Selamat Ulang Tahun Untuk Kita

19765170_1948393952095716_7524042254525136896_n

Hei kamu, kamu yang aku, aku yang kamu. Kita …

Selamat tanggal ke tiga belas bulan ke delapan untuk kesekian kalinya. Orang bilang itu adalah ulang tahun, tapi rasanya itu bukan kata kata yang tepat ya. mengulang tahun, rasanya tidak ada tahun yang terulang, tahun yang dimaksud  adalah tahun tahun yang sudah berlalu, dan  hari ini adalah tahun yang baru, di tanggal yang sama ketika kita dilahirkan.

Tanggal tiga belas bulan kedelapan itu, adalah semacam alarm pengingat tentang bahwa kita hidup dalam sebuah ukuran waktu, kenapa harus berukuran waktu ? ya barangkali karena detik per detik itulah yang akan terukur kelak, tentang bagaimana skor akhir hidup kita. Kenapa? Memang hidup itu berukur ya ?  ya .. iyalahh .. lantas, buat apa kita hidup, belajar, bekerja, beramal apabila tidak ada ukuran yang jelas pada hidup kita, bila tak ada ukurang waktu semuanya melayang layang.

Kita sama sama mengerti bukan, waktu ulang tahun bukan waktu terijabah nya doa, maka tak perlu lah meminta doa khusus kepada banyak orang. Tapi kalau ada orang yang mendoakan berarti itu sebuah kebahagiaan, ada doa orang orang yang terucap untuk kita tulus tanpa diminta, yang kebetulan teringatkan dengan tanggal kelahiran kita. Alhamduliilah, karena kita tak pernah tau doa yang mana yang terwujud untuk kita. Waktu seperti ini adalah momentum saja.

Ahh… rupanya kita sudah melewati banyak hal, gembira-kecewa, bersuka-berduka, melemah-meninggi, merapuh-mengenergi, rerupa rasa telah terlampaui. Banyak episode hidup yang kita jalani, ada yang dengan baik telah kita tempuhi, sebagian memang belum berhasil kita raih, di sisi lain banyak kebahagian dan kejutan yang tak terduga kita dapatkan. Hidup memang selalu ada dua sisi ya … 🙂

Lalu, bagaimana dengan hal hal yang belum bisa kita wujudkan, setelah berupa usaha yang kita sama sama telah lakukan, setelah beribu doa yang kita panjatkan ? Hmm.. biarkan lah itu menjadi rahasia nya, tentang kapan terkabulnya doa doa kita, yang harus di pastikan adalah bagaimana kita meneguhkan keyakinan kita, nahwa Ia tak mungkin tak mendengar doa kita, dan ia pasti mengabulkannya, ini hanya tentang waktu saja, tentang cara saja. Semoga jawaban ini bukan jawabaan penghiburan saja ya… hhaaa, ketika kita menunggu dia.

Pasangan sejiwa, adalah dia yang padanya kita merasakan “rumah” yang nyaman, tempat dimana kita ingin selalu berpulang, yang saat bersamanya ada ketenangan rasa, yang padanya kita merasa baik terjaga, yang padanya ada rasa cinta yang nyata, yang padanya kita bebas bercerita apa saja, dari mulai menceritakan sepakbola, buku buku bermakna, dan bagaimana bertumbuh bersama dalam mencari cinta-Nya.

Kemudian kita pun pernah merasakan bagaimana orang memandang kita. Some people understand us, some people don’t, some people support us, some peole judge us. Well, we cant avoid thats, well just go with it. Kita tak perlu menjelaskan kepada setiap orang tentang bagaimana berbagai episode kisah yang pernah kita lalui.

