Karena Kita Hanyalah Perantara [Sebuah Catatan Bencana Garut ]

Malam itu saya berencana untuk pergi ke Garut, bersama teman teman dari berbagai komunitas, untuk memberikan beberapa bantuan dan titipan dari teman teman. Lagi asik packing tiba tiba mamah bilang : “ teh, mamah pengen ikut ….”  karena mobil juga kosong, hanya saya dan adik, saya iyakan aja, lagian rencannya hanya sampaikan titipan donasi, kemudian pulang.

Kondisi garut memang sangat memprihatinkan, saya baru sempat ke sana setelah sekitar satu minggu bencana. Alhamdulillah bertemu dengan kawan kawan untuk #GerakBareng, yaitu gabungan dari beberapa komunitas yang mencintai dunia kerelawanan yang telah lebih dahulu ada disana.

Bencana Garut memang menyisakan PR yang sangat panjang, waktu saya kesana masih banyak rumah rumah yang menyisakan rumput yang masih sangat tebal, menempel di semua bagian rumah, merusak hampir semua barang barang, dari mulai pakaian, peabotan, barang elektronik, dsb. Tidak sedikit yang harus merelakan barang nya untuk di buang begitu saja.

Disana, kami tiba di sebuah masjid di desa Tarogong, Alhamdulillah masjid sudah bersih dan bisa ditempati dan dijadikan posko. Namun sekitarnya masih banyak rumah rumah yang belum bisa ditempati karena sisa lumpurnya masih sangat banyak.

Saya langsung ikut bergabung dengan kawan kawan relawan yang sudah turun duluan, tadinya sih pengen ikut ngangkat ngangkat sekop kaya anak mahasiswa yang sedang bersihin jalan, tapi kayanya bakal ribet karena berat dan agak gak cocok dengan saya yang saat itu pakai gamis.

Akhirnya saya ikutan gabung sama relawan yang sedang bersihin salah satu rumah warga, yang hampir 3/4 rumahnya sempat terendam banjir. Dengan peralatan penyemprot air, pel dan sikat kami bersama sama bersihin rumah warga. Satu rumah saja membutuhkan lebih 3 jam, itu pun hanya membersihkan rumahnya saja, belum perabotannya, Ya Allah… sungguh cobaan yang tidak mudah, bagi para warga.

 

****

Saya kira sewaktu kami membersihkan rumah, mamah hanya akan diam saja, menunggu atau menjaga barang bantuan. Tapi ternyata beliau tidak mau hanya diam saja, kesel juga barangkali ya kalo hanya diam saja. Akhirnya pun beliau turun ikut bergabung dengan para relawan yang masih berusia muda (seperti saya) #Batuk hhaa.. ikut membersihkan rumah warga dan perabotannya.

Mamah terlihat sangat semangat sekali, sesaat mungkin melupakan usianya dan tenaganya. Walaupun sebenarnya usia bukan ukuran juga sih, apakah seorang mau turun membantu atau tidak, kadang yang muda juga kalah dengan yang tua, ketika yang tua itu mempunyai semangat yang sangat membara. Merdekaaaa…….!!! halah …

Walau bajunya jadi kotor, dan juga tidak baju ganti, mamah bilang ” ga apa apa lah, kapan lagi bantu orang lain, kasian, nanti aja ganti baju nya di rumah” . 

Hari itu saya belajar dari beliau, bahwa tidak ada halangan untuk kita untuk tidak menjadi manusia bermanfaat, siapapun kita, berapapun usia kita, seperti apa pun kondisi kita. Kuncinya bukan karena mampu atau tidak mampu, tapi mau apa tidak mau

mams

 

****

Ah Garut, kota ini mendapatkan ujian yang tidak terduga, semoga bisa menjadi sesuatu bagi kita semua, bukan hanya mereka yang terdampak langsung, tapi untuk kita semua, bahwa ketika Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah.

