Ada Apa Dengan Corona

sedekh

Hari ke enam peraturan pemerintah karena  wabah CORONA (COVID-19) yang juga melanda negara kita. Hari hari awal penetapan Belajar Dari Rumah & Working From Home mungkin ada banyak orang yang merasakan seperti perpanjangan liburan akhir pekan.

Bagi yang punya semboyan “I HATE MONDAY” mungkin ada sedikit kegembiraan yang tersembunyi, karena tidak mesti berangkat pagi pergi ke kantor dan mengerjakan pekerjaan yang terkadang serasa  beban kewajiban. Tidak mesti berada di kantor yang rasanya menjemukan, atau bertemu dengan rekan kerja yang menyebalkan, hhe…

Walaupun pada kenyataannya, kewajiban meyelesaikan pekerajaan tetap ada , tapi setidaknya tidak mesti menemui hal hal yang kurang menyenangkan di kantor & bisa merasakan sedikit persaan nyaman, karena  kita lakukan semua itu dari rumah. Bukan Begitu ?

Bagi saya sendiri -yang memang bukan orang kantoran-, konsep “Work From Home” bukanah sesuatu yang baru, karena dari dulu sudah saya jalankan. Tempat bekerja bagi saya bisa dimana saja. Tempat kerja saya kadang di kantor, di rumah, di tempat klient, perpustakaan umum atau perpustakaan pemerintah, coffe shop (kalau keuangan sedang aman), masjid, rumah teman, atau terkadang taman kota

Tapi memang suasana “Working From Home” kali ini berbeda. Wabah Corona yang sedang melanda Indonesia ini, sangat banyak mengambil perhatian & pikiran kita. Berita berita yang tidak kita henti pantau perkembangannya, yang tidak hanya mengenai tentang Corona nya itu sendiri, tapi tentang dampak yang menyertainya ; terbatasnya alat alat kesehatan, harga hargabeberapa komoditas yang merangkak naik, makin tingginya harga dolar, prediksi ekonomi yang terus memburuk, panic buying, isu penjrahan, dll

Kita sepertinya tidak henti dihujani berita berita seperti ini -dari beragai macam media- Televisi sudah pasti, belum lagi berita berita dari media elekrtonik yang seperti nya sangat bertubi tubi, twitter, facebook, share dari grup wa yang tidak hanya satu, yang hampir setiap grup memberitakan hal yang sama

Belum lagi berita berita yang belum tentu sesuai fakta, dibumbui hoax, atau berita yang hanya berdasarkan asumsi dan pendapat pribadi atau golongan tertentu saja, atau berita berita yang akhirnya menjadi konflik karena perbedaan pendapat  atas penyikapan terhadap Corona ini. Lalu ….

Saya pernah merasa lelah, karena terlalu mengkonsumsi banyak berita, apakah teman teman pernah merasakan hal yang sama …?

Mungkin niat awalnya ingin tahu perkembangan saja, tapi akhirnya kita terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi informasi, yang kadang kala juga tidak apa apa kalau kita tidak mengetahui hal tersebut. Namun fokus kita menjadi salah, alih alih melakukan sikap antisipasi untuk menghadapai virus ini, kita malah tenggelam dalam berita berita yang tidak ada hentinya ini.

Tidak salah memang memantau perkembangan berita, tapi ketika kita sudah tahu mengenai esensi beritanya, itu sudah lebih dari cukup. Langkah selanjutnya adalah bagaimana mengantisipasi, dan bagaimana mengantisipasi juga menyikapi apabila hal tersebut terjadi di sekitar kita. Ikuti saja apa yang menjadi arahan pemerintah dan para tenaga medis yang memang pakar dibidangnya. Karena …

Bukan seberapa banyak berita yang kita dapatkan, namun apa yang kita lakukan dengan berita tersebut

Karena sepertinya, bila kita tenggelam pada berita semata, hal ini bisa menjadi kontraproduktif. Diataranya kita menjadi cemas berlebihan, atau berbagai tugas “WORKING FROM HOME” yang semestinya kita kerjakan menjadi terabaikan, dan kewajiban kewajiban lain yang mesti ditunaikan pun menjadi terabaikan.

Pada akhirnya dibutuhkan kebijakan dalam manghadapi wabah ini, pun dalam mengelola berita yang kita konsumsi. Memang ada yang perlu kita ketahui secara mendalam, ada yang perlu kita ketahui pertengahan, ada hal yang perlu kita ketahui cukup permukaannya saja.

Jadikan  diri kita tetap produktif berkegiatan dari rumah, dengan apa yang terjadi. Produktif secara fisik, intelektual, emosional dan spritual.

Kita lakukan bagian kita, untuk menghadapi wabah ini. Melakukan apa yang telah disarankan, menbatasi kontak fisik, menjaga daya tahan tubuh, menjaga kebersihan diri, dll.

Yang juga sangat penting adalah menjaga keterhubungan kita dengan Tuhan, Sang Pencipta kita, yang menguasai hidup kita, yang memutuskan hidup dan mati kita, karena Ia lah yang berkuasa atas setiap nafas hidup kita

Kita kuatkan do’a agar wabah ini segera berlalu dari negri ini, dari dunia ini. Kita terus kuatkan do’a agar keluarga kita, orang orang yang kita cinta, dan bahkan siapapun orang yang tidak kita kenal terhindar dari wabah ini.

Ikhiar Maksimal – Berdoa Maksimal

Fn : Sebuah catatan dan nasihat kepada diri sendiri, dalam masa yang tidak biasa ini. Oh ya temen temen, biar #DirumahAja nya tetap berkah, saya ingin infokan program program sosial bisa berpatisipasi.

https://kitabisa.com/campaign/bangunsekolahntt

https://kitabisa.com/campaign/alquranuntukflores

 

Pentingnya Menyamakan Frekuensi

Menyamakan frekuensi adalah hal yang penting dalam sebuah organisasi. Apalagi untuk organisasi yang bergerak dalam bidang sosial. Menyamakan frekuensi bahkan menjadi salah satu pondasi, nilai dan budaya yang mesti dimiliki oleh organisasi tersebut.