Kita pun sama bukan, terkadang kita bertanya tanya. Kapan waktunya? atau siapa dia ? dia kah yang selama ini berkali kerap kita temui, atau diakah yang mungkin sama sekali belum pernah kita temui, atau bahkan dia yang sempat kita temui sekali saat pagi hari. Dan setalah apa yang telah kita rasa selama ini, pada akhirnya kita belajar untuk tidak bersandar sepenuhnya pada logika, dan tidak juga pada rasa. Ikhlaskan …

Lalu kita pun telah bersepaham, bahwa langkah jiwa  kita tak akan terhenti, saat satu episode hidup belum terpenuhi. Jiwa kita akan tetap bersenyawa, untuk berkarya, ber-asa untuk diri kita, keluarga, semesta. Apapun untuk bermanfaat, untuk menjadi manusia yang menjalankan tugas nya, memenuhi peran nya, mendayakan akal, hati, raga dan jiwa yang telah ia titipkan pada kita, semenjak kita ada di dunia

Kita pun telah bersepakat untuk memenuhi our “true calling” untuk menjadi siapa, dan untuk  berbuat apa. Walau sampai kini kita masih harus berjibaku memenuhi kebutuhan kebutuhan kehidupan dan penghidupan. Tapi berjanjilah bahwa kita akan bersama sama menuruti panggilan jiwa kita, karena barangkali itulah alasan Tuhan menciptakan kita ke dunia. We know it wont be easy, but its worthed, really worthed to fight …

Kita sama sama pernah berairmata, berairmata di sudut sudut cahaya,  kita pernah membuncah bahagia, kita pernah merasa bebas berudara, kita pernah bergelombang, kita pernah merasakan riak yang tenang. Kita pernah meluruh -melepuh, kemudian tertatih bangkit berjalan kembali, bernergi dan menularkan energi.

Ah, di tanggal tiga belas bulan kedepelapan yang telah kesekian kali, yang saat ini, kita tau sebenarnya adalah sebuah misteri, misteri tentang batas usia, yang telah Ia tetapkan, di angka berapa hidup menghadapi penghabisannya.

Hai kamu, kamu yang aku, kamu yang aku. Kita. Mari berdoa …

” Tuhan, tentang usia yang telah berlalu, terimakasih sekali lagi. Bahwa kau izinkan aku ada di jalan-Mu, di dalam agama-Mu, dalam agama satu satu nya yang Kau Ridhai, tak ada yang lebih berharga dari itu.

dan tentang angka usia tersisa, yang entah kau genapkan atau kau ganjilkan, berilah aku akhir yang baik, akhir yang engkau Ridhai, akhir yang penuh kedamaian, akhir yang penuh kebermanfaatan., akhir yang meninggalkan kebaikan.

Kemudian di sisa usia itu berilah aku kelembutan jiwa, ketajaman akal. kebijakan untuk memilih dan menentukan, energi untuk memahami setiap pertanda dan untuk setia melaksanakan tugas yang kau percayakan.

Maafkan atas segala lalai dan khilap, yang sering kusengaja. Segala perintah yang sering abai terlaksana, atas daya diri yang tak tersyukuri, atas waktu yang tak termanfaatkan dengan semestinya. Maafkan atas rasa syukur yang seringkali terlupa, padahal nikmatmu sungguh luar biasa

Dan bila waktu tak banyak tersiasa, lindungi mereka orang orang yang kucinta dan mencintai ku, orang orang yang pernah hadir dalam hidupku, saudara saudara seiman, beri kami akhir yang baik, hingga kelak bisa bersama sama memandang wajah-Mu di sana, dengan bahagia”

 

And now, lets be happy, mari kembali ber energi, karena hidup tidak hanya sekali, kita bersama sama berbekal untuk hidup nanti yang lebih abadi ….

Karena kita tau kita kuat, sekuat macan … !!! hhaaa … #KorbanIklanBiskuat

 

 

Sebuah Pesan Saat Lebaran

Lebaran ini saya pulang kampung, lebih tepatnya pulang kampung dan road show mengunjungi saudara saudara. Sebenarnya rumah saya sudah lama di Bandung, tapi keluarga besar Bapak Almarhum ada di Garut, sedangkan keluarga besar Mamah ada di Pangandaran.

