Tahun Baru Yang Berbeda

#CatatanPertamaAwalTahun

#LatePost

2019 tampaknya menjadi tahun yang akan banyak “berbeda” dengan tahun tahun sebelumnya. Seperti awal tahun baru kemarin, suasana berbeda lumayan terasa. Kalau di tahun tahun sebelumnya, fenomena yang biasa terasa diantaranya adalah orang orang ramai mempersipakan diri untuk merayakan pergantian tahun.

Penjual terompet berhadiran di jalanan utama bahkan pemukiman, acara acara pagelaran dan perayaan di gelar di pusat pusat kota dan tempat wisata, acara acara televisi yang berlomba lomba sajikan perhelatan, orang orang berbondong bondong di jalanan, menghampiri keramaian.

Namun tahun 2019 ini saya merasakan banyak hal berbeda -terutama di Bandung, di kota saya- tidak terlalu banyak para penjual terompet, topi, dan simbol simbol tahun baru semacamnya. Orang orang pun tidak terlalu euforia menyambut moment pergantian tahun, biasa biasa saja, paling memilih berkumpul dengan keluarga saja, tanpa persiapan yang istimewa, kerena memang tahun baru selalu bertepatan dengan libur panjang anak anak sekolah.

Di kota saya tidak ramai dengan arak arakan, pawai, atau riuh ramai suara terompet bersahutan seperti biasanya, satu dua saja barangkali masih ada. Acara acara yang gegap gempita seperti sebelumnya berganti dengan muhassabah, yang diadakan di masjid pusat kota. Anak anak muda pun banyak yang memilih untuk hadir di kajian, atau diam di rumah saja. Acara acara televisii lokal pun, bisa biasa biasa saja, tidak banyak acara konser yang super meriah seperti biasanya.

Mungkin hal ini karena banyak hal yang terjadi di negri ini, tahun 2018 adalah tahun ujian untuk Bangsa Indonesia. Berbagai bencana alam terus beruntun datang tahun ini, belum persoalan persoalan lainnya yang belum kunjung selesai. Hal ini membuat kita semua semakin tersadar bahwa banyak hal yang perlu kita renungi, dari pada sekedar perayaan perayaan yang minim faedah, hura hura dan kadang dekat dengan hedonisme.

Saat pagi pun saya melihat berita, para petugas kota melaporkan bahwa tahun ini, jumlah sampah peninggalan tahun baru pun jauh menurun, tidak biasanya. Jalan jalan pusat kota pun lebih lengang, dan suara mercon kembang api saat “counting down” pergantian tahun pun jauh berkurang.

Semangat “Hijrah” yang semakin lama semakin kental terasa pun, sepertinya menjadi faktor lainnya. Pemahaman terhadap agama yang makin baik, membuat kita lebih tau dan mau menjalani mana hal yang perlu mana yang tidak. Mana hal yang bermanfaat dan mana hal yang hanya jadi sia sia saja.

Semoga sepinya perayaan tahun baruan tahun ini, adalah wujud kesadaran dan kepedulian banyak anak Bangsa, bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki, direnungi. Dan semoga awal tahun -yang menurut saya lebih baik ini- menjadi pembuka tahun yang baik untuk Bangsa ini. Semoga kedepan akan beruntun berdatangan kebaikan dan keberkahan untuk Negri ini.

Aamiin …..

 

Advertisements

Mukaddimah – Buku Bacaan Para Tokoh Dunia

Saya lagi nyici baca buku nya IBNU KHALDUN yang judulnya MUQADDIMAH. Buku yang super tebal. Buku yang konon katanya banyak jadi rujukan para filusuf, politisi, sosiolog, pakar ekonomi, ilmuan dan cendikiwan di berbagai negara . Bahkan konon katanya, buku ini adalah salah satu buku “MUST READ BOOK” nya seorang MARK ZUCKERBERG adalah buku MUQADDIMAH ini.