Absolutly Our Life In His Hand, No Doubt

Dan semoga ada rasa kepedulian yang mendalam, empati. Bahwa kita merasakan, apa yang mereka rasakan, dan dengan apa yang kita bisa, kita meringankan apa yang menjadi permasalahan mereka.

Bukan kita yang menjadi solusi atau berjasa atau semacamnya, kita hanyalah kepanjangan tangan-Nya, perantara, kita hanya jalan, bukan sumber, dan bersyukurlah, berbahagialah ketika Allah “memilih” kita untuk menjadi jalan Ke Maha Baikkan-Nya

 

Sebuah Pesan Saat Lebaran

Lebaran ini saya pulang kampung, lebih tepatnya pulang kampung dan road show mengunjungi saudara saudara. Sebenarnya rumah saya sudah lama di Bandung, tapi keluarga besar Bapak Almarhum ada di Garut, sedangkan keluarga besar Mamah ada di Pangandaran.

Lebaran kemarin memang sudah di niatkan untuk pulang bertemu saudara saudara besar yang jarang bertemu, akhirnya mudiklah kami bertiga (saya, ibu dan adik) ke Garut dan Pangandaran, juga mengunjungi saudara saudara di Tasik, Ciamis,  Banjar hingga Yogjakarata.

Mamah saya termasuk orang yang senang bersilaturahmi, dan selalu mengajak anak anak nya untuk mau bersilaturahmi berkeliling ke saudara saudara, walau kadang kita sebagai anak males malesan, “ya kalau bukan saudara deket deket amat ya ga usah pikir kami, hhee… ”

Tapi mamah tidak pernah bosan buat ngajak kami ketemu saudara disinilah, saudara disanalah, selain saudara kadang kadang mengajak untuk silaturahmi dengan kawan kawan lama nya juga.

Lebaran tahun ini saya mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga. Waktu itu saya sudah ada di kampung halaman, ada saudara sepupu yang sampai satu hari belum bertemu, karena rumah nya agak berjauhan. Mamah berinisiatif untuk mengunjungi rumah kakak sepupu saya itu, tapi saudara yang lain seakan melarang “ga usah, biar dia yang kesini, kita kan lebih tua, dia yang muda harusnya yang mengunjungi kesini” ujarnya.

Dalam hati saya bilang iya juga ya, harusnya yang muda dong yang mengunjungi yang tua, harus menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Tapi Mamah menjawab kurang lebih seperti ini “Silaturahmi itu ga ada aturannya harus yang muda dulu ke yang tua, atau sebaliknya, yang paling utama adalah orang yang menyambung silaturahmi, yang mau inisatif duluan untuk memulai silaturahmi”

Saya mencoba mencerna jawaban mamah, kemudian saya mencari dalam hadist tentang silaturahmi :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

“Keutamaan Silaturahmi, Silaturahmi itu Menambah Umur, Barangsiapa yang Menyambung Silaturahmi Allah akan Mencintainya, dan Seterusnya” – Hadits 52-62 – Kitab Adabul Mufrad

 

Ah benar rupanya, silaturahmi bukan tentang yang muda atau yang tua, memang akan lebih baik apabila yang muda mengunjungi yang tua. Namun jangan jadikan alasan untuk kita menyambung silaturahmi. Dan apabila kita ingin menjadi orang yang utama di sisi Allah dan Rasul-Nya maka jadilah orang yang pertama menyambung silaturahmi, jadilah orang yang pertama mengunjungi, menyapa, saudara saudara kita, sahabat sahabat kita.

Apabila ingin menjadi hamba yang dicintai Allah, maka sambungkanlah silaturahmi, jadilah orang yang mencintai silaturahmi, jadilah orang yang menyambungkan, mengikatkan dan mengokohkan tali silaturahmi. Semoga kita menjadi orang orang yang dimaksud itu, Aamiin…

Ps : Terimakasih mamah untuk sekali lagi pesan kehidupannya

 

13731578_10154220314203260_2707993067521175321_n