sedang membuat “settingan hidup” yang lebih baik lagi, bagi diri yang tengah rapuh ini, juga bagi sesiapa yang ada, pernah ada, dan akan datang di dalam episode hidup kita.

Lalu kita memang butuh waktu untuk mencerna, menerima, menyikapi, mengikhlaskan & Ridha tentang apa yang terjadi. Tidak mudah memang, tapi mari kita memohon kepada Allah segala kekuatan untuk kemudian kembali berjalan.

Mari menutup mata, menerima segala rasa; luka, kecewa, bahkan cinta. Larutkan itu semua dalam sebuah doa yang dilangitkan oleh Nabi Ibrahim:

رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ

‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang salih.’ (QS. Ash-Shu’ara [26]: 83).

Janji Yang Tertunaikan Dalam Diam ….

Beberapa hari yang lalu adalah Hari Ibu. Meski saya bukan tipe yang merayakannya dengan ucapan atau selebrasi, momen itu tetap mengingatkan saya pada sosok yang selalu menjadi pusat hidup saya—Ummi.

Saya ingin berbagi kisah ini. Sebuah kisah tentang janji yang tercipta dalam diam, dan bagaimana akhirnya saya bisa menunaikannya. Janji untuk membahagiakan Ummi…

Sedikit latar belakang, saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saya memiliki seorang adik laki-laki, diamana Bapak sudah meninggalkan kami lebih dari 20 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di bangku SMAdan adik berusia SD. Sejak saat itu, Ummi membesarkan kami seorang diri. Tanpa menikah lagi, hingga akhirnya kami tumbuh dewasa, mandiri, dan memiliki penghasilan sendiri.

Sebagai anak pertama, saya menjadi saksi langsung perjuangan Ummi. Saya melihat bagaimana beliau bekerja keras siang dan malam untuk memastikan kami bisa hidup dengan baik & berkesempatan memperoleh pendidikan yang terbaik. Saat itu pun, kondisi ekonomi kami tidak sebaik saudara-saudara lain. Dengan profesi Ummi sebagi guru ngaji dengan gaji yang tidak seberapa, Beliau terus berusaha yang terbaik untuk Kami.

Ada beberapa peristiwa yang hingga kini terus membekas di hati saya…

Salah satunya terjadi bertahun-tahun lalu -saat saya baru memasuki kuliah awal-. Suatu waktu kami mendapatkan undangan pernikahan dari seorang saudara jauh. Saya ikut menemani beliau datang ke tempat acara. Karena tidak ada kendaraan pribadi, kami pergi dengan angkot. Dari tempat angkot berhenti, kami harus harus berjalan cukup jauh menuju gedung pernikahan.

Di acara itu, kami bertemu dengan saudara-saudara, uwak, bibi, dan sepupu-sepupu. Setelah acara selesai, saat semua orang bersiap untuk pulang, seorang saudara yang membawa mobil mengajak beberapa anggota keluarga untuk ikut menumpang. Tapi, ajakan itu tidak termasuk kami.

Saya dan Ummi pun berjalan kembali berjalanke jalan besar untuk mencari angkot pulang. Di tengah perjalanan, mobil saudara itu lewat. Sopirnya hanya membunyikan klakson, dan rombongan di dalam mobil melambai sambil tersenyum. Kami hanya bisa tersenyum kecil, kemudian melanjutkan perjalanan dalam diam, ada rasa bercampur yang sulit digambarkan, salah satunya rasa seperti tidak dipedulikan.

Entah mengapa, kejadian itu meninggalkan memori yang sulit dilupakan….

Lain waktu, saat mudik Lebaran, kejadian serupa terulang. Ketika kami akan kembali ke kota masing-masing, saudara yang membawa mobil tidak menawarkan tumpangan kepada kami. Padahal, masih ada ruang kosong di mobil, dan kami menuju kota yang sama. Tidak sepatah katapun, walau hanya sekedar basa basi saja. Peristiwa yang meninggalkan berbagai rasa pada diri saya

Beberapa peristiwa tadi, tidak pernah mengungkapkan & membagikan perasaan tersebut kepada siapa pun. Tapi di dalam hati, saya berjanji dalam diam

“Ya Allah, izinkanlah suatu hari nanti aku bisa membeli mobil. Agar Ummi bisa pergi ke mana saja, kapan saja dengan nyaman, tanpa harus menunggu belas kasih orang lain…..”

Sejak saat itu, keinginan untuk memiliki kendaraan bukan hanya soal kenyamanan atau pencapaian. Bagi saya, ada dorongan yang cukup dalam, bahwa ini bukan untuk kepuasan diri pribadi tapi untuk membahagiakan Ummi…

Janji yang saya ucapkan dalam hati itu akhirnya tertunaikan. Allah memberikan rizki-Nya dan mengizinkan janji dalam diam itu terwujud. Kendaraan ini mungkin hanya hadiah kecil untuk perjuangan Ummi selama ini untuk kami

Ini bukan tentang kendaraan, atau materi lainnya. Ini tentang bagaimana keinginan seorang anak untuk memberikan kebahagiaan kecil kepada orang tua, dan saya pun sadar sepenuhnya, bahwa untuk memuliakan orang tua yang sebenarnya adalah menjadi anak yang Saleh dan Salehah, yang kelak akan menjadi pahala yang tidak terputus untuk mereka

Kisah sederhana ini semoga jadi jejak baik untuk saya, ataupun siapapun yang membaca tentang waktu bersama orang tua tidak akan selamanya ada. Selagi mereka masih di sisi kita, mari berusaha memberikan kebahagiaan dan kemuliaan kepada mereka. Tidak selalu harus berupa materi, karena seringkali perhatian, cinta, dan penghormatan adalah hal yang jauh lebih berarti.