Lebaran kemarin memang sudah di niatkan untuk pulang bertemu saudara saudara besar yang jarang bertemu, akhirnya mudiklah kami bertiga (saya, ibu dan adik) ke Garut dan Pangandaran, juga mengunjungi saudara saudara di Tasik, Ciamis,  Banjar hingga Yogjakarata.

Mamah saya termasuk orang yang senang bersilaturahmi, dan selalu mengajak anak anak nya untuk mau bersilaturahmi berkeliling ke saudara saudara, walau kadang kita sebagai anak males malesan, “ya kalau bukan saudara deket deket amat ya ga usah pikir kami, hhee… ”

Tapi mamah tidak pernah bosan buat ngajak kami ketemu saudara disinilah, saudara disanalah, selain saudara kadang kadang mengajak untuk silaturahmi dengan kawan kawan lama nya juga.

Lebaran tahun ini saya mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga. Waktu itu saya sudah ada di kampung halaman, ada saudara sepupu yang sampai satu hari belum bertemu, karena rumah nya agak berjauhan. Mamah berinisiatif untuk mengunjungi rumah kakak sepupu saya itu, tapi saudara yang lain seakan melarang “ga usah, biar dia yang kesini, kita kan lebih tua, dia yang muda harusnya yang mengunjungi kesini” ujarnya.

Dalam hati saya bilang iya juga ya, harusnya yang muda dong yang mengunjungi yang tua, harus menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Tapi Mamah menjawab kurang lebih seperti ini “Silaturahmi itu ga ada aturannya harus yang muda dulu ke yang tua, atau sebaliknya, yang paling utama adalah orang yang menyambung silaturahmi, yang mau inisatif duluan untuk memulai silaturahmi”

Saya mencoba mencerna jawaban mamah, kemudian saya mencari dalam hadist tentang silaturahmi :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

“Keutamaan Silaturahmi, Silaturahmi itu Menambah Umur, Barangsiapa yang Menyambung Silaturahmi Allah akan Mencintainya, dan Seterusnya” – Hadits 52-62 – Kitab Adabul Mufrad

 

Ah benar rupanya, silaturahmi bukan tentang yang muda atau yang tua, memang akan lebih baik apabila yang muda mengunjungi yang tua. Namun jangan jadikan alasan untuk kita menyambung silaturahmi. Dan apabila kita ingin menjadi orang yang utama di sisi Allah dan Rasul-Nya maka jadilah orang yang pertama menyambung silaturahmi, jadilah orang yang pertama mengunjungi, menyapa, saudara saudara kita, sahabat sahabat kita.

Apabila ingin menjadi hamba yang dicintai Allah, maka sambungkanlah silaturahmi, jadilah orang yang mencintai silaturahmi, jadilah orang yang menyambungkan, mengikatkan dan mengokohkan tali silaturahmi. Semoga kita menjadi orang orang yang dimaksud itu, Aamiin…

Ps : Terimakasih mamah untuk sekali lagi pesan kehidupannya

 

13731578_10154220314203260_2707993067521175321_n

Dia pasti kembali

Hai … selamat malam alam raya. Sudah lama saya ingin menulis ini, menulis tentang sebuah hubungan, yaks.. dalam bahasa inggris nya about a relationship. Hubungan dengan siapa ? dengan siapa aja sih sebenernya, namun saat ini saya ingin membahas hubungan sebuah persahabatan.

Pernah ngalamin berantem ama sahabat? atau sahabat kamu tiba tiba marah marah ama kamu? atau salah faham yang bikin salah satu dari kalian jadi marah yang berkepanjangan? mostly pernah yaa….saya pernah mengalaminya. Sebuah peristiwa yang bisa disebut membuat hubungan saya dengan sahabat bisa dikatakan sangat tidak baik, dan membuat saya bener bener sangat sedih.

Satu peristiwa yang cukup membekas dalam ingatan saya, atau bisa jadi dalam hidup saya kedepan,adalah sebuah peristiwa antara saya dan salah seorang saya. Kami begitu dekat, walaupun jarak usia lumayan jauh, beliau lebih tua dari saya, sepertinya beliau sudah sangat percaya dengan saya, dia sangat terbuka dengan saya dan segalanya dia ceritakan pada saya, saya pun demikian, dan berusaha untuk bisa menjaga kepercayaannya.

Hingga suatu saat ada sebuah peristiwa, dimana ada kesalah fahaman atau bisa dibilang saya di “fitnah” oleh salah satu anggota keluarga dekatnya, yang mengatakan saya inilah saya itulah. Hingga sahabat saya ini marah besar kepada saya, marah yang sangattttt besar, hingga keluar kata kata sangat kasar dari dia, dan menyebut saya pengkhianat dan tidak tau berterimakasih dsb.

Sakit hati ? Pasti. Sangat sakit, pertama karena saya merasa tidak melakukannya, dan bukan seperti itu kisah yang sebenarnya. Kedua, karena saya sudah banyak berkorban buat sahabat saya itu, sisi emosi saya bercampur antara sakit hati,marah, kesal juga sedih.

Saya sudah mencoba menjelaskan kepada sahabat saya itu tentang cerita dari versi saya, namun  dia tidak mau mendengar, entah mungkin karena suara dari sana lebih keras terdengar, ditambah lagi mungkin karena suara dari sana adalah dari keluarga dekatnya sendiri, hingga sahabat saya lebih percaya kepada saudaranya ketimbang kepada saya.

Berkali kali saya minta waktu untuk menjelaskan, saya minta bertemu langsung, tapi dia menolak, malah terus mengeluarkan kata kata kasar via sms, berkali kali, dan saya coba membalas untuk menjelaskan, tapi sia sia, ia terus mengaggap saya salah.Sungguh awalnya saya tidak terima, dan saya bersikeras untuk menjelaskan bahwa tidak seperti itu ceritanya, namun ketika saya bersikeras juga, semua menjadi tambah buruk.

Hingga akhirnya  saya tiba di suatu titik, titik dimana saya “ngotot” untuk membuktikan saya tidak bersalah, membuktikan bahwa apa yang di katakan saudaranya tentang saya adalah tidak benar. Dan saya pun mengirim sms terakhir yang kurang lebih isinya seperti ini “Pada akhirnya waktu yang akan membuktikan apa yang benar, apa yang salah. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan suatu saat Ia akan menampakannya” dan dari saat itu hubungan kami terputus, tidak ada komunikasi lagi, dalam waktu yang cukup lama. Dan saya pasrahkan kepada Allah, apa yangs sudah, sedang dan akan terjadi, Ia yang mengetahui kebenaran, Ia yang mengetahui isi hati, dan Ia yang akan mengatur segalanya, saya pasrah, itu saja.

Dalam doa saya saya meminta begini pada Allah, saat saya merasa sedih atau sakit hati mengingat peristiwa itu “Ya Allah,sungguh Engkau mengetahui apa yang terjadi. bila hubungan persahabatan saya dengan dia mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat maka dekatkanlah, apabila tidak maka engkau lah yang Maha memisahkan”

Hingga suatu hati, setelah waktu yang cukup lama, tiba tiba dia menghubungi saya, memang tidak untuk meminta maaf atau untuk mengungkit kembali persoalan yang telah lalu, tapi dia datang untuk menyapa, entah, tiba tiba Allah mengatur lagi, pertemuan saya dengan dia, dan kemudian hubungan kami mengalir begitu saja, mulai dekat lagi, dan saat ini hubungan kami jauh lebih dekat malah, kami banyak melakukan kegiatan sosial bersama, saling sharing kehidupan masing masing, dsb, tanpa pernah lagi membahas masa lalu, mengungkit apa yang salah, apa yang benar, seperti mengalir begitu saja.

Peristiwa ini mengantarkan saya  pada semacam kesimpulan, pertama bahwa ada saat kita tidak mengerti tentang peristiwa yang datang kepada kita, entah baik entah buruk, ketika kita tidak mengerti, kita hanya perlu menerimanya, ada rencana-Nya yang hebat, yang kadang tidak bisa kita cerna sekarang, yang akan kita fahami setelah jauh dari peristiwa itu.

Kedua bahwa ketika kita tau kita tidak bersalah, kewajiban kita tetap menjelaskan semampu kita, kalau dalam bahasa anak anak mesjid Tabayyun hhee.. setelah kita berusaha maksimal untuk menjelaskan, kemudian pasrahkan. Karena hati kita, hati dia, absolutly dalam genggaman-Nya. Biar Allah yang mengatur kemana bergeraknya.

Ketiga, ketika Allah berkehendak ada kebaikan dalam sebuah persahabatan, maka percayalah maka Ia yang akan menyatukan hati hati kita, yang perlu kita lakukan adalah berdoa agar persahabatan yang kita jalani ada dalam keridaan-Nya dan janga lupa untuk didekatkan dengan sahabat sahabat yang bisa membawa kebaikan dan kebermanfaatan tak hanya di dunia, tapi juga untuk kelak di akhirat.

Percayalah, ketika kau tau kebenarannya #DiaPastiKembali

rare-animal-friendship-gray-wolf-brown-bear-lassi-rautiainen-finland-thumb

Sumber Gambar : Disini

Persahabatan yang sesungguhnya adalah, persahabatan yang bisa membuatmu lebih Taqwa kepada-Nya

 

 

 

Akhirnya Nonton “My Stupid Boss”

Setelah “teracuni” oleh novel mini “My Stupid Boss” beberapa tahun lalu, akhirnya di luar perkiraan, novel ini akhirnya di buat film nya juga. Pertama liat iklan nya langsung pengen nonton, sambil harap harap cemas, apakah film nya bisa sekocak novel nya. Agak males juga kalo film nya nanggung dan garing.

Eh terus di satu pagi, tiba tiba mamah bilang gini : “teh, nonton my stupid boss yu, jigana rame“, hii..hii… tumben mamah tiba tiba ngajak nonton, bisanya kalo nonton harus diajak dan dikasih gambaran film nya tentang apa. Mungkin karena di tivi, liat testimoni pa Habibie yang bilang film ini rame.

Akhirnya malem itu, saya-adik-mamah, nonton film “My Stupid Boss”. Kesan pertama yang di dapet adalah pemilihan warna, layout, atau mungkin bahasa bener nya cinematography nya asik banget, bikin betah mata, ga berlebihan pake efek efek cahaya, tapi lebih ke tataletak sama warna yang enekeun pisan…

Nah, lanjut ke plot cerita dan tokohnya. Karena sudah baca bukunya berulang ulang, makanya langsung “membandingkan” tokoh dalam imajinasi saya dengan yang di perankan di film. Tokoh BossMan yang diperankan Reza, dalam bayangan saya lebih tua dan lebih om om. Terus peran kerani yang diperankan BCL dalam imajinasi saya lebih Judes.

Nah..walau secara fisik ga terlalu memuaskan, tapi secara akting tokoh tokohnya, menurutku ini kereennnn, apalagi Reza Rahardian, yang beneran bisa banget jadi tokoh yang rese dan nyebelin.Juara dehh…

BCL nya juga oke, bisa mengimbangi, “rasa” sebel nya dan “gemes” ke bossman kerasa ke kita sebagai penonton. Peran yang lain yg  mewarnai adalah peran para anggota genk kantor, kaya mr kho, noorasikin, dsb, lucu dahh..

 

Secarakeseluruhan, film komedi ini recomended untuk di tonton, yaa.. buat kalian kalian yang sedang mumet dan butuh ketawa awet dari awal sampe akhir tapi ga berlebihan, tonton deh film ini…