Tentang Rasa Syukur Dengan Produktifitas

bersyukur

Adakah korelasi nya antara rasa syukur kita dengan produktifitas ?

Ternyata ada rasa syukur kita bisa berkelindan dengan produktifitas kita, apapun yang sedang kita kerjaan. Baik produktifitas kerja, produktitas menajemen diri, produktifitas kita berkarya, dsb. Saya pun baru ngeuh dengan hal ini.

Walau belum benar benar rutin setiap hari melakukannya, saya mempunyai kebiasaan untuk menuliskan rasa syukur, dalam sebuah buku khusus, yang dinamakan “Jurnal Syukur”. Jadi ini adalah buku khusus, berupa catatan harian, yang berisi tentang hal hal yang kita syukuri setiap hari. Ini tulisan saya di blog sebelumnya tentang jurnal syukur.

Dan hari ini saya menemukan manfaat lain dari menulis jurnal syukur ini, yaitu PRODUKTIFITAS.

Hari ini sebenarnya adalah pagi yang kurang ceria bagi saya, sedikit gloomy. Ada rasa malas untuk memulai beberapa dead line pekerjaan. Lalu saya memutuskan untuk mengambil jurnal syukur saya. Saya ingat ingat lagi beberapa hal di hari kemarin, dan mulai menulis.

Saya menulis tentang rasa terimakasih saya kepada Allah Swt atas beberapa kemudahan dan kelancaran aktifitas hari kemarin, saya tulis tentang rasa terimakasih saya diberikan kesehatan, diberikan keselamatan selama perjalanan. Saya tulisakan juga rasa terimakasih saya tentang beberapa konsep, ide, gagasan yang kemarin DIA berikan kepada benak saya, saya lanjutkan juga tentang rasa terimakasih atas beberapa masalah yang kemudian bisa saya hadapi.

Tak lupa, saya tuliskan juga tentang terimakasih untuk rasa nyaman, rasa tenang, perasaan optimis yang masih ia izinkan bersemat dalam hati saya. Saya juga tuliskan tentang rasa terimakasih atas masih diizinkan untuk masih bernafas dengan leluasa sehingga masih bisa berkarya.

Masya Allah, sebenarnya bila kita hitung satu satu, tak cukup rasanya satu halaman buku, untuk menuliskan betapa banyak kebaikan yang Allah berikan untuk kita …

Dan setelah menuliskan beberapa rasa syukur dan rasa terimakasih yang saya rasakan di hari sebelumnya, tangki semangat saya seperti diisi ulang lagi, seperti tanaman yang sedang layu, kemudian diberikan siraman air di pagi hari, segar …..

Saya tak mau menyia nyiakan begitu banyak nya kebaikan, anugrah, nikmat yang Allah berikan kepada saya. Saya tidak mau Allah kecewa, sehingga mencabut kebaikan kebaikan itu, saya tidak mau menyiakan kepercayaan-Nya kepada saya.

Produktifitas saya kembali lagi. Saya langsung bergerak, melanjutkan lagi apa yang telah saya mulai. Menjalankan lagi peran peran yang Allah percayakan kepada saya. Mensyukuri atas kepercayaan yang ia beri untuk saya, untuk tetap menjadi manusia bermanfaat.

Hari ini saya merasakan, bahwa rasa syukur, rasa terimakasih kita kepada-Nya adalah sebuah kekuatan yang akan kembali lagi untuk kita.

Hari ini saya meraskan bahwa salah satu kebaikan dari rasa syukur adalah meningkatkan produktifitas.

Terimakasih Ya Allah ….

Bandung,

21 Januari 2019

Advertisements

Sebuah Jawaban Atas Pertanyaan

Manusia memang bukan manusia yang bisa stabil sepenuhnya. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita akan terus on the track selamanya. Kadang kita sudah tau ilmunya, tapi saat harus menjalankannya, ternyata tidak mudah begitu saja. Kadang juga kita lupa, lupa atas nasihat nasihat itu semua.