Itu pula yang kami lakukan pekan kemarin. Duduk bersama menyamakan frekuensi  dari organisasi sosial dalam bidang pendidikan yang saat ini kami jalankan bersama, yaitu Kebukit Indonesia.  

Pekan kemarin kami sengaja mengundang putra putra asli NTT, yang saat ini baru saja menyelesaikan studi sarjana dan pasca sarjana nya di kampus di Pulau Jawa.

Semenjak kami memutuskan untuk berkegiatan di NTT dari sekitar tahun 2013. Kami mulai banyak balajar, salah satunya adalah untuk memperbanyak porsi mendengarkan. Mendengarkan apa yang menjadi permasalahan yang sedang mereka hadapi, keinginan yang ingin mereka wujudkan, serta harapan masyarakat disana.

Menurut padangan saya, sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang sosial, program yang digulirkan jangan sampai hanya program yang berdasarkan asumsi organisasi semata. Jangan sampai program yang kita adakan adalah program yang kita rumuskan berkutat pada persepsi dan teori, pengamatan jarak jauh, tanpa mendengaran apa yang menjadi permasalahan yang benar benar terjadi disana.

Jadi sebagai pengurus organisasi yang sedang berkegiatan di Pulau NTT, namun domisili para pengurusnya banyak di Pulau Jawa, maka sangat penting bagi kami untuk mendengarkan dan berdiskusi dengan para putra putri asli NTT

 

fbca173d-5245-4366-826b-e191fa0f8913

Dan pekan kemarin, Kami bersyukur bisa duduk bareng bersama mereka. Putra putra asli tanah Timur. Mendengarkan apa yang menjadi fenomena selama ini di tanah lahir mereka. Mendengarkan apa saja kendala, permasalahan sekaligus potensi dan peluang  yang bisa ditumbuh kembangkan disana.

Mendengarkan adalah bagian dari menyamakan frekuensi

Kenapa kita perlu mendengarkan ? Karena dengan mendengarkan kita bisa melihat apa yang selama ini tidak kita lihat, menyadari apa yang selama ini kita belum sadari. Dengan mendengarkan kita bisa melihat berbagai sudut pandang yang berbeda sekaligus sudut pandang yang bisa mencerahkan cara berfikir kita

Manfaat lain dalam menyamakan frekuensi adalah, kita bisa membuat kesepemahaman tentang apa permasalahan yang perlu kita selesaikan, menyamakan pandangan tentang bagaimana menentukan prioritas, menentukan ide & gagasan bagaimana menyelesaikan permasalahan juga merancang cara, stretegi & tekhnis yang akan dilakukan.

Menyamakan frekuensi juga artinya membulatkan kembali akan maksud dan tujuan, juga cita cita besar, agar segala derap langkah aktifitas adalah memang untuk menuju maksud dan tujuan tersebut

Menurut pandangan saya kembali, dalam berorganisasi jangan sampai kita melulu menghabiskan segala daya, tenaga dan fikiran kita untuk hal yang bersifat tekhnis. karena apabila kita hanya tertuju dan terobsesi pada hal hal yang bersifat  tekhnis, kita akan mudah melupakan arah tujuan, cita cita kenapa sebuah organisasi atau lembaga diadakan dan didirikan.

Lalu kita terjebak dalam kegiatan kegiatan yang seolah olah hanya “yang penting ada kegiatan” menjadi hampa, tanpa ruh, tanpa energi, tanpa tujuan, tanpa misi, tanpa strategi …

Jadi, ayo kita duduk sebentar, samakan frekuensi antar tim, agar tujuan yang kita inginkan benar benar tercapai. Atau jangan jangan kita memang tidak punya tujuan ? yang penting jalan ….

Bandung, 16 Maret 2020

Sebuah catatan perjalan untuk disimpan, direkam dan dijadikan pelajaran

Setiap Orang Berhak Bercita & Bercerita

d55d0fc7-3ee3-45b8-8cfb-5de898ce5fb0

Akhir pekan kemarin kami sengaja “Escape” sebentar dari hingar bingar kota Bandung. Nyari tempat yang sedikit sunyi & tersembunyi untuk duduk sebentar, merileksan fikiran, untuk kemudian berdiskusi santai, menyamakan frekuensi, menggagas harapan dan cita bersama tim Kebukit Indonesia

Katanya sebuah yayasan/lembaga sosial itu, jiwanya ada di pendirinya. Maksud dan tujuannya pun harus sesuai dengan tujuan “Founding Father” nya. Anggota lain tinggal meneruskan perjuangan.

Namun bagi saya -sebagai founder sebuah yayasan sosial- sebuah yayasan atau pergerakan sosial, jiwa nya ada di setiap orang. Setiap orang berhak untuk menitipkan impian impian besar nya di sana. Setiap orang berhak mengemukakan ide dan gagasan nya disana. Setiap orang harus memilik tujuan disana

Founder adalah pemantik, penggagas awal dan pembuka jalan.

 

Karena perjuangan selanjutnya akan lebih panjang. Perjuangan tidak bisa dilakukan sang “Founder” sendirian. Sang “Founder” akan menggajak banyak orang untuk berjuang bersama meraih tujuan. Karena ia tahu, di depan sana akan membutuhkan banyak orang. Orang yang memiliki semangat dan cita cita yang sama untuk mencapai tujuan,

Karena ia tahu di depan sana, akan dibutuhkan berbagai macam kemampuan,  keunikan, kekuatan yang berbeda beda dari berbagai orang. Dibutuhkan banyak strategi untuk bersinergi dan berkolaborasi.

Oleh karena tujuan kebaikan itu sangat panjang. Maka, setelah membukakan jalan, bukan berati founder yang memilki jalan tersebut. Jalan tersebut adalah jalan yang dimiliki bersama sama, jalan yang akan ditempuh bersama sama.

Oleh karena itu, setiap orang berhak menuangkan gagasan, pikiran dan cita cita nya di sana.

 

 

Setiap Orang Berhak Berbicara

Setiap orang berhak untuk meruahkan ide, gagasan & cita citanya. Mereka diperkenankan melejitkan bakat dan potensi nya disana.