Bagi yang orang tuanya sudah tiada, jangan pernah berhenti mengirimkan mereka do’a. Sebab, doa anak yang saleh adalah hadiah paling berharga yang akan terus menjadi penerang bagi mereka di alam sana.

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk terus memuliakan orang tua kita, dalam setiap langkah, dalam setiap peristiwa, dalam setiap episode hidup yang sedang dijalani…

Nanti kita cerita cerita lagi ya…. 🙂

A Diary Of Genocide [ Book Review ]

Buku ini catatan hari demi hari yang dialami penulis sebagai warga Palestina yang merasakan peristiwa GENOSIDA mulai dari 07 Oktober – 30 Desember 2023

Membaca buku ini, membuat saya masuk lebih dalam tentang bagaimana kehidaupan warga Palestina, melalui peristiwa ini hari demi hari

Terkadang saya harus menutup buku dan menyudahinya terlebih dahulu, memejamkan mata, dan menghela nafas, merasakan betapa beratnya apa yang mereka alami …

Melihat apa yang mereka lihat
Mendengar apa yang mereka dengar
Merasakan apa yang mereka rasa
Walaupun mungkin apa yang dibaca,
Tidak ada apa apanya dengan yang mereka alami seutuhnya…

Membaca buku ini membuat saya semakin faham, bahwa orang orang di Palestina adalah orang orang istimewa yang telah Allah pilih untuk perjuangan yang luar biasa ini …

Tiada Do’a lainnya, hanya ingin Palestina segera merdeka, dan saya menjadi bagian dari perjuangan itu, walau hanya seukur debu ….

“Buku ini mengingatkan kita bahwa saudara saudara kita disana masih bertahan, masih berjuang.
Jangan pernah berhenti untuk peduli, berdo’a dan bersuara untuk Palestina”

Free Palestine

Saat kau memilih diam …

Suatu hari dalam momen lebaran, momen dimana kita saling mengunjungi antar keluarga. Lalu bertemulah saya dengan keluarga yang selama ini jarang bertemu. Sepupu jauh, sepupu dekat, keponakan, dan saudara saudara lainnya.

Dalam sebuah percakapan biasa, seorang istri dari sepupu – yang mungkin kita hanya satu kali atau dua kali pernah bertemu-, tiba tiba saja bertanya ;

“Kapan teh undangannya ….” Tanyanya sambil gendong anaknya

“Belum nih, doain aja ….” jawab saya singkat, sambil tersenyum

“Teh, pernikahan tidak semanakutkan itu kok, yaaa ada dukanya, tapi banyak juga sukanya. Ga usah takut, tidak semenakutkan itu ko!” sambungnya didepan saudara saudara lain, yang entah mereka dengar atau tidak.

Terkejut saya mendengar perkataanya. Ingin rasanya menjawab seperti ini ;

“Maksudnya apa? memang kamu tahu saya belum menikah karena ‘takut’, memang kamu tahu apa tentang diri saya …”. Dan jawabanpanjang lebar berikutnya yang mematahkan argumen dangkalnya. Tapi entah saya saat itu hanya ingin diam saja, tidak menjawab apa apa. Rasanya percuma.

Setelah beberapa saat, Saya merenung kenapa ya tekadang manusia mudah menarik kesimpulan tentang apa yang tidak benar benar difahaminya, tentang orang yang juga tidak benar benar ia mengenalnya. Seperti pernyataan ia diatas, seolah olah Saya belum menikah itu, karena saya takut akan pernikahan.

Lalu Apa yang saya rasa? Pastinya ada rasa sakit hati, kesal juga rasanya. Wajar sepertinya, karena Saya juga manusia biasa dengan punya rasa.

Tapi kenapa saya memilih diam? Ah sudahlah, pun tidak tepat untuk menjawab secara situasi dan waktu saat itu. Saya pun tidak mesti menjawab atau membenarkan persepsi dia atas diri saya. Tidak penting baik secara objek maupun secara konteks. Biarkan saja dia dengan persepsinya, tidak signifikan terhadap hidup saya.

Lalu apa hikmahnya ….

Dari peristiwa itu, saya mencoba belajar ; Semoga dengan terus bertambahnya usia, semakin bertambah pula kedewasaan diri kita. Belajar tentang bagaimana beraksi, tentang bagaimana berkomentar, tentang mana yang penting untuk ditanggapi mana yang hanya akan menguras energi.