Sudah lama sih, nyari buku ini. Akhirnya seorang teman memberikan pinjaman secara sukarela buku ini. Dengan rencana, next saya mau beli sendiri buku ini. Sebenernya saya belum khatam dengan buku ini, saya masih membaca bagian bagian yang saya anggap menarik, saya butuhkan, dan ingin mengetahui lebih dalam pemikiran tentang topik tersebut dari seorang IBNU KHALDUN.

Beberapa bagian yang sudah saya baca, diantaranya adalah pemikiran beliau tentang pendidikan, tentang akhlaq, tentang metode penerapan ilmu pengetahuan, dan beberapa kajian beliau tentang sejarah kaum Arab.

Kesan saya di interaksi awal saya dengan buku ini adalah, bahwa IBNU KHALDUN adalah seorang yang sangat cerdas, berani, mendalam. Lahir di abad ke 13 masehi, namun pemikiran nya sangat mendalam sekaligus visioner. Buah fikir nya yang berwujud buku ini, ternyata masih menjadi buku yang banyak di baca oleh banyak orang hingga saat ini, setelah 7 abad berlalu. Pemikiran nya masih sangat adaptable dipakai saat ini. Bahkan mungkin beberapa puluh tahun kedapan, buku ini masih sangat recommended buat dibaca.

Saya jadi banyak membayangkan, di masa itu. Di masa yang mungkin ilmu pengetahuan belum berkembang seperti sekarang, masa di mana literatur masih sangat terbatas, kemudahan akses informasi masih manual, namun mampu terlahir para pemikir yang luar biasa, yang karya karya nya masih bisa mempengaruhi dunia berabad abad kemudian.

Beberapa kali dalam tulisan di beberapa bab nya, ia selalu mengembalikan dan merajuk banyak hal kepada Al Qur’an dan Al Hadist. Berbagai tulisan nya banyak berawal dari perenungan mendalam atas fenomena yang ia lihat saat itu, dan pandangan dia akan dunia masa depan.

Akhirnya, saya tahu. Saya akan sangat jatuh cinta dengan buku ini, dan siap mendengar, berialog dengan pendahulu yang hidup berabad abad lalu ini …

#BacalahDenganNamaTuhanmu

#BacalahAgarDirimuTaqwa

Dibalik Musibah

Semoga setiap musibah, ujian, adalah jalan kita semua, untuk lebih DEKAT kepada yang MAHA BERKEHENDAK menjadikan ini terjadi. Baik yang tertimpa musibah ataupun kita yang menjadi saksi dan peduli.

Berdo’a untuk mereka saudara saudara kita disana semoga diberikan KEKUATAN dan KETABAHAN. Juga untuk kita sendiri, sebagai pengingat bahwa kehidupan ini ada yang MENGGENGGAM, di atas KUASA-NYA semua bisa terjadi

Jangan sampai sebuah bencana hanya kita bahas pada hal sebatas fenomena saja. Sebatas membahas pada gejala gejala alam, atau semacamnya. Namun kita lupa, mengkaitkan ujungnya pada SANG PENCIPTA yang menghendaki segala nya terjadi.

Innalillahi Waa Inna Ilahi Rajiunn, semuanya milik ALLAH dan akan selalu kembali Kepada-Nya. Karena apabila segala peristiwa di depan mata tidak membuat kita lebih Takwa, tidak membuat kita lebih tersadar dengan dosa dosa kita, lalu dengan cara apa lagi Allah menyadarkan kita ….

Ah… Ini nasihat kepada saya sendiri, yang masih sering lalai seraya berdosa. Kita tak pernah tau kapan dan dengan cara apa Allah menggerakan Alam miliknya untuk menyadarkan kita, bahwa IA MAHA KUASA ….

Mah Besar Allah Dengan Segala Kuasa-Nya …

LIKE ADDICTED ! Sebuah pelajaran dari seorang AWKARIN

Kemarin, beberapa percakapan dengan seorang kawan, membawa saya nonton Video nya AWKARIN yang berjudul “I QUIT INSTAGRAM”

Diantara kontroversial kisah hidupnya, ada beberapa hal yang bagus untuk dijadikan pelajaran. Di video tersebut ia mengungkapkan tentang apa yang terjadi dalam hidupnya, salah satunya adalah tentang bagaimana sosial media -yang selama ini menjadi sumber penghasilannya- menjadi salah satu sumber strees dan depresinya.

