Apakah Kita Sudah Benar Benar Merdeka … ?

Merdeka adalah ketika setiap anak Bangsa ini mendapatkan pendidikan layak yang mereka butuhkan ….

Kemarin saya dikirim foto anak anak di Pulau Pangabatang NTT yang ikut merayakan ulang tahun kemerdekaan RI. Oh ya di Pulau yang cukup terpencil ini, saya dan teman teman Kebukit Indonesia sedang membangun sekolah tingkat dasar, informasi tentang sekolah nya ada DISINI

Perayaan sederhana di Pulau yang jauh dari keramaian, jauh dari hingar bingar parade, pawai, umbul umbul dan panggung hiburan khas perayaan Agustusan. Dengan apa yang mereka punya, mereka tetap ingin ikut meyakan kemerdekaan Tanah Air nya.

S

aya jadi bertanya tanya, – karena Indonesia adalah negara dengan ribuan kepulauan di dalamnya- apakah setiap Pulau terpencil yang ada di Negara ini ikut pula merayakan upacara kemerdekaan Indonesia, atau jangan jangan diluar sana masih banyak warga Negara Indonesia yang tidak ikut merayakan, atau bahkan tidak tahu tentang ulang tahun kemerdekaan Negara nya.

Lebih jauh dari itu, pertanyaan ini yang ada di benak saya adalah :

Apakah setiap jiwa di negri ini sudah benar benar merasakan kenikmatan kemerdekaan … ?

Tujuh puluh empat tahun kemerdekaan Indonesia. Rasanya waktu yang sangat cukup untuk setiap anak Bangsa di Negri ini mendapatkan dan menikmati pendidikan yang layak. Namun kenyataannya pendidikan yang layak masih jauh dari kata layak dan merata.

Masih banyak anak Negri ini yang tidak punya kesempatan untuk bersekolah, entah karena biaya, akses pendidikan, atau bahkan mereka masih asing dengan apa itu pendidikan. Sekolah, buku, belajar adalah hal yang asing bagi mereka. Pendidikan adalah hal yang mewah sehingga menjadi hal yang “untouchable”.

Dari pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, berkeliling ke Pulau terpencil dan Pedalaman di Indonesia, masalah pendidikan di Indonesia yang terutama adalah masalah akses. Akeses lembaga pendidikan, akses ilmu pengetahuan dan akses terhadap kesempatan bersekolah itu sendiri

Belum lagi bicara tentang pemerataan dan kualitas. Misalnya saja di salah satu daerah di NTT, saya menemukan buku pengayaan pendidikan terbitan tahun 1974 di sebuah perpustakaan sekolah, itu pun hanya beberapa eksemplar saja, sudah koyak disana sini, isi ny pun sudah sangat tidak relevan dengan keadaan saat ini, lagipula sepertinya buku buku itu hanya formalitas pembagian semata, entah dibaca atau tidak.

Ini hanya sebuah contoh saja. Buku yang seharusnya manjadi jantung pendidikan, tidak disediakan dengan kuantitas dan kualitas seharusnya. Belum lagi kualitas guru yang masih jauh dari kata ideal, atau bahkan standar guru yang seharusnya.

Ah entahlah, bicara tentang pendidikan Negri ini adalah sesuatu hal yang sangat kompleks. Akhirnya -dalam kondisi ini- kita lah sebagai anak Bangsa yang ikut berkewajiban ikut membangun Bangsa ini, dengan apa yang kita mampu, dengan apa yang kita bisa.

Walau cakupan nya masih bersifat mikro, tidak masalah, apapun yang sesuai dengan kapasitas kita. Karena bila hanya mengandalkan, menuntut dan menyalahkan pemerintah, rasanya hal yang akan cukup menguras energi , dan sesuatu yang tidak akan ada habisnya

Apa yang kita bisa lakukan saat ini, maka lakukan saja. Langkah langkah kecil untuk membantu anak anak Bangsa ini lebih terdidik, lebih terpelajar dan lebih berdaya maka kita lakukan saja.

Karena sebenarnya bila diamati lebih lanjut, Bangsa ini besar dan bertumbuh adalah karena kepedulian saudara sebangsanya. Kepedulian kita bersama.

So, setelah tujuh puluh empat tahun ini, apakah Bangsa ini sudah benar benar merdeka dan merasakan kenimatan kemerdekaan ?

Yuks bantu anak anak NTT mempunyai sekolah layak :

https://sharinghappiness.org/sekolahrafi

Bandung, 22 Agustus 2019

Advertisements

Kenapa Sih Mesti Jauh Jauh Ke NTT ?

Masih banyak orang yang bertanya atau mungkin berkomentar “Kenapa sih, jauh jauh ke NTT buat bangunin sekolah? disini juga masih banyak yang mesti dibantu !”

