Tentang Do’a …

_Instagram Post

Ada masa masa di waktu yang lalu, saya menjadi orang yang “Lelah Berdoa” (Astagfirullah, maafkan hamba ya Allah…)

Rasa rasanya segala amalan jenis do’a sudah di panjatkan, segala jenis dzikir dan amalan sunnah yang orang sarankan. Namun kenapa do’a tersebut tidak kunjung dikabulkan

Hingga terbersit :
Kemanakah do’a do’a itu pergi
Adalah DIA benar2 mendengar
Apa dosa yang kulakukan, hingga do’a ini tak kunjung dikabulkan…

Hingga di suatu waktu, saya berulang ulang selalu mendengar tentang makna sesungguhnya dari do’a

Bahwa do’a bukan perkara dikabul atau tidaknya permintaan kita
Bahwa do’a bukan perkara kapan kah waktunya, apakah nanti atau segera

Namun do’a adalah seberapa erat kita bergantung kepada-Nya

Namun do’a adalah seberapa kita mempercayai-Nya sebagai tempat kita meminta, sebagai tempat bercerita, mengadu, berkeluh kesah

Namun do’a adalah seberapa besar ketergantungan kita kepadanya

Namun do’a adalah seberapa sering kita menyeru, menatap, dan bersandar kepada-Nya

Terlepas bagaimana, kapan, dimana dan bagaimana caranya Ia menjawab dan mengabulkan do’a do’a kita itu bukan jadi hal yang utama dan satu satunya

Mengkokohkan bahwa IA adalah Tuhan, dan kita adalah hamba

Yang kepada-Nya lah kita menyandarkan segala kebutuhan, harapan, keinginan, itulah yang paling utama

Seperti Abu Bakar yang pernah berkata :

“Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah do’aku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdo’a.” 😭

Benar, adanya. Yang paling berbahaya adalah ketika kita berhenti berdo’a. Yang berarti kita berhenti bersandar pada-Nya, berhenti percaya bahwa IA adalah Tuhan yang Maha Mendengar, Maha Mengurus hidup kita

Yang terpenting dari do’a adalah tentang bagaimana kita selalu tersambung, terhubung, terikat erat dan bergantung kepada-Nya. Hanya DIA

Mencari Diri Yang Hilang …

Ocean Adventure Instagram Post (1)

Ramadhan yang sunyi
Ya, barangkali seharusnya Ramadhan seperti ini, sunyi
.
Agar kita bisa lebih dalam menyelami diri
Menemukan kembali kepingan kepingan diri kita barangkali tangah tenggelam
Tenggelam karena melangitnya obsesi
.
Agar kita bisa mengasingkan diri
Dari bisingnya suara dunia
Yang tak pernah berhenti
Menawarkan kita dengan berupa impian & angan indahnya
.
Agar kita bisa lebih mencermin diri
Adakah bagian diri kita yang memudar & samar
Tergerus oleh nafsu yang selalu menggerogoti
.
Bisa jadi kita merasa sedang terbang,
Padahal kita sedang tenggelam .
Bisa jadi kira merasa sedang di awan,
Padahal jiwa kita sedang menghilang
.
Jangan, jangan sampai..

Tentang Beban

Ocean Adventure Instagram Post

Pernah kah merasa seperti ini ?

Kadang kala kita mengeluh walau tak terucap, keluhan yang mengendap dalam jiwa, tentang terasa beratnya amanah yang sedang dipikul, hingga terasa sebagai sebuah kewajiban bahkan beban yang berat.

Alih alih mengerjakannya, kita sibuk pada pikiran dan perasaan tentang berapa berat beban tersebut kita tanggung tersebut. Hingga menjadi takut untuk bergerak, cemas dan membayangkan apa yang akan terjadi esok, dsb

Dan kemudian disaat saya sedang bergumul dengan perasaan ini, Allah mengantarkan saya untuk mendengarkan sebuah kajian

Dalam kajian tersebut, Saya mendengar pernyataan seorang pemimpin besar, yang saat ini sedang memegang amanah yang tidak kecil, yang tidak mudah, amanah yang menurut saya sangat besar dengan segala konsekuensinya
.
Saat beliau ditanya tentang bagaimana ia menyikapi amanah yang begitu besar ini…

Beliau menjawab kurang lebih seperti ini : ” Sebenarnya bukan tentang besar kecil kecilnya amanah, yang membuat kita berat menanggungnya. Namun semua terletak pada Ridha Allah “

Bila Allah Ridha kepada kita, maka yang besar pun akan terasa ringan. Namun bila tidak ada Ridha Allah, maka yang kecil pun akan terasa berat …”

” Maka, bukan tentang besar atau kecil nya amanah, namun tentang Ridha Allah kepada kita, jadi apakah Allah Ridha atau tidak pada kita disitulah kuncinya …” Begitu lanjutnya

Masya Allah, apa yang beliau sampaikan saat itu sungguh menyadarkan Saya, tentang bagaimana kita menghadapi sebuah amanah yang seringkali kita anggap sebagai beban. Beban yang rasanya terlampau besar , sehingga kita nilai berat bagi kita rasanya untuk menanggungnya …

Kita menjadi lupa, bahwa kita Punya Allah… Yang akan menolong kita, yang akan menguatkan kita, yang akan menunjukan jalan kepada kita, selama yang kita kerjakan adalah kebenaran & kebaikan

Maka, apabila Kita diberikan amanah, baik besar ataupun kecil. Pertama & utama mintalah Ridhanya, mintalah Ridhanya, mintalah Ridhanya..

