Bertabrakan Di Pikiran

Hai kamu, pernahkah merasakan betapa banyak urusan yang kemudian bertabrakan di pikiran. Satu perkara bertumpu tumpu dengan yang lainnya, saat melakukan ini – tiba tiba teringat itu. Seharunya kita fokus, begitu katanya, satu urusan selesaikan lalu beranjak ke urusan lainnya.

Pada kenyataannya, kadang kadang atau seringkali mamang tidak semudah itu. Apalagi kita hidup di zaman yang segalanya serasa harus fast respond, menanggapi permintaan ini, mengupdate hal itu. Seperti saat ini nih, rasanya banyak sekali yang harus di kerjakan, berbagai urusan yang berlainan, mereka berabrakan di pikiran.

Sebenarnya bingung harus memulai yang mana terlebih dahulu, akhirnya saya memilih untuk disini saja, menulis saja, semoga bisa membantu mengurai kusutnya pikiran, ha..haha. Kadang secara terori kita tahu ilmunya, misalnya tentang menentukan prioritas, mengkurasi apa “big rock” Kita, menyusun langkah langkah strategi, dll.

Namun ada saatnya memang kita tidak “seproduktif” itu jadi manusia, ada saatnya rasanya kita tidak fokus ngapa-ngapain, semoga dalam batas yang wajar. Barangkali yang kita butuh adalah sedikit mengambil nafas sejenak, menikmati secangkir coklat panas, dan membaca buku bertema ringan, dan menikmati semilir angin malam.

Pernah mengalami hal yang sama? what did you do ?

Hampir Tenggelam

Hampir Tenggelam…

Aku ingat persitiwa menjelang subuh itu, saat perahu kita hampir tenggelam, mungkin akan jadi kenangan yang tidak akan kita lupakan.

Menjelang pukul empat dini hari, perahu kita sudah berlayar, keluar daratan menuju Pulau sebrang. Malam sunyi seyap, sepertinya hanya perahu kita yang berlayar, yang terdengar deburan ombak & suara mesin di buritan.

Tak lama kita tersontak tiba tiba! sepertinya perahu menggerus karang & ia pun berhenti melaju. Samar samar terdengar dibelakang sang nakhoda mulai panik kebingungan, beliau mencebur ke laut melihat apa yang terjadi gerangan.

Sementara kita semua hanya bisa diam membisu. Aku tahu, saat itu sebenarnya setiap kita terjaga, namun kita tak sanggup berkata kata atau saling berbicara…

Aku tahu dalam sunyi itu, kita semua TAKUT. Ya,kata itu saja yang mewakilkan segala perasaan yang berkecamuk. Kita memaksa mata terpejam, saat sang nakhoda sedang berusaha memperbaiki keadaan…

Ah … lautan begitu gelap & sunyi, sementara perahu kita makin kencang terombang ambing.

Dalam hati aku hanya membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya,aku membayangkan orangtua, membayangkan apakah besok aku masih ada atau hanya tinggal nama …

Selirih Istigfar & dzikir ku ucapkan dalam hati “Ya Allah selamatkanlah kami …”.

Hingga akhirnya -entah setelah berapa lama- suara mesin tiba tiba bersuara Kembali, diiringi nafas yang hadir Kembali di dada kami “Alhamdulilah…Allahu Akbar”, perahu akhirnya bisa Kembali berlayar. Tak tergambarkan beribu rasa yg riuh dalam dada, Allah masih memberikan Kita semua usia.

Tak lama, matahari terbit menyapa, membius kami dalam warna jingganya, seakan menyambut kami yang baru saja dalam keadaan tidak berdaya, seakan sang Surya berkata “Apa yang mau kau sombongkan wahai manusia, di tengah lautan ini kau bukan siapa siapa & tidak berkuasa apa apa…”

Tanpa pertolongan & kasih sayang-Mu, Sungguh kami kecil-nihil tak berdaya. Dan sungguh jiwa, raga dan nyawa ini mutlak dalam genggaman-Mu, wahai Dzat Pemilik Semesta.

