Satu Satu

Sudah lama rasanya saya tidak menulis disini. Padahal banyak rasa, kata, cerita yang terkumpul di kepala.

Sebelumnya saya sering menargetkan diri untuk bisa melakukan ini itu -termasuk menulis disini-, namun memang satu atau lain hal, akhirnya beberapa target itu tidak atau belum tercapai

Saat suatu target tidak tercapai, semacam ada rasa kecewa pada diri sendiri ; “Ko kamu ga bisa sih? harusnya kan …” kurang lebih begitulah monolog dalam diri, yang terjadi bukan sekali dua kali.

Lalu saya mulai mengevaluasi diri, kenapa sih saya tidak bisa memenuhi target target tersebut …

Awalnya saya mengira ini bukan manajemen waktu, tentang kemalasan atau kebiasaan menunda, yang mungkin ada dalam diri saya. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa ini bukan tentang hal hal tersebut, namun tentang prioritas tujuan yang harus dijalani satu satu

Belum lama ini, saya termasuk orang yang cukup kuat dalam berkeinginan untuk bisa melakukan beberapa urusan, target dan urusan -terutama yang melibatkan pekerjaan fikiran- dalam satu waktu. Ada kondisi saya “menuntut” diri untuk harus bisa pagi kerjakan A, kerjakan B, sore-malam urus C. Dalam satu hari semuanya harus sempurana terkerjakan. In that time ; i feel that i push my self to much

Seiring usia, pengalaman dan pendewasaan hidup #tsaahhhhh … akhirnya saya mulai di fase, bahwa ada saatnya kita tidak bisa menjalankan banyak hal. Atau tepatnya, ada saatnya kita memilih untuk tidak menjalankan beberapa hal sekaligus

Satu satu ….

Saya termasuk orang yang mudah berpindah pindah dalam fikiran. Ide, gagasan, loncatan fikiran sering membuncah buncah dalam otak saya, dan itu terjadi secara alami saja. Dan saat itu, seringkali saya cukup reaktif dalam meresponnya, tiba tiba ide yang muncul tersebut ingin segera dilakukan, gemes pengennya segera di eksekusi, dan diri ini merasa mampu untuk sekaligus mengekesusinya.

Sebenarnya hal itu adalah anugrah, dilimpahi kemudahan ide, gagasan, dan banyaknya cita cita. Tugas saya selanjutnya adalah bagaimana saya menata prioritas, fokus dan langkah untuk mengelolanya.

Dulu “ambisi diri” mengatakan bahwa saya mampu ko melakukan banyak keinginan tersebut sekaligus. Namun, pengalaman dan pendewasaan diri akhirnya mengajak saya untuk bijak untuk melakukannya satu-satu, sabar, dan terencana

Dulu ambisi diri tersebut, seringkali membuat fikiran saya mudah lelah, karena fikiran di paksa berpindah dari urusan satu ke urusan lain. Belum lagi, perasaan bersalah dan menyalahkan diri ketika target target tersebut tidak tercapai

Sekarang saya belajar untuk lebih “kalem” aja menjalani hidup, selama kita tahu tujuan akhir kita kemana, kita yakin apa yang sedang dijalankan sekarang adalah jalan kebaikan, kita tidak sedang bermalas malasan, dan kita menjalaninya dengan terencana dan penuh kesungguhan

Satu satu ….

Semua ada saatnya, tak perlu semua dilakukan saat ini, tabung rapih cita, semua ada waktunya

Advertisement

Perlukah Mengetahui Banyak Hal ?

Banyak yang beranggapan bahwa kita perlu mengetahui banyak hal. Namun yang saya sadari saaat ini bahwa terkadang terlalu banyak tahu, membuat kita menjadi kontra produktif.

Di zaman yang dimana akses informasi begitu deras tiada henti masuk kedalam diri kita, baik sadar ataupun tidak sadar, baik disengaja atau tidak disengaja. Mata dan telinga kita serasa di bombardir dengan berbagai informasi, berita, atau apapun itu. Sebagian barangkali kita butuhkan, namun seringkali informasi atau berita tersebut tidak sama sekali kita butuhkan.