Dan kemarin, sebuah kesyukuran bisa mengajak generasi yang lebih muda dari saya ini untuk melanjutkan perjuangan atas gerakan kebaikan yang telah saya mulai. Dan ternyata ide, gagasan dan cita cita mereka luar biasa. Banyak hal yang diluar dari pemikiran saya yang ternyata mereka bisa pikirkan.

Semoga mereka kelak yang akan melanjutkan. Tidak hanya melanjutkan, tapi menguatkan &melejitkan perjalanan kebaikan ini.

Oleh karena itu saya memberikan ruang kepada mereka untuk menuliskan apa cita cita kebaikan yang ingin mereka lakukan. Menuliskan apa harapan harapan besar mereka, untuk kebermanfaatan bagi  banyak orang. Berperan maksimal di di zamannya.

eb853465-84e7-4720-b554-7c42663e5640

—–

Fn : Late post, dalam rangka menyusun diri untuk bisa rutin nulis lagi

 

Ingin Merubah Kebiasaan, Dari Mana Memulainya ?

Berapa banyak sih dari kita yang sadang berjuang mati matian  untuk memperbaiki/mengubah kebiasaan ?

Dan berapa banyak pula dari kita yang gagal dalam mengubah atau memperbaiki kebiasaan yang kita anggap tidak baik atau buruk tersebut.

Saya pun pernah beberapa kami merasakan dan mengalami hal yang sama, yaitu betapa sulitnya kita merubah kebiasaan.

Kenapa yaa, kita begitu kesulitan dalam merubah kebiasaan  ?

Padahal tak terhitung banyaknya tips & trik juga berbagai  cara yang di berikan entah itu oleh para guru, motivator, tokoh berpengaruh dan sebagainnya

Cara cara seperti rumus “21 hari” merubah kebiasan -atau ada yang sampai 40 hari- yang konon katanya cara ini bisa membuat kita bisa merubah kebiasan kita.

Mungkin bagi beberapa orang ini efektif, mungkin bagi sebagian yang lainnya ini tidak efektif, gagal di tengah jalan, dan akhirnya butuh tenaga yang lebih besar  untuk memulai dari awal lagi. Kembali ke kebiasaan lama, dan akhirnya menganggap bahwa dirinya tidak bisa berubah

Lalu adakah cara yang lebih efektif, powerfull dan  bertahan dalam jangka panjang dalam merubah kebiasan tidak baik dalam diri kita. Bukan karena terpaksa, tidak terasa berat ketika menjalankannya, malah kita merasaan ringan dan kokoh dalam menjalankannya.

New Habits vs Old Habits

 

Credit : https://www.teamusa.org/

 

Akhirnya saya luangan waktu untuk berfikir, merenung dan mencari tahu.

Rupanya bagi saya tidak efektif ketika ingin merubah sebuah kebiasan yang melompat langsung kepada akifitas yang ingin dirubah tersebut. Bagi saya perlu hal yang lebih mendalam dan mendasar ketika akan merubah sebuah kebiasaan. Yaitu dengan terlebih dahulu merubah PIKIRAN dan KEYAKINAN kita. Caranya adalah dengan BERTANYA kepada diri sendiri .

Kenapa Sih Saya Harus Merubah Kebiasan Tersebut ..?

Sebagai contoh ; Berapa banyak dari kita yang gagal diet, bukan karena gagalnya dia menjaga pola makan, tapi karena gagal menemukan ALASAN yang KUAT kenapa dia perlu melakukan diet.

Berapa banyak dari kita yang gagal dalam menghilangkan kebiasaan menunda pekerjaan, bukan karena dia tidak bisa melakukan pekerjaan tersebut, namun karena kurang ALASAN yang KUAT kenapa ia akan lebih baik ketika bersegara.

Berapa banyak dari kita yang berjuang untuk tepat waktu, namun berapa banyak dari kita hanya semangat awal awal  nya saja, dan kemudian berantakan kembali di hari hari berikutnya. Bukan karena dia tidak bisa tepat waktu, tapi karena kurangnya ALASAN yang KUAT dalam diri kenapa ia sebaiknya menepati waktu.

ALASAN KUAT, adalah penting kita miliki ketika ingin merubah sebuah kebiasaan

 

Tanpa alasan yang kuat, merubah kebiasan akan menjadi sebuah hal yang sangat berat

Tanpa alasan yang kuat, merubah kebiasan akan menjadi sebuah hal yang sementara

Tanpa alasan yang kuat, merubah kebiasan akan menjadi sebuah hal yang tidak bertahan lama

 

Saya rasa, merubah kebiasaan bukan tentang niat dan disiplin semata. Namun seringkali kita terlewat untuk menanyakan kepada diri kita sendiri tentang ;

” Untuk apa saya merubah kebiasan ini ? ”

“Mengapa saya perlu melakukan perubahan hal ini? ”

“Apa akibatnya kalau saya tidak melakukan perubahan ini ?”

Pertanyaan yang penting sepeti ini justru seringkali kita lewatkan. Kita langsung berkutat sibuk dengan hal hal yang bersifat aktifiatas tekhnis, tapi kita lupa membuat pondasi yang kokoh atas alasan dibalik keinginan merubah kebiasan tersebut.

Misalnya kita ingin merubah kebiasan kita yang malas berolahraga menjadi rajin berolahraga. Maka kita perlu alasan yang kuat agar terbentuk kebiasan olahrag yang baik.

” Saya olahraga agar saya langsing dan badan saya proporsional dong ….”

” Saya olahraga agar lemak lemak di perut ini hilang ….”

” Saya olahraga agar badan saya sehat, saya bisa produktif dan berkarya, bisa terus menebar kebermanfaatan, tidak mudah sakit dan untuk investasi kesehatan nanti masa tua….”

Nah kira kira dari berbagai alasan tersebut, mana yang akan lebih baik, konsisten dan jangkan panjang dalam melakukan olahraga ?

Ini bukan tentang benar dan salah, karena alasan bisa sangat personal. Namun bila alasan alasan tersebut tidak cukup kuat, dan tidak bersifat pondasi, maka usaha merubah kebiasaan tersebut akan mudah patah.