Agar ringan terasa
Agar lapang jalan Kita
Agar tentram jiwa Kita menjalaninya

Bismillah …..

Terimakasih Ramadhan

So, this is it … Berpisah kita disini rupanya. Banyak yang aku rasakan selama sebulan kebersamaan. Rasanya sangat banyak yang ingin kuungkapkan

Terimakasih untuk suasana syahdu yang kau persembahkan

Terimakasih telah membersamai dalam riuh dan diam

Terimakasih untuk membuatku mau tegak terjaga dalam malam malam, rela terlarut hanyut dalam ayat ayat suci Nya

Terimakasih telah membantuku lebih memaknai sabar dan kesyukuran

Terimaksih telah membantuku, berpikir dan menjiwa dalam dalam

Terimakasih telah membantuku lebih mengerti tentang penerimaan

Terimakasih telah membantuku yakin atas doa doa dan harapan

Terimaksih telah membantuku, meyakini kemana arah jalan kehidupan

Terimakasih telah membantuku, lebih dekat , mengenal, dan menginternalisasi akan Ke Maha Besaran-Nya. Bahwa pada-Nya lah kehidupan ini semua akan bermuara. Ini yang utama

Ya, DIA. Pencipta kau juga aku

Ramadhan,
Walau aku sadar, kau masih banyak ku sia siakan. Masih terperangkap dalam kemalasan dan kelalaian, melakukan banyak pembenaraan

Ramadhan,
Terimakasih yaa, sebulan ini adalah saat yang sangat berharga. Klise barangkali. Tapi kuharap, bisa berjumpa dengan mu di kemudian hari

Dan di hari perjumpaan itu, aku ingin kau melihatku menjadi manusia yang jauh lebih Taqwa di hadapan Pencipta Kita, ALLAH Azza Wa Zalla, dan siap kembali menerima “tempaan” mu di waktu selanjutnya

Ramadhan, sekali lagi terimakasih yaa… See you, when I see you

~Setelah Ramadhan

.e4f537ba-3a62-4346-b755-443851b932e8

Hei, sudah lebih dari sepekan Ramadhan berlalu… Apakah kau benar benar merasakan getar rindu ? Atau sebatas ucap semu
.
Sudah lebih dari sepekan ia berjauhan dengan mu. Adakah jejak yang ia tinggalkan pada jiwamu ? Atau ia bagimu, hanya waktu waktu yang begitu saja berlalu
.
Sudah lebih dari sepekan ia berpisah dengan mu. Adakah ia membekali mu sesuatu?
.
Adakah ia membekali mu nalar benderang, jiwa yang penuh, ketakwaan dan keikhlasan yang utuh
.
Masih kah ada shalat di malam malam mu? Masih adakah lantunan ayat suci terdengar di rumah mu ? Masihkah tangan mu terulur untuk mereka yang tak berdaya? Seperti saat ia masih membersamaimu
.
Semoga rasamu bukan hanya tentang rindu. Karena rindu saja tak cukup. Karena rindu berarti jarak, atau suasana yang berjauhan
.
Bawalah Ramadhan dalam jiwamu, fikirmu, lakumu. Karena ia sebenarnya tak kemana mana, ia ada dalam jiwa, selama kau mengsungguhinya dan menyimpan jejaknya agar menjadi Takwa
.
~SebuahMonolog

Ramadhan Ke 11. (Sebuah Monolog Hati Dan Akal)

Ramadhan ke 11 .

Apa yang kau rasa ? Sudahkah kau puas beribadah. Puas menikmati waktu waktu yang begitu berharga, atau kau sia begitu saja…

 

Ramadhan ke 11.

Sudahkah hatimu penuh terisi ? dengan keyakinan yang utuh, dengan harapan yang penuh ….

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau bersungguh ? bersungguh mendekat pada-Nya, menghamba ampunan, menyatakan kesyukuran , mengungkapkan kehendak hati dan fikiran…

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau mencerna makna yang ada di tiap detiknya, atau kau masih biasa biasa saja, tak ada rasa yang istimewa …

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau menemu sebuah tujuan, tujuan kenapa kau bisa bernafas, kenapa kau mampu berjalan, tujuan kenapa kau diciptakan, tujuan kenapa kau dihendaki ada …

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau di sebuah titik temu, bahwa kau ditakdirkan terlahir, membawa sebuah tugas mulia, yang khusus, yang spesifik, sudahkah kau menemunya …

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau mengsungguhi dirimu untuk menjadi manusia yang dikehendaki-Nya, manusia yang mulia yang sesuai dengan standart-Nya….

 

Bandung,

Di 11 hari yang sudah terlalui.

Masih ada waktu,

Mari diri, kita terus mencari, menggali dan menyadari …