Kadang kita gamang dalam menghadapi gejolak pikiran dan perasaan. Kita sibuk mencari pegangan, pandangan atau bahkan pembenaran. Seperti akhir akhir ini, ketika saya merasa butuh sebuah jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang terus bersahutan dalam pikiran. Saat saya harus menghadapi turun naiknya gelisah perasaan yang seperti tidak berkesudahan.

Manusia adalah makhluk persepsi. Ia kadang terkadang tenggelam dalam persepsi nya sendiri, atau bahkan termakan persepsi yang datang dari kanan-kiri-depan-belakang. Dan sungguh persepsi itu kadang seperti lingkaran yang ingin kita urai, namun kita sendiri kebingungan dari mana mengurai nya.

Lalu hari ini, Allah membimbing saya pada Ayat-Ayat Nya ..

Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (An-Nahl 77)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (An-Nahl 78)

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahl 79)

Masya Allah, tiga ayat yang berturut turut ini, seperti mengingatkan kepada saya bahwa banyak hal hal yang memang tidak atau belum saya mengerti tentang hakikatnya, tentang tujuannya. Hal yang bagi saya begitu misteri, begitu tersembunyi, hal yang saya tidak mengerti mengapa terjadi atau mengapa belum terjadi.

Kemudian ayat kedua, seakan akan Allah berkata kepada saya, For Not To Worry. Dulu pun waktu pertama dilahirkan, kita benar benar tidak tahu apa apa tentang dunia, tapi Allah bekali kita dengan indera, dengan kemampuan untuk bisa melihat, membaca, mendengar dan memahami, hingga sudah sejauh ini saya bisa memapahi kehidupan.

Bisa saja Allah tidak membekali itu semua, bisa saja, karena ia Maha Berkehendak. Allah seakan akan membimbing saya untuk mensyukuri apa yang telah dijalani, dinikmati, dan dipunyai hingga saat ini.

Ayat selanjutnya mungkin Allah sedang mengingatkan lagi, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Seperti Allah menjadikan burung burung bisa terbang bebas, tanpa campur tangan manusia. Sedangkan manusia, membutuhkan tekhnologi yang sangat rumit untuk bisa berada diudara. Bagi-Nya mudah saja.

Tiga ayat bertutut turut ini, seperti jawaban atas pertanyaan pertanyaan saya yang terus berputar dalam fikiran dan perasaan. Sampai dibeberapa ayat selanjutnya, yang berbunyi :

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl 96)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(An-Nahl 97)

Allah ngingetin saya lagi, untuk lebih faham bahwa apa yang kita punya, baik itu yang tangible atau yang intangble akan lenyap. Materi, keluarga, harta, fisik, kemampuan, kepintaran, rasa, waktu, keinginan, peluang, masalah, apapun itu, yang bersifat duniaw,i akan lenyap, hilang saat Allah menghendakinya.

Terakhir Allah ingatkan saya (lagi) untuk bersabar. Sabar dalam arti yang benar. sabar yang berupa kombinasi ikhtiar dan ketawakalan. Sabar dalam mentaati kehendaknya. Karena IA pun berjanji setiap apa yang kita kerjakan dalam kebenaran, Allah sudah siapkan balasan-Nya. Balasan yang lebih baik dari apa yang telah kita kerjaan, lebih baik dari apa yang kita usahakan, lebih baik dari apa yang kita perjuangkan. Dan Allah tidak akan menyalahi janji.

Yakin lah selalu bahwa Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi kita, bersyukurlah atas apa apa yang telah ia beri kepada kita, tak usah khawatir, karena Allah maha berkehendak, mudah bagi IA yang sedang mengatur semuanya.

Bersabar adalah jawabannya, bersabar untuk selalu melakukan kebaikan, kebenaran dalam pengabdian kepada-Nya. Karena ia telah menjanjikan hal yang jauh lebih baik bagi kita


Ah ..tulisan ini sesungguhnya adalah nasihat untuk diri saya sendiri, karena saat saya menulisakannya kembali seperti ini, saya mendapat lebih banyak lagi penyadaran. Apabila ada teman teman yang turut membaca, semoga ada manfaat yang bisa di dapat. 🙂

Bandung, 19 Januar 2019

Do’a Do’a Rahasia

doa doa rahasia 2

 

