Pelari Tipe Apakah Kita ?

Dalam menjalankan sesuatu kita perlu mengetahui sifat, karakter dan kepribadian diri, agar kita bisa mengetahui bagaimana langkah yang akan diambil agar tujuan yang dicita citakan bisa menjadi kenyataan

Dalam mewujudkan impian & cita cita itu seperti sedang manjalankan lomba lari. Kita harus mengetahui terlebih dahulu siapakah diri kita, apakah kita tipe pelari sprint, pelari jangka pendek, pelari jangka panjang atau pelari estafet, karena rupanya setiap jenis nya mempunyai karakter yang berbeda

Bahkan setelah kita mengetahui diri kita, kita pun perlu mengetahui jenis bisnis/organisasi yang akan kita bangun, apakah bisnis yang akan dilakukan dalam jangka pendek saja, dalam suatu priodik tertentu, project berjangka, atau kita sedang membangun bisnis/organisasi yang berjangka panjang, karena tentunya akan berbeda dalam membangun dan mengelolanya.

Saya senang menganalogikan bisnis dengan lomba lari. Misalnya pelari sprint dan jarak pendek, mereka akan lari sekencang kencangnya untuk mencapai garis finish, mengeluarkan segala tenaga nya dalam waktu yang relatif singkat, karena jarak yang ditempuh nya pun pendek, berkisar 100 meter saja. Maka dalam jangka waktu itu, ia akan mengerahkan tenaga dan staminanya sekaligus hingga mencapai garis finish

Pelari model sprint ini, sama halnya dengan bisnis yang memang diniatkan untuk jangka pendek saja, misalnya bisnis yang tujuannya keuntungan cash secara cepat, bulanan misalnya. Maka, bisanya kita benar benar “ngegas” dari awal sampai akhir, agar tujuan jangka pendek tersebut segera tercapai.

Beda halnya dengan lari jangka menengah apalagi jangka panjang, maka kita perlu untuk memikirkan bagaimana strategi yang akan dilakukan. Kita perlu mengatur stamina, mengatur nafas, mengatur waktu kapan saaatnya berlari kencang, saatnya berlari wajar.

Saat kita sedang melakukan lari jangka panjang dengan jarak yang tentunya lebih jauh, tapi kita malahan berlari sprint, maka bukan tidak mungkin tenaga kita sudah habis di pertengahan jalan, sebelum sampai garis finish, karena kita tidak bisa mengatur ritme dalam berlari

Pun saat kita ingin membangun bisnis yang jangka panjang, maka aturlah strategi, bagaimana mengatur diri di titik start, bagaimana mengelola energinya, bagaimana langkah kakinya, apakah kita memilih langkah langkah lebar, atau langkah kecil namun lebih cepat. Mengatur irama kapan waktunya berlari kecil, dan kapan waktunya berlari kencang

Jangan sampai kita tidak bijak, menghabiskan jiwa, raga, tenaga dan emosi yang berlebihan di titik tertentu dalam bisnis kita, kemudian terkuras habis semua energi di tengah perjalanan, dan kelelahan untuk melakukan perjalanan selanjutnya yang sebenarnya masih jauh.

Padahal kita butuh nafas yang panjang, emosi yang stabil, langkah yang bijak untuk menjalankan tujuan jangka panjang tersebut.

Lain ha nya saat kita mempunyai bisnis, organisasi, impian atau cita cita besar yang tentunya di bangun dalam jangka panjang. Cita cita dan tujuan yang tidak kita kerjakan sendiri, tapi dengan sinergi tim, melibatkan banyak orang. Bisnis atau organisasi yang tetap meninggalkan jejak walaupun kita sudah tidak ada. Maka bisa jadi yang kita butuhkan adalah lari secara estafet.

Saat melakukan karya secara estafet, maka kita tidak hanya memikirkan tentang sebarapa cepat kita mampu berlari, namun kita pun perlu memikirkan bagaimana tim kita, bagaimana kekuatan mereka, bagaimana bersepakat untuk mengatur langkah dan startegi, bagaimana mengatur jarak tempuh masing masing, bagaimana kita cerdas dalam berbagi peran dan tanggung jawab.

Karena, bila kita mempunyai impian, visi, cita cita dan tujuan yang besar, dan tentunya menepuh jarak waktu yang jauh, maka mustahil kita berlari sprint sendirian, kita butuh rekan, kita butuh teman, kita butuh kawan seperjuangan yang akan memastikan kita menyentuh garis finish dengan upaya bersama. Kita butuh strategi, langkah langkah yang terukur, pembagian tugas yang tepat, juga kemufakatan

Fahami diri, kenali organisasi, adalah langkah awal untuk mencapai tujuan

Maka, sebelum melangkah dan berlari lebih jauh, pastikan “pelari” tipe apakah kita, apakah tipe pelari sprint dan jangka pendek, yang mempunyai speed tinggi, apakah pelari jangka panjang yang bisa membuat strategi terukur untuk diri sendiri, ataukah kita tipe pelari estafet yang akan mau untuk beragi peran, untuk mencapai tujuan yang jauh dan jangka panjang

