Selasa Bersama Morrie [ Review Buku ]

Adalah cerita tentang Morrie seorang profesor yang terkena penyakit langka dengan mahasiswanya yang datang berkunjung setiap hari Selasa, membincangkan banyak hal tentang kehidupan. Selasa yang mereka habiskan dengan banyak obrolan mendalam.

Novel ini sudah beberapa kali saya baca sebenarnya. Selalu ada rindu untuk membaca nasihat nasihat Morrie yang mendalam tentang kehidupan. Berikut beberapa quote dari perbincangan mereka yang berkesan bagi saya dan apa yang ada dibenak saya setelah membacanya …

Tentang Mengasihani Diri Sendiri

“Aku memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis kalau itu perlu. Tapi setelah itu aku memusatkan perhatianku kepada segala hal yang masih baik dalam hidupku. Kepada orang orang yang datang menjengukku, kepada kisah yang akan kudengar….”

“Alangkah baiknya bila orang tidak menahan diri untuk menangisi diri berkepanjang. Cukup beberapa tetes air mata setiap pagi, kemudian menghadapi hari dengan tegar ….”

Ah benar sekali. Sesekali kita butuh menangis, memberikan kesempatan diri kita untuk merasakan luka dan duka, atau apapun itu. Tapi jangan melarutkan diri terlalu dalam dan lama, secukupnya. Setelah itu, mari kita melengkah….

Tentang Penyesalan Diri

“Kita begitu terbelit dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan diri sendiri, keluarga, karir, uang cukup banyak, memnayar hipotek, membeli mobil baru….kita sibuk dengan triliunan perkara kecil, dalam rangka mempertahankan keberlangsungan semua itu …”

“Maka kita tidak terbiasa berdiam diri sejenak untuk merenungkan hidup kita dan berkata. Hanya inikah? hanya inikah yang kuinginkan? adakah sesuatu yang hilang ?”

Hidup ini tidak hanya sekali, hidup ini bukan hanya di dunia ini, hidup ini bukan tentang diri kita sendiri. Hidup ini bukan hanya tentang menjalani siklus hidup, dan menghabiskannya dengan melewati waktu demi waktu tanpa jiwa, tanpa cita, tanpa tahu tujuan abadi. Kita perlu sadar siapa kita, untuk apa kita & mau kemana kita….

Tentang Kematian

“Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita belajar tentang bagaimana kita harus hidup”

Sebagai Muslim, quote ini mengingatkan kembali tentang kematian, hidup setelah kematian & bagaimana kita menyiapkan diri untuk kehidupan abadi setelah kematian

Tentang Keluarga

“Sesungguhnya, selain keluarga, tidak ada fondasi atau landasan yang kokoh, yang memungkinkan manusia bertahan sampai saat ini. Peran keluarga menjadi sangat penting sekali bagiku setelah aku sakit. Tanpa dukungan cinta, kasih sayang, perhatian yang kita peroleh dari keluarga, kita seperti tidak memiliki apapun…”

Keluarga adalah hal mendasar yang akan selalu seseorang butuhkan. Keluarga adalah tempat kita memperoleh kekuatan Keluarga adalah tempat kembali, tempat untuk mengistirahatkan diri, tempat untuk menyusun cita, impian & harapan.

Tentang Emosi

“Apabila kita menahan emosi emosi itu -apabila kita tidak membiarkan diri mengalaminya- kita tidak pernah dapat mematikan rasa, kita terlalu sibuk menghadapi rasa takut. Kita takut mengalami rasa nyeri, Kita takut mengalami rasa sedih, Kita takut mengalami penderitaan akibat cinta …”

“Tapi dengan membiarkan diri mengalami emosi emosi ini, dengan membiarkan diri terjun ke dalamnya, sampai sejauh jauhnya, kita akan mengalaminya secara penuh dan utuh. Kita tahu arti sakit, Kita tahu arti cinta, Kita tahu arti sedih, dan hanya ketika kita mengatakan, “Baiklah. Aku telah mengalami emosi itu. Aku kenal emosi itu, sekarang aku perlu mematikan emosi itu untuk sementara…”

“Dalam kehidupan sehari hari, betapa sering kita merasa kesepian, sampai sampai ingin menangis, tetapi kita berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata, karena kaat orang kita tidak boleh menangis …”

“Basuhlah diri kita dengan emosi, Kita tidak akan terluka karenanya, Kita malahan akan terbantu ….”