“La Hawla Wala Quwwata Illa Billahil Aliyyil Azim“- “Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”

“Berat” mana yang kau pilih ?

Berat Memang…

Ya, hidup di dunia memang berat. Hari berganti hari, waktu beraganti waktu kita begitu disibukan dengan berbagai tugas & kewajiban dalam setiap peran kehidupan kita. Peran kita sebagai individu & anggota keluarga, peran sosial , yang masing masing butuh untuk terpenuhi.

Kadang ada hari yang terasa berat, waktu yang terasa penat, terkedang urusan silih berganti tiada henti, satu kewajiban usai, kewajiban lain telah menanti. Beberapa peran yang menuntut kita untuk hadir utuh dan berfikir penuh, padahal di sisi lain ingin rasanya kita sedikit berkeluh ; “ Ya Allah, ini semua rasanya berat …”

Ada saat kita dituntut untuk terus berjalan, kita harus tetap menjalankan peran, walau di saat yang sama kita bergelut dengan kelelahan hati juga fikiran. Rasanya ingin sejenak untuk menanggalkan berbagai peran yang melekat di badan, atau setidaknya sejenak beristirahat melepaskan ransel ransel tanggung jawab, yang terasa berat dan melelahkan

Ah…tapi, bukannya dunia memang tempatnya kita untuk beramal & merasakan kelelahan

Bila diingatkan lagi hal ini, rasanya tidak pantas untuk berlarut larut dalam keluh. Peran & tugas kehidupan ini memang berat. Namun lebih berat lagi apabila bila kita tidak berbuat apa apa, tidak menorehkan amal soleh & berkarya sebagai hamba-Nya.

Lebih berat lagi nanti, saat kita dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, saat Allah bertanya kepada kita

“Karya unggulan apa yang telah kau perbuat di muka bumi, yang bisa kau banggakan dihadapan KU?”

Rasanya hal ini akan lebih berat -sangat berat-, saat kita tidak punya bekal apa apa, atau bekal yang dibawa hanya apa adanya. Berat rasanya, saat Allah sudah menitipkan segala potensi akal pikiran & jiwa raga yang luar biasa untuk kita, namun kita mensia-siakannya, tidak menggunakannya dengan sepenuh jiwa, kita tidak mensyukurinya.

Apa kelak kita akan hanya bisa tertunduk malu di hadapan-Nya

Maka, aku menasihati diriku sendiri, “BERAT” mana yang akan kau pilih. Rasa berat saat berjuang di dunia, atau menanggung berat saat kelak kau harus mempertanggungjawabkannya di akhirat.

Saat Dilanda Kecewa

Namanya juga hidup, selalu ada fase di mana kita harus berhadapan dengan berbagai rasa, salah satunya kecewa. Aku pun pernah mengalaminya, mungkin sama seperti kamu yang juga pernah merasakannya.

Menuliskannya seperti ini, semoga membuat hati terasa sedikit lega…

Belakangan ini, aku dikecewakan oleh seseorang yang sudah kuanggap seperti adik sendiri. Entah mengapa ia tiba-tiba menjauh. Pesan tidak dibalas, telepon tidak diangkat, bahkan keluar dari grup tanpa pamit. Saat aku mencari penjelasan, tidak ada jawaban sama sekali.

Ini bukan hanya urusan personal sebenarnya, secara organisasi ia masih memegang peran yang pernah ia setujui & sepakati bersama. Tiba tiba saja ia menghilang, seperti lupa apa yang pernah ia ikrarkan. Kemudian memilih lebih aktif di organisasi lain yang mungkin lebih strategis baginya.

Ada etika & adab yang mungkin sedang ia lupa. Bukan, ini bukan soal cemburu atau tidak rela, karena justru aku sendiri yang dulu memperkenalkannya ke komunitas tersebut & ikut senang ketika ia berkarya juga disana.