Ko bisa ? Awkari mengungkapkan bahwa dulu ia posting sesuatu ke Instagram, hanya karena ia ingin berbagi saja, berbagi moment saja, berapa jumlah like pun bukan jadi hal yang penting.

Namun seiring waktu ia kemudian menjadi seorang bintang di sosial media, dalam posisi dikenal banyak orang, banyak pengggemar, diberikan banyak respon dalam setiap postingannya,dan ternyata hal tersebut menggiring ia pada sebuah kondisi yang kemudian “merusak” kejiwaannya. LIKE ADDICTED !

Di posisi itu ia menjadi sangat terpengaruh dengan berapa jumlah “like” yang ia dapat, berapa banyak respon yang ia dapat. IS ALL ABOUT ENGAGEMENT. Ia menjadi sangat senang ketika postingan nya direspon banyak orang, dan itu NAGIH, semacam candu

Dan ketika ekspektasi like nya tidak sesuai harapan, ia menjadi tertekan, stress, over thinking dan kemudian bertanya tanya kenapa yaaa ko like nya dikit ? Apa yang salah dengan postingan saya ? Saya harus ngapain ya biar di like dan di respon sama orang ?

Dan kemudian ia berusaha mencari berbagai cara agar bagaimana postingan nya kembali disukai banyak orang. Dan itu membuatnya tertekan, yang hampir mengantarkan dirinya ke titik depresi

Syukurnya, Awkarin segera menyadari hal itu. Bahwa hal tersebut berbahaya untuk jiwanya. Ia kemudian menyadari ada akibat dari sosial media yang kemudian merubah hidupnya, bisa berpengaruh kepada kejiwaannya. Dan akhirnya dia memutuskan beberapa saat untuk berhenti sementara dari Instagram, hidup di dunia nyata dan membuka lembaran baru hidupnya.

Pelajaran yang baik menurut saya dari sepenggal kisah seorang Awkarin. Kita, orang biasa pun sangat bisa mengalami hal itu. Ketagihan like, ketagihan komentar, merasa senang gembira ketika postingan kita di komentari banyak orang, dan merasa cemas ketika tidak banyak tanggapan. Mantengin terus notifikasi, ketagihan posting, dsb (Mungkin hampir setiap orang pernah mengalaminya, dengan level yang berbeda beda, dari yang wajar sampai tingkatan bahaya)

Terlihat seperti hal simple, tapi sebenarnya tidak juga, dari artikel2 yang saya baca, kondisi tersebut di tahapan tertentu bisa membawa kepada masalah kejiwaan yang mengkhawatirkan, sudah banyak yang mengalami.

Teman saya yang pernah mengalami hal ini, kemudian pilihan dia adalah menghapus media sosial dari HP nya. Dia bilang : ” Pengen hidup lebih tenang aja sih …”

——–

Nah intinya bukan tentang media sosial nya yang salah, tapi tentang kitanya. Karena media sosial pun terbukti oleh orang banyak orang dimanfaatkan sebagai cara syiar, cara mengajak kepada kebaikan dan jadi jalan kebermanfaatan yang sangat luas

Media sosial benar benar mempunyai dua sisi mata uang. Waktu demi waktu kita harus bener2 ngecek, apa unsur postingan kita apakah benar2 untuk berbagi kenikmatan, apa untuk menyampaikan kebaikan dan inspirasi, apa hanya ingin mengejar ketertarikan, apa ingin selalu terlihat eksis, dsb

Pertanyaan semacam ini harus terus kita tanyakan pada diri kita, -dan ini sangat personal sekali-. Jangan sampai postingan kita justru jadi bumerang buat AMAL KITA dan juga KEJIWAAN kita …

Dan ketika ada kemungkinan/ fenomena seperti ini, bukan beraarti menghentikan aktifitas kita di media sosial, we have to keep doing good through social media and keep minding our soul … 😉

Sekian, Semoga Bermanfaat 

Bijaklah Bermedia Sosial
Sayangi Jiwa Kita
Sayangi Amal Kita

like

Komunitas PUNK HIJRAH [ Flash Back]

Akhir tahun ini, saya lagi banyak banyak melakukan FLASH BACK. Ga hanya kenangan atas moment dan peristiwa di tahun 2018 aja sih, tapi flash back ke beberapa tahun kebelakang, yang terjadi di akhir akhir tahun.