Mungkin kita tidak terbiasa jujur terhadap diri sendiri, tentang apa yang kita rasakan sebenar benarnya. Seringkali mencoba bertarung melawan rasa , berusaha menutupi luka atau kecewa, padahal itu ada. Kita seringkali tidak mau menerimanya, berusaha tegar sekuat tenaga, padahal hati remuk redam rasanya.

Atau tidak selepas itu menungkapkan bahagia, atau tidak sejelas itu menungkapkan rasa cinta, kita tidak terbiasa…

Sepertiku yang sedang belajar memeluk rasa, kemudian melepaskannya…Tak apa karena kita manusia, yang dianugrahi berlapis lapis rasa

Selamat membaca !

Di kondisi ketidakberdayaannya, Morrie masih banyak menberikan nasihat nasihat tentang kehidupan dari hidup yang telah ia alami.

“Tasmu Terlalu Berat” [Sebuah Cerita Pendek]

Pagi itu  matahari  mulai menghangatkan bumi, menghangatkan mereka yang bergegas mencari penghidupan dan pengetahuan, dan hari itu aku ingin menikmati sinar pagi  untuk kemudian bertemu denganmu.

Kau sudah sampai duluan dikedai kopi seperti biasa.  Menyeruput teh manis hangat dengan setangkup roti srikaya. Tidak sepertiku yang sangat suka kopi, kamu adalah manusia teh.

Baru saja duduk di hadapanmu, kau langsung bertanya : “Bawa apa sih, banyak banget kayanya bawaannya..?” Sambil menyeruput teh yang sepertinya beraroma jasmine dicampur mint.

“Ini ada laptop, beberapa buku bacaan, payung, peralatan lain, pokonya banyak deh …” jawabku sambil mencari menu.

“Kayanya tiap hari tasmu memang selalu berat ya..”

Sepertinya itu bukan sebuah pertanyaan yang perlu kujawab, aku hanya terbahak kecil. Kadang terlintas juga pertanyaan pada diriku sendiri ; Memangnya aku perlu yaa.. membawa semua barang ini setiap hari…

“Ada apa…?” Kamu langsung bertanya tanpa basi basi lagi. Aku mulai mengaduk  es kopi lemon yang sudah datang, sambil berfikir dari mana harus bercerita.

“Kenapa ya, rasanya fikiranku mudah lelah, aku merasa lelah bahkan saat semua belum dimulai…” kalimat itu jadi pembuka sesi berceritaku.

“Semacam ada banyak hal dalam pikiran, seperti banyak percakapan dalam pikiran tentang hal ini, hal itu, semuanya datang bergantian kadang bersamaan…” lanjutku

“Lintasan lintasan fikiran itu kadang membuat dadaku rasanya sesak, tubuhku lelah, fokusku berantakan…”

“Memangnya apa yang kau fikirkan ….” tanyamu singkat

” Ya banyak hal, semacam semua hal datang bersamaan, tumpang tindih, aku tidak tahu mana dulu yang perlu ku pikirkan atau ku selesaikan…”

“Memangnya semuanya harus kau pikirkan bersamaan ?” tanyamu singkat

Aku diam, tidak segera menjawab pertanyaanmu. Entah bingung, entah sebenarnya aku sudah tahu jawabannya…

“Begini…tidak semua hal perlu perlu kau bawa sekaligus dalam pikiran. Pilah pilahlah mana yang butuh kau pikirkan saat ini, dan mana yang bisa kau pikirkan nanti. Karena memang tidak perlu semuanya diselesaikan bersamaan bukan…” 

“Ringankanlah pikiranmu, tidak semua perlu dibawa sekaligus. Simpan yang perlu disimpan, bawa yang perlu dibawa, ringankan hidupmu …”

“Ibarat hendak bepergian, tidak perlu toh kamu membawa semua ada yang dimeja. Bawa hanya yang kau perlu, tinggalkan yang tidak perlu..”