Pernahkah kau berbisik pada-Nya tentang berbait do’a do’a rahasia

Do’a yang bukan tentang mu, bukan tentang inginmu, bukan tentang harapmu, atau tentang deretan sedu sedanmu

Pernahkah kau berpanjat pada-Nya sederet do’a do’a rahasia

Do’a istimewa untuk dia, untuk mereka

Do’a untuk dia sedang berikhtiar bertemu dengan sahabat sejiwa

Do’a untuk dia sedang berusaha sekuat tenaga, mencari rizki untuk membayar hutang dan memenuhi kebutuhan keluarga

Do’a untuk dia yang sedang berjuang jiwa raganya, melawan sakit , yang berjuang agar bisa sehat seperti sediaka kala

Do’a untuk dia yang sedang berupaya menyembuhkan luka di batinnya, yang sedang ingin kembali menyala jiwanya

Do’a untuk dia yang sedang memperjuangkan adanya buah hati penyejuk jiwa

Do’a untuk dia yang sedang gundah gulana hatinya, sedang dirundung duka yang tak berkesudahan rasanya

Do’a untuk dia yang sedang berjuang menafkahi keluarganya, menjaga kehormatan dirinya

Do’a untuk dia  yang berjuang mempertahankan rumah tangganya, agar tak berguncang Arsy diatas sana, agar tak benci Allah kepadanya

Do’a  untuk dia yang sedang berjuang melawan kehendak buruk dalam dirinya, berjuang agar tak terjerembab, berjuang agar tetap menjadi manusia mulia

Do’a untuk dia yang sedang menempuh jalan kebaikan, yang menempuh jalan kebermanfaatan, yang memilih hidup dalam pengabdian

Do’a untuk dia yang berjuang mempertahankan keyakinannya, memeluk keyakinannya, kepada yang Maha Pencipta

Do’a untuk dia yang sedang mencari kebenaran sejati, mencari kebenaran yang bermuara kepada Tuhan Yang Esa

——-

Do’a kan dia yang tiba tiba terlintas di ingatanmu

Do’a kan dia yang berjasa dalam jalan hidupmu

Do’a kan dia yang pernah menggores warna dalam hatimu

Do’a kan dia yang pernah lekat dalam ingatanmu

Do’a kan dia yang pernah membuatmu  bahagia

Do’a kan dia yang pernah membuatmu kecewa, bahkan terluka

Do’a kan dia yang pernah atau masih kau cinta

Do’a kan dia yang pernah bersama mu berkarya

——-

Do’a kan dia yang bahkan kau tak pernah tau namanya

Do’a kan dia yang kau lihat sedang menjajakan dagangannya

Do’a kan dia yang sedang menunggu panggilan penumpang online nya

Do’a kan dia yang sedang menyapu jalanan, yang sedang mengatur di perempatan, dan pintu perlintasann

Do’a kan mereka suami istri yang sedang bergandengan tangan di sebuah taman

Do’a kan mereka para pencari ilmu yang sedang berjuang untuk masa depannya

Do’a kan ia yang berpapasan jalan dengan mu,

Do’a kan ia yang bahkan tak pernah kau tau namanya

——-

Do’akan mereka, agar lancar urusannya, agar sehat raganya, agar  tentram jiwannya,  agar bahagia hatinya, agar tenang pikirannya, agar berkah rizkinya, agar terang jalan hidupnya, agar terkabul segala doa doa mulianya, agar dicinta ia oleh Pencipta-Nya

——-

Do’a kan mereka diam diam

Do’a kan mereka  dalam dalam

Do’a kan mereka ketika hujan atau dalam larutnya sepertiga malam

Do’a kan mereka dalam dalam 

Do’a kan mereka dalam diam

——-

Biarkan ini menjadi Do’a Do’a Rahasia 

Antara kita dan DIA

Sang pengabul Do’a Do’a Rahasia

 

Bandung, 16 Januari 2019

Nuriska Fahmiany

 

 

 

Jangan Jangan Kita Tidak Bersyukur

Setiap kita diberikan bakat, potensi, kemampuan, keungulan yang berbeda. Tuhan tidak semata mata menciptakan makhluknya yang paling sempurna tanpa ada tujuannya. Saya percaya bahwa dalam setiap penciptaan Tuhan “titipkan” sebuah potensi unggulan, agar ia bisa bermanfaat bagi sesamanya. Bukankah Nabi Muhammad berkata :

“Sebaik baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya”

Ketika ada kata bermanfaat, berarti setiap manusia mempunyai potensi kebaikan, yang bisa menjadikan dia manusia bermanfaat. Tidak mungkin Allah ciptakan kita “kosong” begitu saja, Allah sudah berikan “modal” bagi kita untuk menjadi manusia bermanfaat.

