Me”Ratting” diri

Pernahkah kita secara sadar atau tidak sadar melakukan ratting kepada diri sendiri? ya, melakukan penilaian pada diri kita sendiri, di berbagai aspek, pekerjaan, kesehatan, rumah tangga, keuangan bahkan ratting kadar keimanan.

Apa salah kita melakukan rating kepada diri kita sendiri ? In My Humble Opinion, hal ini tidak salah, karena menjadi tolak ukur apakah dari masa ke masa apakah kita mengalami peningkatan -tentunya ke arah kebaikan- apa tidak. Justru hal ini penting untuk menjadi tolaj ukur, apakah kita menjadi manusia yang beruntung,karena masa ini lebih baik dari masa sebelumnya  atau justru  menjadi manusia yang merugi, yang masa ini tak lebih baik dari masa kemarin.

Yang kadang terjadi adalah, kita -termasuk saya- me ratting diri atas orang lain, entah teman kita, saudara, atau rekan kerja. Merasa diri lebih baik, lebih berprestasi, lebih mulia dari orang lain yang di hadapan kita. Tak hanya me ratting diri sendiri, juga melakukan “pe rating an” kepada orang lain, atas hal yang sebenarnya semu dan sementara.

Atau bahkan kita sibuk “menunjukan” bahwa grade kita diatas dari mereka, dengan banyak hal, dengan gaya bicara, dengan pembawaan, dengan barang barang yang melekat pada diri kita. Kita sibuk “menampakan” apa apa keberhasilan yang telah kita raih, kepada mereka yang kita anggap rate nya di bawah kita. Hanya untuk menunjukan dalam maksud  samar sebuah kalimat “Hei..look at me, i’m better than you” atau hanya ingin semacam mengungkapkan ” My level above you”

Atau barangkali tidak bermaksud untuk merememhkan teman atau saudara kita, tapi masih terselip keinginan untuk “dilihat” bahwa kehidupan yang kita jalani sekarang sangat hebat dengan segala pencapaian dan perubahan yang kita alami

Ah… padahal semua prestasi dan keberhasilan yang kita miliki,adalah mutlak karena Kebaikan-Nya, karena Persetujuan-Nya. Tak ada hak kita untuk me-ratting diri kita kepada orang lain.

Fn : Tulisan random, tentang perasaan hari ini, semoga bisa menjadi cerminan diri, untuk membersihkan segala penyakit hati

 

 

Ketentraman

Ketentraman adalah ketika diri menerima apa yang telah dicatatkan, ketika diri yakin bahwa apa saja yang datang pada kita, terjadi untuk sebuah alasan -walau kita belum bisa melihat nya sekarang-, tentram adalah ketika kita tidak terlalu khawatir dengan masa lalu, dan tidak terlalu cemas dengan masa depan, tentram adalah saat apa pun yang terjadi, kita bisa selalu get conneted with HIM, ini lebih dari cukup.

 

wpid-img_20151105_221144

See It Farther, When Closser Fading You

hh-e1374770550639

 

Terkadang kita butuh menjauh dari sesuatu terlebih dahulu, dari seseorang, dari sebuah situasi, dari sebuah kondisi, dari sebuah posisi, dari apa yang sedang kita alami. Agar kita bisa lebih melihatnya lebih jelas, lebih objektif, lebih terang, lebih menyeluruh.Karena ketika segala sesuatunya begitu terlihat di depan mata, apapn itu akan menjadi blur, menjadi abstrak, kau bahkan tak tau seperti apa sesungguhnya yang terjadi

Mungkin akan ada sebuah jeda yang diperlukan, menghentikan langkah sejenak, menarik nafas dan menghempaskannya sebebas bebasnya, melonggarkan ikat pinggang, melepaskan beban beban yang di bawa di pundak, membuka alas kaki, membiarkannya menyentuh rumput rumput basah, membiarkannya merasakan tanah yang lembab karena hujan, membiarkan seluruh badan merebah di bawah, membiarkan mata tertuju tepat keatas, menyaksikan arak arakan awan, mendengarkan aliran aliran air, dan nyanyian burung di pohon sana, membiarkannya, melepaskannya.

Karena kadang sebuah jeda adalah kekuatan, kekuatan untuk kembali melangkah, lebih kuat, lebih tegap, lebih penuh, lebih jauh.

Interlude …….