Seperti moment ini, ketika sekitar dua tahun lalu kira kira saya pertama kali bertemu dengan anak anak dari komunitas PUNK BANDUNG. Sebuah komunitas yang saat itu masih sangat asing bagi saya, bahkan membayangkan bisa kenal dengan mereka pun saya tidak pernah.

Namun, saat Allah mempunyai rencana, maka IA akan mengaturnya sedemikian rupa. Demikian juga saat malam itu, di acara yang diadakan oleh KEBUKIT INDONESIA dan GERAK BARENG dihadiri oleh BANG ZAKI pembina PUNK MUSLIM Jakarta , yang datang adalah kawan kawan dari komunitas PUNK BANDUNG.

Dan uniknya pertemuan ini, tidak sama sekali membahas mengenai musik PUNK atau semacamnya. Justru malam itu yang kemudian menjadi bahasan adalah tentang curahan hati dan fikiran mereka yang sudah ingin berubah arah hidupnya, ingin BERHIJRAH. Masya Allah …

Sungguh di luar dugaan. Akhirnya  bahasan kami lebih mendalam kepada makna HIJRAH. Bang Zaki sebagai pembina PUNK MUSLIM, banyak memberikan insight kepada mereka tentang kehidupan. Tidak menggurui, tidak menghakimi, kami sama sama berdiskusi, bercerita, bertukar fikiran.

Akhirnya, pembicaraan panjang malam itu, bertuju pada kepada keinginan mereka untuk berubah, untuk BERHIJRAH, dan mereka meminta saya dan kawan kawan untuk menjadi kawan yang membersamai mereka dalam proses HIJRAH mereka.

Ah.. malam itu sungguh saya yang jadinya dibuat haru. Semacam ada babak baru dalam hidup saya, semacam ada warna baru dalam hidup saya saat bertemu mereka. Di dalam hati, saya berkata : walaupun seolah olah mereka yang meminta semacam bimbingan dan pendampingan kepada kami, namun sebenarnya kami akan sama sama belajar, sama sama saling mengenal terlebih dahulu, belajar saling memahami, saling mengerti, dan saling belajar untuk memperbiki diri.

Dan malam itu menjadi awal perjalanan persaudaran kami selanjutnya. Tidak selalu sempurana memang, namun kami akan selalu saling menguatkan, saling mengingatkan, Insya Allah ….

Fn : Nanti saya update kegiatan kegiatan kami selama ini, oh y barangkali ada yang nanya, saya yang mana ? (barangali gituuuu….)

Itu yang pakai  kerudung merah …hhee

 

Selamat malam ya …

Bandung, 17 Desember 2018

 

 

 

 

Naluri …

Nah, karena selama ini saya bergelut di bidang literasi, budaya membaca, buku, dsb. Maka refleks saja, saat menemukan sebuah situasi, moment, Saya selalu ingin membuat sebuah #ReadingCampign. Hhe..

Waktu sore ini seorang kawan dari Jakarta datang, ia ingin jalan jalan di daerah Braga-Asia Afrika, kemudian ngeliat anak anak costplay dengan rupa figure, dan ingin berfoto, maka pose yang saya ambil adalah seperti ini.