“Terkadang kamu hanya merasa perlu membawanya, padahal tidak…”

Kalimatmu lama terhenti disitu, lalu kita berdua sama sama menikmati semilir angin pagi di taman depan kedai kopi. 

“Mungkin aku harus mulai meringakan pikiran yaa, dengan tidak membawa semua beban dan tanggung jawab sekaligus, bersamaan…” ku lepaskan nafas dari dada yang masih teras berat

“Yaa…belajarlah. Semua ada kapasitasnya, semua ada waktunya….” jawabmu

“Belajarlah dari mulai meringankan isi tasmu, tidak semua perlu dibawa bukan …?” kau tunjuk tasku yang tergeletak di ujung meja

“Baiklah…..!” jawabku, sambil tertawa ….

Pertemuan singkat seperti biasa. Setelah teh hangat mu habis, kau pamit – kembali menghilang, dan akan datang setiap kali aku membutuhkan. Sampai jumpa Tanaka.

 

Semakin Samar

Ada masa dimana kamu sangat ingin menangis, tapi entah karena apa, Samar…

Tiada rasa spesifik yang tercerna, hanya saja kau tahu betapa banyak rasa yang terkumpul di dada.

Entah bahagia bercampur duka.Entah rindu yang hanya kau bisa sampaikan dalam do’a. Entah lelah jiwa dalam sungguhnya cita.

Samar…kau hanya ingin menangis saja

Entah tentang lintasan kenangan, entah tentang letupan harapan. Entah tentang segumpal kecewa, entah tentang bergumulnya beban.

Samar…kau hanya ingin menangis saja

Mengapa Manusia Mudah Ngejudge ?

Barangkali kita pernah mengalami dua posisi ; “ngejudge & dijudge”

Satu waktu barangkali kita pernah ada diposisi dijudge, dihakimi, dinilai, dipojokan atau semacamnya oleh orang lain. Rasanya ga enak pasti! Ada sedih, sakit hati, dsb. Rasanya ingin menjelaskan, meluruskan, bahwa yang terjadi tidak sesederhana yang terlihat.

Lain waktu bisa jadi kita yang ngejudge orang lain dengan mudahnya. Dengan penilaian sesaat, kita mudah menyimpulkan kemudian menghakimi orang lain. Entah karena ketidaksukaan kita sejak awal kepada ybs, entah cara memandang kita yang sempit, atau bisa jadi kita saja yang belum bisa berfikir & bersikap bijaksana.

Manusia, sepertinya pernah ada dua posisi itu ; menghakimi & dihakimi

Nah, terlintas dalam fikiran saya, apa yang membuat aku, kamu, kita, menjadi mudah menghakimi sesuatu atau seseorang ? Apakah ini ada hubungannya dengan kemampuan kita dalam berfikir ?

Jadi teringat konsep Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom adalah struktur hierarki yang mengidentifikasikan kemampuan kognitif mulai dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Secara singkat tingkatan berfikir dikelompokan menjadi dua : low order thinking & higher order thingking. Tingkatannya sebagai berikut :

  1. Remembering (Mengingat). Kemampuan dalam menyimpan dan mengingat kembali sebuah informasi.
  2. Understanding (Memahami). Kemampuan menangkap makna/maksud dari sebuah informasi, konsep atau gagasan.
  3. Applying (Menerapkan). Kemamampuan menerapkan pengetahuan kedalam sebuah konteks.
  4. Analyzing (menganalisis). Kemampuan untuk mengeskpolorasi keterhubungan, sebab akibat, dan koneksi atas satu hal dengan yang lainnya
  5. Evaluating (mengevaluasi). Kemampuan menilai sesuatu berdasarkan analisa
  6. Creating (Mengkreasi). Kemampuan membuat sebuah karya baru dari informasi, konsep, gagasan yang sudah ada

Lalu apa hubungnnya Taksonomi bloom dengan mudahnya orang saling hakim menghakimi, atau mudah menyimpulkan sesuatu?