Pun dengan organisasi atau bisnis yang sedang kita jalankan, apakah ini akan menjadi bisnis lone ranger, yang akan kita jalankan sendirian saja, karena memang tujuan nya jangka pendek saja. Atau kita akan menjadikan bisnis atau organisasi jangka panjang yang jauh perjalanannya, besar impiannya, yang membutuhkan banyak orang untuk menjalankannya

Maka, luangkan ruang dan waktu untuk mengenali siapa diri kira, bisnis dan organisasi apa yang sedang kita bangun, tim seperti apa yang akan kita butuhkan, agar cita cita dan tujuan kita dapat tercapai

Bandung Juni Ke Sepuluh

Semoga Bermanfaat

Fn : Writing is learning. Menulis adalah proses belajar dan memahami diri, juga media berbagi

Agar Tetap Produktif Saat #DirumahAja

1

Out Break Happend …!

Peritiwa yang barangkali tidak pernah kita sangaja terjad di negara kita tercinta, dan kita tak pernah menyangka pula bahwa peristiwa ini begitu meluluhlantakan berbagai tatanan kehidupan yang sudah ada, padahal belum genap satu bulan lamanya.

Diantara hal yang berpengaruh adalah ritme aktifitas bekerja. Dengan berbagai kebijakan “Belajar Dari Rumah”  dan “Bekerja Dari Rumah”, tentunya akan banyak perbedaan yang di rasakan.

Nah, ini berbagi berbagai tips yang saya ingin bagikan agar #DirumahAja nya tetap produktif dan menyenangkan.

Semoga Bermanfaat Ya …. ^^

2

 

3

4

5

6

 

8

Apa Yang Lebih Besar Dari Impian ??

 

impian

Begitu ramai kita membahas tentang impian, impian itu. Kita semua punya impian, saya, anda, mereka, kita semua. Banyak dari kita yang mempunyai impian mulia, impian  mempunyai rumah untuk para yatim dan dhuafa, impian untuk membangun masjid, untuk menghajikan orang tua, impian untuk membuat rumah sakit untuk para dhuafa, impian membuat sekolah, impian untuk membuka lapangan pekerjaan, dsb.

Impian mulia itu kadang membuat kita mengebu gebu, begitu bersemangat, begitu antusias, begitu berenergi, semuanya serasa di depan mata, semua begitu terbayang nyata, seluruh alam raya serasa merestui.

Namun, seiring waktu berjalan, impian itu menghadapi banyak cobaan, kesulitan, rintangan, maju-mundur, kemudian mentok, naik turun, menurun dan tersungkur, dan sekarang seolah olah dunia menentangmu, alam raya tidak merestuimu.

Lalu apakah lantas kita akan menyerah pada impian impian itu ??

Ya !!! Apabila impian impian itu hanya sekedar euforia belaka, impian itu hanya sekedar suka suka saja setelah kita ikutan training motivasi, apabila impian itu hanya sekadar ikut ikutan belaka, hanya trend sementara. Halang rintang yang dihadapi diatas akan membuat impian kita menjadi mudah patah begitu saja.

Lagian, kenapa bersusah payah mempunyai impian. Hidup biasa biasa saja tanpa impian juga gak apa apa kok, atau kalo si impian itu memang susah di capai, ya udah sih udahan aja, tinggal berbelok cari impian lain yang mugkin lebih realistis.

 

***

Lalu apa yang lebih kuat dari impian atas hal hal mulia diatas ??  mempunyai rumah untuk para yatim dan dhuafa, membangun masjid,  menghajikan orang tua, membuat rumah sakit untuk orang yang tak mampu, impian membuat sekolah gratis, impian untuk membuka lapangan pekerjaan, impian membantu banyak orang, dsb.

Apa yang lebih kuat dari IMPIAN ? apa yang membuat kita tak beranjak dari hal hal diatas ketika bertubi tubi kita di hantam oleh rintangan, halangan, penolakan, cibiran,  hingga kegagalan yang terus menerus.

KEWAJIBAN, ialah yang lebih kuat dari IMPIAN. Kewajiban yang bukan hubungannya terhadap diri sendiri, kewajiban yang bukan hubungannya dengan orang lain, namun KEWAJIBAN kita kepada Nya.

Hal hal diatas, berharta banyak, membantu orang lain, melayani banyak orang, menjadi jalan kebaikan , menjadi kanal keberkahan, menjadi sumber kebermanfaatan dalam kehidupan, jadikan sebuah KEWAJIBAN bukan sekedar IMPIAN. Kewajiban kita kepada-Nya, sebagai penghambaan kita kepada – Nya.

Karena saat itu kita jadikan sebagai sebuah kewajiban , ia akan mengikat erat dalam hati dan fikiran kita. tak hanya euforia dan artificial dunia saja, tidak hanya sekedar formalitas saja, tidak hanya sebagai eksistensi saja.

Karena saat itu kita jadikan sebagai sebuah kewajiban, kau tak akan mudah patah, lantas menyerah, karena melaksanakan sebuah kewajiban adalah penghambaan.

Bismillah….