Jadi sebelum sibuk meng-set aktifitas, membuat ukuran ukuran keberahasilan dalam merubah kebiasaan, maka sebaiknya temukan terlebih dahulu ALASAN YANG KUAT kenapa kita perlu melakukan perubahan tersebut

First, Find Your Why

Then

Do Your How

9087213b-02a7-4a9d-84b3-7a2b9a9c4656


Love Note :

Bandung, 25 Februari 2020

Ditulis ditengah perjuangan dalam menemukan alasan yang kuat untuk merubah berbagai kebiasaan

Perlukah Selalu Membuat Resolusi ?

Blog pertama di tahun 2020 …

Setelah lama “sok sibuk” dengan beberapa urusan dan setelah itu dilanjutkan dengan aroma liburan yang cukup membuat sedikit enggan untuk membuka laptop, akhirnya kita bertemu lagi …..

Ahh selamat datang tahun baru, lebih tepatnya selamat datang kalender baru …hhe.

Seperti biasa, dia wal tahun ini orang orang yang beramai ramai menyatakan tentang resolusinya. Memang, moment pergantian tahun adalah salah satu cara yang pas untuk membuat resolusi, harapan, rencana atau pencapaian. Semacam ada euforia atau energi yang baru saat kita menuliskan apa saja yang ingin dicapai di awal pergantian tahun.

Namun di tahun ini saya memilih untuk tidak membuat resolusi yang besar besaran, saya memilih untuk lebih banyak mengevalusi diri atas perjalanan hidup yang telah selama ini dilalui.

Rasa rasanya bila kita hanya berfokus kepada keinginan pencapaian diri, namun abai terhadap pentingnya mengevaluasi diri, maka kita hanya akan menjadi manusia pemimpi yang senang dan terbuai dengan angan angan, namun lupa untuk menjadi manusia yang perlu untuk berfikir evaluatif dan senatiasa berkeinginan memperbaiki diri.

Barangkali karena selama ini kita begitu banyak di “infiltrasi” dengan kalimat kalimat dari quotes para motivator seperti ini : “Apa impianmu tahun ini ….” ; “Apa yang ingin kamu punyai ditahun ini” ; ” Berapa income yang ingin kamu punyai tahun ini…” dan lain sebagainya.

Rasanya jarang yang meneriakan : “Apa kesalahanmu tahun lalu ….” ; “Apa yang hendak kau perbaiki tahun ini….” dan semacamnya

Tidak salah memang, namun saat berlebihan dan tidak pada tempatnya, maka kita akan menjadi manusia yang hanya pandai berangan angan.

Padahal evaluasi diri adalah modal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menyadari kesalahan kesalahan baik tingkah, laku, rasa, cita, karsa, pemahaman, sudut pandang, nilai yang dipilih, dll. Belum lagi evaluasi dalam kita mengambil langkah, keputusan, pilihan pilihan hidup dan lain sebagainya, yang selama ini masih terasa masih salah, kurang tepat atau belum bijak.

Ah kalau di bikin list perbaikan diri, banyak sekali rupanya yang perlu diperbaiki dari diri ini, dari hal yang kecil sampai hal yang besar …

Evaluasi pun tentang bagaimana kesyukuran kita terhadap hal hal yang telah berhasil kita lakukan, ujian yang mempu kita lewati, tantangan yang mampu kita jawab, kesabaran yang berhasil kita lakukan, juga kebajikan yang mampu kita tanam.

Keduanya kita jadikan catatan untuk langkah kehidupan selanjutnya. Apa apa yang telah baik, dan tercapai kita lanjutkan, luaskan dan naikan.

Apa apa yang masih belum tercapai, kita telisiki apa yang membuat hal itu belum tercapai.

Bertanya kepada diri , kenapa hal ini berhasil ? dan kenapa hal lain belum tercapai. Selalu bertanya tentang KENAPA adalah cermin kemawasan diri

Mencermati apa yang menjadi prosesnya, bukan hanya tentang hasil akhirnya …

Semoga selalu diberikan kesadaran dan kekuatan untuk mampu melihatdan mengakui adanya ketidaktepatan dalam pikiran, rasa atau pensikapan, kemdian bersuyukur akan pencapaian, keberhasilan dan kebaikan yang telah mampu kita lakukan. Kemudian mengambil hikmah, pelajaran, dan kebajikan dari keduanya.

Ah satu lagi, agar diberikan ke-Ridha-an atas apa apa yang telah terjadi, terutama atas perkara yang diluar dari kendali kita, diluar kuasa kita. Karena ada banyak hal juga yang tidak langsung akan kita ketahui apa maksud dan makna di balik semua perstiwa. Bersabarlah ….

Tulisan ini bukanlah cerminan akan pesimisme atau keengganan untuk lebih berdaya, justru catatan ini -bagi saya pribadi- adalah wujud optimise dipadu dengan penyadaran diri.

Bila ada sedikit resolusi sederhana di tahun ini, barangkali ini yang utama :

Bisa tidur lebih awal dan bangun lebih awal, hingga bisa terus menemui-Nya di sepertiga malam. Aamiin yaa rab …

Fn : Sebuah catatan pengingat diri, semoga bermanfaat juga bagi kamu, iyaa kamu …. 🙂

2 Januari 2020

Dari

Bandung Yang Sedang Hujan Hujannya

Bagaimana Memilih & Menentukan Bisnis Yang Tepat (Part 2)

Nah inilah pertanyaan awal yang bisa ditanyakan kepada diri kita sendiri ketika ingin atau barangkali sedang berbisnis

Kenapa sih kita mesti berbisnis … .?

KENAPA – WHY

Ini adalah kalimat “sakti” yang sengaja di buat BOLD, karena WHY ini, sebuah kata yang POWERFULL yang bisa menjadikan kita tergerak melakukan sesuatu. WHY adalah pertanyaan yang saat kita menemukan jawaban yang tepat, ia  akan menjadi sumber energi utama untuk menjalankan bisnis.

“Simple sih, bisnis itu untuk mencari uang ….”

“Bisnis itu jalan untuk memperoleh uang yang sebanyak banyaknya ….”