Namun tidak lama, ia pergi begitu saja. Tanpa sebait kalimat, penjelasan sebagai manusia yang telah dewasa. Iya, aku terluka…

Ah, memang benar. Berekspektasi berlebihan pada manusia sering menjadi sumber luka. Seseorang yang kita kira akan menjadi teman seperjalanan ternyata bisa menorehkan luka yang sama sekali tak terduga.

Mungkin ini cara Allah mengingatkan saya (lagi):

Tentang ekspektasi. Bahwa benar, harapan terhadap manusia harus punya batas. Karena manusia bisa berubah, bisa berbalik arah kapan saja.

Tentang menghargai. Rasanya sangat menyakitkan ketika diabaikan oleh orang yang kita percaya. Apalagi jika kita tak tahu alasannya. Dari sini saya belajar agar tidak melakukan hal yang sama pada orang lain yang mempercayai saya.

Tentang memaafkan. Belajar untuk menerima & memaafkan,walaupun tidak terucap maaf.

Tentang menjadi dewasa. Menjadi dewasa dalam menghargai orang lain, berkomunikasi dengan baik & terbuka, berani berbicara pahit ataupun manis , mau menghadapi alih alih diam dan menghilang.

Tentang tetap mendoakan. Mendoakan ia yang sedang menorehkan luka. Mengingat kembali bahwa begitu banyak kebaikan & ketulusan yang telah ia lakukan, dan tidak akan kuhilangkan & kulupakan. Semoga Allah gerakan hatinya & muliakan hidupnya.

“Hai kawan, maafkan bila ada kesalahan yang tidak kusadari. Kelak -entah kapan- bila usia masih tersisa, kita akan dipertemukan lagi dalam jalan jalan kebaikan. Aku memang begitu terluka, namun doa ku untukmu selalu menyerta …”

Kereta Dan Ribuan Cerita

Saya sepertinya adalah satu dari orang orang diluar sana yang menyukai armada kereta. Kereta itu menyimpan banyak cerita. Cerita tentang seseorang yang sedang ingin bersama dirinya saja, atau tentang seseorang yang pergi atau pulang menemui pasangan jiwanya, atau sebuah keluarga yang sedang ingin mengeratkan ikatan hati mereka.

Kereta itu tidak terburu buru
Kereta itu tepat waktu
Kereta itu syahdu untuk melamati waktu

Bagi saya kereta adalah pilihan yang selalu jadi utama bila akan bepergian keluar kota, bila ada jalur kereta ke kota tersebut saya biasanya memilih kereta. Lebih pasti, lebih nyaman, pilihan tarifnya juga bisa disesuaikan.

Alasan lain memilih kereta adalah, kereta adalah saya bisa menghabiskan waktu untuk melakukan deep thinking & melakukan monolog dengan diri sendiri, apalagi saat bisa dapat kursi di dekat jendela.

Melihat jalanan, pemandangan, lapisan awan, orang orang yang beraktifitas diluar sana. Memotret kilasan kehidupan banyak orang yang beraneka ragam. Melihat mereka yang pergi bekerja, panen di sawah, anak anak bermain layangan, ibu ibu yang pulang dari pasar, semua itu membuat kita sadar bahwa kita tidak sediri di dunia ini. Bahwa di luar sana, setiap orang berjuang di medannya masing masing.

Naik kereta pun adalah waktunya saya untuk bernafas & berfikir lebih lambat, lebih tenang untuk menata pikiran dan perasaan. Kamu gimana? punya cerita apa ? 🙂

Explore Perpustakaan Freedom di Jakarta!

Setiap kali bepergian ke sebuah Kota, saya selalu tertarik untuk mencari tahu apakah ada perpustakaan di sekitar lokasi yang bisa saya kunjungi. Saat berada di Jakarta beberapa waktu lalu, tidak sengaja saya menemukan perpustakaan dengan konsep yang unik —Perpustakaan Freedom, yang lokasinya terletak di kawasan Kuningan, tepatnya di Wisma Bakrie, Jl. Rasuna Said, Jakarta.