Si “hantu” kayanya agak aneh ketika saya minta dia berpose lagi baca. Karena biasanya kan dia pasang muka muka serem gitu. Pas saya bilang ” a.. kita difoto sambil baca buku, mau yaa… ” Dia pun agak sedikit mengerut kan kening.. “oh boleh tehh…”

Dan hasilnya seperti ini…hhaaa

Oh ya, kegiatan kegiatan seputar kegiatan sosial, pendidikan, dan literasi bisa dilihat di Kebukit Indonesia

Selamat malam jumat yaa, jangan lupa Al Kahfi … 🙂

Bandung, 13 Desember 2018

Ketika Mereka Mengetuk Dari Pintu Ke Pintu

Door-Knocking-Real-Estate

Kemarin lusa pas lagi seharian di rumah, ada yang  mengetuk pintu dan mengucapkan salam, kemudian saya liat ada dua orang di teras yang terlihat masih muda, mungkin baru lulus SMA, berseragam hitam putih.

Satu laki laki, satu perempuan. Yang laki laki memakai tas gendong yang terlihat sudah lusuh, yang satu perempuan terlihat membawa semacam papan dada, dengan beberapa lembar kertas diatasnya, memegang pulpen, terkesan sedang mencatat sesuatu.

Ketika saya membukakan pintu, mereka memperkenalkan diri sebagai tim survey dari sebuah perusahaan gas, dan mereka bertugas untuk mengecek keamanan gas yang ada di rumah rumah warga.

Sebenarnya saya sudah tahu kurang lebih maksud mereka. Mereka pada akhirnya akan menawarkan sebuah produk yang berkaitan dengan kompor gas, entah itu regulator, selang, dsb. Dengan pembuka awal adalah mereka ditugaskan untuk mengecek kemanan kompor gas.

Saya tolak dengan halus, ” Maaf dek, yang punya kami masih bagus …” Kemdian dia bertanya ” Kapan terakhir di cek bu ? ” masih tetap berusaha “ Baru baru ini, maaf ya dek, kemarin juga ada yg ada seperti adek kesini ..” lanjutku. “Baik bu, boleh saya minta nama ibu saja…” . Lalu saya berikan saja, dan mereka pun berlalu, mengucapkan terimakasih. Saya tidak beli karena memang tidak butuh, dan biasanya harga mereka jauh lebih mahal dari pasaran

Mungkin teman teman juga pernah kedatangan yang seperti ini, sebenarnya mereka hendak menjual sebuah produk, dengan cara awal seolah olah mereka, adalah petugas resmi dari perusahaan gas.

Sebenarnya sih saya dengan orang orang rumah, pernah ada trauma dengan hal seperti ini. Dulu pernah ada yang seperti ini juga. Bedanya, kalau yang kemarin itu masih anak anak yang kayanya baru lulus SMA, yg sebelumnya yang datang adalah bapak bapak paruh baya, tidak tanggung tanggung, mereka datang tiga orang.

Dengan gaya pembukaan yang sama, namun lebih berani, kalau dibilang sih lebih ga sopan, mereka berani untuk langsung masuk ke dapur, dan melihat kondisi gas kita. Jadi kita semacam dibuat panik, yang satu mengajak kita ngobrol, yang satu entah bagaimana berani untuk masuk ke rumah kita, menuju dapur, dan langsung memegang megang kompor gas kita. Dan entah kenapa, gas kita yg asalnya baik baik saja, kemudian jadi kaya rusak gitu, kejadian pas di rumah saya, selang nya jadi semacam robek gitu, padahal awalnya baik baik saja.

Setelah sadar bahwa sebenarnya mereka yang sengaja merusak gas dan kelengkapannya, dengan tujuan nya agar kita mau tidak mau membeli produk mereka yang harganya bisa dua kali lipat dari harga normal. Dan ternyata mereka melakukan ini ke beberapa rumah yang mana waktu itu biasanya hanya ada ibu ibu saja. Ibu ibu kan gampang panik an, mereka manfaatkan kondisi psikologis itu. Ah … jahat sekali. Inilah yang membuat orang orang banyak trauma pada tenaga penjual yang datang ke rumah

Balik lagi ke anak anak itu. Sebenarnya mereka ga mungkin sejahat itu. Mereka sedang mencari nafkah, sedang memberanikan dirinya untuk mengetuk setiap pintu, mengenalkan diri kepada orang yang sama sekali tidak dikenal, yang bisa diperlakukan lembut atau kasar. Berani mengetuk dari pintu ke pintu, berjalan dari gang ke gang, dan itu sungguh tidak mudah.