“Saya males kerja sama orang lain, saya bisnis sendiri saja ….”

 

Barangkali inilah beberapa contoh jawaban, ketika ditanyakan kepada seseorang  kenapa ia ingin berbisnis.

TENTUKANLAH GRAND WHY  – ALASAN UTAMA- ALASAN MULIA

Tidak salah memang alasan alasan seperti  yang dikemukakan diatas. Namun baiknya kita pun mempunyai WHY yang bersifat medasar dan mendalam, personalized, bersifat pribadi, bukan hanya alasan alasan yang bersifat profit atau normatif saja.

Tidak salah mengatakan bahwa bisnis itu untuk mencari profit, memang itu adalah salah satu tujuan financial dari bisnis, bila tidak ada unsur profit maka bisa jadi itu bukan bisnis.

Apabila misi bisnis kita adalah sebagai wujud ibadah dan pengabdian kita, maka selanjutnya yang perlu kita cari tahu adalah, dengan menentukan di bidang apa bisnis tersebut akan dijalankan Beribadah dan mencontoh rosul adalah gambaran besarnya -GRAND WHY- nya.

Langkah selanjutnya kita perlu mencari alasan yang lebih spesifik, personal dan detail tentang mengapa kita memutuskan untuk berbisnis, Agar kita tahu kemudian dibidang apakah kita akan menjalankan bisnis tersebut

 

THE POWER OF MISI – STRONG WHY – ALASAN KUAT

Misi adalah hal yang penting dalam hidup kita, juga dalam bisnis. MISI adalah reason to exsist-alasan keberadaan kita. Misi adalah tugas yang ingin kita “selesaikan” sebagai seorang manusia. Misi ini berkitan dengan sebagai apa dan dimana kita berperan.

Misi sebaiknya spesifik. Misalnya ada seseorang yang mempunyai bisnis toko buku. Ketika ditanya alasan kenapa dia memilih berbisnis toko buku adalah ;

Karena saya ingin  orang orang mendapatkan ilmu, inspirasi, hikmah yang bermanfaat dari buku buku yang saya jual, selain itu membaca dan menuntut ilmu adalah perintah agama, saya ingin membantu orang orang untuk menjalankan perintah agamanya …”

Alasan tersebut akan menjadi sebuah misi yang kuat, dibandingan dengan hanya punya alasan misalnya : ” Ya… lumayan lah untuk nambah nambah penghasilan, prospek nya juga bagus kedapan …”.

Dengan MISI yang kuat maka bukan hanya terlahir kretifitas, inovasi namun bisnis dengan MISI yang kuat akan membuat bisnis itu bertahan, berkembang, dan berusia lama.

Misi ini pun yang menjadi pemicu seorang Bill Gates pun dalam membangun perusahaannya sebesar sekarang. Misi nya waktu itu adalah “Ia ingin di setiap rumah ada komputer …” dan misi tersebut sekarang bisa dikatakan terwujud. Kekutan MISI  ini bisa membuat seseorang tidak berhenti dan tidak mudah menyerah dalam berkarya.

Mempunyai MISI menjadikan bisnis kita lebih mempunyai VALUE  & STRONG WHY, nilai yang tidak hanya bertujuan materil saja, namun nilai kontribusi dan kebermanfaatan yang menjadikan kita merasa lebih tenang dan bahagia. Bisnis yang bisa mencerminkan alasan keberadaan kita di dunia.

Nah, lalu bagaimakah caranya mencari MISI tersebut ….

 

APA PERMASALAHAN YANG BISA KITA BERIKAN SOLUSINYA

Lihatlah sekitar, adakah fenomena atau permasalahan yang ingin kita selesaikan. Misalnya banyak orang tua keduanya yang sibuk bekerja, sedangkan anak anak nya kurang mendapatkan pengasuhan yang tepat, ini adalah permasalahan. Padahal kita tahu bahwa masa kecil adalah masa yang sangat penting bagi perkembanganseorang  anak.

Maka terbersitlah gagasan untuk mendirikan Day Care, yang tidak hanya mengasuh dan menyediakan kepentingan fisik dan biologis anak, namun Day Care yang juga bisa memenuhi kebutuhan emosional dan spritual sang anak, hingga bisnis yang kita miliki mempunyai pondasi yang kuat, yaitu ikut serta dalam mendidik anak anak Bangsa.

Bisnis yang dimana kita bisa menjalankan sebuah paket istimewa ; Sebagai wujud ibadah seorang hamba, menerapkan ilmu pendidikan dan pengasuhan kepada sesama, dan mendapatkan keuntungan financial untuk keluarga.

 

APA KEKUATAN KITA,  APA YANG BISA DIKONTRIBUSIKAN

Selanjutnya adalah dengan menggali apa kekuatan internal. Kekuatan yang terkait dengan bakat yang ada dalam diri kita

Misalnya kita mempunyai bakat dan kecintaan dalam membuat orang lain maju dan berkembang. Bisa jadi bisnis yang sesuai dengan diri kita adalah bisnis lembaga pengembangan diri atau lembaga pendidikan

Misalnya kita mempunyai bakat dalam ketelitian dan kepekaan dalam membaca data dan angka, bisa jadi kita mempunyai lembaga konsultasi dibidang investasi dan keuangan.

Setiap manusia mempunyai kekuatan nya masing masing, yang bisa menjadi modal ia dalam berakifitas, termasuk berbisnis. Namun belum semua orang mengetahui dan  dengan jelas apa yang menjadi bakat nya. (Terutama bakat yang berkaitan dengan personality/kepribadian)

Maka, tugas selanjutnya adalah mencari apa yang menjadi BAKAT, KEUNGGULAN dan KEKUATAN yang adala dalam diri kita). Karena dengan memahami bakat berarti memahami keunggulan juga kelemahan diri.

Juga dalam menentukan bisnis apa yang akan kita pilih dan jalankan. Mengetahui bakat akan membantu kita lebih terarah dalam bisnis yang tepat sesuai dengan sifat bakat kita.

——-

Nah ini adalah beberapa point yang bisa kita gali dari dalam (INSIDE OUT) untuk mencari tahu dan menentukan bisnis apa yang sesuai dengan diri kita

Semoga Bermanfaat Ya ….