Begitu memasuki ruangannya, atmosfernya langsung membuat jatuh hati. Perpustakaan ini punya desain bergaya industrial. Ruangannya luas dan tertata rapi, membuat suasana nyaman untuk belajar, mengerjakan tugas, atau sekadar menikmati waktu untuk baca buku.

Rekomendasi untuk kamu yang sedang cari tempat di sekitaran Jakarta Selatan untuk WFL (Work From Library) atau sedang fokus menyelesaikan skripsi, tesis, dll, tempat ini bisa jadi pilihan.

Yang juga membuat Perpustakaan Freedom ini unik adalah koleksi bukunya. Di sini, kamu bisa menemukan berbagai judul yang bisa dikatakan cukup “berat”, mulai dari filsafat, ekonomi, sejarah, politik, hingga seni dan budaya. Sekitar 80% koleksinya berbahasa Inggris, bisa jadi sumber referensi yang lengkap dan berkualitas untuk mahasiswa, peneliti, maupun pecinta literatur.

Kalau kamu lagi cari bacaan yang spesifik, mendalam dan kaya referensi, Perpustakaan Freedom bisa jadi pilihan yang bisa dikunjungi.

Oh ya di perpustakaan ini juga ada fasilitas untuk fotocopy, memudahkan untuk paa Mahasiswa yang ingin membawa artikel ke rumah. Tersedia juga Mushalla, dan ada cafe disebelahnya.

Tambahan info, karena ruangannya lumayan dingin, jangan lupa bawa jaket, agar rasa dinginnya tidak terlalu terasa, dan kamu bisa fokus ngerjain tugas !

📍 Alamat: Wisma Bakrie, Jl. H. R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta
📖 Jenis Koleksi: Buku-buku bertema filsafat, ekonomi, politik, sejarah, seni, dan budaya (didominasi oleh bahasa Inggris)

Temukan Peran Kebermanfaatanmu

Bertumbuh, Berdampak, Bermanfaat…


Alhamdulillah, sebuah rasa syukur bisa berdiskusi dengan para mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang menyelesaikan program magister di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagian besar dari mereka berasal dari Kabupaten Sikka, NTT.

Kami saling berbagi inspirasi mengenai keresahan dan permasalahan yang mereka temukan di daerah asal masing-masing. Selain itu, mereka juga menyampaikan potensi yang ada serta impian mereka untuk kemajuan daerah dan masyarakatnya.

Setelah itu, kami berdiskusi tentang solusi dan peran spesifik yang bisa mereka ambil saat kembali ke daerah masing-masing, serta bagaimana mereka dapat berkontribusi melalui ilmu yang telah dipelajari.

Ternyata, dalam diskusi yang terbuka, banyak cita-cita mulia yang ingin mereka wujudkan dan berbagai potensi baik yang bisa dioptimalkan. Niat baik ini tentu akan lebih kuat jika dijalin, dikoneksikan, dan dikolaborasikan. Sebab, kebaikan besar hanya akan terwujud jika dilakukan bersama-sama.

Dengan berkumpul seperti ini, kita saling menumbuhkan, saling menguatkan, dan saling bersinergi demi terwujudnya cita-cita kebaikan bersama.

Beratnya Mengambil Keputusan

Salah satu beban terberat seorang pemimpin adalah ketika harus mengambil keputusan. Apalagi saat keputusan tidak hanya melibatkan nalar dan logika, namun saat terlibat rasa sebagai seorang manusia didalamnya.

Keputusan yang melahirkan konsekuensi setelahnya
keputusan yang belum pasti bagaimana langkah sesudahnya
Keputusan yang akan menuntut lebih banyak dari diri kita

Namun pada akhirnya, diam dan tidak melangkah bukanlah pilihan. Siap atau berat hati, berani atau setengah hati, mati kita putuskan. Keputusan dengan segala konsukensi yang mengirinya, dengan segala rasa yang bercampur di dalamnya, dengan segala tanda tanya yang menyertainya.