Mereka, yang terlihat polos polos itu, sedang ditempa oleh kehidupan, dihadapkan pada banyak penolakan, disajikan bahwa perjuangan memang tidak mudah. Mungkin saat ini mereka terlihat bukan siapa siapa, tapi mungkin kelak mereka akan menjadi tenaga penjual yang hebat, marketing yang handal, bahkan mungkin pengusaha yang sukses. Karena mereka telah benar benar belajar dari kerasnya kehidupan.

Saya pun, seorang tenaga marketing. Pernah merasakan yang namanya kanvasing, di tempat yanga asing, memberanikan diri untuk sekedar membagi bagi brosur, dan membuka pembicaraan dengan orang asing. Dan itu tidak mudah. Tapi pengalaman itu jadi modal saya lebih kuat, lebih tahan banting, dan juga lebih berani untuk melangkah …

Sudah banyak ceritanya, mereka yang berhasil adalah orang yang berjuang dari bawah, dengan perjuangan yang tidak mudah …

Sukses Dek !

Bandung, 12 Des 2018

 

 

 

Walau Tak Kemana Mana

Hari minggu ini saya memutuskan tidak pergi kemana mana, ingin dirumah saja. Walau sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang tadinya di niatkan di lakukan di hari minggu ini, tapi urung di lakukan. Sedang tidak ingin bepergian, ingin habiskan waktu di rumah saja.

Hari minggu di rumah, kadang identik dengan istirahat, atau semacam bermalas malasan, atau mungkin bongkar bongkar rumah, menyeslesaikan segunung cucian, dan sebagainya. Seperti hari ini, saya bangun agak siang, lalu menonton kartun legend kesayangan, Doraemon. Entah kenapa, walau sudah di umur segini, film kartun itu serasa masih begitu banyak membawa keceriaan buat saya.

Minggu pagi ini memang sengaja melambankan ritme, ingin sejenak benar benar beristirahat, menikmati gorengan dan secangkir teh hangat. Beres beres rumah pun siang hari baru dilakukan.

Tapi saya memang tak berniat untuk menghabiskan hari hanya berleha leha seharian. Sehabis dzuhur saya niatkan ingin tetap produktif, ingin meng-charge diri, ingin membekali diri, setidaknya melakukan sesuatu yang bisa menjadi bahan bakar sepekan kedepan.

Ada sebuah buku yang telah saya niatkan untuk dibaca. Buku yang tidak saya cari, namun dia seperti “diantarkan” kepada saya untuk dibaca. Buku yang awalnya saya sedikit underestimate, karena kayanya bakal membosankan. Tapi kemudian buku ini menarik jiwa saya semenjak bab pertama.

Siang itu saya habiskan hampir setengahnya, bahkan ada beberapa bab yang saya baca ulang, karena pembahasannya ternyata apa yang selama ini saya sedang cari. Nanti barangkali saya ceritakan tentang buku ini, saya ingin menyelesaikan nya lebih dahulu

Sore hari saya stop dulu membaca, karena ingin sedikit berolahraga, sambil mengendapkan kalimat kalimat yang baru saja saya terima. Mengendapkannya, menceranya, dan menghubungkan dengan apa yang sedang saya rasakan saat ini ..

Dan kemudian, tepat jam sepuluh setelah urusan rumah lainnya telah selesai, saya melanjutkan membacanya. Berdialog dengan deretan kalimat di atas kertas, mendengarkan apa yang dituliskan, menyampaikannya pada perasaan dan fikiran, menyimpannya dalam benak terdalam …

Hari minggu ini, saya dapatkan keduanya, menikmati asyiknya bermalas malasan dan mendapatkan banyak sekali pencerahan, walau tak kemana mana, dirumah saja ….

Bandung, 8 Des 2018

Not Easy Come – Not Easy To Let Go !