Sayangnya kita tidak peka membaca apa “modal” yang telah diberikan oleh Allah untuk kita, padahal “modal” itu telah ada dalam diri kita, ada dalam pertanda pertanda yang telah lama Ia tampakan. Kita saja yang tidak peka mencernanya.

Kita sibuk kesana kesini mencari tau, mau jadi apa kita, mau berbuat apa kita, ingin seperti apa kita. Kita sibuk mencari tau, apa potensi terbaik kita. Padahal disisi lain kita sudah merasa dan diberikan pertanda tentang apa potensi alami kita, apa potensi unggulan kita, tapi kita abai melihatnya, kita samar mendengarnya, kita melihatnya seklias lalu mengabaikannya, atau hanya sesaat sesaat saja memperdulikannya.

Kita sibuk ingin menjadi orang lain atau ingin menjadi seperti orang lain, yang mungkin mengagumkan di mata kita. Atau barangkali kita ingin seperti orang lain di bidangnya yang terlihat sangat sukses, dan kita pun mendamba damba ingin sepertinya.

Kita lupa, Allah sebenarnya sudah menitipkan keunggulan yang khas pada diri kita, yang bisa jadi ketika kita peka melihatnya, peka mendengarkannya, kita bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk diri kita, orang sekelililng kita, dan banyak orang di luar sana.

Kita sibuk mencari cari, padahal yang dicari sudah ada di dalam diri …

Jangan jangan kita sedang tidak bersyukur atas potensi, hadiah dan titipan yang Allah telah sertakan semenjak kita diciptakan. Kita merasa bakat, potensi itu hanya hal yang biasa biasa saja, tidak akan menjadi hal yang istimewa. Padahal tak ada yang tidak istimewa ketika kita adalah manusia ciptaan-Nya

Kita sibuk mencari cari, padahal yang dicari sudah ada di dalam diri, ah jangan jangan kita tidak bersyukur …

 

 

 

 

Selamat Ulang Tahun Untuk Kita

19765170_1948393952095716_7524042254525136896_n

Hei kamu, kamu yang aku, aku yang kamu. Kita …

Selamat tanggal ke tiga belas bulan ke delapan untuk kesekian kalinya. Orang bilang itu adalah ulang tahun, tapi rasanya itu bukan kata kata yang tepat ya. mengulang tahun, rasanya tidak ada tahun yang terulang, tahun yang dimaksud  adalah tahun tahun yang sudah berlalu, dan  hari ini adalah tahun yang baru, di tanggal yang sama ketika kita dilahirkan.

Tanggal tiga belas bulan kedelapan itu, adalah semacam alarm pengingat tentang bahwa kita hidup dalam sebuah ukuran waktu, kenapa harus berukuran waktu ? ya barangkali karena detik per detik itulah yang akan terukur kelak, tentang bagaimana skor akhir hidup kita. Kenapa? Memang hidup itu berukur ya ?  ya .. iyalahh .. lantas, buat apa kita hidup, belajar, bekerja, beramal apabila tidak ada ukuran yang jelas pada hidup kita, bila tak ada ukurang waktu semuanya melayang layang.

Kita sama sama mengerti bukan, waktu ulang tahun bukan waktu terijabah nya doa, maka tak perlu lah meminta doa khusus kepada banyak orang. Tapi kalau ada orang yang mendoakan berarti itu sebuah kebahagiaan, ada doa orang orang yang terucap untuk kita tulus tanpa diminta, yang kebetulan teringatkan dengan tanggal kelahiran kita. Alhamduliilah, karena kita tak pernah tau doa yang mana yang terwujud untuk kita. Waktu seperti ini adalah momentum saja.