Bisa jadi saat melihat sebuah fenomena, situasi, kondisi seseorang, kemudian kita langsung membuat simpulan & penghakiman terhadap kepada seseorang tersebut, mungkin pada saat itu hanya berfikir di level satu. hanya melihat pada informasi dia ketahui (remembering), tidak mempertimbangkan variable lain, yang bisa saja terjadi pada kondisi seseorang.

Kita berhenti di tahapan meningat dan menghafal, belum berada di level berfikir yang lebih atas : memahami. Di level memahami, memang butuh kemampuan berfikir yang lebih luas, lebih bijak, dan juga perlahan (tidak terburu buru), untuk melihat banyak variabel yang mempengaruhi kondisi seseorang.

Jadi ingat istilah munculnya “sumbu pendek”, karena kemampuan berfikir yang rendah. Hingga dengan mudahnya kita tersulut & meledak, karena informasi sekilas, yang belum tentu kebenarannya. Karena kemalasan dan tidak terbiasanya kita untuk berfikir di level yang lebih tinggi dan kompleks.

Sekian dulu, berbagi insight kali ini.. See Yaaa !

Belajar Design Thinking

Saya ingin diri saya lebih bermanfaat ! Oleh karena itu saya perlu ilmu, ilmu yang akan jadi bekal saya untuk bisa lebih bertumbuh, bisa lebih bermanfaat untuk diri sendiri juga orang lain. Saya perlu belajar terus !

Bertemulah saya dengan Design Thinking, sebuah ilmu yang sebenarnya sudah lama saya mendengarnya, namun akhirnya baru tahun ini berjodoh dalam rizki, waktu & kesempatan untuk mempelajarinya lebih dalam.

Alhamdulillah, di Kota saya ada lembaga & komunitas yang berfokus dalam penerapan metode Design Thinking untuk diterapkan dalam berbagai bidang. Dan belajar langsung para master yang berpengalaman dalam praktiknya.

Dua hari belajar Design Thinking For Professional, membuka kesadaran saja tentang pentingnya mempunyai cara berfikir yang tepat dalam berbagai sisi kehidupan. Materi disampaikan tidak hanya yang bersifat teori, namun dibahas kisah nyata, mengenai bagaimana perusahaan/organisasi/lembaga bahkan individu menerapkan metode design thinking ini.

Dan yang tidak kalah seru adalah bagaimana kita diajak untuk langsung praktik, bagaimana menerapkan design thinking dalam bidang yang sedang kita geluti. Selain itu para peserta diajak melihat beberapa lokal bisnis yang menggunakan penerapan design thinking, yang menjadi solusi dari berbagai permasalahan dan kebutuhan.

Alhamdulillah dua hari yang penuh gizi… sangat membuka pandora otak saya, untuk lebih tertib, tertara, terstukur dalam berfikir, sekaligus bebas dan kreatif.

Semoga ilmu yang didapat bisa benar benar dipakai, dipraktikan, dan digunakan untuk kebaikan, kebermanfaatan & keberkahan untuk diri dan banyak orang. Doakan ya !

Mengerikannya Dunia Judi Online!

Selama ini kita mungkin hanya mendengar tentang bahayanya judi online yang memakan banyak korban. Nah di film ini kita mendapatkan gambaran tentang bagaimana serius & sistematisnya JUDI ONLINE, betapa kejam sistem kerja didalamnya, dan bagaimana korban korban judi online ini hancur kehidupanya

NO MORE BETS ! film yang diangkat dari kisah nyata, menceritakan tentang orang orang yang tertipu, terjebak & terpaksa bekerja dalam perusahan jaringan judi online, pinjaman online & scammer.

Filmnya dimulai dari sejumlah anak muda China yang ditawari untuk bekerja di perusahaan Singapore dengan dijanjikan gaji & fasilitas yang menggiurkan. Ditengah perjalanan ternyata mereka diculik dan diselundupkan ke negara lain -dalam beberapa artikel disebutkan negara tersebut adalah Kamboja- . Kemudian mereka dibawa ketempat tersembunyi & dipaksa untuk mau bekerja untuk perusahaan jaringan judi online tersebut.