Beberapa hal yang saya makin sadari -dan bahkan saya alami- beberapa saat ini. Tentang sebuah kosa kata yang sudah sering kita dengar “Easy Come – Easy Go”.  Sesuatu yang gampang di dapat, katanya akan gampang juga untuk lepas, atau dilepaskan. Jadi kaya semacam ga “sayang” gitu,  karena mungkin proses atau perjuangan mendapatkannya juga ga butuh effort yang telalu gimana gitu. “Ya udahlah … ga apa apa …”

Mungkin benar adanya, tapi ga selalu begitu. Ada hal hal yang kita memang tidak terlalu sulit kita dapatkan, namun setelah kita dapatkan, kita bersungguh sungguh untuk menjaganya, memeliharanya, sebagai wujud rasa syukur.

Namun sebaliknya, saya rasa. Apabila kita sedang berusaha mendapatkan sesuatu hal yang dijalankan nya tidak mudah, prosesnya berliku, jatuh bangun nya sangat kerasa, pahit getir nya silih berganti, maka ketika kita sudah di tahapan mendapatkannya, kita tak akan sembarangan melepasnya. Kita akan sekuat tenaga menjaganya, memeliharanya, memastikannya ia tetap ada, seperti keinginan kita di mula.

Ini bisa dalam hal apa saja : Rizki, Jodoh,Keluarga, Situasi, Impaian, Cita Cita Dsb

Kerena biasanya saat kita ingat proses yang kita lalui ketika memperjuangkan apa yang kita mau, maka kita akan sangat berhati hati menjaganya. Kita menghargai rasa perih dan luka, kita menghargai waktu dan tenaga, kita menghargai segala daya upaya, kita menghargai diri kita.

Maka, pribahasa “Easy Come – Easy Go” mungkin tidak selalu seperti itu. Namun apa yang sudah kita benar benar perjuangkan, akan sayang untuk kita lepaskan : “Not Easy Come – Not Easy To Let Go ! “

Maka, apabila sesuatu yang saat ini sepertinya tidak mudah kita dapatkan, maka ini adalah sebuah cara Allah agar kelak -setelah kita dapatkan- kita akan sepenuh jiwa menjaganya, mempertahankannya …

Setuju ?

Nonton Bareng Film IQRA

Sebagai komunitas yang bergerak di bidang LITERASI, saya dan kawan kawan dari Kebukit Indonesia, ingin bisa membumikan makna LITERASI kepada masyarakat melalui berbagai cara. Karena makna LITERASI sebenarnya adalah keterbukaan informasi, yang tujuan nya meningkatkan kualitas hidup manusia.

Nah … Kali ini kami ingin mengajak masyarakat berliterasi melalui media visual, media film. Tentunya film yang mendidik, membuka cakrawala informasi, mengajak berfikir, dan yang tak kalah penting adalah film yang menginspirasi

Salah satunya adalah FILM karya anak negri yang berjudul IQRA. Film karya para seniman di SALMAN ACADEMY FILM (SAF) yang sangat keren. Film ini sebenarnya sudah pernah tayang di bioskop beberapa tahun yang lalu. Karena konten nya memang bagus untuk segala usia, maka Tim SAF mengadakan ROAD SHOW untuk nonton bareng film ini.

Persiapan kami untuk mengadakan NOBAR film ini sebenarnya sebentar sekali, sekitar tiga hari. Dan diluar dugaan pendaftaran peserta langsung membeludak di hari pertama kita naikan NOBAR ini di medsos dan broadcast. Dan kuota langsung terisi penuh, walaupun nonton nya hanya di aula gedung perpustakaan dan ala ala NOBAR, lesehan. Hhe

Overall acara berjalan lancar, beberapa peserta NOBAR setelah film berakhir matanya berkaca kaca, yang berarti film menyentuh, dan memberikan makna

Insya Allah karena antusisme yang bagus dari masyarakat, kami ingin mengadakan NOBAR berikutnya dengan kemasan, ruangan, perlatan yang lebih baik lagi.

Karena, semangat berliterasi tidak melulu tentang buku -walau buku tetap menjadi priotitas pertama- ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengajak masyarakat lebih terliterasi, terdidik, dan tercerahkan.

Salam Literasi 🙂