Mari kita lakukan, mari kita rayakan.

Kita tidak tahu barangkali keputusan yang awalnya penuh ketidaknyamanan itu kemudian menjadi jalan kebaikan dan keberkahan yang lebih luas. Dan mungkin inilah cara Allah dalam menempa, mendidik dan menguatkan kita, untuk menjadi manusia yang lebih paripurna.

“Maka bertawakkallah kepada Allah; sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)

Dengan niat yang lurus dan hati yang berserah, kita mulai langkah ini: Bismillahi tawakkaltu ‘alallah…

Keresahan Tentang Masa Depan

Siang ini ketika mengemudi mobil, Saya kembali bercakap cakap dengan diri -bermonlog- seperti biasa. pikiran saya mengembara akan banyak yang sedang dialami. Episode episode yang datang silih berganti. Terkadang terhampar kebahagian, ketenangan, keyakinan bahwa semuanya akan baik baik aja. Tidak lama kemudian berganti dengan resah gelisah, khawatir, was was, perasaan berat, dan semacamnya.

Lalu, kemudian hati dan fikiran kembali bercakap cakap, barangkali berdiskusi, mengapa ada resah akan sesuatu yang belum terjadi, mengapa diri ini begitu sibuk mereka mereka apa yang akan terjadi nanti, menerka nerka tentang kehilangan, menerka nerka tentang apa yang mungkin dimiliki dan apa yang mungkin tidak akan termiliki.

“Resah Akan Masa Depan …”

Barangkali saya sedang lupa, atau mungkin sebenarnya tahu ; tapi tidak benar benar mengerti, tidak benar benar meyakini hingga urat nadi. Tidak benar benar tertanam hingga saraf terdalam, tidak tersambung kuat dalam sinaps pikiran, bahwa ada DIA yang Maha mengatur segalanya, bahwa DIA yang memiliki serta mengatur segala, dari susunan atom terkecil hingga susunan alam semesta, dari semua yang bisa kita raba, hingga tak terjangkau oleh panca indra.

Barangkali saya sedang melupa, bahwa hidup ini tidak murni dalam genggaman tangan kita. Atas segala usaha ada ketentuannya yang sudah ia tetapkan untuk Kita hamba-Nya. Menjalankan kalimat “Tugas kita berusaha, Allah yang tentukan akhirnya…” memang tidak semudah pengucapannya. Memahami kalimat “Skenario hidup dari Allah lebih indah, daripada perencanaan & cita cita hidup kita” tidak segampang yang dikira.

Satu waktu kita menjadi lurus, tenang & bijaksana

Satu waktu kita menjadi bingung, resah & tak tentu arah

Barangkali disitulah tugas kita sebagai manusia, saat dalam tak tentu arah, kembali “meng-adjust” hati & pikiran, tentang keyakinan bahwa kepada Allah lah semata hidup ini kita titipkan, kepada Allah sematalah hidup ini kita pasrahkan.

“Setiap Cerita Punya Dua Versi Berbeda: Belajarlah Mendengar Keduanya”

Penyesalan Karena Terlalu Cepat Menyimpulkan

Pernahkah kamu mengalami menghadapi sebuah situasi konflik, baik itu dengan teman, keluarga, atau bahkan melihat konflik orang-orang terkenal di media sosial? Dan pernahkah kamu dengan mudah membela satu pihak dan menyalahkan pihak lainnya?

Sepertinya situasi ini pernah kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Lalu setelah beberapa lama, kamu berkesempatan mendengar “versi lain” dari konflik tersebut, dan pandanganmu berubah tentang hal itu, bisa sedikit bisa juga banyak.