Di scene lainnya, ada seorang model wanita China yang mendadak di pecat dari perusahaannya. Singkat cerita kemudian seorang kawannya manawarkan ia pekerjaan yang menjanjikan diluar negri. Seperti kisah beberapa laki laki sebelumnya, sang perempuan ternyata dijebak dan dipaksa untuk bekerja di perusahaan judi online yang sama.

Kemudian digambarkanlah bagaimana begitu sistemtis & terstukturnya meraka menjalankan bisnisnya, dengan adanya jenjang2 kerja, pembagian tugas, skenario, penentuan timing, dsb. Digambaran pula bagaimana kejamnya sistem kerja kepada para karyawan2 di dalamnya, yang mana sebagaian besar dari merekapun di jebak untuk bekerja disana

Diceritakan pula tentang seorang laki laki muda terpelajar, yang awalnya iseng iseng ikut judi online. Lama kelamaan ia masuk lebih dalam, terjerat, dan tidak bisa lagi keluar karena sudah dalam tahap ketagihan. Tidak hanya harta bendanya saja yang habis, namun sampai harta kelurga besarnya ia gadaikan. Belum lagi ia nekad meminjam dana yang cukup besar dari pinjaman online demi taruhan, yang sebenarnya masih satu perusahaan dengan perusahaan judi online dimana ia terjerat. Benar benar lingkaran setan !

Film ini membuat saya pribadi merasa ngeri, prihatin sekaligus kasihan, tidak hanya kepada para korban tapi juga kepada para pekerja judi online. Yang di film diceritakan, bahwa hampir sebagian besar mereka dijebak, dipaksa, bahkan diancam untuk bekerja. Mereka ditempatkan di tempat antah berantah, yang membuat meraka tidak bisa kemana mana. Dengan pengamanan yang ketat dan penjaga bersenjata, dan apabila berbuat kesalahan sedikit saja atau melawan, siksaannya tiada ampun, sampai dikurung seperti binatang.

Saya jadi teringat berita beberapa tentang sejumlah warga Indonesia yang disekap di negara Kamboja, dan dipaksa untuk menjadi scammer. Betapa mereka tidak berdaya, dan butuh proses yang sangat susah untuk meminta tolong dan memberitahuan keadaan mereka untuk minta diselamatkan.

Dalam hati saya, orang orang ini (pemilik jaringan judi online) patut disiksa seberat beratnya kelak di neraka, karena meraka berhasil manghancurkan banyak orang, merebut tidak hanya harta benda, tapi juga menghancurkan keluarga, pernikahan, dan kehidupan seseorang. Karena kalau hukuman di dunia, entahlah apa mereka benar bisa dihukum seberat beratnya atau tidak.

Film ini recomended untuk ditonton sih ! Agar kita lebih mawas, lebih waspada

Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya lebih prihatin lagi, ternyata negara kita Indonesia, menempati urutan pertama sebagai “konsumen” judi online…Astagfirullahaladzim

Entah apa alasannya atau bagaimana awalnya Negri kita menjadi peringkat pertama. Apakah murni karena faktor ekonomi, atau bisa jadi karena tingkat pendidikan, atau bisa terkait tingkat literasi kita yang rendah, sehingga mereka yang terjebak, merasa judi online adalah jawaban atas permasalahan permasalahan yang meraka hadapi & bisa mewujudkan impian impian mereka dengan cara yang instan. Atau mereka belum sadar betapa mengerikannya apabila sudah masuk dan terjebak!

Kemudian bertanya dalam hati, apa langkah pemerintah untuk mengatasi permasalahan besar ini? entahlah, bagi kita masih menjadi tanda tanya besar. Padahal pemerintah dengan segala kemampuannya untuk membuat peraturan dan keputusan untuk menyelamatkan Masyarakatnya. Wallau’alam bissawab…

Bila harus kembali kepada apa yang bisa kita kontrol, mungkin jawabannya adalah saling menjaga diri kita, keluarga & orang orang terdekat kita agar terhindar dari godaan, ajakan, dan jeratan hal hal yang haram sekaligus merugikan dan menyengsarakan baik di dunia juga akhirat.

Happy Watching & Keep Alert !