Tapi anehnya apa yang tidak kita butuhkan itu, adalah apa yang kita “senang” untuk mencari berulang ulang, misalnya terlalu banyak mengetahui berita,  terlalu banyak scrolling feed medsos, terlalu banyak memantau status teman, konten konten gosip,  terlalu banyak mengetahui apa yang dilakukan orang lain, bagaimana hidup mereka, bagaimana pencapaian mereka, dsb …

Atau barangkali kita terlalu banyak percakapan dengan yang tidak ada tujuannya, hanya membahas perkara ini itu, peristiwa acak yang seringkali tidak ada hubunganya dengan karya karya kita. Percakapan yang tidak membawa banyak manfaat, bahkan sebenarnya membawa mudharat.

Ini bukan hanya tentang waktu yang terbuang, namun tentang bagaimana berbagai informasi tersebut banyak mengkonsumsi otak kita. Infomasi yang terlalu banyak, acak dan tak beraturan itu tanpa disadari banyak memapar, menyedot, mengambil porsi dan ruang kapasitas otak kita.

Otak kita mempunyai kapasitas untuk memikirkan sesuatu. Apabila otak kita dipenuhi  hanya dengan informasi dan pembahasan yang telalu banyak, acak, dan tak beraturan maka otak kita tidak mempunyai “tenaga” lagi untuk memikirkan fokus atas hal hal yang lebih dalam , lebih berkualitas dan lebih jangka panjang.

Terlalu banyak tahu ini pun tidak hanya tentang informasi yang ada di media sosial, kadang berupa pengetahuan yang “terlalu banyak” kita konsumsi. Hingga fokus kita kadang kepada mengumpulkan informasi, bukan menjalankan apa yang harus kita kerjakan.

Istilahnya ilmu bulan kemarin belum di praktekan, atau belum kita bagikan kembali, kita sudah menumpuk “otak” kita dengan ilmu lainnya. Hingga kita kadang bingung ; “Mana dulu nihh yang mau dikerjain …” hhee ada yang pernah ngalamin ?

Atau kabar tentang apa pencapaian saudara, teman atau lingkungan sekitar. Terlalu banyak tahu kabar tentang orang lain, kadang juga tidak sehat. Karena kemudian kita menjadi terlalu memikirkan hidup orang lain, atau kita menjadi tenggelam dalam membanding bandingkan hidup kita dengan mereka.

Dalam kadarnya “Mengetahui Banyak Hal” atau mempunyai pengetahuan yang luas, bisa jadi baik, bisa menjadi sumberi inspirasi dan  menjadi sumber kebermanfaatan. Namun apa bila sudah berlebihan atau malah yang  kita tahu  tersebut adalah hal yang sifatnya hanya “Sampah” maka itu bisa jadi bomerang bagi diri kita.

Alih alih mencari energi atau agar lebih termotivasi ketika mengetahui  banyak hal atau melihat pencapaian dan kehidupan orang lain, yang kita dapatkan adalah demotivasi dan akhirnya menjadi kontraprodukif.

Sekali lagi, kapasitas otak kita bisa “tidak terbatas” dalam menerima paparan informasi, namun otak kita mempunyai batasan dalam memikirkan sesuatu lebih dalam, lebih fokus, dan lebih bertujuan.

Informasi yang cukup, apabila kita mampu untuk mengelolanya, maka akan membawa efek yang baik untuk diri kita. Maka berhati hatilah atas  ilmu, pengetahuan, infromasi yang dikonsumsi, karena tidak semuanya bermanfaat  atau malah bisa jadi merugikan diri kita.

Berfokus untuk memperdalam ilmu yang kita butuhkan, pada tugas, kewajiban, peran dan panggilan hidup kita. Selektif adalah hal yang harus kita lakukan, salah satu nya tentang apa yang perlu diketahui dan apa yang tidak perlu diketahui. 

Beranilah untuk tegas pada diri kita untuk tegas berkata pada diri : NO atau STOP, ketika sesuatu yang tidak banyak membawa manfaat pada diri kita, atau bahkan membawa mudzarat kepada diri kita.

Tidak mudah memang, namun disitulah letak perjuangannya, agar kita mampu menjadi manusia yang produktif, berdaya dan bermanfaat

Yes its true :

Sometimes its better to KNOW LESS then we can DO MORE

 

#SebuahNasihatUntukDiriSendiri