Ya betul! Terlalu cepat membuat kesimpulan sering membuat kita menyesal. Menyesal karena kita sudah berprasangka, bersikap antipati, atau bahkan sudah bersikap tidak adil kepada salah satu pihak. Menyesal karena kita buru-buru dalam membuat kesimpulan yang tidak adil, apalagi bila mereka adalah orang-orang terdekat kita.

Setiap Cerita Punya Sisi Berbeda

Seperti layaknya sebuah benda, mereka punya sisi berbeda. Begitu juga dengan konflik pada manusia, ia akan punya sisi berbeda. Bisa jadi hanya dua sisi, atau juga banyak sisi berbeda. Untuk mendapatkan pandangan yang lebih menyeluruh, maka kita harus mendengarkan berbagai sisi yang terlibat di dalamnya. Dari setiap sisi apapun yang disampaikan , perlu kita hargai, dan dengarkan apa adanya. Biarkan mereka sampaikan dengan versi masing-masing.

Menetralkan keberpihakan memang tidak mudah, namun kita bisa mengusahakannya. Agar pandangan kita bisa adil, dan apabila kita adalah orang yang perlu mengambil keputusan atau dimintai masukan dari konflik tersebut, maka kita akan mengambilnya dengan bijaksana.

Bagaimana Menjadi Pendegar Yang Baik

Dalam mendengarkan, sering kali maksud dan tujuan sebenarnya terang terangan terucapkan. Maka dengarlah apa-apa yang tidak terucapkan, tangkaplah perasaan-perasaan yang tersembunyi dalam ucapan. Mendengar untuk memahami & mengerti apa yang dimaksudkan.

Mendengar tanpa menghakimi, mendengar tanpa asumsi, dan mendengar tanpa berpihak & terburu-buru membuat kesimpulan, akan membuat kita bisa lebih jernih melihat konflik yang terjadi.

Hubungkan dengan konteks, latar belakang, atau peran yang saat ini masing masing pihak jalankan, akan membuat sudut pandang lebih jelas dari masing-masing pihak.

Mendengar Dengan Adil

Mendengarkan dari setiap pihak dengan netral, membuat kita tetap bisa menjaga hubungan yang baik dengan mereka. Karena setiap pihak merasa didengarkan, dihargai, dan dipedulikan. Mendengarkan dari setiap pihak menjaga rasa hormat, juga terhindar dari konflik yang tidak perlu atau konflik yang berkepanjangan.

Bagi kita yang berada “di tengah-tengah”, mendengarkan dengan penuh rasa empati, hormat, dan peduli, membuat kita bisa menganalisis dengan lebih jelas konflik yang ada. Membuat kita bisa berpikir kritis dalam setiap sudutnya dan akhirnya bisa menilai apa yang terjadi secara objektif.

Tips Agar Bisa Adil Menghadapi Konflik Dua Pihak

  • Netralkan perasaan saat ada kecendrungan keberpihakan pada satu pihak, baik kedekatan secara emosional atau keterikatan secara personal
  • Belajar untuk benar-benar mendengarkan semua pihak, mendengarkan untuk memahami, bukan mendengar untuk menjawab
  • Tulisakan apabila ada hal yang perlu ditanyakan
  • Bertanya apabila ada point point yang kurang jelas, butuh konfirmasi, dan butuh penjelasan lebih dalam
  • Dalam bertanya gunakan pertanyan yang netral, terbuka, tidak mengintimidasi, dan tidak memperkeruh situasi konflik

Ajaran Islam Mengajarkan Kita Untuk Mendengarkan

Al Qur’an pun sudah membimbing kita untuk bertabayun apabila ada sesuatu kabar, sebuah konflik yang terjadi

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui kebenarannya, dan kamu (nantinya) akan menyesal atas perbuatanmu.” (Al Hujarat Ayat 6)

Semoga kita bisa belajar & bisa melatih diri untuk bisa mendengarkan, memahami, serta bijak dalam menyikapi terhadap konflik yang terjadi.

Ya betul ! Setiap cerita punya dua sisi yang berbeda, belajarlah untuk mendengar keduanya!

See You !