Merangkai Niat Kala Menasihat

Ada kala kita ingin menasihati seseorang dalam lingkaran kita, teman, sahabat atau keluarga terdekat. Memberi nasihat adalah hal mulia, karena ada kebaikan yang ingin kita sampaikan, atau ada ketidakbenaran yang kita rasa dan perlu diluruskan

Dan kurasa yang terberat dalam menasihati adalah ; membersihkan niat

Mencari tahu dengan seksama apakah niat diri dalam menasihat adalah karena rasa peduli, bentuk kasih sayang, kewajiban sesama saudara seiman, ataukah ada bentuk lain yang tersamar ; entah benci, dengki, hasad, atau kesombongan yang sebenarnya terpendam

Karena saat jiwa tidak bersih, niat tidak lurus, terkotori dengan dengki diri dll, maka nasihat bukan lagi sebuah kewajiban atau ungkapan sayang, namun ambisi untuk mengalahkan, menjatuhkan bahkan mempermalukan

Apalagi kalau kita “memberikan” nasihat di depan khalayak. Sesaat mugkin ada rasa kemenangan saat kita “menjatuhkan” ia dalam balutan memberi nasihat. Namun pada akhirnya kualitas diri kitalah yang akhirnya akan nampak.

Maka ini semacam nasihat kepada diriku sendiri :

“Sebelum memberikan nasihat, menengoklah terlebih dahulu kepada niat ; jangan jangan ada yang tersembunyi disana, bukan karena Allah Ta’ala, namun karena nafsu diri yang mengembara”

Sombong Sebelum “Waktunya”

Sombong sebelum waktunya … Emang sombong ada waktunya yaa..? hhee… entahlah tiba tiba judul ini yang terlintas dalam benak saya malam ini, setelah menghadiri sebuah event.Dalam sebuah temu kangen, reuni atau semacamnya, yang sudah lama ga ketemuan, pasti banyak kawan kawan lama yang datang dengan kisah baru.

Seperti waktu kemarin dalam sebuah pertemuan, saya melihat beberapa teman dengan berbagai macam pencapaian pencapaian yang sudah ia dapatkan, baik dalam bisnis atau karir. Dan biasanya nihh… ada aja dari mereka yang jadi berubah ….

Ada satu orang teman, yang bisa dibilang relatif sukses dengan bisnis nya, dengan pencapaian inilah, pencapaian itu lah, saya termasuk senang dengan lompatan bisnisnya, karena tau bagaimana dia dulu berjuang. Namun yang mengusik benak saya adalah tentang “sikap” nya saat itu saat bersama teman teman. Entahlah ada semacam “perubahan” ketika sedang bersama sama. Sikapnya tidak begitu ramah, tidak cair, tidak berbaur, seperti menjaga jarak dengan teman teman seperjuangannya dulu.

Perbandingan

Dia begitu sibuk dengan gadget nya, ketika teman teman nya bahagia bercengkrama mengenang masa bersama sama, tertawa, berkelakar, dia semacam menjaga image, seakaan ada bahasa tubuh yang menyiratkan “hei.. aku beda loh ama kalian, i’m better, i’m succes person, ga leve;” entahlah itu hal yang saya tangkap dari geasture, air muka, dsb. Semoga ini hanya su’udzan nya saya aja, semacam lintasan perasaan.

Dilain cerita, ada seorang lagi yang kalau dari pencapaian kesuksesan materi, bisnis dan karier bisa dikatakan jauh melampaui orang yang pertama saya ceritakan. Bahkan setiap orang mengakuinya. Namun justru sebaliknya, sikap nya sangat blended dengan siapapun yang ia temui, sikapnya sama seperti dulu. Candaan, kelakar, sikap ia tunjukan hangat kepada  kawan kawannya, sama seperti dulu ketika dia masih belum menjadi siapa siapa.

Ia melepaskan “atribut” kesuksesan nya ketika bersama kawan kawannya, karir, materi, dsb, sehingga ia terlihat sangat menikmati acara itu. Sedangkan yang satu lagi seakan membawa “atribut” kesuksesan nya, atau seperti ingin diakui dan menujukan bahwa dia telah menjadi orang yang sukses. Padahal bila diukur dari kualitas, orang kedua memiliki pencapaian yang jauh lebih baik.

Bercermin

Terlepas mungkin ini hanya perasaan saja, semoga bisa menjadi cermin saya pribadi, bahwa apapun pencapaian kita, jangan sampai membuat kita tinggi hati, jangan sampai membuat kita merasa lebih baik dari orang lain, jangan sampai kita “sombong sebelum waktunya” hhee…maksudanya sombong emang ada waktunya gitu ?

Maksudnya, jangan sampai kita belum menjadi apa apa, masih setengah mateng, masih menanjak, namun hati kita mendahuli prestasi kita, terlalu meninggi hati kita, hingga yang pada akhirnya, tidak baik untuk diri kita sendiri, dan juga silaturahmi kita dengan orang lain.

Karena katanya sukses yang sebenarnya, adalah sesuatu hal yang bisa membuat kepala kita lebih tertunduk bukan mendongkak, membuat tangan kita lebih banyak terulur, membuat telinga kita lebih banyak mendengar dan membuat hati kita lebih terbuka luas dan tulus.

angkuh

 

Semoga Bermanfaat,

 

Selamat Menikmati Ramadhan

 

What People See

Pernah di “nilai” sesuatu oleh orang lain yang sebenarnya bukan seperti itu adanya ? baik dalam hal positif atau pun sebaliknya. KESAN.  Mungkin itu yang orang lain liat dari diri kita, entah itu kesan yang tidak kita sengaja buat , atau memang sesuatu yang kita ingin orang terkesan. 

Sesuatu yang kita memang buat agar memang “terkesan”. Entah itu terkesan pintar, terkesan kaya, terkesan rendah hati, terkesan shaleh, terkesan baik hati, terkesan ramah, terkesan sukses, dll. Sesuatu yang kita memang sengaja tampilkan di permukaan, in other “People see what we want to be seen

 Disisi lain kadang orang melihat kesan kita “terlalu”. Judging us overestimate or maybe underestimate. Pernah ga orang bilang contohnya seperti ini ” Kamu, sukses banget deh sekarang, hebat yaa, bla bla bla ….” . Padahal kita tau, kita tak sehebat apa yang dia katakan, kita tak seperti kesan yang dia tangkap dari kita – dan itu tidak kita sengaja, atau buat buat-, they just reputed us like that.

Benar adanya, banyak orang yang meilhat kita hanya di permukaan, apa yang tampak, apa yang dilihat oleh mata, apa yang didengar oleh telinga, atau mungkin apa yang orang lihat,  memang sengaja kita ingin tampakan dan kesankan. Atau sebaliknya, kita bisa juga menilai seseorang hanya di kesan permukaannya saja, kulit saja.

Ya, memang butuh waktu dan kedekatan untuk melihat lebih dalam tentang seseorang, begitu juga sebaliknya orang lain terhadap kita. Belajar tidak menilai dan dinilai hanya “permukaan” saja. Juga tidak memaksakan diri untuk membuat “terkesan” yang sebenarnya bukan/belum diri kita.

Adapun ketika orang melihat kita over, maka Aaminkanlah semoga menjadi doa, dan ketika orang menilai kita under, jadikan evalusi diri dan motivasi diri, untuk menjadi lebih baik. Bukan untuk mengesankan orang lain, tapi untuk diri kita sendiri saja, itu.

Fn : Sebuah pesan pengingat diri

download

gambar dari sini