Jadi memang selama beberapa tahun terakhir, saya banyak melakukan berbagai kegiatan sosial pendidikan di wilayah NTT, tepatnya dari tahun 2013. Tentunya bukan saya sendirian, saya bersama tergabung dalam tim Kebukit Indonesia memang lebih sering berkegiatan disana. FYI saya dan rata rata teman Kebukit Indonesia tinggal di Bandung, Jawa Barat

Ketika mendapat komentar seperti diatas biasanya saya jawab kurang lebih seperti ini : ” Apakah kita harus menunggu Jawa Barat beres permaslahannya, baru kita perhatikan saudara saudara kita yang ada di Timur sana”

Tentunya kami memutuskan untuk berfokus untuk berkegiatan disana bukan tanpa alasan. Awal 2012 kami kesana, banyak hal yang akhirnya kami “capture” disana, dan kami memutuskan untuk mulai berkegiatan sosial pendidikan disana, hingga sekarang.

Lalu bila ada yg bertanya atau berkomentar seperti ini : “ Kan harus bantu yang terdekat dulu ! “, Saya hanya bisa tersenyum dan menjawab seperti ini : “Kenapa, Anda tidak mulai membantu saudara2 kita yang dekat?” hhe… agak keras memang jawabannya, namun ini tidak se pragmatis yang dikira

Benar adanya kita perlu membantu yang dekat, tapi bukan berarti kita mengabaikan yang jauh. Ketika yang jarak nya jauh dari kita itu, memang lebih prioritas, urgent, untuk segera di bantu. Rasa rasanya tidak bijak juga ketika kita menunggu -misalnya-Pulau Jawa beres dulu permasalahannya, baru kita bantu saudara saudara kita yang jauh di sana.

Jadi, bukan tentang jauh dan dekatnya. Ini tentang visi, tentang misi, tentang keterpanggilan, tentang “STRONG WHY” dimana dan dengan siapa kita mengukir karya Peradaban. Pada akhirnya, memang kita butuh banyak orang yang mau peduli, peduli atas keaddan negri ini, yang tidak hanya berhenti dalam fase prihatin, berkomentar, namun kemudian berlalu begitu saja.

Karena kepedulian dan kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun kita merasa, Insya Alah akan sangat bermanfaat untuk saudara saudara kita yang membutuhkan. Jadi mulai lah kita sama sama berkarya dengan mata, telinga, hati dan nalar yang terus terbuka. Melihat apa yang bisa kita lakukan untuk saudara saudra kita, mengajak orang lain untuk berbuat yang sama, agar Indonesia lebih berdaya.

Ini dokumentasi waktu akan meresmikan sekolah di Pulau Pangabatang, ceritanya nanti saya sambung yaa … 😃

Oh ya, tentang sekolah apa yang sedang kami bangun, ada di sini : Bangun Sekolah NTT

Goes To NTT ( lagi )

Kayanya NTT bakalan jadi kampung kedua saya nih, hhe.. hampir setiap tahun di takdirkan Allah ke pulau yang dulunya saya tidak pernah bayangkan sama sekali akan sering di kunjungi.

Akhir April ini saya kembali ke Pulau nan eksotik ini. Dalam rangka peresmian sekolah yang sedang saya bangun dengan teman teman Kebukit Indonesia dalam program “Bangun Sekolah NTT”

Jadi program “Bangun Sekolah NTT” ini adalah program pendidikan, dimana kami ingin membantu masyarakat NTT untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik, lebih layak, lebih berkualitas. Baik dari insfrasuktur maupun dari pengembangan sumber daya manusia nya.

Alhamdulillah, walau dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya terbangun satu sekolah, di senbuah pulau terpencil bernama Pulau Pangabatang.

Banyak cerita, banyak pelajaran, banyak hikmah yang saya (kami) dapatkan dalam perjalanan kali ini. Bismilllah. Semoga di Ramadhan ini bisa baik terceritakan …

Tunggu ceritanya yaa…

Habis Pulang Dari NTT

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya dan kawan kawan dari Kebukit Indonesia, baru pulang dari NTT, dalam rangka program #BangunSekolahNTT, tepatnya di Pulau Pangabatang, Maumere Kabupaten Sikka, NTT.

Seminggu kemarin jadi hari hari yang padat untuk banyak hal, seperti untuk persiapan, keberangkatan, pelaksanaan kegiatan, pulang, dan istirahat. hhaa.. sok sibuk bangetttt 

Oleh oleh dari sana apa ?

Ah..banyak hal, nanti saya ceritakan satu satu. Yang jelas saya ga bawa oleh oleh kain tenun, karena ga sempet untuk hunting dan semacamnya. Heu..

Oleh oleh nya cerita aja yaa

Tapi besok aja ceritanya yaa…

Sudah larut

Esok sudah kembali beraktifitas

 

Salam, dari anak anak NTT yang super antusias … 🙂

4f60a356-f51c-4059-952c-42c03cb8b0b2