ANIMAL [ Movie Review ]

MAHALNYA hubungan AYAH – ANAK

Film ini cukup bikin berdebar-debar, dengan akhir yang cukup mengharukan dan hikmah yang menurut saya cukup dalam…

Menceritakan hubungan ayah dan anak yang sama2 ALFA MALE. Tentang sang Ayah yang cukup DINGIN saat sang Anak masih kecil, sangat haus perhatian & ingin berdekat dekat dengan sang Ayah. Karena menurut Sang Ayah, tugas utama Sang Ayah adalah memberi nafkah yang banyak/mengurus bisnis & kedekatan batin dengan Anak diabaikan ….

Rupanya kondisi ini berpengaruh mendalam kepada karakter Sang Anak, yang jadi ALFA MALE juga. Setelah dewasa Sang Anak -dalam bawah sadarnya- ternyata masih berusaha mendapatkan perhatian dari Sang Ayah dengan berbagai cara, sampai dengan cara cara yang mengerikan …

Terlepas dari cerita tentang konflik lain ; persaingan bisnis, permafiaan, dendam antar keluarga, yang paling membekas dari film ini bagi saya adalah tentang HAUSNYA seorang ANAK atas KASIH SAYANG, PERHATIAN, DIANGGAP ADA, & BERHARGA dari seorang AYAH

Walaupun dengan bumbu2 adegan perkelahiannya cukup sadis, tapi yang paling berkesan adalah adegan saat akhirnya terucap kata MAAF dari Sang Ayah. Kemudian adegan Sang Anak yang super brutal, nangis sesegukan saat dipeluk, diusap usap kepalanya oleh seseorang sosok AYAH yang bukan Ayahnya ….

Para orangtua, calon orangtua, nonten dehh…bagus untuk pelajaran tentang MAHALNYA hubungan AYAH – ANAK …

Sebuah Rasa Jatuh

Sebuah rasa jatuh, dari jantung ke perut

Entah semacam apa percisnya, seperti dada yang menggembung hingga kerongkongan

Dan perut yang mengkerut, seperti ada yang jatuh

Saat ada sesuatu yang terasa berat dilakukan, namun harus dijalankan

Tentang menebak nebak bagaimana hasil akhirnya

Akankan akan patah, dan berhenti, dan memulai dari awal

Atau kemudian jalan akan terang jalan terbentang, dan tertemu jawaban

Tentang bersiap untuk segala rasa dan peristiwa

Tentang menerima yang nyata, kemudian menyusun kembali harapan dan doa

Kucoba berbisik bijak pada diri :“Baik…mari kita jalani saja, tak perlu menerka nerka, ikhlaskan saja…”

Walau ku tahu ikhlas tak semudah ramuan kata dan sabar adalah tentang menghadapi segala rasa

Seperti malam ini, seperti rasa yang jatuh di dasar perut

Tidak Perlu Terburu …

Saat jatuh, terpuruk, atau situasi tidak sesuai dengan harapan & keinginan, tidak perlu terburu mencari hikmah, tidak perlu terburu menjadi bijak
Memaksa diri untuk bijak, padahal hati & fikiran masih berontak.

Take your time…

Terima dahulu segala rasa di diri, tiada salahnya, kita manusia dengan segala rasa

Endapkan, uraikan, lepaskan…

Setelah itu perlahan tata lagi hati & fikiran, mencermati apa yang terjadi. Pelan pelan lakukan apa yang mampu kita kerjakan, perbaiki apa yang bisa diperbaiki, akui dengan jujur apa yang salah, apa yang kurang, seraya langitkan do’a sepenuh hati, agar terang langkah kemudian

Diperjalanan, tanpa sengaja biasanya hikmah itu didapatkan, tapi bukan dipaksakan. Diperjalanan hikmah itu hadir, menghangatkan diri kita, tanpa memaksa

Dan kita pun memeluknya dengan bahagia…

Why “Takut Tambah Dewasa” ?