 

 

 

 

 

Bagaimana Memilih & Menentukan Bisnis Yang Tepat (Part 1)

Saya ingin punya bisnis ? Kira kira apa yaa bisnis yang sesuai dengan saya … ?

Tidak jarang kalimat inii terdengar di sekitar kita, atau bahkan diri sendiri pun barangkali pernah terbersit  menanyakan tentang hal ini ; “Apa ya… kira kira bisnis yang sesuai dengan diri saya…”

Apakah menentukan bisnis ini tentang  :

Peluang Pasar …..?

Pengetahuan & Pengalaman …?

Bisnis Masa Depan Yang Menjanjikan …?

Berdasarkan Passion, Minat & Hobbi …?

Keahlian ….?

Dan lain sebagainya ….

Nah biasanya hal ini yang banyak kita dengar untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan sebuah bisnis atau usaha adalah hal hal diatas. Peluang pasar misalnya, saat ini sedang booming booming nya bisnis kopi, apalagi bisnis kopi yang di package dengan konsep caffe. Hingga semakin kesini makin bermunculan bisnis bisnis serupa.

Lalu kita lihat fenomenanya, banyak yang makin pesat melaju, ada yang hanya bertahan, dan tidak sedikit yang hanya seumur jagung, dan kemudian dengan berat hati harus gulung tikar.

Barangkali banyak faktor yang menyebabkan bisnis gagal hingga terpaksa gulung tikar, bisa jadi karena perencanaan yang kurang matang, faktor persiapan modal, faktor pemasaran dll, dan bisanya hal ini yang jadi evaluasi para pelaku bisnis.

Namun sayangnya banyak orang yang lupa mengevaluasi apakah bisnis yang sedang dijalankan sudah sesuai dengan kekuatan internal yang ia miliki ? Terutama kekuatan yang dimiliki oleh owner atau founder bisnis tersebut.

Tentang Kekuatan Internal ini memang masih jarang yang ngeuh, peduli atau merasa penting memang, pemahamaan tentang kerja keras adalah segala-galanya memang sangat mendominasi

Saat ini banyak bisnis yang hanya berfokus pada OUTSIDE – IN ( Faktor external, seperti fenomena pasar, trend, prospek masa depan dll ) namun lupa dalam melihat apa yang menjadi kekuatan diri INSIDE – OUT (Faktor internal seperti ; Bakat dan keunggulan, keunikan, kekhasan, kesukaan, bahkan mengukur kelemahan diri ).

Maka tidak sedikit bisnis yang hanya jadi bisnis yang berdasarkan trend pasar semata, ikut rame nya saja, asal punya peluang, namun di tengah perjalanan keteran karena ternyata bisnis nya tidak mencerminkan kekuatan internal yang ada dalam diri kita

Tidak salah memang. Namun bila memilih bisnis hanya mempertimbangkan faktor external saja, namun mengabaikan faktor internal -faktor kekuatan diri-, maka bisnis tersebut bisa menjadi bisnis yang sekedar hanya ikut ikutan, yang penting ada, dan akan sulit untuk bertahan lama.

Inilah beberapa hal yang saya pelajari di sebuah workshop bertema “Talents Mapping For Business” belajar bagaimana agar memiliki Bisnis yang Autentik, bisnis yang sesuai dengan apa KEKUATAN INTERNAL setiap diri manusia. Bisnis yang tidak hanya mempertimbangkan faktor external semata, namun menjadikan kekuatan internal -yang sudah ada dalam diri- sebagai faktor inti.

Di training ini kami belajar mengupas tuntas mengenai kekutan yang ada dalam setiap orang -bahkan mengupas juga kelemahannya, tentunya agar berimbang-  agar bisnis apapun yang kita pilih untuk nantinya, bisnis itu adalah bisnis yang mencerminkan diri kita, bisnis yang autentik, bisnis dengan jiwa kita didalamnya, dan bisnis yang mempunyai pondasi yang kuat, karena modal utamanya adalah diri kita sendiri.

Menjadi Manusia yang INSIDE OUT bukan menjadi manusia yang hanya OUTSIDE IN.

Bersambung ….

Nah … tips bagaimana mempunyai bisnis yang autentik, kita bahas di tulisan selanjutnya yaa, Insya Allah …

 

img-20191111-wa00021456765737.jpg

Bagaimana Agar Tidak Merasa Minder Dan Rendah Diri

” Bu… saya suka merasa ga punya kelebihan apa apa. Saya jadi suka minder kalau lagi bareng sama temen temen saya. gimana yaa …”

Seorang mahasiswa menghampiri saya setelah saya mengisi Workshop Talents Mapping di sebuah kampus di Bandung. Pertanyaan sang mahasiswa menjadi awal diskusi lebih dalam saya dengan beberapa dari mereka, yang tampaknya memiliki perasaan yang sama.

Sepertinya perasaan dan pikiran “Tidak punya kelebihan apa apa” dialami tidak sedikit padammereka yang berada di usia mahasiswa. Perasaan itu seringkali menjadi sumber utama seseorang menjadi punya perasaan minder, inferior, rendah diri, dsb. Akibat selanjutnya akibat perasaan ini adalah, kita menjadi enggan bergaul, enggan berkarya dan tidak berani untuk maju melangkah.

Diskusi kami pun berlanjut, saya bertanya kepada mereka ; “Apa yang membuat kamu bisa membuat kesimpulan, bahwa kamu tidak punya kelebihan apa apa …” .

Sambil sedikit malu dan ragu mereka salah satu mereka berkata … ” Karena kayanya kalau dibandingkan orang lain, mereka itu bisa lebih keren, berprestasi, banyak teman, mudah bergaul, bisa bemacam macam hal dll, Tapi saya rasanya tidak bisa seperti mereka ….”

Dari percakapan tersebut rupanya inilah penyebab mereka merasa minder, yang pertama adalah karena mereka belum tahu apa yang menjadi keunggulan yang dimilki, yang kedua adalah karena selalu membandingkan diri kita dengan orang lain

Bila kita mengakui Allah Maha Adil, kita akan faham bahwa pada dasarnya setiap manusia pasti mempunyai keunggulan yang membuat ia istimewa dari manusia lainnya.

