Penyesalan Karena Terlalu Cepat Menyimpulkan
Pernahkah kamu mengalami menghadapi sebuah situasi konflik, baik itu dengan teman, keluarga, atau bahkan melihat konflik orang-orang terkenal di media sosial? Dan pernahkah kamu dengan mudah membela satu pihak dan menyalahkan pihak lainnya?
Sepertinya situasi ini pernah kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Lalu setelah beberapa lama, kamu berkesempatan mendengar “versi lain” dari konflik tersebut, dan pandanganmu berubah tentang hal itu, bisa sedikit bisa juga banyak.
Ya betul! Terlalu cepat membuat kesimpulan sering membuat kita menyesal. Menyesal karena kita sudah berprasangka, bersikap antipati, atau bahkan sudah bersikap tidak adil kepada salah satu pihak. Menyesal karena kita buru-buru dalam membuat kesimpulan yang tidak adil, apalagi bila mereka adalah orang-orang terdekat kita.
Setiap Cerita Punya Sisi Berbeda
Seperti layaknya sebuah benda, mereka punya sisi berbeda. Begitu juga dengan konflik pada manusia, ia akan punya sisi berbeda. Bisa jadi hanya dua sisi, atau juga banyak sisi berbeda. Untuk mendapatkan pandangan yang lebih menyeluruh, maka kita harus mendengarkan berbagai sisi yang terlibat di dalamnya. Dari setiap sisi apapun yang disampaikan , perlu kita hargai, dan dengarkan apa adanya. Biarkan mereka sampaikan dengan versi masing-masing.
Menetralkan keberpihakan memang tidak mudah, namun kita bisa mengusahakannya. Agar pandangan kita bisa adil, dan apabila kita adalah orang yang perlu mengambil keputusan atau dimintai masukan dari konflik tersebut, maka kita akan mengambilnya dengan bijaksana.
Bagaimana Menjadi Pendegar Yang Baik
Dalam mendengarkan, sering kali maksud dan tujuan sebenarnya terang terangan terucapkan. Maka dengarlah apa-apa yang tidak terucapkan, tangkaplah perasaan-perasaan yang tersembunyi dalam ucapan. Mendengar untuk memahami & mengerti apa yang dimaksudkan.
Mendengar tanpa menghakimi, mendengar tanpa asumsi, dan mendengar tanpa berpihak & terburu-buru membuat kesimpulan, akan membuat kita bisa lebih jernih melihat konflik yang terjadi.
Hubungkan dengan konteks, latar belakang, atau peran yang saat ini masing masing pihak jalankan, akan membuat sudut pandang lebih jelas dari masing-masing pihak.
Mendengar Dengan Adil
Mendengarkan dari setiap pihak dengan netral, membuat kita tetap bisa menjaga hubungan yang baik dengan mereka. Karena setiap pihak merasa didengarkan, dihargai, dan dipedulikan. Mendengarkan dari setiap pihak menjaga rasa hormat, juga terhindar dari konflik yang tidak perlu atau konflik yang berkepanjangan.
Bagi kita yang berada “di tengah-tengah”, mendengarkan dengan penuh rasa empati, hormat, dan peduli, membuat kita bisa menganalisis dengan lebih jelas konflik yang ada. Membuat kita bisa berpikir kritis dalam setiap sudutnya dan akhirnya bisa menilai apa yang terjadi secara objektif.
Tips Agar Bisa Adil Menghadapi Konflik Dua Pihak
- Netralkan perasaan saat ada kecendrungan keberpihakan pada satu pihak, baik kedekatan secara emosional atau keterikatan secara personal
- Belajar untuk benar-benar mendengarkan semua pihak, mendengarkan untuk memahami, bukan mendengar untuk menjawab
- Tulisakan apabila ada hal yang perlu ditanyakan
- Bertanya apabila ada point point yang kurang jelas, butuh konfirmasi, dan butuh penjelasan lebih dalam
- Dalam bertanya gunakan pertanyan yang netral, terbuka, tidak mengintimidasi, dan tidak memperkeruh situasi konflik
Ajaran Islam Mengajarkan Kita Untuk Mendengarkan
Al Qur’an pun sudah membimbing kita untuk bertabayun apabila ada sesuatu kabar, sebuah konflik yang terjadi
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui kebenarannya, dan kamu (nantinya) akan menyesal atas perbuatanmu.” (Al Hujarat Ayat 6)
Semoga kita bisa belajar & bisa melatih diri untuk bisa mendengarkan, memahami, serta bijak dalam menyikapi terhadap konflik yang terjadi.
Ya betul ! Setiap cerita punya dua sisi yang berbeda, belajarlah untuk mendengar keduanya!
See You !