Takut tambah dewasa
Takut aku kecewa
Takut tak seindah yang kukira
Takut tambah dewasa
Takut aku kecewa
Takut tak sekuat yang kukira

Sebait lagu dari Idgitaf, berjudul “Takut”. Lagunya memang enak, banyak disuka anak anak zaman sekarang, apalagi anak GEN-Z. Lagu lagu teman saat saat sendu, romantisasi kegalauan, penyatu keresahan mungkin para -sebagian- generasi muda masa kini

Kalau hanya didengarkan sekilas saja sih lagu ini enak enak saja. Namun ada kekhawatiran dalam diri saya, tentang lagu ini disukai & diresapi berlebihan, juga saat jadi lagu “wajib” para pemuda yang memasuki usia dua puluh seperti yang ada di awal lagu. Lagu yang tidak hanya sekedar “curahan hati”, namun yang saya khawatirkan ini adalah jadi SUGESTI dan JUSTIFIKASI seorang yang memasuki usia pemuda dalam perjalanan hidupnya.

“Takut Tambah Dewasa” sekilas serasa romantis, namun bila terus dilantunkan, khawatir jusru jadi penanaman di alam bawah sadar mereka, bahwa menjadi DEWASA adalah sesuatu yang MENAKUTKAN, “Takut Kecewa-Takut TIdak Indah – Takut Tidak Kuat”….] begitu lanjutan lagunya

Seakan akan dalam dunia DEWASA semuanya akan menakutkan, mereka akan selalu kecewa, mereka akan tidak bisa melaluinya. Padahal masa dewasa ini adalah masa dimana mereka bisa mengambil tanggung jawab dalam hidupnya, masa dimana mereka bisa menggerakan potensi terbaiknya, bisa menjelang peran peran kebermanfaatannya untuk banyak orang. Menurut saya lagu ini, sedikit banyak menanamkan bahwa menjadi dewa begitu menakutkan

Aku sudah dewasa
Aku sudah kecewa
Memang tak seindah yang kukira
Aku sudah dewasa
Aku sudah kecewa
Memang tak sekuat yang kukira

Usia dua puluhan dimana semangat semestinya bisa dikobarkan. Tantangan, kendala, naik turun kehidupan akan ada disetiap usia. Pemuda yang diharapkan tidak mudah menyerah. Kecewa adalah hal biasa, bagian dari kehidupan , ada masanya bahagia- ada masanya kecewa. Jangan karena kecewa maka berhenti berkarya, jangan takut dewasa hingga tidak kemana mana, tidak berbuat apa apa

Kekhawatiran saya akan lagu ini, jadi “MANTRA” yang menyelusup ke alam bawah sadar pada pemuda yang sebenarnya diharapkan banyak orang akan membawa banyak perubahan kebaikan, yang sebenarnya mempunyai potensi keunggulan, malah dikerdilkan dengan terus menerus mengamini tentang “Takut Dewasa” ini, hingga jadi SUGESTI & JUSTIFIKASI mereka untuk malas bertumbuh, bersembunyi dari dunia, terus terusan menggalau, malasa bertanggungjawab dalam mengambil peran dalam kehidupan

Sebuah lagu bisa berpengaruh dalam alam sadar seorang manusia, apalagi bila terus di dengung dengungkan. Bukan berarti tidak boleh jujur akan kata hati, tapi tentang sadar sepenuh hati, apa yang akan mempengaruhi jiwa, hati dan fikrian kita atas apa yang kita baca dan kita dengar …

So, para pemuda JANGANLAH TAKUT DEWASA, karena menjadi DEWASA adalah sebuah kemuliaan, anugrah, kesempatan untuk menjadi MANUSIA yang PARIPURNA. Manusia yang mau terus bertumbuh, siap jatuh dan bangun, siap untuk menjelang dunia yang penuh warna

Menjadi DEWASA adalah saatnya untuk tahu apa, mengapa & bagaimana, mau kemana diri kita. Menjadi DEWASA adalah kesempatan untuk bisa menyebarkan KEBAIKAN seluas luasnya untuk diri sendiri, keluarga & banyak orang. Menjadi DEWASA adalah saat yang tepat untuk mei, menemukan makna, dan memunculkan versi terbaik diri kita.

So, Ganti kalimat “Takut Jadi Dewasa” menjadi “Aku Mau Jadi Dewasa …!”