Namun sayangnya banyak dari kita yang belum tahu apa keunggulan yang dimiliki, hingga seringkali hanya fokus melihat pada apa keistimewaan orang lain, dan tidak berusaha mencari tahu apa yang menjadi keunggulan diri sendiri.

Selain itu kita lebih mudah membandingkan bandingkan keistimewaan orang lain dengan diri kita. Dia punya apa – kita tidak, dia bisa apa – kita tidak. Padahal keunggulan dan keunikan setiap orang itu berbeda beda. Membuat perbandingan satu manusia dengan yang lainnya dengan asal asalan, adalah sesuatu yang tidak tepat.

Lalu, bagaimana cara mencari tahu keunggulan kita ?

Mencari tahu “Siapa Diri Kita” adalah langkah awal agar bisa lebih mengenal dan memaham diri sendiri. Tanpa pengenalan diri yang baik, maka seseorang akan lebih mudah galau, bingung, cemas, terombang ambing, cendrung ikut ikutan dan merasa minder dan rendah diri.

Maka agar tidak menjadi mudah minder dan rendah diri, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah mencari tahu ;

“Siapa sih diri kita ….?”

Apa sih keunikan, keunggulan dan keistimewan yang ada dalam diri kita …?”

Ada banyak cara untuk mencari tahu apa yang menjadi keunikan, keunggulan dan keistimewaan diri kita, diantaranya adalah dengan mengikuti test assesment ilmiah yang bisa membantu mengungkapkan apa yang menjadi keunggulan kita. Selain itu carilah mentor, trainer, atau seseorang yang bisa dipercaya untuk membantu pencarian diri.

Maka berikut adalah beberapa langkah agar tehindar dari merasa minder dan rendah diri :

  • Sadari bahwa “Perasaan tidak punya kelebihan apa apa” adalah sebuah persepsi yang salah. Setiap manusia di bekali Allah Swt dengan kelebihan dan kekuranganya masing masing
  • Tugas manusia selanjutnya adalah menemukan apa yang menjadi bakat, keunikan, keunggulan dan keistimewaannya. Ada berbagai macam test assesment untuk mengetahui bakat dan keunggulan diri kita
  • Milikilah keberanian dan tekad yang kuat untuk mengasah bakat dan keunggulan tersebut. Bertemu dengan banyak orang, bertemu banyak lingkungan, dan berbagai pengalaman
  • Membaca buku, literatur, media digital yang membantu mengasah keunggulan kita
  • Carilah mentor untuk mendampingi & menguatkan diri
  • Mencari lingkungan yang mendukung

Keep learn, explore and inspire !

See you …

Keterangan Foto : Workshop Talents Mapping di kampus STAIPI BANDUNG

Apa Yang Dibutuhkan Otak Kita … ?

Pernah ga sih kita bertanya, tantang apa sih yang dibutuhkan otak kita ?

Kita semua pasti tahu, bahwa otak adalah tempat masuknya informasi, sekaligus tempat dimana informasi tersebut di proses, yang kemudian hasil olahan informasi itu membuahkan pikiran dimana kita mengambil berbagai macam keputusan kehidupan  dari pikiran tersebut.

Nah, oleh karena itu kita perlu rasanya memperhatikan informasi apa yang masuk ke dalam otak. Setuju ?

 

” Yes indeed, We Need To Be Carefull To What See And Hear About….”

 

Bila kita begitu selektif memilih makanan yang masuk pada tubuh, maka seharusnya kita pun melakukan hal yang sama -bahkan lebih- saat memberi “makanan” kepada otak. Sayangnya kita masih abai dan cendrung tidak selektif akan apa yang masuk kepada otak kita. Bener gak ..?

Padahal bukankah otak itu adalah organ penting dalam hidup manusia, karena dari sanalah kita bisa berfikir, bernalar, berkomunikasi, mensikapi & memecahkan masalah, mengambil keputusan , membuat berbagai ide gagasan dan sebagainya. Karena apa yang masuk kepada otak kita bisa menjadi “Panduan” kita dalam menjalankan kehidupan.

Bila otak selalu kita “Suapi” dengan berbagai informasi informasi sampah, “Junk Information” maka itu akan membuat otak dan pikiran kita dangkal atau tidak bisa berfikir jernih dan mendalam, mudah goyah, tidak ajeg, dsb. Sama seperti tubuh, bila terus mengkonsumsi makanan sampah, maka kita pun akan mudah terserang penyakit, atau imun tubuh menjadi lemah.

Begitu pun otak, bila yang kita konsumsi kebanyakan hanya informasi informasi sampah, maka pikiran kita akan tumpul, nalar menjadi tidak tajam, mudah kebingungan, tidak ajeg, dan menjadi gampang terbawa arus, tidak punya prinsip, pendirian, dan tujuan. Ga mau kan …?

Pertanyaannya … bila hanya informasi informasi dangkal tersebut yang kita konsumsi, apakah kita bisa menjadi manusia matang yang bisa bijak dalam menentukan langkah, mengambil keputusan, membuat ide dan gagasan besar nan bermanfaat …?

Maka, yuks kita mulai belajar berhati hati  dalam memberikan makanan pada otak kita, karena apa yang kita masukan baik secara sengaja ataupun tidak sengaja, baik sadar ataupun tidak sadar pada otak kita, akan mengendap, dan akhirnya menjadi pola pikir juga buah pikir.

Bukankah pola pikir itu sangat penting dalam diri seseorang ?

Bila banyak yang kita  konsumsi hanya info info serampangan,  gosip gosip pasaran, peristiwa peristiwa acak, receh, asal viral, asal rame dan menyenangkan, informatif sih … tapi tidak bertujuan, lalu apakah itu sehat untuk otak  dan pikiran kita ? Apa  yang di harapkan dari informasi informasi tersebut ?