Ahh… rupanya kita sudah melewati banyak hal, gembira-kecewa, bersuka-berduka, melemah-meninggi, merapuh-mengenergi, rerupa rasa telah terlampaui. Banyak episode hidup yang kita jalani, ada yang dengan baik telah kita tempuhi, sebagian memang belum berhasil kita raih, di sisi lain banyak kebahagian dan kejutan yang tak terduga kita dapatkan. Hidup memang selalu ada dua sisi ya … 🙂

Lalu, bagaimana dengan hal hal yang belum bisa kita wujudkan, setelah berupa usaha yang kita sama sama telah lakukan, setelah beribu doa yang kita panjatkan ? Hmm.. biarkan lah itu menjadi rahasia nya, tentang kapan terkabulnya doa doa kita, yang harus di pastikan adalah bagaimana kita meneguhkan keyakinan kita, nahwa Ia tak mungkin tak mendengar doa kita, dan ia pasti mengabulkannya, ini hanya tentang waktu saja, tentang cara saja. Semoga jawaban ini bukan jawabaan penghiburan saja ya… hhaaa, ketika kita menunggu dia.

Pasangan sejiwa, adalah dia yang padanya kita merasakan “rumah” yang nyaman, tempat dimana kita ingin selalu berpulang, yang saat bersamanya ada ketenangan rasa, yang padanya kita merasa baik terjaga, yang padanya ada rasa cinta yang nyata, yang padanya kita bebas bercerita apa saja, dari mulai menceritakan sepakbola, buku buku bermakna, dan bagaimana bertumbuh bersama dalam mencari cinta-Nya.

Kemudian kita pun pernah merasakan bagaimana orang memandang kita. Some people understand us, some people don’t, some people support us, some peole judge us. Well, we cant avoid thats, well just go with it. Kita tak perlu menjelaskan kepada setiap orang tentang bagaimana berbagai episode kisah yang pernah kita lalui.

Kita pun sama bukan, terkadang kita bertanya tanya. Kapan waktunya? atau siapa dia ? dia kah yang selama ini berkali kerap kita temui, atau diakah yang mungkin sama sekali belum pernah kita temui, atau bahkan dia yang sempat kita temui sekali saat pagi hari. Dan setalah apa yang telah kita rasa selama ini, pada akhirnya kita belajar untuk tidak bersandar sepenuhnya pada logika, dan tidak juga pada rasa. Ikhlaskan …

Lalu kita pun telah bersepaham, bahwa langkah jiwa  kita tak akan terhenti, saat satu episode hidup belum terpenuhi. Jiwa kita akan tetap bersenyawa, untuk berkarya, ber-asa untuk diri kita, keluarga, semesta. Apapun untuk bermanfaat, untuk menjadi manusia yang menjalankan tugas nya, memenuhi peran nya, mendayakan akal, hati, raga dan jiwa yang telah ia titipkan pada kita, semenjak kita ada di dunia

Kita pun telah bersepakat untuk memenuhi our “true calling” untuk menjadi siapa, dan untuk  berbuat apa. Walau sampai kini kita masih harus berjibaku memenuhi kebutuhan kebutuhan kehidupan dan penghidupan. Tapi berjanjilah bahwa kita akan bersama sama menuruti panggilan jiwa kita, karena barangkali itulah alasan Tuhan menciptakan kita ke dunia. We know it wont be easy, but its worthed, really worthed to fight …

Kita sama sama pernah berairmata, berairmata di sudut sudut cahaya,  kita pernah membuncah bahagia, kita pernah merasa bebas berudara, kita pernah bergelombang, kita pernah merasakan riak yang tenang. Kita pernah meluruh -melepuh, kemudian tertatih bangkit berjalan kembali, bernergi dan menularkan energi.

Ah, di tanggal tiga belas bulan kedepelapan yang telah kesekian kali, yang saat ini, kita tau sebenarnya adalah sebuah misteri, misteri tentang batas usia, yang telah Ia tetapkan, di angka berapa hidup menghadapi penghabisannya.