Lalu saya pun belajar, agar tidak dengan mudah menilai hidup orang yang mungkin hanya sekali dua kali kita temui, orang yang bahkan kita tidak pernah bercakap cakap mendalam dengan yang bersangkutan, orang yang hanya kita lihat bisa nilai secara permukaan. Kita tidak melihat utuh kisahnya bahkan hidupnya.

Karena kita tidak tahu peristiwa apa saja yang sudah ia lampaui, perjuangan apa saja yang sudah ia jalani, duka dan air mata apa yang sudah ia jalani. Lalu ada perkataan diri kita yang rasanya biasa saja, atau tidak seberapa menurut diri kita, tapi ternyata menggoreskan luka di hatinya. Dan kita tidak menyadarinya.

Ah semoga saya bisa mengambil hikmah dan bisa semakin bijak …

Belajar Di Desa Tani Dompet Dhuafa

Alhamdulillah pekan lalu mendapatkan kesempatan belajar ilmu tentang program pemberdayaan dari MPZ ( Mitra Pengelola Zakat) Dompet Dhuafa, sebagai perwakilan dari Yayasan Kebukit Indonesia.

Selama dua hari, tidak hanya belajar melalui konsep, namun belajar bagaimana praktik pemberdayaan di DESA TANI binaan DOMPET DHUAFA (DD) yang terletak di Desa Ciboadas, Lembang, KBB Bandung.

Belajar tentang program pemberdayaan memang butuh konsep yang dipikirkan dengan matang, assessment yang tepat, dan juga mentor yang siap membimbing. Belajar dengan Dompet Dhuafa belajar & berdiskusi, tentang alur program pemberdayaan, kerangka berfikir, memetakan masalah juga mengideasi solusi.

Insya Allah jadi ilmu yang bermanfaat untuk kami semua yang sedang berproses dalam program pemberdayaan. Terimakasih MPZ ( Mitra Pengelola Zakat) Dompet Dhuafa, yang telah memberikan kami ilmu, inspirasi dan semangat untuk memualai program pemberdayaan masyarakat.

Si Visioner – Futuristic Talent

Kali ini saya akan bahas tentang bakat FUTURISTIC yang merupakan salah satu bakat terkuat (urutan atas) yang saya miliki, dalam Assessment test TALENTS MAPPING.

Apa sih bakat FUTURISTIC ini ? Secara singkat orang orang yang mempunyai bakat ini, adalah orang orang yang senang membayangkan tentang MASA DEPAN, pikirannya jauh melayang ke jauh ke depan, dia punya banyak bayangan tentang masa depan, bisa jadi tentang dirinya sendiri, bisa juga tentang orang lain. Dia punya banyak sekali cita cita. Dia melihat apa yang tidak orang lain, dan memercayai apa yang belum orang percayai saat ini

Dulu, sebelum faham tentang bahasa BAKAT & sebelum kenal dengan TALENTS MAPPING, saya sering kali melabeli diri Saya sebagai “pengkhayal”, karena kecendrungan saya tadi, yang senang membayangkan masa depan. Saat belum faham ,saya menilai pengkhayal nya diri saya adalah hal yang cendrung negatif.

Namun, setelah memperdalam TALENTS MAPPING, saya jadi faham bahwa pengkhayalnya saya itu adalah sebuah TALENTA unik sekaligus anugrah yang diberikan oleh Allah Swt. Tidak semua orang mempunyai keuinkan tersebut dan kabar baiknya, talenta itu bisa membuat saya bisa lebih percaya diri, produktif & bermanfaat saat saya tahu apa dan bagaimana menggunakan serta memaksimalkannya.

Nah….lalu apa sih yang di bayangkan tentang MASA DEPAN oleh orang orang dengan bakat FUTURISTIC ini ? Nah tentunya setiap orang akan berbada, tergantung konteks, latar belakang, juga kombinasi bakat lain yang mereka miliki.

Uniknya, dalam diri Saya FUTURISTIC yang saya miliki, kecendrungan membayangkan tentang MASA DEPAN orang lain, bukan hanya tentang diri saya. Hal ini sepertinya berkaitan dengan bidang yang saat ini saya sedang lakukan -di bidang sosial pendidikan- dan juga berkaitan dengan bakat kuat saya yang lain, diantaranya bakat DEVELOPER, IDEATION dan juga BELIEF.(Lain kali kita bahas bakat yang ini)

“Membayangkan masa depan dengan berbagai ide gagasan dengan tujuan membantu dan menumbuhkan orang lain”

VISIONER ! Setelah saya faham tentang TALENTS MAPPING, saya dengan percaya diri bisa mengatakan bahwa saya adalah seorang VISIONER, yang punya banyak cita cita tentang masa depan. Bukan hanya tentang diri saya sendiri, tapi cita cita untuk banyak orang.

So, bila kamu yang baca ini, punya kecendrungan yang sama seperti saya ; Senang membayangkan masa depan, bisa jadi kamu punya bakat FUTURISTIC! yang merupakan potensi, keunggulan dan keunikanmu, untuk modal dan “bahan bakar” untuk masa depanmu!

Pengen Tahu Apa Bakatmu ? Yuks Ngobrol Langsung :

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA

Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska