Akan Kuceritakan Kelak Pada Mereka

Akan kuceritakan kelak, pada anak, cucu, pada generasi masa depan bangsa ini, bangsa Indonesia. Bahwa ada satu masa, ibu kota negara Indonesia di datangi oleh berjuta manusia dari seluruh arah mata angin negri ini.

Meraka datang untuk berdoa, berdoa bersama dalam ikatan, karena ketika doa dilakukan bersama akan mengkalikan kekuatannnya, mereka datang karena cinta kepada pedoman hidup mereka, Al Quran.

Kelak, akan kuceritakan bagaimana mereka berduyun duyun datang mengerahkan apa saja yang mereka punya, mengorbankan harta, mengorbankan waktu, mengobarkan tenaga, mengorbankan raga, untuk sesuatu hal yang mereka cinta, Agama.

Mereka yang teratur dalam barisan, setia dalam barisan, duduk, khusyuk mendengarkan para pemimpin mereka, khusyuk berdoa.Hujan gerimis adalah kesejukan bagi mereka, bahkan hingga hujan deras pun, tidak seorang pun dari mereka yang berebut mencari tempat berteduh, mereka setia, setia dalam barisan, setia dalam ikatan, setia dalam keimanan.

Disana, ada sebuah suasana yang sulit dijelaskan, suasana yang mungkin baru kali ini juga di temukan, suasana yang sampai saat ini belum bisa ditemukan padanan kata yang tepat. Disana mereka saling menyapa, saling bertemu dengan dengan wajah berseri seri, meraka yang padanya akan kau dapatkan rasa damai.

Suasana saat itu adalah suasana yang sangat mahal, tak bisa di konversikan dalam nilai mata uang, atau hal hal duniawi semacamnya. Suasana yang akan sangat dalam tertinggal dalam jiwa dan akal setiap orang, suasana yang aku ingin selalu mengingatnnya, bhkan pada mereka yang tidak ada di tempat itu.

Dan dalam barisan mereka, aku lah salah satunya, dan perasaan yang ada bukanlah sekedar rasa bangga, lebih dari sekedar bahagia, entah apa, hanya ada perasaan yang penuh …

Adalah 02 Desember 2016, adalah salah satu masa yang terbaik dalam hidup, terimakasih ya Allah untuk kau izinkan aku menjadi bagian dari nya

***

 

Advertisements

[ Keping 2 ] Namlea, Dimana Semua Berlabuh

 

img_1639Namlea, ada kesan tersendiri ketika mendengar nama dari pelabuhan pulau Buru ini. Namlea adalah pelabuhan yang menajadi pusat transportasi para warga yang akan masuk dan keluar pulau Buru, menuju Ambon atau Maluku.

Saat tiba di pelabuhan ini, kebetulan ada kapal yang baru saja merapat untuk kemudian menunggu penumpang yang hendak naik untuk keberangkatan selanjutnya, hingga Namlea saat itu riuh ramai.

Kami begitu menikmati suasana saat itu : pelabuhan, orang orang, dan semilir angin laut, suasana yang tidak bisa kami nikmati di kota kami, Bandung. Mengamati orang orang yang hilir mudik dengan berbagai urusannya barangkali, ada yang pergi dan pulang untuk pekerjaan, sekolah, urusan keluarga dan berdagang.

Sesekali kami mencoba tersenyum dengan mereka ketika berpapasan, dan membuka beberapa obrolan. Seperti dengan salah satu Ibu yang sedang berjualan minuman dan makanan ringan di pinggir jalanan pelabuhan, yang ternyata Beliau berasal dari pulau Jawa, dan telah lama merantau di pulau Buru ini.

Bercerita tentang kisah nya hidup di perantauan, dan bagaimana ia selalu saja merindukan kampung halamannya. Ahh… saya selalu kagum dengan mereka yang mempunyai jiwa jiwa perantau, yang mau melangkah jauh dengan keluarga, meninggalkan kenyamanan, menjelajah dunia baru, budaya baru yang berbeda dengan rumah mereka, yang berani melangkahkan kaki untuk esok hari, untuk masa depan.

Menikmati Namlea di sore hari, dengan harum semilir angin laut yang teduh, perjalanan yang menambah lapis lapis kesyukuran. Kebaikan-Nya mengantarkan ku jauh ke daratan ini, daratan yang beribu ribu mil jauhnya dari rumah. Karena Kehendak-Nya bertemu dengan mereka yang memilki keberanian ditengah keterbatasan.

Bersambung …..

Keping 1 DISINI

Awan

Sesaat gumpalan putih itu menghampiri dalam rupanya yang sangat cantik, ia mendekat dan kami tercekat

 

Fn : Memori saat mengelilingi Indonesia, Tahun 2012 menggunakan kapal KRI Banda Aceh 593