Kita abai untuk mulai belajar membaca informasi atau ilmu yang berkualitas, informasi yang memberi makanan sehat dan vitamin bagi otak dan pikiran. Kita tidak memberikan otak dengan ilmu yang mendasar dan mendalam, yang bisa memperteguh pikiran juga hati. Kita merasa tidak perlu membaca buku, mendengarkan para guru. Padahal dari hal inilah kita bisa membentuk pola berfikir yang baik.

Maka ada baiknya kita mulai menyaring apa yang akan masuk kepada otak, melalui pendengaran dan penglihatan. Jangan dianggap remeh, karena hal ini bisa mempengaruhi hidup kita.

Ingin hidup berkualitas, maka mulailah belajat memilah informasi  yang kita dengar apa yang kita baca. Belajar agar penglihatan dan pendengaran kita lebih banyak melihat dan mendengar hal yang akan jadi ilmu, pelajaran, dan hikmah yang baik.

Tidak semudah yang dikatakan memang, namun sangat layak mulai kita belajar untuk memulai dan menjalankan …. 🙂

Bukankah ada pula sebuah ayat Al Quran yang menyatakan bahwa

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. al-Israa’ : 36)

Bandung, 04 Oktober 2019

Ah …lagi lagi ini nasihat buat diri saya sendiri, yang  masih sering lalai pada penglihatan, pendengaran dan juga hati ….

Perlukah Mengetahui Banyak Hal ?

Banyak yang beranggapan bahwa kita perlu mengetahui banyak hal. Namun yang saya sadari saaat ini bahwa terkadang terlalu banyak tahu, membuat kita menjadi kontra produktif.

Di zaman yang dimana akses informasi begitu deras tiada henti masuk kedalam diri kita, baik sadar ataupun tidak sadar, baik disengaja atau tidak disengaja. Mata dan telinga kita serasa di bombardir dengan berbagai informasi, berita, atau apapun itu. Sebagian barangkali kita butuhkan, namun seringkali informasi atau berita tersebut tidak sama sekali kita butuhkan.

Tapi anehnya apa yang tidak kita butuhkan itu, adalah apa yang kita “senang” untuk mencari berulang ulang, misalnya terlalu banyak mengetahui berita,  terlalu banyak scrolling feed medsos, terlalu banyak memantau status teman, konten konten gosip,  terlalu banyak mengetahui apa yang dilakukan orang lain, bagaimana hidup mereka, bagaimana pencapaian mereka, dsb …

Atau barangkali kita terlalu banyak percakapan dengan yang tidak ada tujuannya, hanya membahas perkara ini itu, peristiwa acak yang seringkali tidak ada hubunganya dengan karya karya kita. Percakapan yang tidak membawa banyak manfaat, bahkan sebenarnya membawa mudharat.

Ini bukan hanya tentang waktu yang terbuang, namun tentang bagaimana berbagai informasi tersebut banyak mengkonsumsi otak kita. Infomasi yang terlalu banyak, acak dan tak beraturan itu tanpa disadari banyak memapar, menyedot, mengambil porsi dan ruang kapasitas otak kita.

Otak kita mempunyai kapasitas untuk memikirkan sesuatu. Apabila otak kita dipenuhi  hanya dengan informasi dan pembahasan yang telalu banyak, acak, dan tak beraturan maka otak kita tidak mempunyai “tenaga” lagi untuk memikirkan fokus atas hal hal yang lebih dalam , lebih berkualitas dan lebih jangka panjang.

Terlalu banyak tahu ini pun tidak hanya tentang informasi yang ada di media sosial, kadang berupa pengetahuan yang “terlalu banyak” kita konsumsi. Hingga fokus kita kadang kepada mengumpulkan informasi, bukan menjalankan apa yang harus kita kerjakan.

Istilahnya ilmu bulan kemarin belum di praktekan, atau belum kita bagikan kembali, kita sudah menumpuk “otak” kita dengan ilmu lainnya. Hingga kita kadang bingung ; “Mana dulu nihh yang mau dikerjain …” hhee ada yang pernah ngalamin ?

Atau kabar tentang apa pencapaian saudara, teman atau lingkungan sekitar. Terlalu banyak tahu kabar tentang orang lain, kadang juga tidak sehat. Karena kemudian kita menjadi terlalu memikirkan hidup orang lain, atau kita menjadi tenggelam dalam membanding bandingkan hidup kita dengan mereka.

Dalam kadarnya “Mengetahui Banyak Hal” atau mempunyai pengetahuan yang luas, bisa jadi baik, bisa menjadi sumberi inspirasi dan  menjadi sumber kebermanfaatan. Namun apa bila sudah berlebihan atau malah yang  kita tahu  tersebut adalah hal yang sifatnya hanya “Sampah” maka itu bisa jadi bomerang bagi diri kita.

Alih alih mencari energi atau agar lebih termotivasi ketika mengetahui  banyak hal atau melihat pencapaian dan kehidupan orang lain, yang kita dapatkan adalah demotivasi dan akhirnya menjadi kontraprodukif.

Sekali lagi, kapasitas otak kita bisa “tidak terbatas” dalam menerima paparan informasi, namun otak kita mempunyai batasan dalam memikirkan sesuatu lebih dalam, lebih fokus, dan lebih bertujuan.

Informasi yang cukup, apabila kita mampu untuk mengelolanya, maka akan membawa efek yang baik untuk diri kita. Maka berhati hatilah atas  ilmu, pengetahuan, infromasi yang dikonsumsi, karena tidak semuanya bermanfaat  atau malah bisa jadi merugikan diri kita.

Berfokus untuk memperdalam ilmu yang kita butuhkan, pada tugas, kewajiban, peran dan panggilan hidup kita. Selektif adalah hal yang harus kita lakukan, salah satu nya tentang apa yang perlu diketahui dan apa yang tidak perlu diketahui. 

Beranilah untuk tegas pada diri kita untuk tegas berkata pada diri : NO atau STOP, ketika sesuatu yang tidak banyak membawa manfaat pada diri kita, atau bahkan membawa mudzarat kepada diri kita.

Tidak mudah memang, namun disitulah letak perjuangannya, agar kita mampu menjadi manusia yang produktif, berdaya dan bermanfaat

Yes its true :

Sometimes its better to KNOW LESS then we can DO MORE

 

#SebuahNasihatUntukDiriSendiri