Hai kamu, kamu yang aku, kamu yang aku. Kita. Mari berdoa …

” Tuhan, tentang usia yang telah berlalu, terimakasih sekali lagi. Bahwa kau izinkan aku ada di jalan-Mu, di dalam agama-Mu, dalam agama satu satu nya yang Kau Ridhai, tak ada yang lebih berharga dari itu.

dan tentang angka usia tersisa, yang entah kau genapkan atau kau ganjilkan, berilah aku akhir yang baik, akhir yang engkau Ridhai, akhir yang penuh kedamaian, akhir yang penuh kebermanfaatan., akhir yang meninggalkan kebaikan.

Kemudian di sisa usia itu berilah aku kelembutan jiwa, ketajaman akal. kebijakan untuk memilih dan menentukan, energi untuk memahami setiap pertanda dan untuk setia melaksanakan tugas yang kau percayakan.

Maafkan atas segala lalai dan khilap, yang sering kusengaja. Segala perintah yang sering abai terlaksana, atas daya diri yang tak tersyukuri, atas waktu yang tak termanfaatkan dengan semestinya. Maafkan atas rasa syukur yang seringkali terlupa, padahal nikmatmu sungguh luar biasa

Dan bila waktu tak banyak tersiasa, lindungi mereka orang orang yang kucinta dan mencintai ku, orang orang yang pernah hadir dalam hidupku, saudara saudara seiman, beri kami akhir yang baik, hingga kelak bisa bersama sama memandang wajah-Mu di sana, dengan bahagia”

 

And now, lets be happy, mari kembali ber energi, karena hidup tidak hanya sekali, kita bersama sama berbekal untuk hidup nanti yang lebih abadi ….

Karena kita tau kita kuat, sekuat macan … !!! hhaaa … #KorbanIklanBiskuat

 

 

Allah Tidak Pernah Membiarkan Kita “Benar Benar” Kekurangan

Seberapa sering kita merasa begitu kekurangan, seberapa sering kita mengeluhkan kesusahan yang kita alami, kekurangan harta, cemas dengan kebutuhan masa depan. Ketika rasa itu menyelisip, kadang kita tak sadar kita telah tidak mempercayai atas pengaturan-Nya.

Padahal bila kita mau dan mampu melihat lebih dalam, kenikmatan yang Allah berikan lebih banyak dari usaha yang kita lakukan. Tak terhitung, kenikmatan kenikmatan dalam keseharian kita, yang  bukan dari usaha kita sebagai manusia, tapi semata mata karena kasih sayang nya, Ar-Rahman.

Kesibukan kita dengan keinginan keinginan material kita, atau dengan ambisi ambisi masa depan, dengan kenyataan, dengan kemampuan kita saat ini. Kita menjadi “meyakini” bahwa hanya usaha yang kita lakukan adalah yang akan menjadikan kita mampu mengejar kekurangan kekurangan itu.

Ini bukan tentang meniscayakan sebuah proses usaha – karena usaha, sebagai sunatullah nya manusia adalah hal yang tetap wajib di lakukan – , namun ini mengenai kepada apa kita menggantungkan hidup kita, apa pada usaha kita, apa pada pemilik alam semesta.

Saya bercermin pada hari hari yang saya jalani, kadang masih terbersit, bagaimana dan jika, bagaimana bisa besok saya tidak bisa memperoleh rizki, bagaimana apabila besok saya tidak bisa membayar ini, membayar itu.

In fact -yang saya rasakan- Allah tidak pernah membiarkan kita benar benar kekurangan, selalu saja dicukupkan, bahkan seringkali dilebihkan, walaupun usaha kita seringkali di luar dari standart.

I mean, apabila standar manusia, apabila ingin angka 10, dan kita mempunyai angka 2, maka 2 itu harus dikalikan 5. Tapi tidak dengan hitung hitungan-Nya, kadang angka 10 di dapatkan saat kita punya 2, dan perlu di kali 5, cukup di kali 3, tapi Allah kasih 10 bukan 6.

Selalu saja Allah memberi lebih, lebih dari yang kita usahakan. Kita nya saja yang kadang terlalu menggantungkan rizki kita, hidup kita, pada usaha usaha kita. Padahal usaha hanyalah sebuah perantara, keputusan dan ketentuan mutlak di tangan Nya.